
Bima dan Satya berlari dari mobil ke UGD sebuah rumah sakit swasta mencari keberadaan Ibu mereka juga Sekar yang juga merupakan anggota keluarga baru sejak tinggal di rumah mereka. Mereka panik mendengar kabar kecelakaan keduanya.
"Bima, Satya mana mama?" tanya Doni dengan nafas terengah-engah setelah berlari untuk mencari posisi sang istri dan sepertinya dia lupa dengan Sekar saking paniknya.
Mereka pun bertanya pada Petugas resepsionis untuk mencari kabar keduanya. Mereka sangat panik setelah seseorang mengirimkan foto mobil mereka yang ringsek parah tak berbentuk lagi. Di pikiran mereka pasti keadaan keduanya sangatlah parah.
Kini ketiga pria beda usia itu berlari menuju kamar perawatan pasien. Merekapun diperbolehkan menjenguk.
"Mama!" teriak ketiga pria itu kompak.
Intan terkejut dengan teriakan ketiganya. Ia menggeleng kepala kesal karena mereka mengganggu istirahatnya.
"Ya, Allah Mama... bagaimana bisa kecelakaan, apa Sekar tidak hati-hati nyetirnya?" cecar Dino mengkhawatirkan istrinya.
"Ck, bukan Papa. Mobil kita lagi berhenti di lampu merah, tiba-tiba ada truk dari belakang nyeruduk mobil kita. Dari tadi malah Sekar belum sadar," Intan menceritakan kejadian yang hampir merenggut nyawanya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Luka Mama yang mana?" tanya Satya mencari- cari tubuh Intan yang terluka.
"Cuma ini, ini, sama ini." jarinya menunjuk pada kening, lengan kiri juga kaki kirinya. Semua luka masih terbilang wajar dan akan sembuh hanya dalam beberapa hari saja.
Ketiganya pun beralih ke ranjang tempat Sekar dirawat. Hanya terpisahkan oleh tirai. Bima sampai tidak bisa berkata-kata melihat keadaan Sekar yang penuh perban. Tanpa sadar air matanya menetes.
"Tenang saja luka calon istrimu tidak mengkhawatirkan," kata Intan setengah menggoda putranya.
"Tidak mengkhawatirkan gimana, Ma? Lihat wajahnya penuh perban. Pasti ada luka yang lain juga, kan?" Bima bukannya tenang malah semakin khawatir.
"Tadi ke Mama gak sepanik itu?" goda Intan lagi dia tersenyum melihat kepanikan putranya.
__ADS_1
"Ya, paniklah sebelum lihat Mama. Tapi Mama 'kan keadaannya baik, lha ini lihat dia udah seperti mumi, Ma," elak Bima dengan wajah ditekuk karena dalam keadaan seperti ini malah digoda.
Dokter pun masuk dan menjelaskan jika Sekar memang baik-baik saja. Tubuhnya banyak perban karena luka lecet saja. Hanya pada kulit kepalanya ada goresan cukup dalam dan perlu mendapat jahitan. Sekar tak sadarkan diri pun karena efek obat untuk mengurangi rasa sakit.
"Dari kondisi mobil yang terbilang sangat parah, ini adalah sebuah keajaiban karena penumpang hanya mengalami luka ringan. Hanya mungkin untuk nona Sekar ini akan membuatnya cukup syok. Tapi saya yakin itu hanya sebentar," dokter mengungkapkan perasaan herannya. Baru sekarang sejak 17 tahun menjadi dokter, ia menemukan kejadian ajaib ini. Baginya ini di luar nalar.
"Benar, ini sebuah keajaiban. Ma, sebenarnya bagaimana kejadiannya kami begitu takut tadi saat melihat foto mobil mama yang sudah sangat parah bahkan papa sampai tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Mama," ujar Doni menuntut penjelasan istrinya sambil terus menggenggam tangan wanita tercintanya.
Intan pun menceritakan kejadian kecelakaan mengerikan itu. Dia pun menceritakan semua dari mereka berangkat sampai terjadinya kecelakaan itu. Kecepatan mereka terbilang santai dan memang kecelakaan terjadi mutlak kesalahan sopir truk yang mengemudi dalam keadaan kelelahan.
"Lalu kenapa Mama begitu santai seperti tidak terjadi apa-apa, bukankah itu sangat mengerikan?" tanya Bima menatap wajah ibunya yang terlihat begitu tenang.
"Entahlah. Mama seperti tidak merasakan apapun dan tahu-tahu sudah ada di sini. Tadinya mama khawatir dengan keadaan Sekar, tapi dokter bilang kalau dia baik-baik saja hanya memang kulitnya banyak yang lecet. Yang mama takutkan kalau dia trauma, itu akan sangat merepotkan mengingat kemana-mana harus pakai mobil," ucap Intan cemas.
Mereka kompak memandangi Sekar yang terbaring tak sadarkan diri. Mereka merasa khawatir jika itu benar terjadi. Kasihan sekali, pikir mereka bersamaan.
Semua pun menatap dokter itu menuntut Jawaban yang masuk akal.
"Apa itu, Dok?" tanya Bima penasaran karena dokter itu justru belum juga melanjutkan pendapatnya.
"Saya rasa ini adalah keajaiban sedekah," ucap dokter itu mantap.
"Keajaiban sedekah?" mereka bertanya bersamaan seperti paduan suara.
"Dari cerita bu Intan saya menyimpulkan begitu. Sebab, sedekah memang bisa sebagai tolak bala apalagi Ibu juga calon menantu ibu membantu janda dan anak yatim yang sedang dalam keadaan kesulitan. Saya rasa doa mereka agar Allah melindungi orang yang telah membantunya dikabulkan, dan saya rasa ini buktinya ibu dan calon menantu nya baik-baik saja," dokter itu menjelaskan panjang lebar pendapatnya.
"Apa benar mereka mendoakan Mama?" kini Satya yang bicara.
__ADS_1
"Iya banyak doa yang mereka panjatkan salah satunya keselamatan. Dan Mama pikir pendapat dokter benar adanya. Karena jika melihat keadaan mobil yang kamu tunjukkan tadi, mustahil rasanya jika kami akan selamat. Sungguh nyata doa anak yatim." Intan setuju dengan pendapat dokter setengah baya itu.
Jam 8 malam Sekar baru bangun dari tidurnya. Ia mendapati dirinya tengah berada di tempat asing. Dia menoleh ke kanan dan melihat Intan ada di sebuah ranjang rumah sakit.
"Apa aku juga ada di rumah sakit?" batin Sekar masih dalam keadaan bingung.
"Arum, kamu sudah sadar sayang?" tanya Bima segera mendekati Sekar yang dilihatnya baru sadar dari tidurnya.
"Sayang? Aku gak salah dengar, dia panggil Sekar sayang? Apa mereka sudah jadian?" Intan terkejut saat mendengar Bima memanggil Sekar dengan panggilan sayang.
Intan mendengar pertanyaan anaknya pada gadis pujaannya memutuskan untuk pura-pura tidur agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan juga agar keduanya tidak merasa malu dengan adanya dirinya didekat mereka.
"Aku di rumah sakit ,ya Mas?" lirih suara Sekar namun masih terdengar oleh Intan.
"Iya, sayang. tapi kamu baik-baik saja, kok. Aku pikir aku akan kehilangan mama dan kamu karena kecelakaan tadi siang. Kini aku lega, kamu baik-baik saja."
"Sayang lagi? Dan Sekar tidak menolaknya? Apa mereka benar-benar sudah jadian?" Intan masih menguping pembicaraan mereka dengan mata terpejam.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku. Aku juga berfikir kalau tadi memang sudah takdir hidupku," ucap gadis itu lirih.
"Bagaimana keadaan Mamanya Mas Bima?" Sekar melihat Intan yang difikirnya tengah tertidur.
"Mama sangat baik hanya butuh istirahat. Begitu juga denganmu. Sakit yang kamu rasakan itu karena kulitmu banyak yang terluka walau tidak parah namun tetap sakit," Bima menjelaskan sedikit tentang keadaan semuanya.
"Mas, mau nginap apa pulang?" tanya Sekar namun tangan lemahnya menahan lengan Bima yang beranjak akan pergi.
"Pulang, aku ingin minum kopi bersama teman-temanku" jawab Bima membuat mata kedua wanita yang disayanginya menatap tak percaya. Namun demi ingin tahu kelanjutan ceritanya Intan kembali pura-pura masih tidur.
__ADS_1