
Hari ke hari hubungan rumah tangga Sekar dan Bima semakin romantis dan penuh rona bahagia. Kehamilannya pub semakin kuat dan sehat. Kemarin Bima menemani Sekar untuk cek kehamilan guna mengetahui perkembangan janin dalam rahim Sekar yang memasuki minggu ke 8.
Hubungan antara Sekar dan Bima yang harmonis tidak sejalan dengan hubungan antara Satya dan Kirana yang cukup panas. Satya sudah tidak mempedulikan Miranda lagi. Dirinya sibuk mengganggu Kirana yang jelas-jelas menolaknya. Gadis itu terus saja bersikap jutek padanya, namun itu justru semakin membuat Satya penasaran.
Rupanya Bima telah mengetahui apa yang terjadi pada Satya dan Miranda. Wanita bertutur sapa lembut itu sudah menceritakan masalah mereka pada Bima. Dengan sikap sebagai seorang kakak, pria beristri itupun mendatangi sang adik di rumah orang tua mereka saat malam bersama Sekar.
"Satya, bagaimana hubungan kamu dan Miranda?" tanya Bima basa-basi pada adik angkatnya saat mereka tengah menikmati teh hangat di ruang keluarga.
"Baik," jawabnya singkat tanpa menoleh pada kakaknya, matanya sibuk memperhatikan layar ponselnya.
"Tatap siapa yang mengajakmu bicara, Satya!" sentak Bima membuat Sekar terkejut, suaminya tidak pernah sekalipun mengeluarkan suara keras sebelumnya. Satya pun ikut menatap kakaknya penuh tanya namun sedikit takut.
"Aku dan Miranda baik-baik saja, Bang," jawabnya pelan, kini dengan menatap wajah Bima sesuai adab yang diajarkan orang tua mereka.
"Kalau baik-baik saja, Miranda nggak akan mengatakannya padaku. Dia cukup tahu diri untuk tidak melibatkan siapapun dalam hubungan kalian," tukas Bima datar.
Satya terkejut dengan ucapan sang kakak. Bagaimana mungkin Miranda yang biasanya tertutup malah justru mengadukan hubungan mereka pada Bima.
"Miranda bilang apa, Bang?" tanya Satya. Baik Doni, Intan juga Sekar hanya mendengarkan obrolan mereka agar bisa memahaminya duduk masalah yang dibicarakan oleh keduanya.
"Dia bilang kamu udah gak peduli lagi dengan hubungan kalian. Dia juga cerita jika kamu tengah memandangi foto seorang gadis di ponselmu sambil senyum-senyum saat dia berkunjung ke kantor. Dia pun udah beri kamu peringatan, tapi kamu tetap pada sikapmu yang seolah gak peduli lagi apakah akan berlanjut atau berhenti sampai di sini," cerita Bima membuat seluruh yang ada di ruangan itu tercengang. Mereka tidak percaya jika Satya akan melakukan hal itu.
"Benar itu, Satya?" tanya Intan ikut bergabung dalam pembicaraan itu.
"Aku hanya senang melihat ekspresinya saat tidur. Tentang aku mendua, aku nggak melakukan itu. Aku nggak akan melakukannya selama masih berhubungan dengan seorang wanita," sanggah Satya menolak aduan Bima dari Miranda.
__ADS_1
"Memandangi foto wanita lain sementara tengah memiliki hubungan serius, tentu akan melukai hatinya. Wanita itu hatinya rapuh, mudah patah dan sangat peka dan perasa. Beri kejelasan pada hubungan kalian sebelum menjalin hubungan lain," ujar Intan menasehati Satya. Ia tidak ingin jika putranya itu melukai hati seorang gadis karena dia pun punya anak gadis yang harus dijaga jiwa raganya.
"Maaf, Ma. Aku penasaran banget sama gadis itu karena dia ramah ke orang lain tapi jutek banget kalau ketemu dengan ku," ujar Satya, matanya tidak berani menatap wajah sang mama.
"Mungkin dia membencimu?" tebak Bima ketus.
"Hemh," Satya menghela nafas putus asa. "Itulah yang membuat aku jadi penasaran, kenapa dia jutek banget ke aku?" Kepalanya menggeleng dengan sebelah tangan memijat pelipisnya.
"Pasti kamu sangat menyebalkan baginya," sahut Intan enteng.
"Apa salahku? Kami hanya bertemu dan bersama dalam beberapa hari aja. Aneh," keluhnya dengan wajah pias.
"Siapa, sih dia?" tanya Sekar penasaran. Dirinya ingin tahu wanita mana yang mampu menggoyahkan kesetiaan Satya pada kekasihnya yang telah dikencaninya selama 2 tahun terakhir.
"Ada, aku belum bisa katakan siapa. Biar aku urus sendiri hubungan ku," kilah Satya. Namun sang mama menolak tegas ucapan Satya.
"Apa kamu pikir hati wanita untuk main-main?" sentak Intan dengan wajah memerah menahan amarah di dadanya.
"Bukan, Ma. Hanya aja aku butuh waktu untuk menyelesaikannya," kilah Satya lagi.
"Pastikan untuk satu hubungan aja! Mama nggak mau punya anak laki-laki yang pengecut dan plin-plan," ketus Intan pada putra angkatnya itu.
"Iya, Ma," jawab Satya menunduk, ia cukup takut akan amarah ibu angkatnya yang bisa bertahan sampai berhari-hari lamanya.
"Ingat, pikir dulu sebelum ambil keputusan, jangan sampai kamu menyesal pada akhirnya. Jangan mengikat jika hanya untuk menyakiti," pesan Intan sebelum pergi ke kamarnya karena merasa kepalanya pusing oleh tingkah Satya yang tidak setia.
__ADS_1
"Satya, apa kurangnya Miranda bagimu sampai kamu tega berbuat seperti ini padanya?" tanya Sekar, dia belum tahu saja siapa gadis yang membuatnya kelimpungan setiap hari karena selalu diabaikan.
*****. ******
"Siapa ya, Mas gadis yang disukai oleh Satya?" tanya Sekar, mereka malam ini menginap di rumah Doni.
"Iya, aku juga penasaran. Selama ini mana ada gadis yang berani jutek ke dia. Semua ramah dan tunduk pada pesonanya, tapi dia lebih memilih Miranda. Sekarang kok malah dia yang ngejar-ngejar cewek, ya?" gumam Bima berpikir hal yang todak biasanya terjadi pada Satya.
"Apa segitunya cewek nguber-nguber dia?"
"Iya, sejak dulu dia emang jadi pusat perhatian cewek-cewek. Makanya aku heran kenapa sekarang dia jadi aneh, ya?" Entah mengapa kisah Satya kali ini membuat jiwa kepo mereka meronta-ronta.
"Lalu nasib Miranda gimana, nih? kasihan lho, Mas. Aku jadi nggak bisa ngebayangin kalau jadi dia. Tapi kalau aku jadi dia, mending aku tendang ke laut aja cowok kayak gitu," gumam Sekar masih kepikiran akan nasib Miranda yang malang. Dirinya pun ikut merasa marah dengan kelakuan Satya seolah dirinya adalah Miranda, wanita yang tersakiti.
"Berdoa aja agar diberi solusi yang terbaik untuk mereka berdua. Aku juga merasa aneh tapi kalau belum bertemu gadis itu langsung, aku pasti gak akan paham jalan pikiran Satya," ujar Bima seraya mengelus rambut istrinya yang kini panjangnya sudah sampai punggung.
"Sayang, aku nggak bisa tidur," rengek Bima seraya tangannya mengelus lembut pipi istrinya. Matanya ia naik turunkan seolah tengah menggoda istrinya.
"Tidurlah udah malam," jawab Sekar pura-pura tidak paham arah pembicaraan suaminya tercinta.
"Eeeem, aku tidur di sini, ya?" kata Bima menunjuk dada istrinya, ia butuh tempat yang menghangatkan hatinya.
"Kebalik, Mas yang bener aku yang tidur di sini, di dadamu," sahut Sekar menunjuk dada bidang suaminya.
"Ya, kemarilah tidur di dadaku." Tangan besar itu pun menarik tubuh mungil istrinya masuk dalam pelukan hangatnya.
__ADS_1