
Sekar dan Bima sampai di butik. Mereka langsung menemui Intan yang tengah berada di ruangannya.
"Ma," panggil Bima. Intan mengangkat wajahnya dan menatap putranya yang tengah bersama Sekar.
"Ya, ada apa, Nak?" jawabnya lembut.
"Ma, kalau ada yang tanya soal Arum jawab jika dia calon mantu Mama, ya?" Intan terkejut tak menyangka putranya bisa bicara seperti itu.
"Apa kalian pacaran?" tanya Intan dan Sekar saat ini sungguh sangat malu.
"Enggak, Bu" jawab Sekar cepat membuat Intan dan Bima kecewa.
"Terus kenapa Bima minta saya bilang ke orang lain jika kamu calon mantu saya?" tanya Intan bingung.
"Hehehe siapa tahu dikabulin, Ma," seloroh Bima seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ah, kalian pikir jodoh itu mainan," ketus Intan sewot. Dia sempat sangat berharap jika itu memang benar.
"Ya, sudah Bima pamit balik mau kerja lagi." Bima mencium punggung tangan mamanya berlalu pergi meninggalkan kedua wanita itu dalam suasana canggung.
"Sekar, apa kamu gak punya rasa untuk putraku?" tanya Intan dengan menatap dalam mata hitam Sekar.
"Hah???" Sekar terkejut dan bingung harus jawab apa.
"Tanyakan pada hatimu jangan sampai menyesal di kemudian hari. Bekerjalah lagi," ucapan Intan membuatnya semakin bingung.
Memang hatinya sangat mencintai Bima bahkan sejak pertama dia melihat pria itu 6 tahun lalu saat bekerja sebagai ART di rumah keluarga Rafa. Dia yang saat itu hanya bertugas di dapur dan mencuci membuatnya hanya bisa melihatnya dari kejauhan bahkan itu setelah 2 tahun dia bekerja di sana.
Dia juga tidak tahu apakah Bima juga mencintainya dan jika iya apakah keluarga Bima akan merestui secara dirinya berasal dari keluarga miskin dan dirinya hanyalah asisten ibunya. Semua itu membuatnya galau.
"Sekar," panggil Intan saat dalam perjalanan pulang ke rumah sore itu.
"Iya, Bu ada apa?" Sekar menoleh sesaat lalu kembali fokus ke jalanan di depannya.
"Kamu tahu, ternyata benar yang dikatakan Bima kalau akan ada yang menanyakan statusmu dalam keluarga kami."
__ADS_1
"Benarkah, Bu?" Sekar terkejut dengan ucapan Intan.
"Iya. Dan kamu tahu itu siapa?" Sekar menggeleng.
"Dia Deri, klien yang kamu temui beberapa hari lalu," jawab Intan dengan wajah sedikit cemas. "Menyesal saya menyuruhmu keluar. Inilah yang saya takutkan kamu akan diuber orang untuk mencari statusmu di sini."
Kini Sekar tahu alasan dirinya diminta bekerja di dalam ruang produksi atau yang jelas tanpa bertemu orang lain tapi kenapa harus secemas itu? Sekar merasa jika ini sangat aneh dan berlebihan.
"Saya sungguh ingin menjagamu, Sekar. Dan kamu tahu saya cukup cemas karena yang bertanya adalah Deri." Sekar menoleh heran mengapa Intan khawatir dengan Deri dia hanya menggeleng tak tahu.
"Dia orang yang nekat. Sebaiknya kamu bekerja di rumah saja."
"Bagaimana bisa pekerjaan saya 'kan di butik, Bu?" Sekar sungguh bingung mengapa bosnya memiliki ketakutan tentang dirinya.
"Saya akan tetap kerja di butik dan saya janji kalau saya akan tetap berada di dalam dan tidak akan menemui pengunjung," ucap Sekar coba meyakinkan bosnya.
"Saya takut kamu akan dikejar kejar terus," ujar Intan cemas.
"Saya akan cari cara untuk menghindar, Bu," jawab Sekar tersenyum dan mengelus lengan Intan agar percaya padanya.
"Kamu berada dalam tanggung jawab saya. Kamu sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri jadi kamu harus bekerja sama dengan saya agar saya tenang," jawabnya dengan menatap Sekar dalam dalam.
"Emh... Ibu, Ibu so sweet sekali....Sekar juga sayang Ibu. Ibu dan keluarga sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri." Sekar pun menatap sayang pada Intan dan tersenyum manis menandakan jika ia tidak keberatan menjadi bagian dari keluarga mereka.
********. .. *******
Sekar cemas di dalam kamar sambil memegangi ponselnya. Dia juga menuruti perintah Intan agar memblokir nomor ponsel Deri. Dia merasa heran dan bingung. Jika Deri orangnya nekad kenapa Intan mau diajak kerja sama kenapa tidak menolaknya? Sebenarnya apa maksud Deri mencari tahu statusnya di keluarga itu? Berbagai pertanyaan melintas di kepalanya.
Selepas makan malam Bima mengajak Sekar duduk di teras belakang. lntan yang mengetahui itu ikut duduk bersama mereka.
"Kenapa Mama ikut kesini Papa sendirian dong, Ma?" tanya Bima dengan wajah cemberut melihat Mamanya menyusul ikut duduk bersama mereka.
"Mama ngobrol sama calon mantu Mama juga, dong," goda Intan pada putranya membuat wajah Sekar memerah malu.
"Ganggu aja, Mama," gerutu Bima.
__ADS_1
"Biar gak ada setan lewat," celetuk Intan makin membuat wajah Sekar memerah.
"Udah ah jangan tanya mulu tuh lihat wajah calon mantu Mama udah kayak udang rebus." Makin malu saja gadis itu oleh ulah ibu dan anak di depannya itu.
"Bu, saya mau belajar bela diri dimana tempat yang bagus ya, Bu?" tanya gadis yang saat ini menggunakan hijab biru muda itu setelah mereka berbincang cukup lama.
"Kenapa tiba-tiba ingin belajar beladiri?" tanya Bima.
"Deri datang mencari tahu status Sekar di keluarga kita. Mama khawatir jika dia akan nekad," jawab Intan penuh kekhawatiran.
"Kalau Ibu gak suka sama Deri, kenapa Ibu setuju kerja sama dengan dia?" ini saat tepat untuk bertanya menurut Sekar.
"Saya fikir kalian tidak saling kenal dan dia tidak akan tertarik padamu, tapi saya salah. Dia justru sangat menggilaimu," Intan menjawab dengan nada lesu.
"Kan baru sekali dia menanyakan saya. Bagaimana bisa Ibu mengambil kesimpulan seperti itu?"
"Caranya bertanya sudah mengatakan itu. Saya sudah berumur dan saya sudah banyak mendengar hal hal seperti ini sebelumnya. Itu kenapa saya bisa tahu."
Intan meminum teh manis yang tadi sempat dibawanya yang bahkan sudah tidak lagi hangat karena terlalu lama dibiarkan.
"Gimana, Mas sudah tahu tempatnya?" Sekar kembali menanyakan tentang tempat latihan bela diri.
"Kamu ini seolah saya gak bisa melindungi kamu aja," ketus Bima tak suka.
"Jangan salah paham. Mas 'kan gak selalu ada buat saya, lagian Mas juga bukan siapa siapa saya hanya putra bos saya," jawab Sekar telak.
"Ya, sudah kalau mau jadi siapa-siapa kalian pacaran atau malah nikah aja. Kan kalian tadi yang bilang kalau Sekar calon mantu Mama." Kembali Intan menggoda keduanya membuat keduanya salah tingkah.
"Maunya gitu, Ma sayangnya dia susah diajak pacaran apalagi nikah." Kini Bima yang menggoda Sekar membuat gadis sederhana itu makin salah tingkah.
"Kapan juga dia ngajaknya. Kalau dia beneran ngajak mah gak bakalan ku tolak, pasti maulah kan aku udah lama suka sama dia," gumamnya dalam hati yang saat ini berselimut rasa malu yang menggunung.
"Gimana Sekar maukan jadi mantu saya beneran?"
"Hah???????"
__ADS_1