Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 36 Sikap Berani Tasya


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (36)


Sampai di depan pintu ruangan Dirut rumah sakit, terdengar suara yang sangat Arkana kenal.


"Saya mohon, tuan. Jangan laporkan kami ke polisi. Saya tidak ingin di Penjara ", ucap seorang perempuan disertai tangisan.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Tanpa menunggu lama, Arkana langsung mengetuk pintu.


Tok.... Tok... Tok...


"Masuk"


Semua yang ada di dalam ruangan pun melihat ke arah pintu. Arkana dan Ayu kini jadi pusat perhatian.


Melihat Arkana masuk, Tasya sangat senang. Ia berpikir Arkana pasti akan menolongnya. Namun, senyum Tasya tiba-tiba meredup saat ia melihat orang yang ada di atas kursi roda. Perempuan yang sama yang tidak lain adalah istri Arkana.


Ayu dan Arkana pun tampak terkejut melihat Tasya sedang duduk bersimpuh dengan rambut panjangnya. Tidak ada lagi kepala botak karena itu hanya wig belaka.


Mommy Mona, Daddy Alex dan Malika duduk di sofa yang sama, lalu ada pria paruh baya yang tidak lain adalah Dirut rumah sakit bersama seorang perempuan paruh baya yang masih tampak cantik. Ada juga seorang perempuan muda yang memakai jas dokter serta perempuan paruh baya yang pernah Ayu lihat, siapa lagi kalau bukan ibunya Tasya.


"Arkana, tolong aku. Aku tidak mau masuk penjara ", Tasya memegang lengan Arkana tanpa menghiraukan bahwa tidak hanya mereka berdua yang ada disana.


Tasya masih berharap Arkana akan menolongnya.


Arkana melepaskan tangan Tasya dengan kasar tanpa bicara apapun.


" Ar,,, ", Tasya terkejut dengan sikap Arkana.


Sementara Ayu hanya memperhatikan. Ia ingin melihat kesungguhan ucapan suaminnya di taman tadi.


" Arkana duduklah", Daddy Alex memanggil Arkana yang masih berdiri.


Arkana kembali mendorong roda Ayu tanpa menghiraukan Tasya sedikitpun. Malika yang melihat itu sungguh puas. Orang seperti Tasya memang harus di buat jera.


" Nona Tasya, silahkan duduk kembali ", Ucap Daddy Alex datar.


Tasya langsung duduk sambil menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa di permalukan.


"Daddy berniat melaporkan Tasya dan Ibunya karena sudah menipumu dengan membuat sandiwara ini",ucap Daddy Alex.


" Terserah Daddy saja. Aku menyerahkan semuanya pada Daddy"


Jawaban Arkana bukanlah yang Tasya inginkan. Tasya kesal karena ternyata Arkana tak berusaha untuk membantunya sedikitpun.


" Ar, kamu tega sama aku?", tanya Tasya sambil bercucuran air mata.

__ADS_1


" Berani berbuat harus berani bertanggung jawab ", jawab Arkana tidak iba sedikitpun.


" Tapi, aku melakukan ini demi kamu"


" Aku tidak pernah memintanya "


" Bagaimana bisa kamu bersikap seperti itu, Arka?", Tasya emosi. Ia tak pernah berpikir semua akan berakhir di penjara.


" Nak Arka, tolong maafkan kami", Bu Wilona memelas.


" Kenapa harus berhubungan dengan polisi? Lagipula tidak ada yang di rugikan",timpal Tasya.


" Lalu apa tujuanmu melakukan sandiwara ini ?", tanya Arkana.


" Tentu agar kamu mau kembali padaku. Aku mencintaimu Arkana", kilah Tasya.


" Mencintaiku atau mencintai apa yang aku punya?",


Tasya diam.


" Jangan munafik. Istrimu juga pasti mencintaimu karena hartamu", tuduh Tasya emosi.


Tasya mulai menunjukkan sifat aslinya. Ambisi untuk memiliki Arkana sudah mendominasi.


Arkana ingin membalas perkataan Tasya, tapi Ayu menahannya.


" Kau lihat! Dia diam. Artinya ucapanku benar", Tasya tertawa mengejek. Ia tak peduli lagi apa yang akan menimpanya. Memohon pun tidak membuahkan hasil apa-apa.


" Kau tahu, Arkana sangat mencintaiku. Saat kuliah kami menghabiskan waktu bersama. Bahkan aku lah yang menemaninya saat sakit. Aku menginap di ruko tempat tinggalnya saat itu untuk menjaganya ", Tasya memancing Ayu. Ia ingin menunjukkan bahwa Ayu tidak ada apa-apanya.


Arkana sudah berdebar-debar. Ia melihat ke arah Ayu, takut istrinya akan marah lagi, padahal mereka baru saja berbaikan. Namun,yang di tatap malah acuh tak acuh.


" Lalu?",tanya Ayu datar.


" Kau bahkan di abaikan dan dia memilih menemaniku di rumah sakit daripada menjelaskan padamu. Itu artinya,kau tidaklah berharga baginya",Ucap Tasya lagi.


Semua yang ada disana tercengang mendengar perkataan Tasya. Sudah dalam kondisi tersudut, namun masih punya keberanian sebesar itu.


" Tasya,," panggil Bu Wilona lirih. Ia sudah tak memiliki keberanian seperti sebelumnya. Dimana dia lah otak dari sandiwara ini.


Saat jeruji besi sudah di depan mata, tentu membuat Bu Wilona takut luar biasa. Bu Wilona baru sadar sudah salah memilih korban.


Tasya tak bergeming. Ia sudah tidak peduli apapun.


" Apa kamu sudah selesai berbicara ?", tanya Ayu dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan. Tasya hanya mengerutkan keningnya.


"Kau tak perlu menjelaskan seperti apa kalian dulu. Aku sudah tahu. Bahkan kau yang menolak lamaran Mas Arka, namun lebih memilih menerima lamaran pria lain pun aku tahu", jawab Ayu tersenyum. Sedangkan Tasya hanya bungkam.

__ADS_1


" Hanya karena orang itu lebih kaya dari Mas Arka, kau lebih memilih menolak lamaran Mas Arka. Bukan begitu?"


" Dengar! Kenangan indah yang kalian miliki adalah masa lalu yang tidak bisa di rubah. Apalagi kalian memang memiliki hubungan saat itu. Jadi, sebanyak apapun kamu menggambarkan indahnya kenangan yang kalian miliki, aku tak peduli. Silahkan kamu hidup dengan kenangan masa lalu jika kamu bahagia dengan itu. Namun, kau harus ingat satu hal. Saat ini Mas Arka adalah milikku. Dia suamiku. ", tegas Ayu.


Tasya kalah. Ayu tak bisa ia profokasi.


"Oh iya, soal kejadian tempo hari, itu murni karena Mas Arka iba padamu. Ia merasa kasihan karena nasib yang harus kau jalani. Sakit keras bahkan di buang oleh mantan suamimu. Walaupun pada kenyataannya itu semua hanya sandiwara ", ucap Ayu lagi.


Tasya tak berkutik lagi .


" Bertahun-tahun tak bertemu nyatanya membuat ku tak mengenalmu lagi. Banyak yang berubah", timpal Arkana.


" Aku dan Ayu undur diri. Terserah kalian, apa pun hukuman untuk wanita itu aku tak peduli", Arkana keluar bersama Ayu.


Sepeninggal Arkana dan Ayu, ruangan itu kembali hening.


"Saya benar-benar minta maaf, Pak Alex. Saya jamin tidak akan terjadi lagi hal seperti ini ", Pak Cipto meminta maaf atas kelalaiannya sampai-sampai tidak tahu ada yang memanfaatkan fasilitas rumah sakit juga tenaga medis untuk melakukan penipuan.


Pak Cipto mengkode sang istri agar melakukan hal yang sama.


" Saya juga minta maaf yang sebesar-besarnya", ucap Bu Cipto akhirnya.


Bagaimana pun semua bisa berjalan mulus karena andilnya. Ia yang mengizinkan Bu Wilona memakai fasilitas rumah sakit. Ia tidak tahu semua akan berbuntut panjang seperti ini. Harusnya waktu itu, ia mencari tahu dulu siapa target dari Bu Wilona. Kalau tahu dia adalah orang yang berpengaruh, mana mau ia main-main.


Menyesal. Satu kata yang kini ada di benak Bu Cipto. Setelah ini selesai, ia harus bersiap-siap menerima kemarahan sang suami.


" Saya juga mohon maaf, Tuan. Saya tidak punya pilihan", dokter muda itu menunduk.


Dari awal ia tahu ini salah. Namun, jika istri pemilik rumah sakit sudah turun tangan, apa daya. Ia tak punya kuasa untuk menolak jika karirnya menjadi seorang dokter di pertaruhkan. Ia tak ingin usahanya juga kedua orangtuanya sia-sia.


Daddy Alex menghela nafas. Ia ingin membuat orang-orang yang berniat tidak baik pada keluarganya untuk jera. Namun, ia pun tak ingin menghancurkan mereka yang tidak bersalah.


" Baiklah, saya sudah mengambil keputusan ", ucap Daddy Alex menggantung.


TBC


...----------------...


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...


...Terima kasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...


...Mampir juga di karya Author ya...

__ADS_1


...😉...


__ADS_2