Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Simalakama


__ADS_3

Bandar Lampung


Sekar berlari menghampiri adiknya Puspa yang sudah menunggunya di parkiran rumah sakit. Mereka berpelukan saling melepas rindu. kemudian mereka berjalan menuju ruang rawat inap ayah mereka.


Keduanya mengucapkan salam lalu masuk menghampiri ayah dan ibu mereka. Sekar langsung memeluk dan mencium punggung tangan ibunya. Setelah cukup puas Sekar menghampiri tubuh ayahnya yang berbaring tak berdaya di sebuah ranjang rumah sakit.


"Bapak kenapa bisa sampai sakit?" Sekar mengelus punggung tangan ayahnya dengan tatapan sendu.


"Bapak cuma capek, kenapa kalian repot-repot bawa bapak ke sini? Bapak pulang saja,ya," ujar bapak membuat air matanya menetes.


"Apa kata dokter,Bu?" kini ia menatap ibunya yang masih setia berdiri di samping ranjang ayahnya tepat di seberangnya.


"Kata dokter bapak harus dioperasi tapi bapak gak mau" jawab ibu dengan tangan mengusap air matanya.


Dengan tatapan sendu Sekar memandangi wajah pucat ayahnya yang semakin lama terlihat semakin menghitam pertanda semakin parah pula penyakitnya.


"Bapak mau ya dioperasi supaya cepat sembuh. Nanti kita pulang bareng kita bisa kumpul bareng di rumah dengan bahagia. Bapak mau, ya?" Sekar membujuk ayahnya agar mau dioperasi mengingat keadaan jantungnya yang butuh tindakan segera.


"Bapak mau dioperasi asal dengan satu syarat," ucap bapak dengan mata menatap putrinya sendu.


"Apa syaratnya, Pak?" tanya Sekar. Tangan gadis itu masih erat menggenggam tangan bapak yang terlihat semakin mengecil karena semakin berkurangnya bobot tubuh pria paruh baya itu.


"Hanya kamu penentu bapak mau dioperasi atau enggak." mendengar ini Sekar terkejut, apa sebenarnya yang diinginkan oleh ayahnya.


"Bapak ingin kamu segera menikah dengan Abas. Dia pria baik, bertanggungjawab dan pekerja keras kamu juga pernah punya hubungan dengan dia. Bapak rasa kamu dan dia bisa bahagia nantinya." Sekar terkejut bukan main mendengar syarat yang diajukan ayahnya dengan ucapan yang terbata-bata dan lirih.

__ADS_1


"Sekar enggak bisa nikah dengan Abas, Pak. Sekar gak cinta. Bapak minta syarat yang lain, ya?" Sekar berupaya menolak permintaan ayahnya.


"Kalau begitu bawa kemari calon pilihan mu sendiri. Ini permintaan bapak yang terakhir. Setidaknya jika bapak nantinya meninggal, bapak sudah menyerahkan kamu pada pria yang tepat untuk menjagamu. Selama ini kamu berjuang untuk kami, maka jika bapak sudah tidak panjang umur, bapak masih sempat melihatmu bahagia. Menikahlah, nak bapak mohon." perkataan bapak semakin menyayat hati siapapun yang mendengarnya tak terkecuali Sekar.


"Bapak jangan bicara seperti itu, umur manusia tidak ada yang tahu. Kita harus yakin, bahwa Allah akan mengangkat penyakit bapak dan bapak bisa sembuh seperti dulu lagi," ujar ibu mengingatkan bapak akan adanya takdir Allah.


"Iya, itu bapak juga tahu, Bu. Hanya saja kalau Sekar sudah menikah, setidaknya beban bapak untuk menjaga putri-putri bapak berkurang satu. Bapak ingin ada yang menjaga dan melindunginya dengan baik karena Bapak tidak lagi bisa melindunginya," ujar bapak lirih dengan nafas terengah-engah.


Semua yang ada di ruangan itu semakin tak kuasa menahan tangisnya. Sekar bingung harus bagaimana. Nyawa orang yang sangat berjasa dalam hidupnya berada pada keputusannya. Dirinya bagai makan buah simalakama. Dia tidak punya kekasih, tapi dia juga tidak mau menikah dengan Abas pria yang pernah menorehkan luka di hatinya.


Walaupun dulu dirinya menerima Abas untuk jadi pacar itu bukan karena cinta, namun hatinya tetap sakit dengan pengkhianatan Abas padanya. Dirinya merasa sakit dan itu masih ada. Dirinya tidak ingin terluka lagi oleh orang yang sama.


"Pak, beri waktu Sekar dua hari untuk memutuskan. Ini bukan keputusan yang mudah untuk Sekar." gadis itu mengusap air mata yang terus mengalir di pipinya menggambarkan betapa galaunya hatinya saat ini.


Pengantar makanan masuk ke ruangan itu untuk mengantarkan makam malam pasien.


"Bapak makan dulu, ya biar cepat sehat. Sekarang aaaaaa." Sekar meminta bapak membuka mulutnya untuk makan. Bapak menggeleng pelan pertanda enggan.


"Kalau bapak nggak mau makan, Sekar juga nggak mau nikah," Sekar mengancam bapak dan itu berhasil membuat pria tua itu membuka mulutnya


*****. *****


Siang berganti malam. Namun kerisauan hati Sekar belum juga berganti. Usai memastikan bapak tertidur, ia pergi ke luar menuju taman rumah sakit.


"Bu, maaf mungkin saya ke Jakarta lagi menunggu beberapa minggu," ucap Sekar lirih dalam panggilan teleponnya dengan Intan atasannya.

__ADS_1


"Kenapa, apa sakit ayahmu parah?" tanya Intan khawatir.


"Iya, bapak harus segera dioperasi. Tapi bapak minta syarat dan syaratnya saya harus segera menikah. Jika saya tidak bisa membawa kekasih saya dalam waktu dua hari saya harus mau menikah dengan pria pilihan bapak." Sekar menceritakan keadaan yang dialaminya pada Intan sambil berurai air mata.


"Lalu apa kamu sudah punya pacar?" tanya Intan dengan dada berdebar berharap putranyalah yang menjadi kekasih Bima seperti harapannya selama ini.


"Belum, Bu. Itulah kenapa saya bingung. Saya tidak punya pacar tapi saya juga tidak mau menikah dengan pria itu. Saya cukup mengenalnya,memang baik menurut bapak tapi tidak untuk saya. Tapi kalau saya tidak menurut, bapak tidak mau dioperasi dan itu sangat berbahaya. Saya bingung. hiks hiks." terdengar isak tangis Sekar dari kejauhan.


"Kenapa ayahmu minta syarat seperti itu, apa tidak ada syarat lain?"


"Karena bapak ingin melihat saya menikah. Beliau ingin ada yang menjaga saya.Katanya sebelum beliau meninggal, dirinya ingin masih sempat melihatku bahagia." Sekar masih terus menangis.


"Bagaimana hubunganmu dengan Bima?"


"Entahlah, Bu saya juga tidak tahu. Saya tidak berani berharap diantara kami hanya hubungan sebagai teman."


"Bagaimana jika kamu terima saja putra saya, Sekar. Kamu tidak boleh hanya memikirkan dirimu sendiri, tapi juga keselamatan ayahmu."


"Maaf, Bu dokter memanggil saya, nanti saya kabari lagi." Sekar memutus panggilan teleponnya dengan berbohong. Dokter tidak ada di dekatnya karena posisinya cukup jauh dari ruang perawatan ayahnya. Dirinya hanya tidak ingin Intan terus mendesaknya, membuatnya bertambah bingung.


Hati Sekar sungguh bagai diremas-remas merasakan kebimbangan yang dialaminya. Hatinya dilema. Satu sisi ia ingin menyelamatkan nyawa bapak, di sisi lain ia tidak mau menikah dengan Abas. Namun sayangnya dia tidak punya kekasih.


Apa dirinya harus menerima ajakan Bima untuk menikah? Tapi jika diterima dia khawatir jika dia akan dijadikan budak berkedok istri. Hutangnya sangat banyak dan itu akan menjadi beban dalam pernikahannya.


Tapi bukankah dia bilang untuk melupakan? Mana mungkin dia bisa melupakan, itu jumlah yang tidak sedikit untuk diikhlaskan begitu saja.

__ADS_1


Mengingat sosok Bima hatinya merasa rindu. Awalnya dia berpikir jika Bima akan bersikap buruk padanya dikarenakan kesan garang yang diperlihatkan Bima padanya. Namun ketika ia telah tinggal di rumah itu, dirinya tetap merasakan hangatnya sikap Bima masih seperti 4 tahun lalu.


"Mas, aku harus bagaimana?" suara tangis Sekar terdengar putus asa.


__ADS_2