Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 75 Arkana Tahu Penyebabnya


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (75)


Arkana mengangkat kepalanya melihat kepergian Ayu ke kamar Diva.


"Apa dia sedang marah ?" tanya Arkana pada dirinya sendiri.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Arkana heran dengan sikap Ayu. Biasanya jika ia seperti itu, Ayu akan menyenangkan hatinya dulu. Dengan cara apapun.


Namun, jangankan menyenangkan hatinya. Bahkan ucapan selamat malamnya hanya sebatas ucapan. Padahal, biasanya selalu disertai tindakan.


Ayu sendiri tidak menyadari itu semua saat meninggalkan kamar mereka.


Malam itu, Arkana benar-benar tidak bisa tidur. Ia memikirkan apa yang terjadi pada istrinya.


Arkana tetap tidak bisa tidur bahkan setelah larut malam, akhirnya Arkana mengendap-endap berjalan ke arah kamar Diva.


Arkana melihat Ayu tidur memeluk Diva. Ia pun menghampiri keduanya.


"Bundanya Daddy pinjam ya, sayang." Alif mencium kening Diva.


Lalu berjalan ke sisi lain ranjang dimana Ayu berada.


" Maaf membawamu kembali ke kamar kita. Aku tidak bisa tidur." Arkana mengecup bibir Ayu. Lalu secara perlahan memasukkan kedua tangannya pada leher dan kaki Ayu dan mengangkatnya.


Ayu sempat terusik namun, ia kembali tidur. Arkana pun merebahkan tubuhnya di ranjang mereka. Lalu ia ut berbaring di samping Ayu.


Arkana menciumi wajah Ayu. Ayu pun mulai terbangun karena gangguan dari sang suami.


"Kamu menculik ku dari kamar Diva?," tanya Ayu saat ia menyadari telah berada di kamar mereka.


"Hmm. Aku tidak bisa tidur tanpa memeluk guling hidupku." Jawabnya. "Kemarilah!" Arkana meminta Ayu tidur di lengannya.


Dengan patuh, Ayu pun melakukan perintah suaminya.


"Kamu marah?," Arkana memberanikan diri untuk bertanya. Sekalipun ia melihat sang istri kembali memejamkan matanya.


"Tidak." Jawab Ayu tanpa membuka matanya yang masih terpejam.


" Banarkah?"


"Hmm"


"Soal es krim ?," tanya Arkana hati-hati.


" Aku tak berhak untuk marah. Mas yang punya uang. Mas yang berkuasa."


Jlebb


Arkana merasa di tikam sesuatu. Dadanya terasa sesak. Ucapan Ayu seolah menamparnya.


Aku merasa seperti suami otoriter yang memanfaatkan kekuasaan dan hartanya. Padahal hanya perkara es krim. Batin Arkana.


Arkana diam sambil memikirkan sesuatu. Ia yakin istrinya marah. Padahal, membatasi untuk makan es krim pun sudah mereka bicarakan dan menjadi keputusan bersama.


Arkana pun setuju karena apa yang dilakukan demi kebaikan Diva. Jika Alif sudah cukup mengerti mengenai batasan. Bahwa apa yang berlebihan itu baik. Maka, berbeda dengan Diva.


Di usianya yang serba ingin tahu dan ia yang masih butuh pengertiannya, butuh peran kedua orang tuanya agar bisa saling bekerja sama membuat Diva mengerti.


Namun, Arkana malah menjanjikan hal yang menjadi larangan saat ia membujuk Diva. Bukan hanya sekali. Tapi, sudah berkali-kali. Ayu sempat mengingatkan mengenai kesepakatan mereka bersama.


Karena Arkana kerap mengulangi kesalahan yang sama, akhirnya jawaban itu yang keluar dari bibir Ayu tanpa sadar.


"Kamu pasti marah" lirih Arkana.


" Tidak."


" Lalu, kenapa ucapan selamat malamnya hanya begitu?"


Ayu sebenarnya sudah mengantuk. Tapi, suaminya malah mengajaknya terus berbicara.

__ADS_1


" Ayo bicara dulu," Ayu merubah posisinya menjadi duduk. "Jadi, mas membawaku ke kamar kita untuk mengintrogasi ku?"


" Maaf, sayang. Bukan begitu." Arkana merasa tidak enak melihat raut wajah sang istri yang sudah mengantuk.


" Ayo tanyakan dulu yang mau mas tanyakan."


"Tidak. Ayo tidur lagi." Ajaknya.


" Yakin?"


" Iya."


" Aku beneran ngantuk, mas. Kalau mas terus-menerus bertanya, kapan aku bisa tidur?," keluh Ayu.


" Ayo sini mas tidak akan bertanya lagi"


Ayu kembali tidur seperti tadi. Arkana pun melabuhkan kecupan di kepala Sanga istri.


" Maaf"


" Hmm"


Arkana lagi-lagi menciumi istrinya.


"Mas jangan mulai. Kalau mas terus menggangguku, bagaimana aku bisa tidur?"


Arkana terkekeh." Maaf. Maaf." Arkana pun mengusap lembut punggung Ayu sampai tertidur.


Setelah mendengar dengkuran halus dari sang istri, dan yakin bahwa Ayu sudah tidur, Arkana mengambil ponselnya.


Tuuttt... Tuutt .. Tuuttt


"Assalamu'alaikum "


"Hmm Wa'alaikumsalam. Ada apa nelpon malam-malam." jawaban ketus di dapat Arkana


"Hehe maaf. Karena langsung di angkat, pasti sedang bangun kan juga tidak sedang itu kan?" tanya Arkana ambigu disertai kekehan.


"Nah, kebetulan. Bisa sekalian tanya apa yang istrimu dan istriku bicarakan saat di restoran?"


"Ada apa? Dia marah padamu?" Bara yang awalnya kesal malah terlihat senang.


"Hei aku tahu ekspresi wajahmu. Awas kalau berani mentertawakan ku." kesalnya.


"Hahah" Bara malah tertawa saat di beri ancaman.


Plakkk


Selvi memukul tangan Bara karena membuat Adam terkejut.


"Berisik, kak."


"Hehe maaf sayang. Cup."


"Hei .. aku masih disini."


"Oh iya. Maaf. Jadi, gimana?"


"Tanyakan pada istrimu. Aku merasa Ayu sedang memikirkan sesuatu tapi, ia tidak mau mengatakannya"


"Hmm. Baiklah."


Bara pun menghadap ke arah Selvi. "Sayang, tadi Ayu berbicara apa saja denganmu? Arkana bertanya karena sikap Ayu berbeda setelah pulang dari restoran tadi."


Selvi diam sejenak berfikir tentang tadi saat di restoran.


"Tadi aku bertanya, apa Ayu tidak berniat punya anak lagi? saat Diva meminta adik sendiri."


"Anak ?"


"Iya."

__ADS_1


"Terus."


"Sepertinya dia ingin punya anak lagi. Tapi, suaminya tidak mau. Katanya, suaminya bilang Alif dan Diva saja sudah cukup. Dan jika berbicara lagi tentang anak, katanya malah berakhir dengan perdebatan. Makanya dia tidak pernah bertanya lagi. Di akhir dia juga bilang tidak apa-apa karena sudah punya anak sepasang. Tapi, sepertinya di dalam hatinya dia menginginkannya."


Bara diam mendengarkan. Begitu juga Arkana .


"Aku rasa kalau suaminya mau berbicara dan menjelaskan alasan yang sebenarnya, mungkin Ayu juga akan mengerti. Karena, menurutku alasan cukup hanya dua anak tidak cukup memuaskan."


"Kamu sudah mendengar semuanya kan?" tanya Bara pada Arkana yang masih terhubung dalam panggilan telepon.


"Hmm. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Ck, kalau bukan sahabat, mana mau angkat telpon dia malam-malam. Mana langsung di tutup tanpa bilang terimakasih." kesalnya.


Selvi hanya menggelengkan kepalanya.


"Ada apa lagi ?" tanya Bara ketus saat Arkana menelponnya lagi.


"Terimakasih." ucap Arkana langsung mengakhiri panggilannya.


"Dasar anak ini."


...******...


" Bunda beneran tidak ikut kamu ke rumah Onti Malika?," tanya Diva yang sudah cantik akan pergi bersama Alif ke rumah Malika.


Keduanya rindu dengan kakek nenek nya yang sudah hampir seminggu di rumah Malika.


"Iya, Bunda tidak enak badan. Mau tidur saja"


"Kalau kami pergi, apa bunda tidak apa-apa?" Alif khawatir.


"Tidak apa-apa. Kan disini banyak orang. Kalian tidak perlu khawatir." Ayu menenangkan Alif.


"Lagi pula ada Daddy kan. Setelah mengantarkan kalian, Daddy pulang kembali " Ucap Arkana yang baru selesai memakai pakaiannya.


" Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, bunda telpon ya." Ayu hanya tersenyum mendapatkan perhatian dari Alif.


"Ya, sayang. Sini peluk bunda dulu." pinta Ayu pada Diva.


"Diva sudah besar. Tidak mau di peluk." Diva menggelengkan kepalanya.


Grepp


Alif memeluk Ayu tanpa di minta.


"Biar Abang aja kalau Diva tidak mau."Ucapnya


"Abang kan sudah besar. Yang suka di peluk itu anak kecil." protes Diva.


"Biarin. Abang kan suka di peluk bunda."Alif menjulurkan lidahnya menggoda Diva.


"Is.. Sana.. sana.. Ini bundanya Diva " Diva menarik Alif dan giliran memeluk Ayu.


"Sini biar bunda peluk dua-duanya." Mereka pun saling berpelukan.


"Hei Daddy juga mau ikutan." Arkana memeluk ketiganya.


"No. Daddy sana! Sempit!" Diva protes.


TBC


...----------------...


 


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...


...Terima kasih atas dukungannya...

__ADS_1


...🥰🥰🥰...


__ADS_2