
"Hei, siapa kamu? Kenapa bisa ada di rumahku?" Satya berteriak kala dirinya melihat ada sosok wanita yang aneh berada di ruang makan rumahnya pagi itu.
"Ada apa Satya?" tanya Intan yang berlari dari kamarnya diikuti oleh Doni dan Bima menuju ruang makan rumahnya karena mendengar teriakkan Satya.
"Kamu siapa? Kenapa bisa ada di rumah saya?" tanya Intan mengulang pertanyaan Satya pada wanita itu.
Bagaimana tidak panik, seorang wanita memakai pakaian syar'i berwarna hitam dengan wajah ditutupi oleh cadar bisa berada di dalam rumah mereka.
Wanita itu berjalan mendekat membuat mereka semakin waspada. Mereka sangat takut jika wanita itu adalah penjahat yang menyelinap dan bersembunyi dari kejaran polisi dan menjadikan rumah ini sebagai tempat persembunyiannya.
Wanita itu membuka cadarnya dan betapa terkejutnya mereka dengan apa yang mereka lihat, wajah di balik cadar tadi.
Sekar ???
Mereka berteriak bersamaan terkejut dengan apa yang mereka lihat. Seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya mereka menghampiri Sekar dengan cepat lalu menelisik penampilan gadis manis itu dengan tatapan tak biasa.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Intan masih dengan wajah terkejutnya.
"Apa? saya cuma menyamar," jawab Sekar singkat.
"Untuk apa?" tanya Doni bingung.
"Ibu bilang jika Deri nanyain saya dan Ibu takut Deri ngejar-ngejar saya makanya saya menyamar biar gak ada yang kenali saya," Sekar menjawab dengan lugu membuat semua melongo.
"Segitunya kamu turuti istri saya?"
"Demi kebaikan bersama, Pak," ujar gadis bermata hitam itu tenang.
Mereka pun duduk mengitari meja makan mulai menikmati sarapan masih dengan kepala berfikir ide dari mana Sekar melakukan itu. Terkadang mereka menggeleng kan kepala bila pemikiran mereka tak sesuai. Mereka sibuk dalam imajinasi hingga tak menyadari jika makanan mereka telah habis.
"Emh, maaf semuanya setelah ini tolong ganti panggilan saya jadi Dewi. Tolong Ibu sampaikan pada karyawan butik jika daya sudah risaign dan digantikan oleh Dewi. Dan karena saya pakai cadar tentunya saya sudah bebas keluar tanpa dikenali orang lain lagi. Bagaimana boleh, kan?" pinta Sekar usai mereka sarapan.
__ADS_1
"Ide kamu bagus tapi apa tidak panas pakai baju segitu rapatnya?" tanya Doni.
"Tidak kok, Pak saya sudah pakai kain paling cocok untuk style seperti ini," ujarnya dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Ya, wajah Sekar memang selalu tampak tersenyum sekalipun ia dalam keadaan sedih.
"Ya sudah nanti mama akan carikan kain yang cocok buat Sekar. Mama ingin calon mantu mama hanya kita yang bisa melihat wajahnya," ucapan Intan jelas membuat Doni dan Satya terkejut. Apakah Bima pacaran dengan Intan?
"Maksud Mama, Mas Bima sama Sekar pacaran?" tanya Satya tak percaya.
"Ah, gak perlu pacaran nikahin aja langsung iyakan Bima?" tukas Intan sambil mengibaskan tangannya.
Bima memandang Sekar yang diam saja sekilas. Ia juga bingung mau jawab apa diantara mereka tidak ada ikatan perasaan apapun walau pun dia sangat mencintai gadis itu, apakah gadis itu juga mencintainya?
"Semoga," jawabnya singkat membuat yang lain makin heboh.
Melihat kondisi yang tidak begitu baik Sekar memutuskan mengakhiri pembicaraan yang aneh itu dengan mengalihkan pembicaraan.
"Maaf, Bu kita akan telat kalau terlalu lama mengobrol," kata Sekar dengan melirik jam di tangan kirinya.
Begitu akan keluar rumah Sekar memakai cadarnya. Walaupun menggunakan mobil, ia tak mau ada yang sempat melihat wajahnya apalagi kaca mobil Intan transparan.
"Untuk apa, Bu kan mobilnya baik-baik saja?" memang belum lama ini mereka menyervise mobil ini tidak mungkin jika sudah rusak lagi.
"Saya mau ganti kaca mobil saya jadi lebih gelap dan ganti warna catnya."
"Bukannya harus izin dulu ya, Bu?" Tidak mungkin kan bisa semaunya ganti tampilan kendaraan, setahunya semua itu ada prosedurnya.
"Saya sudah minta suami saya untuk mengurusnya," jawab Intan santai.
"Baik, Bu." Sekar pun mengendarai mobil sedan itu ke bengkel khusus modifikasi kendaraan. Setelahnya mereka berangkat menggunakan taksi online yang telah dipesan Intan sejak mereka dalam perjalanan tadi.
*******. *******
__ADS_1
Semua menatap sosok seorang wanita yang ada di samping Intan kala wanita itu masuk ke butik miliknya. Siapa wanita itu? pikir mereka.
Intan mengumpulkan semua karyawan butik di ruang produksi yang berada di belakang.
"Assalamualaikum semua, perkenalkan asisten baru saya namanya Dewi. Dia menggantikan Sekar yang kemari tiba-tiba risaign. Saya harap kalian bisa bisa bekerja sama dengan baik. Asalamualaikum," kata Intan memperkenalkan sosok Sekar menjadi Dewi.
Tentu saja mereka tidak tahu jika yang ada di hadapan mereka adalah orang yang sama. Apalagi Sekar menambahkan kacamata dan lensa mata berwarna coklat terang. Tentu ini semakin menyamarkan jati dirinya.
Karena penampilan barunya itu Sekar merasa begitu bebas beraktifitas tanpa ada orang yang penasaran akan dirinya. Ya, itu karena mereka yang bercadar cukup disegani. Sehingga membuat mereka tidak berani bertanya tentang siapa wanita bercadar itu.
"Mbak Dewi!" panggil salah seorang karyawan butik.
Mulanya Sekar tidak menyadari jika dirinya yang dipanggil namun begitu ingat penyamarannya diapun menoleh, "Ada apa?"
"Suaranya mirip Sekar?" batin karyawan yang memanggilnya tadi.
"Ada apa?" Sekar menepuk pelan pundak orang tadi untuk menyadarkan lamunannya.
"Emh, ini pesanan dari keluarga Pak Harun sudah jadi semua tinggal pengiriman. Sebaiknya Mbak Dewi cek ulang siapa tahu ada yang perlu diperbaiki sebelum diantar ke pemiliknya," ucapnya mengingatkan Sekar.
Sekar pun segera mengecek produk yang sudah jadi tersebut dengan teliti. Ia tak ingin konsumen protes karena hasil tidak sesuai harapan.
Satu persatu pakaian itu ditelitinya. Baju besar dan cadarnya tidak mengganggu aktifitas gadis itu. ia justru terlihat sangat nyaman dengan penampilan barunya.
"Bu, saya akan mengantar pesanan keluarga Pak Harun," Gadis itu berpamitan pada Intan.
"Iya, diantar Romi," jawab Intan dengan ekor mata melirik 3 dus besar berisi pakaian seragam keluarga pengantin sedang gaun pengantin ada di dus yang lain.
Intan pun pergi diantar Romi, sopir pengantar barang di butik. Perjalanan cukup banyak memakan waktu karena macet. Butuh waktu hingga 45 menit untuk sampai tempat tujuan.
Sementara itu Deri merasa sangat kesal dan marah karena dirinya tidak bisa menghubungi Sekat Ia merasa rindu pada gadis itu. Padahal baru dua kali bertemu dengan Sekar. Bahkan saat ini dia akan segera menikah.
__ADS_1
Entah mengapa sejak pertama kali bertemu dengan Sekar, gadis itu kerap kali hadir dalam mimpinya. Dia merasa gelisah. Dia ingin gadis itulah yang akan jadi pendampingnya bukan Silvia, wanita yang menjadi kekasihnya selama ini.
Dia merasa jika hatinya hambar bila bertemu Silvia. Mungkinkah cintanya pada Silvia memudar dan tergantikan oleh sosok Sekar? Jika iya mengapa harus sekarang, mengapa tidak sejak dulu. Aaarrgh, Deri merasa sangat kesal dan marah menjambak rambutnya frustasi.