Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Oleh oleh


__ADS_3

Sebelum menuju rumah Bima Sekar mampir makan di warung kaki lima yang memang buka di waktu malam sampai pagi. Begitu dirasa cukup menghangatkan badan mereka kembali melaju. Kini menuju kost Iqbal terlebih dulu. Disana Sekar hanya sebentar. Ia hanya membersihkan diri dan memberikan oleh oleh dari desa untuknya.


"Nih, Bal titipan dari ibu buat kamu." Sekar menyerahkan sekantong kresek berisi beberapa barang khas dari desa.


"Wah, Bulek masih ingat aku," serunya girang. "Alhamdulillah ... Ibuku tahu kamu ke Jakarta, Kar?" Iqbal mengambil bawaan Sekar dan meletakkannya di samping lemari pakaian miliknya.


"Kalau Budhe tahu aku pasti gak bisa jalan, Bal kebanyakan bawaan!" serunya sambil membenahi hijabnya.


"Hehehe iya, ya bener kamu," ujar Iqbal tertawa.


"Dah jam tujuh ayo berangkat nanti keburu orangnya pergi lagi."


Dengan segera mereka kembali mengendarai sepeda motor untuk menuju rumah Bima. Hanya butuh waktu 10 menit mereka sampai di depan gerbang rumah mewah bercat coklat susu yang terlihat adem.


"Maaf, Mbak cari siapa, ya?" sapa satpam rumah itu ketika mendapati Sekar datang dengan membawa tas besar dan sebuah kardus besar.


"Saya Sekar, Pak yang akan bekerja jadi asisten pribadi Ibu Intan? Ibu Intan ada?" Sekar mengatakan maksudnya bertamu diwaktu sepagi itu.


"Saya hubungi Tuan dan Nyonya dulu ya, Mbak." Satpam yang memiliki name tag Bambang itu pun menghubungi majikannya.


"Iya, Mbak Ibu sudah menunggu di dalam. Mari, Mbak," ajak Pak Bambang dan langsung membantu membawakan kardus besar milik Sekar sementara Iqbal membantu membawakan tas besarnya.


Mereka pun memasuki rumah mewah itu dan tuan rumah pun menyambutnya di meja makan mengajak Sekar dan Iqbal sekalian sarapan namun mereka menolak karena memang tadi sudah sarapan.


"Jadi kamu yang namanya Sekar?" tanya Ibu Intan saat Sekar mencium punggung tangannya.


"Iya, Bu dan itu sepupu jauh saya namanya Iqbal dia bekerja sebagai tukang ojek online yang tinggal tidak begitu jauh dari sini." Sekar pun mengenalkan dirinya juga Iqbal.


"Cantik. Lebih cantik dari waktu kita video call waktu itu," pujinya dengan menatap Sekar lembut.


"Ibu juga masih cantik walau sudah berumur." Kini giliran Sekar yang memuji.


Bima yang melihat interaksi itu tersenyum samar.


Pak Doni ayah Bima juga ikut nimbrung menyambut kedatangan karyawan baru mereka.


"Bu, ini ada sedikit oleh oleh dari desa." Sekar menyerahkan sekantong plastik besar oleh-olehnya. Namun sebelum Bu Intan menerimanya Iqbal pamit pulang karena ia akan mengantar penumpang langganannya.

__ADS_1


"Wah, banyak sekali petainya," seru Bu Intan girang.


"Iya, Bu lagi musim."


"Ada jengkol, gula merah juga ada cabe banyak sekali, Sekar? Ini beli atau hasil tanam sendiri?" Bu Intan sangat antusias melihat apa yang dibawa Sekar.


"Hasil kebun sendiri, Bu tapi gula merahnya beli sama tetangga."


"Kamu ngapain bawa barang barang seperti itu di sini juga banyak yang jual," celetuk Bima berusaha menarik perhatian.


"Jangan gitu dong. Mama seneng banget malah dengan bawaan Sekar kalau beli di sini tuh mahal," gerutu mama membela.


"Emang berapa kalau beli di sini?"


"Kalau beli di pasar segini banyaknya bisa habis setengah juta, Bim," jawab mama membuat Bima kaget. "Kalau disana habis berapa?"


"Ini habis seratus lima puluh ribu kalau beli. Tapi inikan yang beli cuma gula merahnya semua harganya empat puluh lima ribu. Ini gula aren asli, pembuatnya pun asli," lemah lembut Sekar menjelaskan dengan sedikit kelakar.


"Asli apa maksudnya?" tanya Bima penasaran.


"Ini bubuk kopi murni, Kar?" tanya Pak Doni saat tangannya memegang bungkusan berisi bubuk hitam.


"Iya, Pak. Tapi karena belum waktunya panen jadi dapat beli di tengkulak," jelas Sekar dan pak Doni pun paham.


"Oh, ya salam buat orang tuamu sekalian bilang sama Ibu Bapakmu terima kasih oleh olehnya," pesan Pak Doni.


"Iya, Pak nanti saya sampaikan."


Sekar yang supel membuatnya tidak sulit beradaptasi dengan lingkungan barunya. Bahkan disaat seperti ini dia akan dengan mudah melupakan masalah yang sedang dihadapinya.


"Bim, antar Sekar ke kamarnya Mama sama Papa mau ke rumah Nenek mungkin malam baru pulang," perintah Mama pada Bima.


"Sekar, saya tinggal pergi dulu kamu istirahat saja kalau butuh sesuatu tinggal minta sama Bi Jum mungkin sekarang dia lagi mencuci di belakang," pamit Mama pada Sekar.


"Maaf, Bu nanti saya mau ke rumah orang tua Mas Rafa, boleh?" tanya Sekar pada Mama Intan.


"Kamu kenal Rafa?" tanya Mama Intan heran.

__ADS_1


"Iya, Bu dulu saya waktu kuliah kerja jadi art di rumah orang tuanya Mas Rafa."


"Emh..begitu," diam sejenak.


"Boleh dong nanti biar Bima yang antar." Sekar pun langsung menolak perkataan mama Intan. 'Bisa bisa mati kaku aku selama bersama dia,' gumamnya dalam hati.


Bima pun menunjukkan kamar yang akan ditempati Sekar. Berada di dekat dapur dengan ukuran 4 × 5 m ada kamar mandi di dalam. Bagi Sekar kamar ini sudah cukup luas. Dengan segera ia menata barang barangnya di lemari kayu yang ada di sudut kamar. Bima mengamati sambil duduk di tepi ranjang membuat Sekar gugup.


"Mas Bima kok di sini?" Sekar menghentikan kegiatannya.


"Cuma mau bilang kita ke rumah Rafa nanti saja setelah dhuhur sebab sekarang sedang tidak ada orang di rumah mereka belum pulang dari Malang," jawab Bima.


"Kok Mas Bima tahu?"


"Ini baru chat Om Herman," Sekar pun mengangguk.


"Ya, sudah kamu istirahat saja dulu aku mau ke kamar ada kerjaan yang harus aku selesaikan," ucap Bima dan segera berlalu dari kamar Sekar.


Huffft berada satu ruang sempit dengan Bima membuat jantungnya tidak karuan. Gugup, cemas dan takut jadi satu. Beruntung Bima tak mendengar suara detak jantungnya. Kalau dengar? Wah, betapa malunya dirinya.


Karena kelelahan Sekar pun tertidur pulas pagi itu. Semalam ia begitu menikmati perjalanannya sehingga membuatnya tidur hanya sebentar. Tentu saja hal itu membuatnya harus membayar dengan kantuk yang luar biasa. Kalau sudah begini tidurlah solusinya.


"Sekar, bangun. Sekar sudah siang." sebuah tangan menepuk nepuk pundaknya.


Sekar pun mulai membuka matanya.


"Aaaaa ya Allah!!!" Sekar terperanjat bahkan sampai hampir terjatuh dari ranjang tidurnya. Gadis itu begitu terkejut dengan adanya Bima di kamarnya tiba-tiba.


"Hahaha. Makanya kalau tidur jangan kayak orang mati, mana pintu gak dikunci lagi, untung aku yang buka, kalau orang jahat gimana? habis kamu dimakannya" sahut Bima berseloroh menggoda Sekar agar matanya segera terbuka lebar.


"Sudah Mas keluar dulu sana aku mau mandi sekalian siap-siap.'"


"Jangan jutek jutek nanti jatuh cinta, lho," seloroh Bima lalu berjalan keluar kamar.


"Ya, ampun bos narsis banget, sih!" gerutu Sekar di balik pintu.


'Aku jutek buat mengendalikan rasaku, Mas,' timpalnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2