Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 78 Akhir Cerita


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (78)


"Kamar hotel atas nama Arkana Adhitama." Ucap Arkana pada resepsionis.


Deg


"Kenapa pesan kamar hotel, Mas?," tanya Ayu penasaran.


"Karena kita akan menginap."


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


"Menginap? Kenapa ?"


"Sudahlah. Nanti kamu juga akan tahu." Arkana menggenggam tangan Ayu dan mengajaknya masuk ke Lift. Saat sampai di lantai tempat kamar yang ia sewa berada, Arkana kembali mengajak Ayu keluar.


Ceklek


Keduanya masuk ke dalam kamar.


"Apa acaranya besok pagi?" Ayu kembali bertanya saat Arkana mempersilahkannya masuk duluan.


Grep


"Mas?" Ayu terkejut saat Arkana yang baru menutup pintu langsung memeluknya dari belakang. Lalu meletakkan kepalanya di pundak Ayu.


" Maaf ." Bisik Arkana lirih.


" Ada apa?," mendengar kata maaf, tiba-tiba perasaan Ayu begitu takut.


Hening. Arkana diam tak menjawab.


" Apa mas melakukan kesalahan padaku? Apa mas seling...."


Ayu diam saat Arkana memutar tubuhnya dan membungkam mulutnya.


" Aku tidak mungkin melakukan hal itu setelah kamu memberikan kesempatan kedua padaku, sayang." Arkana kesal karena Ayu berfikir buruk tentangnya.


" Lalu ada apa?" Ayu ikut kesal. Sebenarnya ia bukan marah tapi, was-was. Bukankah kata maaf identik dengan kesalahan. Lalu kenapa suaminya minta maaf? Kesalahan apa yang di perbuat suaminya?


" Saat tadi mas diam aku masih bisa tenang karena masih melihat mas tersenyum. Tapi, saat barusan mas bilang minta maaf aku jadi bertanya-tanya."


Menyadari perubahan raut wajah istrinya Arkana salah tingkah. Ia jadi serba salah.


" Ayo kita ramaikan mension dengan kehadiran anggota keluarga baru."


Deg


Ayu terkejut. Ada apa dengan suaminya. Kenapa tiba-tiba.


" Apa ini karena ucapan Malika?" Ayu menatap manik hitam milik suaminya. Kemudian ia tersenyum. " Jangan pikirkan perkataan orang lain, Ok." Ayu menangkup wajah suaminya.


Mendengar Ayu yang memikirkannya, Arkana kembali merengkuh tubuh istrinya.


" Tidak hanya karena apa yang dikatakan Malika. Tapi, aku memikirkan apa yang kamu katakan malam itu. "

__ADS_1


Flashback on


"Tapi, apa Mas mau mendengarkan ku dulu?," pinta Ayu hati-hati dan di jawab anggukan oleh Arkana.


"Takut ditinggalkan oleh orang yang kita cintai itu wajar. Namun, menjadikannya alasan untuk tidak melakukan sesuatu juga tidak tepat."


Arkana diam.


" Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Jika alasan mas tidak ingin aku hamil lagi karena mas takut aku meninggalkan saat melahirkan, ingatlah tidak melahirkan pun aku akan tetap mati.


Mungkin esok atau lusa. Tidak ada yang tahu. Mungkin saat aku makan, berdiri atau justru saat aku tidur di sampingmu? Kita juga tidak tahu.


Yang pasti, melahirkan atau tidak, bukan jaminan aku akan lebih cepat meninggal atau justru sebaliknya. Karena yang namanya azal itu sudah di tetapkan. Sekuat apapun kita menghindar, kita akan tetap menemuinya."


Perkataan Ayu padanya hari itu terngiang-ngiang di kepala Arkana.


Arkana membenarkan semua yang istrinya katakan itu. Bodoh jika ia berpikir Ayu akan lebih lama berada di sisinya jika ia tidak hamil dan melahirkan lagi. Atau berpikir bahwa Ayu akan lebih panjang umur jika tidak melahirkan anak lagi untuknya.


Hingga ia pun berdiskusi masalah ini kepada Ustadz tempatnya mempelajari ilmu agama. Seperti halnya Ayu, sang ustadz pun mengingatkannya tentang kematian. Dimana ia tidak bisa di tunda atau dipercepat.


Flashback end


" Kamu benar. Aku salah jika berpikir kamu akan lebih cepat meninggalkan ku jika kembali hamil. Alasanku tidak berdasar. Setelah berpikir lagi, aku jadi kembali pada rencana awal."


" Rencana awal?."


" Hmm.. Memiliki banyak anak denganmu." Arkana menjawab dengan menatap istrinya dengan penuh cinta. Lalu melabuhkan kecupan manis di bibir Ayu.


" Mas yakin?," tanya Ayu belum mau terbuai. "Mas tidak takut kehilanganku?"


Ayu tersenyum. Ia senang suaminya sudah memahami itu.


" Jadi, ayo mulai malam ini kita berusaha keras membuat adik yang banyak bagi Alif dan Diva."


Tanpa aba-aba, Arkana menggendong Ayu dan meletakkannya perlahan di atas ranjang. Malam itu pun untuk pertama kalinya mereka kembali melakukan aktivitas halal itu tanpa pengaman.


...******...


" Mas, kamu sudah selesai?," tanya Ayu saat ia sedang mengeringkan rambutnya. Bisa-bisanya suaminya itu meminta haknya pagi ini padahal akan ada acara di mension.


"Hmm. Sini aku bantu." Arkana mengambil alih hair dryer yang di pegang Ayu.


" Babi Atha dan Zura bagaimana?" Arkana balik bertanya.


" Sedang bersama Mommy dan Daddy."jawab Ayu.


Setelah malam itu, Ayu dan Arkana melakukan program hamil kembar. Dan mereka bersyukur program yang di jalani berhasil bahkan kini mereka di berikan sepasang anak kembar.


Athaya Putra Adhitama dan Azura Putri Adhitama, kini sudah berusia empat bulan.


" Selesai." Ucap Arkana yang kini malah memeluk Ayu dari belakang.


"Mas..." tajuk Ayu karena suaminya malah mempererat pelukannya dan menciumi pipi Ayu.


"Aku suka pipimu yang seperti ini. Menggemaskan."

__ADS_1


"Aish, bilang saja kalau aku masih gemuk." Kesal Ayu karena berat badannya memang belum kembali seperti semula.


"Aku malah suka, sayang. Apa aku harus membuatmu sering hamil dan melahirkan agar selalu menggemaskan."


Plak


Ayu memukul lengan Arkana yang membelit perutnya. Namun, Arkana hanya tertawa saja.


"Gombal. Nanti ada yang lebih langsing eh, malah pindah haluan."


"Mana mungkin. Bagiku kamu segalanya. Tak peduli mau kurus atau gemuk sekalipun. Selama itu kamu, ibu dari anak-anakku. Hatiku hanya untukmu."


"Jangan pernah berubah." pinta Ayu.


"Aku mencintaimu. Cinta ini hanya untuk Ayunda Ayuningtyas Wijaya, Istriku seorang."


"Aku juga sangat mencintaimu, sayang." Ucap Ayu membalas ungkapan cinta suaminya.


Arkana mendekatkan wajahnya pada istrinya. Namun, saat keduanya akan saling bertukar saliva,


Brak..Brak..Brak..


"Daddy, Bunda ayo sebentar lagi giliran kita!" Teriak Diva.


Mendapatkan gangguan dari putri cantik mereka, keduanya bukannya marah namun malah tertawa.


"Yakin, ingin nambah lagi?" Goda Ayu.


"Kenapa tidak? Tinggal nambah baby sitter." kelakar Arkana. Kedua anak kembarnya juga punya baby sitter namun hanya untuk mengawasi jika Arkana dan Ayu sedang repot atau sedang ingin menghabiskan waktu berdua. Selebihnya Ayu dan Arkana melakukannya berdua. Saling bahu membahu.


"Daddy, Bunda buka pintunya!" teriak Diva.


Arkana berjalan ke arah pintu. "Untung aku tak pernah lupa untuk mengunci pintu. Kalau tidak anak kita akan menonton adegan dewasa."


Belajar dari pengalaman, Arkana jadi lebih waspada. Apalagi Diva suka masuk seenaknya ke kamar mereka. Sekalipun sudah di beritahu, namun sering melanggar.


"Ayo Daddy, Diva sudah tidak sabar mau foto keluarga." teriaknya langsung melompat ke dalam pangkuan Arkana.


Mommy Mona memang memanggil fotografer ke mension untuk mengambil foto keluarga mereka. Semua sudah berkumpul termasuk keluarga kecil Malika.


"Iya sebentar lagi."


"Nanti fotonya dicetak dengan ukuran sangat besar. Kasih bingkai yang bagus dan tempel di ruang tamu ya, Dad?" pinta Diva antusias.


"Sesuai keinginanmu, sayang "


...-------------------THE END -------------------...


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...


...Terima kasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2