
Usai mandi dan sholat Silvia sedikit merias diri juga memakai parfum di tubuhnya. Ia teringat pesan Intan agar bisa menjaga mata dan hati suaminya dan dia sedang berusaha untuk itu.
Gadis itu mematut diri di depan cermin lemari kamarnya. Ia tersenyum malu dengan penampilan nya yang yang tidak biasa. Dia yang biasanya tidur menggunakan piyama serba panjang kini memakai dress selutut dengan tali kecil yang diikat di pundaknya.
Dia menunggu cukup lama sambil membalas chat dari teman-temannya. Namun karena lelah dan mengantuk Silvia pun memilih tidur.
Deri masuk kamar istrinya. Kamar yang dihias begitu indah sebagai kamar pengantin. Tampak ia menghela nafas ketika melihat istrinya telah tidur di bawah selimut.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Wajar jika istrinya telah tidur apalagi seharian mengikuti acara resepsi pernikahan mereka yang tidak pernah berhenti tamu berdatangan meski tanpa undangan. Mereka dengan sukarela datang ikut berbahagia dengan pernikahan putri orang yang banyak berjasa untuk mereka.
Keluarga Silvia memang terkenal dermawan. Mereka memberdayakan masyarakat tanpa dipungut biaya bahkan diberi modal usaha sehingga membuat ekonomi mereka semakin membaik.
Deri tak menyangka jika ada banyak hadiah unik dari para tamu. Ada yang bawa hasil pertanian, hasil budi daya ternak, juga kerajinan. Bayangkan ada yang bawa beras, sayuran, buah, ikan, bebek, ayam bahkan kambing. Kerajinan tangan yang unik adalah sepasang jam tangan yang terbuat dari tulang sapi hasil karya warga.
Ada perkataan yang masih membekas di hatinya. "Neng Silvia itu gak bisa lihat orang lain susah. Dia rela gak makan yang penting anak asuhnya kenyang. Dia orang baik, jadi dia akan selalu dalam doa semua orang. Allah pasti melindungi oran baik," itu ucapan dari seorang wanita paruh baya yang ternyata ibu asuh di rumah singgah milik Silvia.
Deri memandang lembut istrinya dari tempatnya berdiri. Menarik nafas dalam-dalam menyesal karena sempat berpaling. Kini dia sadar wanita di depan nya adalah sosok wanita hebat yang banyak dicintai orang.
Terlalu lama melamun, akhirnya Deri pergi mandi lalu sholat. Dia berdoa agar hatinya selalu terjaga untuk istrinya. Dia memohon agar dirinya bisa menjadi imam yang baik untuk keluarganya.
Didekatkan tubuhnya pada sang istri dapat tercium aroma wangi parfum yang dipakai Silvia. Ditatapnya wajah manis itu. Ada gejolak di dadanya.
__ADS_1
Perlahan tangannya mengusap lembut pipi Silvia. Diciumnya kening lalu turun ke pipi dan pindah ke bibir. Dia merasa manis sekali bibir mungil itu membuatnya ingin lagi dan lagi.
Silvia yang merasa tidurnya terganggu membuka matanya perlahan. Alangkah terkejutnya dia saat mendapati seorang pria ada di dalam kamarnya bahkan posisinya sangat dekat dengan dirinya.
Hampir saja Silvia berteriak sebelum sadar jika dirinya sudah menikah. Gadis itu tersenyum malu dengan wajah menunduk. Deri mengangkat wajah istrinya lalu mencium bibir itu perlahan dan istrinya menerimanya.
Merasa ada lampu hijau Deri jadi lebih bersemangat. Ciuman yang awalnya pelan berubah menjadi panas dan dalam penuh gairah. Ditambah lagi tangannya yang sudah tidak bisa dikondisikan. Jadilah Silvia seperti cacing kepanasan. Menggeliat kesana-kemari kemari membuat adrenalin Deri makin terpacu.
Cukup lama Deri memainkan tubuh istrinya hingga membuat wanita itu tak berdaya dikuasai birahi. Maka terjadilah apa yang memang sudah seharusnya terjadi.
Deri mengecup kening istrinya penuh penghayatan. "Terimakasih sudah memilih dan menerimaku, sayang. Maaf karena cintaku tak lebih besar dari cintamu. Tapi percayalah aku akan berusaha jadi yang terbaik untuk dirimu," bisiknya lembut dan tentunya sang istri tidak mendengar
*****. *******
Sekar dan Bima pun menikmati malam mereka dengan cara yang berbeda. Bima mengajak Sekar jalan-jalan menikmati suasana malam di Jakarta yang seolah tidak pernah tidur. Hilir mudik warga mencari kebutuhan mereka masing-masing.
Bima mengajak makan di cafe namun Sekar memilih makan di warung lesehan. Menunya pun sederhana hanya pecel lele yang ditambah ayam goreng dan teh panas. Bima yang awalnya tidak nyaman lama-lama mulai bisa beradaptasi. Mau bagaimana lagi, dia bisa kehilangan target jika menolak.
" Nih, aku suapin. Aaaa," Bima meminta Sekar membuka mulutnya namun gadis itu tetap bungkam sampai tangannya terasa pegal..
"Ayo dong, Rum tanganku sudah pegal, nih," keluh Bima yang mulai menurunkan sedikit tangannya. Dengan terpaksa gadis itu membuka mulutnya memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya untuk dicerna.
__ADS_1
"Kita ke sana, yuk lihat seniman jalanan beraksi," ajak Bima dengan tangan memegang tangan Sekar hingga menariknya untuk ikut bersamanya.
"Lihatlah aksi mereka." Bima menunjuk seorang pelukis yang tengah melukis wajah pesanan seorang pengunjung dengan gerakan cepat namun rapi.
Sekar tidak mampu menyembunyikan rasa kagumnya hingga dia ikut memesannya. Kali ini bukan foto dirinya yang sendirian seperti milik orang sebelumnya. Sekar dilukis bersama Bima. Mereka tampak sangat serasi. Siapapun yang melihatnya akan mengira jika keduanya adalah sepasang kekasih yang sedang berkencan.
Setelah pesanan jadi Bima mengajak gadisnya menyaksikan pertunjukan tari yang berputar-putar sampai dia yang melihatnya merasa pusing. Tapi anehnya sang penari tidak merasakan itu. Gadis itupun kemudian menaruh uang di kotak yang disediakan sang penari sebagai imbalan pertunjukan yang menakjubkan.
Kini mereka beralih pada seorang pria bersuara emas yang menyanyikan lagu diiringi musik biola milik rekannya. Musik yang mampu membawa suasana romantis yang menenangkan hingga tanpa sadar tangan sejoli ini berpegangan mesra.
Malam semakin larut. Sekar merasa kembali lapar. Dia mengajak Bima mencari makanan atau minuman yang hangat. Hingga keduanya sampai di sebuah kedai yang menjual menu wedang ronde. Minuman khas tanah jawa ini memang terkenal mampu menghangatkan tubuh yang kedinginan.
Ada perasaan lega kala perut kembali hangat. Kini tak ada lagi suasana canggung di antara keduanya. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan layaknya pasangan kekasih.
Sekar dan Bima sampai rumah sudah tengah malam. Tampak wajah mereka berseri bahagia. Wajah muda mudi yang sedang kasmaran. Namun satu sama lain tak berani mengungkapkan rasa yang ada di hati mereka.
Bima bahkan mengantar Sekar sampai depan pintu kamarnya. Dia ingin ikut masuk dan menghabiskan waktu bersama gadis itu. Namun kewarasannya masih terjaga. Ia tidak ingin cintanya justru dipenuhi nafsu. Dia ingin wanita itu percaya jika dia akan aman bila bersamanya.
Hingga pagi menjelang keduanya masih terjaga. Merasai debaran jantung yang tidak seperti biasanya. Baik Bima maupun Sekar merasa jika cintanya tidaklah bertepuk sebelah tangan. Dan hati mereka berjanji untuk berjuang agar dapat bersatu dalam ikatan suci pernikahan.
Bagi Bima Sekar adalah cinta pertama dan bagi Sekar Bima adalah yang terakhir sebagai pelabuhan hatinya.
__ADS_1