Cinta Tetaplah Di Sini

Cinta Tetaplah Di Sini
Calon Suami


__ADS_3

Hari ini cukup terik. Sekar diminta mengantarkan berkas pada klien di cofee shop milik Bima. Biasanya Intan tidak pernah menyuruh Sekar keluar, tapi hari ini jadwalnya bertabrakan sehingga mau tak mau Intan mengutus Sekar untuk menemui klien. Dengan langkah cepat Sekar memasuki tempat usaha yang memiliki konsep terbuka itu.


Suasana yang asri dan kekinian membuatnya rame dikunjungi para pecinta dunia maya. Berlomba lomba mengabadikan momen indah kemudian memamerkannya di berbagai akun medsos mereka.


Sekar mengedarkan pandangannya ke segala arah lalu berhenti pada sosok seorang pria berkemeja biru yang tengah asyik menyesap kopi miliknya. Segera ia hampiri pria itu.


"Maaf, apa benar dengan Bapak Deri Sudrajat?" tanya Sekar setelah cukup dekat dengan pria tadi.


"Iya, benar." Pria itu menoleh dan sangat terkejut melihat siapa gadis yang kini ada di hadapannya. "Loh, kamu Sekar yang sebangku denganku sewaktu dalam perjalanan pulang dari Bengkulu tempo hari, kan?" tanya pria itu dengan tatapan tak percaya.


"Oh, jadi kamu sekarang jadi asistennya Bu Intan?" tanya pria itu yang ternyata adalah Deri, pria yang berkenalan dengannya di kapal saat berangkat ke Jakarta.


"Iya," Sekar mengangguk. "Silahkan ditandatangani berkas kerja samanya, Pak." Sekar menyodorkan berkas kerja sama mereka.


Setelah merasa sangat bagus dan saling menguntungkan, Deri langsung tanda tangani berkas yang dibawa Sekar tadi.


"Apa kabarmu, Sekar?" tanya Deri saat Sekar akan pergi meninggalkan tempat itu.


"Alhamdulillah baik. Bagaimana denganmu?" Merasa tak enak, Sekar kembali duduk.


"Seperti yang kamu lihat. Kenapa kamu gak pernah hubungi aku?" tanya Deri membuat dahinya berkerut.


"Maksudnya?" tanya Sekar heran.


"Aku sudah memberimu kartu nama, lalu kamu kenapa gak hubungi aku, sih?" ucap Deri mengulang pertanyaannya.


Sekar kebingungan mau jawab apa. Ia lalu teringat kartu nama yang dulu diberikan oleh Deri. Dan tanpa sadar ia menepuk keningnya pelan membuat Deri bingung.


"Kenapa, Sekar?" tanya Deri khawatir.


"Hehehe, kartu nama yang dulu gak sengaja kecuci," jawab Sekar sambil nyengir kuda.

__ADS_1


"Ku pikir kenapa," Deri merasa lega dengan jawaban dari Sekar walau hatinya sedikit kecewa dengan keteledoran Sekar. "Ya sudah gak apa-apa toh sekarang kita bertemu lagi. Aku minta nomor ponselmu, ya sebagai ganti kartu nama yang hilang itu," ucap Deri dengan menyodorkan ponselnya ke hadapan Sekar.


Sekar yang notabene berkepribadian supel dan ramah langsung saja memberi nomor ponselnya pada Deri. Toh, dia sedang tidak punya ikatan dengan siapapun jadi tak masalah bila harus berteman dengan lelaki manapun asal itu baik. Itulah mengapa dia punya banyak teman yang bahkan terkadang dia sampai lupa nama temannya.


Bima yang akan pergi keluar dari cofee shop miliknya tak sengaja melihat Sekar yang tengah duduk dengan seorang pria di salah satu meja di sana merasa penasaran. Dia berdiri mengamati dari kejauhan sesuatu yang menarik hatinya. Tanpa disadari dadanya terasa panas. Ia cemburu.


Tak tahan hanya diam di sana, Bima memutuskan mendekati Sekar dan Deri. Dengan segera dia pura-pura ramah pada keduanya.


"Sekar, kok kamu ke sini gak ngomong dulu kan aku bisa jemput kamu tadi," ucap Bima lembut seraya meraih kursi dan duduk di sana. Sekar jadi kikuk dibuatnya ia tak menyangka jika Bima akan menghampiri dirinya.


"Ya, kan aku bawa mobil sendiri, Mas," jawab Sekar masih dengan ekspresi terkejutnya.


"Gampang itu, mah. Ini siapa, klien Mama?" Deri terkejut, 'Mama?' tanyanya dalam hati.


"Iya, Mas. Kenalin namanya Deri dan Deri kenalin ini anaknya Bu Intan namanya Bima," kata Sekar menyebut nama keduanya untuk berkenalan.


Keduanya berjabat tangan dengan saling menatap tajam satu sama lain.


"Bima, calon suami Sekar." Sekar dan Deri begitu terkejut dengan ucapan Bima yang tiba-tiba mengenalkan dirinya sebagai calon suami Sekar.


bertanya tanpa suara pada Bima ia butuh penjelasan akan kata-kata Bima tadi.


"Iya, saya calon suami Sekar Insya Allah kami secepatnya akan menikah." Sekar bertambah melongo tak percaya dengan ucapan Bima barusan. "Iyakan, Rum?" Bima menggenggam erat tangan Sekar memberi kode agar Sekar setuju dengan ucapannya.


"Benar, Kar dia calon suami kamu?" tanya Deri penuh rasa tak percaya.


"I-iya, Der dia calon suamiku," Sekar gugup sekali saat menjawab pertanyaan Deri.


"Oh, okey aku pikir kamu masih single soalnya waktu itu kamu pergi seorang diri," kata Deri lesu.


"Waktu itu kapan?" tanya Bima menatap Deri.

__ADS_1


"Waktu Sekar berangkat ke Jakarta sebulan yang lalu," jawab Bima berharap Bima cemburu dan marah.


"Itu karena aku sudah lebih dulu seminggu berangkatnya dan dia masih harus mengurus urusan keluarganya di desa.


Aku sudah bilang akan menjemputnya tapi ternyata dia membuat kejutan dengan datang lebih awal dari yang dia katakan sebelumnya," jawab Bima berbohong.


Sekar benar-benar tak percaya jika Bima akan bicara seperti itu. Ia merasa jika Bima sudah salah minum obat tadi pagi.


Deri melirik jam tangannya lalu bangkit berdiri dari duduknya, "Maaf saya harus pergi masih ada pekerjaan yang menanti saya," Deri pamit undur diri.


"Iya, baiklah jangan lupa datang ke pernikahan kami bulan depan," jawab Bima mempersilahkan Deri pergi sementara Sekar masih diam seperti patung.


"Kamu kenapa?" tanya Bima tanpa rasa bersalah menyadarkan Sekar yang masih syok.


"Mas Bima kenapa bilang kalau Mas Bima calon suamiku?" tanya Sekar begitu penasaran.


"Kenapa, kamu gak suka? Ya sudah aku minta maaf kalau kamu tersinggung. Aku cuma mau melindungi kamu dari pria-pria gak jelas saja," jawab Bima membuat Sekar tergagap.


"Bukan begitu aku hanya kaget karena kita tidak punya hubungan apa-apa," jawab Sekar masih tak percaya.


"Ya, siapa tahu ada malaikat lewat mengamini ini 'kan bagus," canda Bima mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang namun di hatinya berharap jika itu benar akan terjadi.


"Amiiin semoga benar terjadi," amin Sekar dalam hati.


"Ya, sudah kalau gitu aku permisi takutnya Ibu nyariin." Sekar pun pamit pergi.


Sekar pun berjalan keluar dari cofee shop diikuti Bima di belakangnya. Bima membukakan pintu penumpang dan dia mengitari mobil untuk masuk ke dalam duduk di kursi penumpang.


Bima akan mengantar Sekar kembali ke butik karena dia ingin lebih dekat dengan Sekar. Dia tak ingin ada pria yang mendekati Sekar lagi.


Dan benar dugaan Bima, Deri ternyata masih di sana, didalam sebuah mobil berwarna hitam duduk di balik kemudi. Ia masih penasaran dengan hubungan mereka maka diapun nekat mengikuti kemana mobil mereka pergi.

__ADS_1


"Maaf, kalau kamu gak nyaman bila kuantar. Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita seperti dulu," ucap Bima dalam mobil.


"Iya, Mas aku juga ingin kita akrab lagi," jawab Sekar tersenyum. 'Semoga yang tadi benar terjadi,' kembali ucapnya dalam hati.


__ADS_2