Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 42 Gagal Menggoda


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda


"Mimpi yang indah , sayang, Cup."


Arkana sedikit lega. Setidaknya Ayu selalu mengatakan isi hatinya dan tidak memendamnya seorang diri. Hingga ia bisa tahu apa yang harus ia lakukan nantinya.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


" Mas pergi. Baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa langsung hubungi, Mas." Pesan Arkana pada Ayu saat masih di dalam kamar.


Ayu hanya terkekeh. "Kenapa se khawatir itu? Aku di sini tinggal sama Mommy dan Daddy juga banyak pelayan." Ayu geleng-geleng kepala.


Arkana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tanpa banyak bicara Arkana menggenggam tangan sang istri dan menuntunnya ke luar kamar.


" Daddy jadi pergi?." Alif terlihat sedih.


" Iya. Perusahaan Daddy di sana sedang membutuhkan Daddy," jawab Arkana mendudukkan Alif di atas pangkuannya. Kini mereka sedang berada di meja makan untuk sarapan.


" Alif juga disini membutuhkan Daddy," ucapan Alif membuat Arkana tertawa. Anaknya memang pintar.


" Alif tidak boleh begitu. Daddy harus menyelesaikan masalah di sana. Banyak orang yang bekerja pada Daddy disana." Ayu mengingatkan sang anak.


" Baiklah," Alif mengalah.


" Mau Daddy suapi?"


Alif mengangguk dengan semangat. Arkana pun menyuapi sang anak dengan telaten.


Mommy Mona dan Daddy Alex merasa senang kehidupan keluarga kecil putra mereka baik-baik saja.


"Berapa hari perginya, Ar?," tanya Mommy Mona.


" Kurang lebih satu minggu, Mom."


" Bara ikut ?"


" Tentu. Untuk sementara Arka minta Daddy mengawasi perusahaan. Tidak apa-apa kan, Mom?."


" Tidak apa-apa. Biarlah sekali-kali Daddy mu pergi lagi ke perusahaan. Jadi kan Mommy bisa me time," Mommy Mona tertawa.


Semenjak sang suami menyerahkan perusahaan pada Arkana, suaminnya itu hanya mengikuti kemanapun sang istri pergi. Ia ingin mengganti waktunya yang dulu habis karena mengurus perusahaan.


Daddy Alex hanya memasang wajah datarnya sementara Ayu hanya mengulum senyum. Merasa lucu atas sikap mertuanya yang manis di usia yang tidak lagi muda.


Arkana pun pamit setelah menghabiskan sarapannya. Ia akan ke perusahaan terlebih dahulu sebelum pergi ke luar kota.


Sudah beberapa hari Arkana dan Bara di luar kota menyelesaikan masalah yang ada di sana. Selama itu pula Arkana tak pernah lupa untuk menghubungi sang istri. Setiap malam sebelum tidur dan pagi sebelum berangkat, mereka melakukan video call.


Hari ini, Arkana akan bertemu perwakilan perusahaan yang akan melakuka kerjasama dengannya.


" Bar, apa mereka tidak akan datang?," tanya Arkana karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih sementara mereka janji bertemu pukul sepuluh.


" Mereka bilang sebentar lagi sampai. Mereka terjebak macet," jawab Bara yang baru mendapatkan telpon dari sekretaris Pak Arnold.


Arkana hanya diam lalu melakukan video call dengan Istrinya.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum. Sayang, kamu ada dimana?," tanya Arkana saat melihat suasana yang cukup ramai di sekitar istrinya.


" Wa'alaikumsalam. Apa Mas lupa kalau tadi pagi aku sudah izin menemani Mommy bertemu teman lamanya?," Ayu balik bertanya.


Arkana akhirnya hanya mengangguk. Tadi pagi, sang istri memang meminta izin menemani sang Mommy.


Ayu memang selalu meminta izin pada Arkana sekalipun mereka terpisahkan jarak. Sekalipun ia pergi dengan ibu dari suaminya, Ayu tak pernah lupa meminta izin terlebih dahulu.


"Mas sedang senggang? Tumben telpon jam segini?," Arkana memang tidak pernah menelpon Ayu di jam kerja.


Karena itu, menjadi aneh saat Ayu mendapatkan telpon dari suaminya saat masih jam kerja.


" Aku sedang ada janji dengan perwakilan perusahaan Mahendra. Tapi, mereka belum sampai karena terjebak macet,"


" Selamat siang Tuan Arnold", sapa Bara.


" Siang. Maaf terlambat"


" Tidak apa-apa ," jawab Bara.


" Sudah datang ya, Mas? Aku tutup ya?," izin Ayu yang mendengar suara seseorang yang baru datang di sebrang sana.


"Iya. Nanti aku telpon lagi, sayang,"


" Nanti saja saat aku di rumah. Alif dari tadi minta telpon Mas terus. Kangen katanya."


"Baiklah. Assalamu'alaikum "


"Wa'alaikumsalam "


Sementara, seorang perempuan berpakaian minim duduk di sebelahnya. Pakaian yang serba terbuka menunjukkan jelas setiap lekuk tubuhnya.


" Perkenalkan saya Arnold dan ini Siska sekretaris saya," Arnold menyalami Arkana.


"Arkana."


Namun, Arkana hanya menganggukkan kepalanya pada Siska. Siska yang awalnya berniat menyalami Arkana pun mengurungkan niatnya.


Mereka pun terlibat pembicaraan serius. Arkana hanya memperlihatkan Arnold yang sedang berbicara tanpa melihat ke arah Siska yang seperti sedang mencari perhatian. Dengan gerakan yang semakin membuat terlihat apa yang seharusnya di tutupi oleh pakaiannya.


" Saya akan menandatangani perjanjian kerja sama ini dengan syarat, bahwa orang yang terlibat dalam proyek ini adalah orang yang kompeten di bidangnya dan berpakaian sopan," jelas Arkana.


Arnold spontan mengarahkan pandangannya kepada Siska yang berpakaian jauh dari kata sopan.


"Maaf kalau sekertaris saya membuat Anda tidak nyaman," ucap Arnold formal.


" Tidak apa-apa. Tapi, mohon kedepannya untuk selalu di perhatikan jika anda ingin tetap bekerja sama dengan saya." Tekan Arkana.


Siska hanya menundukkan kepalanya. Ia merasa malu. Karena penampilannya, kerjasama ini jadi malah terancam.


Arkana dan Bara yang sudah tidak ada kepentingan disana, pergi terlebih dahulu. Sementara Arnold dan Siska masih disana karena akan sekalian makan siang.


"Sudah aku bilang, jangan berpakaian seperti itu. Kamu malah tidak mendengarkan," kesal Arnold dengan gaya bicara yang tidak formal lagi.


Siska adalah adik sepupunya jadi, ia tidak sungkan dengan perkataannya.

__ADS_1


"Maaf," ucapnya lirih.


"Kita sedang mencari perusahaan yang mau bekerja sama dengan kita. Kamu tahu sendiri perusahaan sedang butuh kerja keras kita agar bangkit lagi."


Siska hanya diam.Ia pikir Arkana akan tergoda dengan tubuhnya. Bukankah para laki-laki suka dengan tubuh yang sempurna seperti yang dimilikinya?


Maksud hati sambil berenang minum air, malah hampir tenggelam.


Mana Siska tahu orang yang akan ia ajak kerjasama malah tidak tertarik sama sekali dengan tubuhnya.


Namun, ia justru semakin tertantang untuk mendekati Arkana. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Arkana berkata lemah lembut pada seseorang di telpon tadi. Tapi, malah cuek terhadapnya.


"Jangan berpikiran macam-macam. Apalagi mempertaruhkan kerjasama yang sudah susah payah kita dapatkan."Arnold seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran Siska.


Siska hanya mendengus.


Sementara Ayu yang beberapa saat lalu mendapat kiriman foto dari Bara, menunggu waktu untuk menelpon suaminya.


Ayu meminta Bara mengirimkan foto orang yang tadi bertemu suaminya.


Setelah mengucapkan salam, Ayu mulai berbicara dengan sang suami.


"Bagaimana pertemuannya tadi, Mas?,"


"Lancar "


"Ada perempuannya juga gak? Pasti cantik ya?," pancing Ayu.


"Hmm", Arkana hanya berdehem.


" Mas..."


"Kenapa malah nanya itu,?" Arkana enggan menjawab. Takut sang istri cemburu. Walaupun ia tidak menanggapi Siska tadi.


" Aku cuma ingin tahu. Apa aku salah?,"


" Tidak. Cuma aneh saja tiba-tiba nanya itu,"


" Jadi?"


TBC


...--------------------------------...


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...


...Terima kasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...


...Mampir juga di karya Author yang lain ya...


...😉...

__ADS_1


__ADS_2