Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Menggoda


__ADS_3

Tubuhnya terasa tak bertulang saat kapal berhasil mendarat dengan selamat di pelabuhan Merak. Dia ingin sebenarnya


turun dari kapal hanya dengan tetap menumpang pada bus. Namun keadaan di dalam kapal sangat porak poranda. Semua kendaraan dalam posisi tidak beraturan membuat para pemiliknya kebingungan mencari kendaraan mereka.


Keadaan semakin kacau saat mereka menyadari jika body kendaraan penuh lekuk penyok akibat benturan satu sama lain. Ya, guncangan akibat ombak besar tadi berhasil membuat kekacauan massal yang sulit untuk diurai.


Sekar berjalan pelan dengan kaki gontai. Ia berusaha melawan rasa lemah pada tubuhnya. Ia harus bisa berjalan sampai ke seberang dan kembali menaiki bus yang tadi ditumpanginya.


Seraya menunggu bus siap untuk kembali berangkat, Sekar memandangi laut yang begitu luas. Laut yang hampir saja menelannya hidup-hidup. Ombaknya masih tinggi walau sudah jauh lebih tenang bila dibanding saat diterpa badai tadi. Di ufuk barat tampak gurat jingga menghiasi langit yang berawan putih. Senja telah menampakkan dirinya menunjukkan jika petang segera menjelang.


Bus kembali berjalan kala waktu isya telah lewat. Rupanya ada beberapa pemeriksaan pada kendaraan untuk antisipasi ada tidaknya kerusakan akibat benturan keras siang tadi. Sekar pun langsung mengistirahatkan tubuhnya dan langsung terlelap dalam mimpinya tanpa ingat harus mengabari keluarganya jika dirinya selamat dari amukan badai di tengah laut.


Jam satu malam bus yang ditumpangi wanita muda itu sampai di terminal yang ditujunya. Sekar terbangun setelah penumpang di sebelahnya membangunkan dirinya. Dalam keadaan setengah sadar ia mengerjapkan matanya.


'Oh, udah sampai," gumamnya dalam hati. Gadis itupun segera turun dari bus dan duduk di sebuah warung makan yang masih buka di tengah malam.


"Mau pesan apa, Mbak?" sapa seorang wanita muda yang kira-kira seumuran Tiwi, kakaknya.


"Teh panas satu sama baksonya satu," jawabnya. Sekar merasa jika perutnya dingin dan perlu dihangatkan.


"Mas, aku sekarang di terminal," ucapnya dalam sambungan telepon saat ia teringat harus mengabari suaminya.


Gadis itu segera menyantap makanan pesanannya agar tubuhnya lebih bertenaga. Ia makan dengan lahap hingga tanpa sadar sang suami sudah berdiri di belakangnya, menatap penuh rindu.


"Sayang." Sekar langsung menoleh saat mendengar suara yang dirindukannya.


"Mas." Ia berdiri, mematung menatap wajah sang suami yang sudah berpisah cukup lama darinya.


"Aku rindu kamu." Bima langsung menubruk tubuh langsing istri yang dirindukannya.


"Maaf, maafkan aku yang pergi tanpa minta izin dulu sama kamu." Gadis itu tergugu dalam pelukan dada bidang suaminya. Bayangan kematian yang hampir saja menghampirinya, hadir kembali di pikirannya.


"Sudah, tak apa yang penting sekarang kamu selamat," ucap Bima seraya mengusap air matanya dan tetap memeluk erat istrinya. Ia begitu terharu bisa bertemu dan memeluk tubuh wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu.

__ADS_1


"Mas, mau makan dulu?" tanya Sekar kala mereka telah melepaskan pelukan rindu di antara keduanya.


"Ya, aku lapar sejak siang belum makan karena mengkhawatirkan dirimu," jawab Bima membuat Sekar terkejut.


"Ya, ampun Mas bisa sakit kalau nggak makan. Ayo duduk biar aku pesankan makanan buat Mas." Jiwa spontanitas Sekar langsung muncul. Dengan segera Sekar memanggil pelayan dan memesan makanan untuk suami tercintanya.


"Ini makan dulu," titah Sekar. Dengan cekatan dia siapkan segala yang dibutuhkan untuk acara makan malam suaminya yang tertunda karena memikirkan keselamatan dirinya.


"Aku ingin sekali rasanya menyusulmu ke tengah laut saat mendengar kabar kamu terjebak badai. Tapi semua melarang dan memintaku bersabar untuk menunggu kabar darimu. Jika saja kamu nggak selamat, aku mungkin bisa gila karena kehilanganmu," ujar Bima membuatnya terharu sekaligus merasa bersalah pada suami tercintanya.


"Maaf, tadinya aku ingin buat kejutan dengan datang tiba-tiba. Tapi justru kejutan besar yang aku hadapi. Untung kami masih bisa selamat, karena kesigapan nahkoda dan awak kapal. Kalau nggak, mungkin aku udah dimakan hiu." Gadis itu bercerita tentang kejadian mencekam siang tadi. Keduanya terus bercerita hingga Bima selesai makan.


******. *******


Mobil yang dikendarai oleh Bima berhenti di sebuah pelataran hotel.


"Kenapa ke sini, Mas?" tanya Sekar. Matanya celingukan mengamati keadaan sekitar hotel itu.


Keduanya menempati sebuah kamar berukuran sedang dengan fasilitas yang cukup lengkap.


"Aku mandi dulu," ucap Sekar seraya membuka pintu kamar mandi.


"Iya, badanmu pasti lelah jadi perlu untuk diguyur air. Apa perlu aku temani?" goda Bima pada Sekar dengan menaik turunkan alisnya yang tebal.


"Apaan, sih," gerutu Sekar namun bibirnya menyunggingkan senyum. Dengan segera ia masuk kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Huft!


Sekar menghembuskan nafas seraya menekan dadanya yang berdebar-debar.


Wanita berambut pendek itu segera mengguyur tubuhnya di bawah shower. Segar, itu yang pertama dirasakannya. Ia merasa otot-otot tubuhnya kembali mengendur. Ia merasa lebih baik sekarang.


Sekar keluar dari kamar mandi setelah ritual mandi singkatnya selesai. Dia pikir suaminya sudah terlelap, tenyata masih menunggunya sambil bermain ponsel di ranjang. Sekar mendekati suaminya malu-malu.

__ADS_1


"Kenapa jalanmu seperti siput begitu?" tanya Bima.


Pria itu memandangi istrinya yang dalam balutan handuk kimono berwarna cream.


Jantungnya berdegub kencang setelah menyadari jika istrinya terlihat begitu cantik malam ini walau rambutnya masih seperti seorang pria.


"Kemari, jangan hanya berdiri di sana," kata Bima.


Sekar mendekati suaminya dengan gugup dan malu. Bima yang sudah tidak sabar dengan cara jalan Sekar yang begitu lelet, segera mendekati istri cantiknya lalu membopongnya dan merebahkannya di atas ranjang.


Sekar memejamkan matanya takut jika Bima akan melakukan lebih. Dirinya sudah dewasa, tentunya hal tentang ranjang dia sudah tahu. Secara alamiah setiap orang akan memahaminya. Cukup lama Sekar memejamkan matanya, namun tidak ada pergerakan apapun dari suaminya. Menyadari itu Sekar jadi malu.


"Kenapa? kamu ingin dicium, ya?" goda Bima. Ternyata wajahnya masih berada tepat di depan wajah Sekar. Pria itu masih menikmati kecantikan dan keindahan ciptaan Tuhan.


"Enggak, kok," sahutnya cepat dengan wajah memerah malu.


"Hahaha ternyata kamu semakin cantik bila dilihat dari dekat," tawa Bima semakin membuat wajah Sekar merah merona.


"Apa kamu mau?" tanya Bima memancing pemikiran istrinya.


"Mau apa?" tanya Sekar gugup.


"Kita kan sudah sama-sama dewasa dan kita juga sudah resmi menikah, kamu tahu kan apa yang dilakukan oleh sepasang suami istri dalam satu kamar?" Sekar mengangguk. Bima semakin bersemangat untuk menggoda istrinya.


"Itu artinya kamu udah siap, dong?" tanya Bima lagi. Hatinya tertawa geli melihat ekspresi istrinya yang semakin lucu menurutnya.


"Siap apa?" tanya Sekar lugu.


"Yang dilakukan sepasang suami istri di dalam kamar?" goda Bima seraya menaik turunkan alisnya.


*****. ******


Hayo apa hayo. 😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2