
Deri kesana kemari mencari informasi tentang Sekar. Namun nihil, ia tak menemukan apapun. Cukup lama ia berfikir lalu ia teringat sosok Iqbal yang kala itu menjemput Sekar di terminal. Ia berusaha mencari pria itu namun juga nihil.
Intan berkata jika Sekar adalah calon menantunya itu artinya keluarga Bima akan bisa saja datang sewaktu waktu ke rumah Sekar. Itu pasti. Ya, itu pasti. Kini ia putuskan untuk memata-matai rumah Intan dan kemana anggota keluarga itu pergi.
"Halo, Bal apa kabar?" sapa Sekar kala menelpon Iqbal semalam.
"Kabarku baik. Ada apa tumben telpon malam-malam?"
"Aku mau minta tolong, siapapun yang menanyakan tentangku tolong jangan beri informasi apapun termasuk pada Deri pria yang bersamaku di terminal waktu itu."
"Memang ada apa? Kamu punya masalah sama dia?"
"Bukan, dia sepertinya terobsesi denganku dan ingin memiliki aku. Aku takut dia terus mencariku padahal lusa dia menikah." Sekar mengadukan masalahnya pada sepupunya itu.
"Sebaiknya kamu sembunyi. Jangan kemanapun sekalipun itu teras rumah. Tetap berada di dalam rumah karena mungkin saja dia nekad mengintai rumah itu dari jauh. Dan ingat jangan buka pintu siapapun itu tamunya. Aku gak akan ke sana karena takut dia mengetahui keberadaanmu. Okey, girl?" perintah Iqbal pada saudara perempuannya itu.
"Iya. Makasih, ya sudah mau bantu aku,'" kata Sekar lalu mengakhiri obrolan mereka.
"Arum, kamu pasti takut sekali, ya?" tanya Bima dengan raut cemas menghampiri Sekar yang kini ada di teras belakang rumah Bima.
"Iya, Mas. Seumur hidupku dikejar-kejar oleh orang baru kali ini. Aku takut dipaksa nikah sama dia," keluh Sekar pada Bima.
"Aku akan melindungi kamu sekuat tenaga. Aku gak akan biarkan kamu ketakutan. Tenang, ya?" janji Bima pada Sekar dan tangannya mengusap lembut punggung tangan Sekar.
"Iya, Mas terimakasih." Andai saja mereka halal, maka ingin rasanya Sekar memeluk tubuh itu, meletakkan sebagian bebannya pada pria itu agar ia lebih tenang dan rileks.
__ADS_1
"Bagaimana jika sebaiknya kita menikah saja, Rum?" Bima menatap mata Sekar berharap jawaban yang indah untuknya.
Sekar terkejut tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Mas Bima kalau bercanda jangan keterlaluan dong," ucapnya dengan tersenyum kaku.
Sekar berfikir jika Bima tidak serius dengan ucapannya. Karena yang dia tahu Bima tak suka wanita yang ceroboh. Dan Sekar telah begitu ceroboh yang bahkan membuat Bima hampir kehilangan nyawanya. Itu belum termasuk dengan biaya yang harus dikeluarkan keluarganya untuk berobat juga dengan mobil barunya. Mengingat itu semua Sekar tak percaya jika Bima memang ingin mengajaknya menikah.
"Aku serius, Arum. Ayo kita menikah agar statusmu jelas milik orang dan pria lain tidak akan mengganggumu lagi." Bima meyakinkan Sekar jika dia sungguh ingin Sekar jadi istrinya namun Sekar masih tidak percaya.
"Bagaimana dengan hutangku?"
"Anggap saja lunas. Dirimu melayani dan mengurusku nilainya melebihi hutangmu. Jangan ungkit itu lagi, please." Bima ingin Sekar tahu cintanya tulus namun ia tak berani bilang cinta, ia justru menjadikan keadaan terjepit Sekar sebagai senjata untuk mendapatkan gadis pujaannya.
"Apa Mas anggap tubuhku dan jiwaku sebagai alat pembayaran hutang?" tanya Sekar sarkas.
"Tidak, Arum. Bagaimana bisa kamu berfikir begitu?" Bima tak habis pikir kenapa Sekar masih sangsi.
Bima sangat kesal kini senjata yang digunakan nya untuk mengikat Sekar agar selalu berada di sisinya justru jadi bumerang untuk cintanya. Dia tak menyangka kalau gadis manis pencuri hatinya akan menolaknya dengan alasan hutang yang dibuat oleh Bima sendiri.
Bima frustasi tak tahu harus bagaimana meyakinkan Sekar agar menerimanya. Entah mengapa dia tidak sadar jika sesungguhnya cintanya tidaklah bertepuk sebelah tangan. Hanya saja Bima dikalahkan gengsinya sedang Sekar dikalahkan oleh hutangnya. Dan yang sebenarnya keduanya bisa selesai bila mereka saling terbuka mengalahkan ego masing-masing.
Malam semakin larut. Baik Bima maupun Sekar sama sama tidak bisa tidur. Keduanya gelisah.
"Rendah sekali pemikiranmu, Mas menganggap hutangku akan lunas dengan menikahiku. Apakah jika aku menikah denganmu aku akan jadi budakmu agar hutangku lunas?" Sekar menangis sesenggukan di kamarnya yang sempit.
Sungguh andai saja Bima mau jujur akan perasaannya tentu ini tidak akan pernah terjadi. Sekar pasti akan dengan senang hati menerima cintanya.
__ADS_1
flasback on
"Sekar, tolong buatkan kami minuman untuk lima orang, ya?" pinta Rafa menemui Sekar di dapur.
"Minuman apa, Mas?" tanya Sekar yang sedang mencuci piring.
"Sepertinya sirup rasa markisa cocok untuk cuaca panas begini. Buat di teko saja biar bisa puas minumnya," kata Rafa lalu pergi ke depan.
Dengan segera Sekar menyiapkan minuman pelepas dahaga yang diinginkan majikannya.
"Sini biar Bibi saja yang bawa ke depan, kamu lanjutkan masaknya mereka akan makan siang di sini," ucap Nur art senior di rumah ini dengan membawa nampan berisi minuman yang telah dibuat oleh Sekar.
Sekar hanya menghela nafas dengan segala tingkah seniornya itu. Dia terima saja selalu di belakang menyiapkan segala keperluan rumah tanpa tahu siapa saja yang pernah bertamu ke rumah besar itu.
Setelah Bi Nur mengantarkan sirup yang dipesan Rafa, Sekar menyempatkan diri mengintip dari balik dinding. Tatapannya tak lepas dari sosok pria berkemeja kotak-kotak berwarna hitam dengan gaya rambut berantakan mirip artis Korea. Wajah tampan berhidung mancung dengan rahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu halus menambah kesan berkarisma.
Tanpa sadar jantungnya berdebar kencang dan bibirnya tertarik melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. Entah kenapa ia begitu tertarik pada pria itu. Pria yang bahkan dia tidak tahu siapa namanya, bagaimana dia, dirinya tak tahu. Yang dia tahu dia ingin terus menatap wajah itu.
Inilah pertama kalinya sejak bekerja di sana ia bisa melihat tamu majikannya walau hanya dengan cara mengintip.
Lamunannya buyar manakala Nur datang menepuk bahunya cukup keras. Entah kenapa wanita yang menyandang status janda itu tidak suka dan selalu memandang sinis padanya.
Sekar pun segera melanjutkan pekerjaannya. Setelah semua selesai ia menata semua makanan dan pergi masuk ke kamar untuk membersihkan diri lalu sholat. Namun disaat mereka makan Sekar mencuri pandang dari balik pintu kamarnya namun tidak ada yang menyadarinya.
flasback off
__ADS_1
"Ya Allah, sungguh rasa ini berat. Mengapa Kau tumbuhkan rasa cinta ini dengan begitu dalam bahkan sejak pertama kali aku melihatnya. Andai dia tahu, apakah dia tetap mau berteman denganku? Sungguh aku takut jika dia mengajakku menikah hanya karena hutang. Aku takut tak mampu bertahan dengan cinta yang sendirian."