
Jam masih menunjukkan waktu fajar baru akan menyingsing. Namun Sekar sudah tidak dapat memejamkan matanya. Ia teringat ucapannya sejak kemarin yang berhasil mengusik relung hatinya. Ia menyadari jika ia telah berdosa pada suaminya. Ingin ia meminta maaf dan memeluk tubuh pria yang dicintainya dalam diam sejak lama itu. Namun lagi lagi keadaan tidak memungkinkannya untuk melakukan itu.
Sekar beranjak dari dipan kayu dalam kamarnya. Ia berjalan keluar dan menatap tubuh-tubuh yang berbaring di atas tikar ruang tamunya. Rumahnya terlalu kecil dan tidak layak untuk diinapi orang kota yang kaya seperti suami dan adik iparnya. Di dalam lubuk hatinya ia merasa sedih dengan perjuangan orangtuanya untuk pendidikan anak-anaknya hingga melupakan rumah mereka yang butuh diperbaiki.
Beruntung saat ini musim kemarau yang jarang sekali turun hujan. Dirinya tidak bisa membayangkan jika ini musim penghujan. Tanah dalam rumahnya ini akan lembab dan terkadang mengeluarkan rembesan air. Bahkan terkadang lumut pun akan tumbuh di dalam ruang tamunya ini.
Gadis itu menghela nafasnya saat ingin memeluk tubuh suaminya namun terhalang oleh tubuh Satya dan Sayid kakak iparnya. Akhirnya ia beranjak berjalan menuju dapur lalu keluar menuju kamar mandinya untuk buang hajat dan berwudhu untuk sholat subuh yang akan segera tiba.
"Arum, kamu sudah bangun?" baru saja dia akan membuka pintu belakang suara suaminya memanggil namanya.
"Kamu sudah bangun, Mas?" Sekar balik bertanya pada Bima.
"Iya, tadi aku dengar ada yang berjalan jadi aku bangun dan melihatmu di sini. Kamu mau kemana?" tanya Bima seraya menguap.
"Mau ke kamar mandi," jawabnya singkat dan mulai berjalan lagi.
"Dimana kamar mandinya kok nggak ada?" tanya Bima keheranan karena tidak menemukan kamar mandi di belakang rumah mungil itu.
"Itu," sahut Sekar menunjukkan kamar mandi yang dimaksud menggunakan dagunya.
Bima terperanjat manakala ia mendapati kamar mandi yang sangat jauh dari ekspetasinya. Tubuhnya spontan mendekati bangunan kecil yang terbuat dari kayu itu.
Ya, kamar mandi itu berupa bangunan kayu persegi berukuran sempit. Letaknya cukup ekstrem baginya, di atas kolam. Bangunan panggung dengan tiang-tiang kayu tertancap di dasar kolam berlantaikan kayu-kayu tebal sisa penebangan pohon besar yang tidak dapat dijual.
"Ini kamar mandinya?" tanya Bima dengan mode terperangah tak percaya.
__ADS_1
"Iya." Sekar mengangguk.
"Toiletnya dimana?" tanyanya lagi wajahnya masih kaku tak bergeming.
"Ya di situ juga, kan ada lubang untuk bab," jawaban Sekar semakin membuat suaminya senam jantung di pagi buta.
"Apa nggak ada toilet di sini?" tanya Bima seraya berjalan ke sana kemari mencari bangunan kecil lain namun hasilnya nihil hanya ada kandang ayam di sisi halaman belakang yang lain.
"Udahlah kalau gak percaya. Keburu banjir malah sibuk ngurusin orang norak," gerutu Sekar kesal lalu masuk ke dalam bilik kayu itu yang tanpa adanya penerangan. Anehnya Sekar bisa melihat dalam kegelapan kamar mandi itu.
'Ikan makan kotoran manusia? Air sabun untuk mengisi kolam ini? Bagaimana bisa mereka konsumsi ikan yang berasal dari kolam yang seperti itu? Ini menjijikkan. Pokoknya selama aku di sini nggak boleh istriku makan ikan dari kolam itu,' gerutunya dalam hati.
Bima yang juga ikut ingin buang air pun akhirnya mau tidak mau ikut menggunakan fasilitas yang menurutnya jauh dari kata layak itu.
Ia sedikit was-was manakala kamar mandi tak layak pakai itu sedikit bergoyang karena pergerakan kakinya. Ia takut jika bangunan reot itu akan roboh dan ia terjebur dalam kolam itu. Apalagi tempat itu gelap membuatnya membayangkan adanya hewan melata di sana.
******. ******
"Iya, Hadi aku akan pulang. Tapi aku lihat kondisi istriku dulu, ia sedang berkabung aku tidak bisa meninggalkan dirinya jika dia masih bersedih, kasihan dia," ujar Bima saat bicara dengan Hadi di sambungan telepon.
Bima masuk ke dalam kamar istrinya dan mendapati gadis itu tengah membenahi kamarnya.
"Sayang, aku harus pulang ada sedikit urusan mendesak soal hasil pameran produk ekspor waktu itu. Apa kamu sudah baik-baik saja?" Bima dengan berat hati mengatakan itu.
"Iya, aku sudah baik-baik saja. Pulanglah, Mas udah terlalu lama di sini. Meninggalkan pekerjaan terlalu lama akan membuat pekerjaan jadi berantakan. Aku tak apa di sini sampai tujuh hari meninggalnya bapak. Lagipula keluarga ku banyak di sini. Pulanglah," jawab Sekar tersenyum pada suaminya.
__ADS_1
"Maafkan aku yang tidak bisa menemanimu di sini lebih lama. Aku izinkan kamu di sini sampai hatimu membaik. Kabari aku jika ingin ke Jakarta, aku akan menjemputmu," ucap Bima.
Bibirnya mengecup lembut kening istri yang belum disetubuhinya itu. Hatinya berat meninggalkan pemilik hatinya di sini. Namun ia juga tak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama. Apalagi ini sudah seminggu ia berada di desa yang sejuk ini. Tentu pekerjaannya semakin menumpuk.
*****. *****
Bima dan Satya akan ke kota kecamatan untuk mencari bus menuju Jakarta. Keduanya diantar oleh Zehan anak Pakdhe Suraji dan Sayid suami Tiwi.
"Sayang, aku pergi dulu. Maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Dipeluknya sang istri erat.
Berat hatinya akan melangkah. Tapi dia juga tidak boleh egois untuk membawa pujaan hatinya ikut bersamanya sedangkan keluarga istrinya tengah berkabung.
"Baik-baik, sayang." Kembali dikecupnya kening istrinya yang juga meneteskan air mata. Biar bagaimanapun hatinya sedang rapuh. Tapi ia juga mengerti jika suaminya bukanlah pengangguran yang bisa selalu menemaninya.
Keduanya saling berpelukan cukup lama. Siapapun yang melihatnya merasa terharu dengan perpisahan keduanya. Mereka menikah secara mendadak dan harus berduka di hari istimewa mereka. Jika pasangan pengantin baru akan menikmati bulan madu, mereka justru harus terpisah oleh waktu.
"Tunggu aku. Aku akan datang untukmu," bisik Satya di telinga Kirana membuat gadis itu mendelik tajam pada pria tengil itu.
"Untuk apa aku menunggumu, kamu bukan siapa-siapaku," jawab Kirana ketus walau tak bisa dipungkiri jika kini jantungnya tengah berdebar kencang.
"Aku calon suamimu," kata Satya menggoda gadis berdagu belah itu meniru rayuan kakaknya pada Sekar dulu.
Kirana yang mendengar itu wajahnya memerah malu. Ingin rasanya ia memukul wajah tampan pria jangkung yang tengil itu sekuat tenaga agar mulut pria itu diam dan tidak mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Namun rasa malunya lebih besar membuatnya mengurungkan niatnya itu.
Bima dan Satya pun pergi meninggalkan desa asri tempat tinggal keluarga baru mereka. Entah kapan mereka akan kembali ke sini. Namun yang pasti mereka akan kembali.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Bima bersedih harus berpisah dengan istri tercintanya. Berbeda dengan Satya yang terus tersenyum sendiri mengingat momen bersama Kirana beberapa hari ini. Momen yang membekas di hatinya.