
Cinta Untuk Ayunda (76)
"Hei Daddy juga mau ikutan." Arkana memeluk ketiganya.
"No. Daddy sana! Sempit!" Diva protes.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Arkana dan Ayu kini sedang ada di rumah sakit. Ayu akan segera melahirkan, ia sudah memasuki pembukaan lima.
" Terimakasih sudah mengizinkan ku untuk bisa kembali mengandung." binar bahagia terlihat di mata Ayu.
" Apapun untukmu." Arkana menepuk punggung tangan Ayu yang sedang ia genggam. Lalu menciumnya.
Ayu tersenyum. Merasa beruntung menjadi istri dari seorang Arkana.
Setelah berulang kali berpikir, akhirnya Arkana menyetujui keinginan Ayu untuk manambah anak. Demi bisa mengabulkan keinginan istrinya, Ia mencoba menghapus semua kekhawatiran dan ketakutannya selama ini.
Sekarang, Arkana sedang menemani Ayu berjalan-jalan di dalam kamar rawatnya. Tidak hanya itu, ia pun sudah menemani Ayu saat menggunakan bola persalinan.
Berbagai cara dilakukan agar bisa cepat naik pembukaan. Bahkan kurma pun ia bekal. Hingga akhirnya, pembukaan lengkap dan Ayu dipindahkan ke ruang persalinan.
"Kamu kuat, kamu pasti bisa."Arkana mengucapkan kata-kata penyemangat. Ia mengecup kepala Ayu.
Ayu mengangguk dan tersenyum.
Dengan arahan dokter yang membantu persalinannya Ayu pun berusaha dengan keras untuk mengeluarkan bayinya.
"Ayo sedikit lagi. Kepalanya sudah terlihat." Ucap Dokter.
Setelah mengatur nafasnya kembali, dengan sekuat tenaga, Ayu pun akhirnya bisa mengeluarkan bayi mungilnya. Arkana bahagia saat melihat anaknya lahir dengan selamat dan sempurna tanpa kurang apapun. Tangisannya pun menggema.
Hungga akhirnya Ayu kembali tak sadarkan diri.
Seolah de Javu, Arkana mematung melihat Ayu tak sadarkan diri lagi. Dia hanya lelah seperti saat melahirkan Diva. Pikir Arkana.
"Dokter, ibunya pingsan." Seorang suster memberi tahu.
Ternyata, Ayu kembali mengalami pendarahan sehingga kehilangan kesadaran. Arkana terus memperhatikan tindakan yang dilakukan dokter hingga ia melihat dokter menggeleng.
Wajah Ayu langsung di tutupi kain. Ayu tidak selamat. Ketakutan Arkana akhirnya terjadi.
"Tidak!!. Sayang, ayo bangun!!. Aku tahu kamu masih hidup. Kamu hanya tertidur." Arkana membuka kain yang menutupi wajah Ayu dan berteriak histeris.
Ia menangis menyaksikan wajah cantik itu kian memucat. Bibirnya membiru.
"Ayo sayang, aku sudah membolehkanmu melahirkan seorang anak lagi untukku. Sekarang, kau harus memenuhi keinginanku. Kamu harus hidup kembali seperti sebelumnya. Saat kamu melahirkan Diva." Arkana mengguncang tubuh Ayu.
Arkana yakin, Ayu tidak benar-benar meninggal. Namun, Ayu tidak bergeming.
__ADS_1
"Ikhlaskan istri anda, Pak."Dokter menyentuh bahu Arkana namun, Arkana menepisnya.
"Istri saya hanya tertidur karena lelah. Ia akan segera bangun." ucapnya lirih.
Dokter pun akhirnya membiarkan saja.
Namun, harapan tinggal harapan. Ayu tidak membuka matanya. Ia damai dalam tidurnya.
"Tidak!! Sayang !! Bangun!!" Teriak Arkana.
Ayu yang terganggu akan teriakan suaminya langsung terduduk dari tidurnya.
"Mas,, mas,, bangun "Ayu mengguncangkan tubuh suaminya yang terlihat menangis dalam tidurnya bahkan terus berteriak memanggil namanya.
"Sayang, ayo bangun. Kamu mimpi apa?" Ayu terus berusaha membangunkan suaminya. Hingga akhirnya, Arkana membuka mata.
Deg
Air mata Arkana kembali mengalir. Melihat Ayu masih hidup. Senyumnya merekah.
"Terimakasih. Terimakasih karena kamunmasih hidup." Arkana langsung bangun dan memeluk Ayu dengan erat.
Ayu membalas pelukan suaminya.
"Tidak apa-apa. Mas hanya bermimpi." Ayu mengusap punggung suaminya dengan lembut.
Arkana melepaskan pelukannya kedua tangannya memegang bahu Ayu.
Melihat air mata suaminya kembali mengalir. Ayu segera menghapusnya.
"Mas bermimpi apa?" tanya Ayu penasaran.
Arkana menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin menceritakan mimpi buruk itu.
"Ya sudah, ayo minum dulu." Ayu mengambil gelas di atas nakas yang berisi air putih.
Arkana meneguknya. Dadanya masih berdebar-debar. Mimpi itu seperti nyata. Ia terdiam kemungkinan melihat sekeliling.
Ah iya, tadi aku tertidur saat ikut merebahkan tubuhku di kasur. Batin Arkana.
Tadi, saat Arkana kembali setelah mengantarkan Alif dan Diva ke rumah Malika, ia melihat Ayu tidur. Sepertinya sudah minum obat
Sore pun tiba. Alif dan Diva masih di rumah Malika. Keduanya akan menginap karena sekolah Alif di liburkan. Ada rapat guru.
" Ini ada buah naga. Titipan Malika." Arkana meletakkan piring berisi buah naga di meja.
" Terimakasih." Ayu tersenyum ke arah suaminya. Lalu ia kembali melihat ke arah langit senja yang berwarna jingga.
Arkana duduk di samping Ayu.
__ADS_1
" Soal kemarin, aku minta maaf. Bukan maksud untuk melanggar kesepakatan kita. Tapi, aku tidak sengaja menjanjikan eskrim untuk Diva."
" Sudahlah, lupakan. Lagi pula es krimnya tidak langsung di makan semuanya tapi, di simpan di kulkas." Jawab Ayu.
" Soal anak.."
" Tidak usah di bahas lagi. Alif dan Diva saja sudah cukup." Ayu memotong perkataan Arkana. Ia tidak ingin ada perdebatan.
Arkana menghela nafas.
" Kamu tidak penasaran kenapa aku berubah pikiran padahal dulu aku sempat ingin punya banyak anak?"
" Aku sedang tidak ingin membahasnya, mas. Aku sedang tidak ingin berdebat." Ucap Ayu sambil mengambil potongan buah dan memasukkannke mulutnya.
" Kamu dengarkan saja. Ok."
Ayu akhirnya mengangguk.
" Aku hanya tidak ingin benar-benar kehilanganmu " Ucap Arakana sendu.
Mendengar jawaban suaminya, Ayu segera melihat ke arahnya.
" Kamu tahu, saat kamu pendarahan dan kamu kehilangan kesadaran? Aku sangat takut. Melihatmu memejamkan mata aku takut kamu tidak bangun lagi,sayang. Aku tidak bisa kalau harus Kehilanganmu. Aku benar-benar tidak sanggup." Mata Arkana kembali berkaca-kaca.
"Karena itulah,saat kamu minta untuk memberi adik bagi Diva, aku menolaknya dengan keras. Maaf kalau aku juga terlihat marah padamu.."Arkana menggenggam kedua tangan Ayu.
Ayu mengusap pipi Arkana. "Maaf. Aku tidak tahu Mas mengalami trauma karena hampir kehilangan ku."
"Apa mimpi buruk tadi siang juga tentang ini?"
Arkana mengangguk. "Aku bermimpi kamu akan melahirkan dan kembali mengalami pendarahan. Tidak seperti saat melahirkan Diva, kamu tidak bangun lagi. Kamu benar-benar pergi meninggalkanku. Aku takut."
"Baiklah. Aku tidak akan menuruti keinginan mas untuk tidak lagi hamil. Cukup Alif dan Diva saja." Ayu akhirnya mengalah. Ia tidak akan memaksa lagi pada suaminya.
Bukannya lega, Arkana malah merasa bersalah saat mendengar perkataan Ayu. Ayu tak pernah sekalipun melanggar perkataannya. Selalu menuruti permintaannya.
Bahkan, selama menikah, Ayu tidak pernah meminta apapun untuk dirinya sendiri. Liburan yang ia minta, adalah untuk anak-anak agar bisa memiliki waktu berkualitas bersama kedua orang tuanya.
Baju atau apapun, harus Arkana yang memaksa barulah ia membelinya. Berbeda bila untuk Alif dan Diva, Ayu selalu berusaha membelikan apapun. Selama masih dalam batas wajar.
"Tapi, apa Mas mau mendengarkan ku dulu?," pinta Ayu hati-hati dan di jawab anggukan oleh Arkana.
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
__ADS_1
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...