
Selama beberapa hari di desa Sekar menghabiskan waktu bersama keluarganya. Mengunjungi gurunya, kakak sulungnya dan mengadakan reuni dengan para sahabatnya di hari jum'at tepat sehari sebelum berangkat. Reuni ini rutin dilakukan oleh mereka yang baru pulang dari kota. Tujuannya agar persahabatan mereka tetap erat.
Dari kesemuanya hanya tinggal Sekar anggota perempuan yang masih single sementara yang lain sudah menikah dan punya anak hanya tersisa beberapa teman lelakinya yang juga masih single.
"Sekar, kamu masih awet jomblo belum ada kabar babang tamvan itu?" tanya Laili menggoda sahabatnya.
"Hemh....," Sekar menghela nafas pelan dengan sedikit berfikir. "Sudah kok cuma belum pas aja momennya buat nembak," jawabnya membuat sahabatnya melongo.
"Gila! kamu mau nembak dia? Gila!" seru Rahma heboh tak percaya membuat yang hadir ikut kepo.
"Ya ela, Rahma aku masih waras kali masa aku yang nembak? Dimana harga diri gue???" seru Sekar tak kalah berisik.
"Lha tadi kata kamu belum tepat momennya?" Kini Sofyan yang menimpali.
"Ya, momen dia nembak akulah," jawabnya gelagapan.
"Orang mana? Orang mana?" Kini Sinta yang kepo.
"Jangan jangan si Aan lagi?" tebak Putri.
"Woy, bukan woy. Enak aja asal njeplak," serunya kesal dengan setengah berteriak. "Ada dia bukan orang sini. Aku gak mau ngumbar karena ini privasi. Biarlah bila nanti kami berjodoh pasti akan dimudahkan," tambahnya dengan penuh harap dengan nada lebih tenang.
"Amiiin," teman temannya mengamini harapan masa depannya itu.
"Eh, kamu tahu gak gosip terbaru?" tanya Sinta dengan tubuh menempel erat pada Sekar.
"Apa?"
"Abas...," Sinta berhenti sejenak menunggu reaksi Sekar. Tapi Sekar terlihat biasa saja membuatnya jadi tidak bersemangat lagi.
__ADS_1
"Udah terusin aja gak papa," ujar Sekar membuat Sinta terpaksa meneruskan gosip tak bermutunya dengan sedikit ragu.
"Abas bilang dia masih menunggumu, dia masih mencintaimu." Sekar langsung tertawa terbahak-bahak mendengar itu.
"Kalau di antara kalian ada yang ketemu Abas bilang sama dia agar segera cari jodoh jangan tungguin aku, keburu jadi bujang lapuk dia karena aku sama sekali gak ada perasaan apapun lagi dengannya sejak dia ketahuan selingkuh sama Rosa. Okey, gays?" Sekar menekankan kata katanya menandakan ketegasannya.
"Uh....ini yang kuharap darimu kamu gak boleh tersakiti lagi, okey?" ujar Laili dengan penuh sayang memeluk sahabatnya yang telah dianggapnya saudara itu.
"Puspa, gimana anak-anak, aman?" tanya Sekar pada Puspa yang bertugas mengawasi anak anak yang bermain di halaman rumah orang tua mereka.
"Iya, Mbak aman lanjutin aja," Serunya dari bawah pohon rambutan yang sedang tidak berbuah di pojok halaman depan.
"Gays dari tadi yang makan rujaknya aku doang, kalian gak mau?" Kini Rani yang bicara karena sejak tadi dia hanya sibuk makan rujak sampai hampir habis.
"Duh, bumil masih ingat teman, tho?" ledek Sofyan yang sontak membuat mereka tertawa.
"Gara gara Amir nih tiap malam disuntik vitamin. Ya, jadi gendut dia kebanyakan makan," sahut Hanif yang sontak membuat Amir tersedak air liurnya sendiri yang justru membuat mereka semakin semangat meledek pasangan pengantin baru itu.
Selepas para sahabatnya pulang Sekar juga Puspa langsung membereskan ruang tamu dan dapur juga halaman rumah mereka yang seperti kapal pecah akibat ulah tamu tamu mereka yang memang sudah seperti rumah mereka sendiri.
***** ******
"Mau dibawa pakai apa semua oleh oleh ini, Ndhuk?" tanya Ibu saat mereka merapikan oleh-oleh yang sudah di cari oleh bapak.
"Langsung dibungkus untuk masing masing orang lalu disatukan dalam kardus besar supaya mudah bawanya," jawab Sekar yang berjalan dari dapur dengan membawa sebuah kardus besar dan tiga kantong kresek besar di tangannya.
Dengan cekatan ia memisahkan lalu menyatukan barang barang itu dalam satu wadah. "Wah, berat banget, Bu!" seru Sekar saat mencoba mengangkat kardus besar itu.
"Terus gimana dong Bapak kebanyakan apa ya cari barangnya?" tanya Ibu bingung.
__ADS_1
Sekar tersenyum dan berkata, "Tenang saja Bu kan nanti diangkat sama kenet busnya jadi gak perlu repot lagi"
"Iya, ya. Ibu kok gak kepikiran ke sana, ya?" gumam Ibu membuat Bapak geleng-geleng kepala.
"Ndhuk, di sana kerja yang benar yang giat, jujur dan bertanggung jawab supaya hasilnya memuaskan. Jangan terlena dengan kedudukan dan gaji yang lumayan sebab semua itu tidak akan ada artinya bila hanya dirimu yang menikmati jadi berbagilah dengan mereka yang membutuhkan itu akan membuatmu menjadi kaya dan bahagia," nasehat Ibu sebagai pedoman hidup putrinya.
"Iya, Bu InsyaAllah Sekar bakal ingat itu dan melaksanakannya. Ibu dan bapak juga baik baik di rumah jaga kesehatan jangan terlalu capek biar gak sakit sekarang Sekar lebih jauh, Puspa juga bakal kuliah dan tinggal bareng Kirana di kota jadi ibu dan bapak harus ekstra jaga diri karena kami pasti akan makin sulit pulang. Okey?" pinta Sekar pada orang tuanya.
"Yang di rantau juga dong," sahut Bapak menimpali.
"Iya Bapak Ibu," sahut Sekar manja.
******. ******
Hari semakin panas ketika lewat waktu dhuhur pertanda Sekar harus segera bersiap siap untuk berangkat ke kota menuju kostan Kirana untuk mengambil barangnya yang sebelumnya sudah disiapkan saat akan pulang ke desa beberapa hari lalu.
Sekar sudah meminta Joko dan Andre untuk kembali mengantarkannya ke terminal. Joko membonceng dirinya sementara Andre membawa barangnya. Sesampainya di terminal ia langsung menaiki bus yang akan mengantarnya ke kota.
Sendiri di bus Sekar kembali memikirkan cara agar hutangnya bisa lunas sebelum sepuluh tahun. Karena sepuluh tahun lagi usianya jadi tiga puluh enam dan itu artinya dia sudah jadi perawan tua. Oh my God! Sekar menggelengkan kepalanya keras membayangkan dirinya yang berubah jadi perawan tua karena harus membayar hutang satu milyarnya.
Empat jam berlalu hingga tibalah dia di kota Bandar Lampung kota yang memberi sejuta kenangan. Hemh, kali ini dia datang hanya untuk singgah bukan menetap dalam jangka waktu yang cukup lama seperti biasa. Segera dia menuju kostnya.
"Mbak akan langsung berangkat aja, nih?" tanya Kirana setelah mereka sholat maghrib dan dilanjutkan makan malam.
" Iya, Dek biar sampainya masih pagian jadi Mbak masih sempat istirahat juga mampir ke rumah majikan Mbak yang dulu," jawabnya lembut.
"Mbak hati hati ya di jalan, di sana juga. Kalau ada apa apa segera hubungi aku. Jangan telat makan, jangan begadang, jangan lupa pulang bawa calon suami," kelakar Kirana dalam pesannya.
"Ish, kamu ni ya sukanya godain Mbaknya," seru Sekar seraya mencubit pelan lengan adiknya.
__ADS_1
Kirana tidak diizinkan mengantarnya ke terminal karena dia pun sudah minta diantar oleh Rehan kawan yang bekerja di toko tempatnya bekerja beberapa hari lalu. Ia memantapkan hati menjemput masa depannya. Semoga ini menjadi awal bahagianya. Amiiin.