Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 47 Bayi Besar


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (46)


Ayu menjelaskan panjang lebar. Arkana hanya mendengar sambil melihat wajah istrinya yang nampak berkaca-kaca.


" Terimakasih suamiku. Aku bersyukur memiliki suami sepertimu." Ayu tersenyum.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


" Kenapa harus berterima kasih ? Aku ayahnya, sudah kewajibanku menjaga Alif. Dia ada karena kita berdua. Maka sudah tugas kita bersama untuk selalu menjaga dan merawatnya"


" Iya.Mas benar. Tapi, hanya sedikit para suami yang mau berlelah-lelah mengurusi anaknya. Apalagi saat seharian sudah bekerja." timpal Ayu.


" Apa yang mas lakukan hanya secuil dari apa yang sudah kamu lakukan. Justru mas yang harus banyak berterima kasih padamu. Mau mempertahankan Alif di saat kamu tidak tahu siapa ayahnya. Mau membesarkan Alif di saat tidak ada sosok suami disisimu dan juga cemoohan yang pastinya kamu dapatkan.


Pasti berat mengurus Alif sampai usia empat tahun seorang diri. Mas tidak bisa membayangkan semua itu. Mas yang hanya menemaninya beberapa jam saja sudah sangat melelahkan. Apalagi kamu?"


Ya, Arkana membayangkan bagaimana Ayu bisa menjalani lima tahun yang berat ini seorang diri tanpa seorang suami.


" Kamu wanita hebat. Aku berterima kasih karena sudah mau menerimaku yang sudah banyak menorehkan luka. Membuatmu kehilangan sesuatu yang berharga. Pernah berpikir buruk tentangmu. Tidak mencarimu padahal aku bisa dan mampu melakukannya. Justru Daddy yang lebih dulu tahu tentang kalian. Melindungi kalaina dari jauh." ucap Arkana lirih.


"Aku selalu merasa menjadi pria jahat. Belum lagi apa yang aku lakukan membuatmu trauma. Bahkan saat aku melukaimu tempo hari, aku merasa sangat bersalah.


Sebanyak apapun aku meminta maaf dan berterima kasih sepertinya tidak akan pernah cukup." Arkana mengungkapkan semua isi hatinya, rasa bersalahnya.


Ayu diam sambil terus mengusap kepala suaminya. Arkana berkata jujur tentang isi hatinya. Ayu dapat melihat dari sorot mata suaminya yang kini dalam posisi terlentang melihat ke arahnya.


" Lupakan." Ayu tidak bisa banyak berkata jika itu mengenai masa lalu. Karena hatinya sangat rapuh jika ingat masa-masa itu.


Ayu tak ingin mengingat juga membicarakannya. Biarlah, lagi pula semua sudah berlalu.


" Aku senang melihat Alif yang bersemangat untuk bisa segera sembuh. Ini pasti karena kedatanganmu." Ayu mengganti topik pembicaraan.


" Hmm. Alif bercerita, katanya dia sedih karena belum bisa masuk sekolah."


Arkana bukan tidak menyadari Ayu sedang mengalihkan topik pembicaraan. Namun, ia sadar jika istrinya sudah seperti itu, artinya ia tak ingin lagi membicarakan masalah tadi.


" Iya. Alif sangat antusias saat aku bilang akan menyekolahkannya."


Ayu ingin sang anak bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya. Karena itu, dia menyekolahkan Alif.


Ya, tujuan Ayu menyekolahkan Alif agar bisa memaksimalkan usia golden age Alif. Karena sekolah pasti punya kurikulum yang artinya Alif akan belajar secara terstruktur.


Ayu pun memilih sekolah yang berkonsep agama Islam. Ia sadar ilmu agamanya masih sedikit. Ia berharap bisa memberikan Alif bekal untuk hidupnya kelak.


Arkana pun langsung mencari tahu sekolah yang bagus. Ia setuju dengan usulan istrinya. Ia menyadari kalau belajar ilmu agama itu penting juga tidak bisa di lakukan seorang diri. Arkana mengalami sendiri. Bahkan tanpa sepengetahuan Ayu, sejak pulang bulan madu dulu, ia belajar ilmu agama dari seorang ustadz.


" Dia juga senang saat aku akan mengajaknya liburan."


" Pantas Alif sangat semangat untuk bisa segera sembuh. Dia memang menginginkan itu."

__ADS_1


" Kenapa tidak membicarakannya dengan ku?."


" Mas sibuk. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu. Tadinya, aku akan membicarakannya setelah mas pulang dari luar kota. Karena itu, saat tadi mas bilang akan mengajak Alif liburan,aku bilang Alif pasti senang."


Arkana mengangguk. Ia terus melihat wajah istrinya.


"Aku ingin melanjutkan yang tadi di mobil, " pinta Arkana.


Glekk


Ayu hanya menelan salivanya.


" Aku kan sudah bilang mas, aku akan melayanimu sepuasnya di rumah nanti." Jawaban yang sama seperti di mobil saat Arkana bilang menginginkan Ayu.


Arkana tertawa. " Mas juga masih berpikir jernih untuk tidak melakukannya disini." Jawaban yang sama pula yang Arkana ucapkan seperti di mobil tadi.


" Lalu?," Ayu mengernyitkan keningnya. " Tadi mas sudah merasakan ini sepuasnya." Ayu menunjukkan ke arah bibirnya.


Di mobil tadi, Arkana memang menyalurkan rasa rindu dan cemburunya pada sang istri sampai puas. Bahkan meminta istrinya membalasnya.


"Bahkan sampai bengkak. Beruntung mommy tidak menyadarinya. Andai mommy sadar dan bertanya, aku bingung harus jawab apa." Ayu mengerucutkan bibirnya kesal dengan sikap sang suami.


" Tapi, sepertinya kamu menginginkannya lagi." tawa Arkana pecah apalagi melihat istrinya langsung melipat kedua bibirnya.


Ayu mendelik kesal.


" Kalau Mommy tanya, bilang saja di gigit lebah." guraunya.


Istriku benar-benar lucu. Batin Arkana yang masih tertawa. Kalau saja kamu tahu saat kamu ke kamar mandi tadi, mommy menceramahiku karena menyadari apa yang aku lakukan padamu. Pasti kamu akan sangat malu.


" Aku ingin yang lain.Ayolah pemanasan kedua." ucap Arkana sambil menggerakkan alisnya.


" Pemanasan apa lagi sih, mas?"


" Aku mau minum susu."


" Oh, cuma itu." Ayu merasa lega. Keinginan suaminya kali ini adalah hal yang biasa.


"Aku pikir apa. Aku beli ke kantin rumah sakit. Mau?," tawar Ayu.


"Tapi, aku mau langsung dari sumbernya." Ucap Arkana ambigu.


" Dari sapi?." Ayu benar-benar belum sadar maksud keinginan suaminnya.


Arkana melongo.


" Bukan. Masa iya langsung dari sapi." Arkana kesal sekaligus ingin tertawa melihat istrinya yang masih belum mengerti maksud dari permintaannya.


"Lalu...." Ayu terdiam saat menyadari arah mata suaminya. " Mas..."Ayu benar-benar baru sadar keinginan suaminya.

__ADS_1


" Dosa lho menolak permintaan suami." Arkana mengeluarkan kata ajaibnya.


" Ada Alif, mas." ucap Ayu pelan


" Alif sudah tidur. Dia pasti tidur pulas karena baru minum obat juga." Arkana mematahkan alasan Ayu.


" Hmm. Baiklah." Ayu mengalah walaupun jantungnya berdebar-debar karena ia takut Alif bangun tiba-tiba.


" Tolong ambilkan selimut itu." Tunjuk Ayu pada selimut yang ada di atas meja.


Arkana mengambil dengan bersemangat. ia lalu menyerahkan selimut kepada Ayu dan kembali merebahkan tubuhnya di sofa dengan kepala berada di pangkuan Ayu seperti sebelumnya.


" Kenapa?." Arkana bingung melihat selimut yang di bawa di gunakan. untuk menutupi bagian kepalanya sampai ke badan. Bukan dari kaki ke badannya. Karena memang selimut itu tidak cukup jika untuk menutupi semuanya.


" Kalau bayiku kecil, aku cukup menutupi dengan kerudungku. Tapi, bayiku besar kalau Alif bangun dan lihat aku mau bilang apa." Ayu memberi alasan.


Arkana hanya tertawa kecil. Kini tubuhnya sudah menghadap ke arah istrinya.


" Tidurlah." Ucap Ayu. Ia benar-benar merasa punya bayi besar.


" Aku hanya menikmati ini. Tidak mungkin tidur."


Arkana berpikir ia tidak mungkin akan tidur. Sementara Ayu tidak yakin, melihat mata sang suami yang terlihat lelah. Tidak butuh waktu lama pasti akan tertidur.


Beberapa saat kemudian, Arkana benar-benar tertidur.


Ayu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Siapa yang katanya tidak akan tidur." Ayu tersenyum.


Tubuh yang lelah, lalu mendapat tempat tempat ternyaman untuk beristirahat, pasti akan mudah membuat suaminya itu terlelap.


" Punya anak satu saja harus kucing-kucingan biar tidak ketahuan. Apalagi nambah. Apa kamu yakin, mas." Ucap Ayu sambil mengusap pipi suaminya.


TBC


 


...----------------...


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...


...Terima kasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...


...Mampir juga di karya Author yang lain ya...

__ADS_1


...😉...


__ADS_2