
Baik Intan maupun Sekar sudah pulang ke rumah. Keadaan mereka hanya tinggal pemulihan. Untuk Sekar akan sembuh lebih lama karena luka di kulitnya cukup banyak.
Ketika turun dari mobil, Doni membopong Intan untuk membawanya ke dalam kamar mereka. Sedangkan Sekar, Bima yang membopongnya. Sementara Satya membawakan tas pakaian ganti keduanya.
Dengan telaten Bima mengobati luka-luka di tubuh bagian luar Sekar. Sekar yang belum bisa keramas merasa kepalanya sangat gatal dan berminyak. Ia bingung harus bagaimana.
"Mas, kepalaku terasa gatal dan berminyak, tapi gimana aku keramasnya, ya?" tanya Sekar sore itu di kamarnya.
Bima tampak berfikir, apa yang bisa dilakukan olehnya agar air tidak membasahi luka di kulit kepala Sekar.
"Sebaiknya digundulin aja biar gak gatal lagi. Lagipula kalau gundul, lukamu akan cepat sembuh," Bima memberi saran yang mengerikan untuk Sekar.
"Yang benar saja, Mas. Masa aku digundulin? Aku ya jadi gak pede," sahut Sekar cemberut.
"Kan kamu pakai kerudung, Rum," ucap Bima.
"Ah, gak maulah nanti Arum jadi jelek," tolak Sekar masih cemberut.
"Kamu tetap cantik buat Mas kok, Rum. Kan Mas lihat kamu bukan dari rupa tapi hatimu." Bima menggenggam tangan Sekar.
"Arum malu, Mas. Perempuan akan cantik kalau rambutnya cantik," jawab Sekar menunduk.
"Hei, lihat Mas." Bima menangkup wajah Sekar agar menatapnya. "Bukankah itu lebih baik daripada seperti ini? Lihat, rambutmu sulit untuk diurus sebelum lukamu sembuh. Nih, lihatlah bagian ini bukankah sudah dibuang dokter rambutnya? Nah, biar nanti pertumbuhannya bagus dicukur sekalian aja, ya?" Bima membujuk Sekar agar mau digunduli, dia menunjukkan rambut yang lepek dan bagian rambutnya yang hilang.
Sekar menangis melihat wajahnya. Dia sedih bila harus kembali kehilangan rambutnya. Tapi mau bagaimana lagi ini memang yang terbaik.
"Mas janji hanya Mas yang tahu," janji Bima dan Sekar mengangguk.
Diiringi linangan air mata Bima mencukur habis rambut gadis pujaannya. Hatinya tak kalah sedih. Sesekali dia pun mengusap air matanya. Wajah manis gadis itu pun tak kalah rusak. Ada banyak luka lebam juga beberapa sayatan tipis akibat goresan kaca mobil yang pecah. Yang paling parah di bagian atas kepalanya, cukup panjang dan dalam bahkan menggores tulang tengkoraknya. Beruntung tidak sampai tembus ke dalamnya.
"Rum, kamu yakin gak ingin mengabari keluargamu? Mereka berhak tahu keadaanmu. Kamu juga rindu mereka, kan?" tanya Bima di sela-sela kegiatannya mencukur rambut wanita muda dihadapannya itu.
"Aku 'kan sudah telepon mereka kemarin, lagian aku juga baik-baik aja, kan?" tolak Sekar.
Kemarin memang dia telepon keluarganya tapi tidak mengabari kecelakaan yang dialaminya, dia hanya mengatakan jika dia rindu. Itu saja.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan dia melakukan itu. Kesehatan orang tuanya sedang kurang baik. Dia takut mereka akan kepikiran dan semakin memperburuk kesehatan mereka.
"Nanti kalau sudah sembuh dan bekas lukanya sudah hilang, aku akan pulang. Jadi biarlah sekarang mereka tidak perlu tahu," ucap Sekar lirih semakin membuat Bima sedih.
"Baiklah jika itu maumu. Istirahatlah dengan baik agar lekas sembuh. Nanti kalau sudah sembuh dan ingin pulang, biar Mas yang antar," sahut Bima.
Bima sudah selesai mencukur rambut Sekar, dan kini tengah mengelap kulit kepalanya dengan menggunakan tisu basah. Terlihat di cermin jika Sekar menangisi rambut panjangnya yang hilang.
'Mas mencintaimu walau bagaimanapun dirimu,' batin Bima sambil mengecup kulit kepala Sekar yang kini tak berambut.
Sekar yang merasakan kecupan itu terkejut. Mengapa Bima melakukan itu padanya.
"Mas, tolong ambilkan kerudungku. Aku malu," ucap Sekar menunjuk kerudungnya yang ada di atas ranjang kamarnya.
"Untuk apa malu cuma ada Mas di sini?"
"Kita bukan suami istri, bila bukan karena terpaksa aku tidak ingin memperlihatkan tubuhku padamu apalagi sampai kamu mengecupnya tadi. Itu bukan hakmu, itu hak suamiku." Sekar menyindir Bima yang tadi sudah berani mengecup kulit kepalanya tanpa seizin darinya.
"Maafkan aku, tadi aku terlalu terbawa suasana. Seharusnya aku menghiburmu bulan malah membuat mu marah," sesal Bima dengan wajah menunduk merasa bersalah pada Sekar.
"Lupakan dan jangan ulangi lagi," jawab Sekar tegas.
"Maaf, Mas jangan jadikan keadaan ku yang menyedihkan ini sebagai alasan," tolak Sekar.
"Lagipula besok juga aku sudah bisa mengurus diriku sendiri tanpa merepotkanmu lagi," imbuh Sekar tanpa melihat Bima. Dia tidak ingin Bima mengetahui kesedihan hatinya karena menolak ajakan Bima untuk menikahinya karena sejatinya diapun mencintai Bima.
'Bagaimana caranya aku membuatmu percaya dan yakin jika aku tulus mencintaimu, Rum?' batin Bima sedih.
******. ********
Tok tok. tok
"Masuk," kata Sekar kala mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Dia segera memakai kerudungnya.
Maka munculah sosok Bima masuk ke dalam kamar gadis pujaannya itu dengan membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih untuk sarapan Sekar.
__ADS_1
"Kok Mas Bima yang ke sini ngantar sarapan, Bi Jum mana?" tanya Sekar kala melihat Bima yang mengantar sarapannya ke kamar.
"Jangan repotkan Bi Jum, dia sangat sibuk. Biar kalau pagi dan malam aku yang mengurusmu," ucap Bima sambil menyendok nasi untuk disuapkan pada Sekar.
"Tapi Mas 'kan juga sibuk dan harus kerja. Kalau Mas mengurusku nanti bisa terlambat sarapan dan berangkat kerjanya," kata Sekar lirih merasa bersalah.
"Tidak masalah kan aku bukan kerja sama orang lain. Sudah tenang saja dan nikmati makanannya biar cepat sembuh katanya mau pulang." Bima membujuk Sekar untuk tidak merisaukan dirinya.
"Tapi ini kebanyakan, Mas aku gak habis," keluh Sekar sangsi.
"Ya, sudah kita barengan ya biar cepat habis?" Bima menyuapkan Sekar makanan lalu ganti dia menyuap untuk dirinya sendiri menggunakan sendok yang sama tanpa canggung sama sekali.
"Mas gak jijik sendoknya barengan?" tanya Sekar kala melihat itu.
"Mungkin kamu yang jijik," ucap Bima membalikkan kata-kata Sekar.
"Enggak kok, Mas." Wajah Sekar memerah malu karena ternyata Bima tidak seperti apa yang dipikirnya.
"Nih, minum obatnya." Sekarang Sekar harus minum obat setelah makanan mereka habis tak bersisa.
Bima kembali ke meja makan dengan membawa piring dan gelas bekas makan dirinya dan Sekar.
"Ayo, Bim sarapan," kata Dino mengajak putranya untuk ikut sarapan bersama mereka.
"Bima sudah sarapan tadi bareng Sekar di kamar," jawaban Bima membuat semua melongo.
"Kamu gak apa-apain Sekar kan, Bim?" tanya Dino.
"Ih, Papa kayak anaknya tukang mesum aja," sahut Bima tidak terima dituduh macam-macam oleh papanya.
"Siapa tahu kamu khilaf, ingat itu anak gadis orang belum halal buat kamu apa-apain," kata Intan mengingatkan putranya.
"Iya, Ma tenang saja Bima gak selancang itu kok. Lagipula Sekar itu galak banget,"
jawab Bima membuat semua lega.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya sudah baikan?" tanya Satya
"Alhamdulillah lebih baik dari sebelumnya," jawabnya lalu memilih berangkat kerja setelah berpamitan dengan mamanya.