
Cinta Untuk Ayunda (49)
" Hanya sedikit berkorban agar mas bisa tidur nyaman apa salahnya?", Ayu tersenyum mengusap lembut pipi Arkana. Walaupun tidak bisa di katakan nyaman juga karena hanya tidur di sofa.
Ayu tahu, bahwa suaminya begitu bekerja keras untuk segera menyelesaikan urusannya di luar kota agar bisa cepat pulang. Salah satunya dengan mengurangi jam tidurnya. Jangan tanya ia tahu dari siapa. Tentu saja dari Bara.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Arkana semakin sadar betapa istrinya luar biasa. Ia peduli padanya tanpa memikirkan dirinya sendiri. Padahal beberapa hari ini pun Arkana tahu bahwa Ayu juga tidak bisa tidur nyenyak karena Alif yang sakit.
" Terimakasih." Arkana sebenarnya ingin mengatakan jangan melakukan hal itu lagi. Karena ia merasa semakin bersalah. Namun, ia urungkan karena tidak ingin membuat istrinya salah paham.
"Jangan pernah merasa bersalah. Aku yang ingin melakukannya." Ayu bangun dari tidurnya. Kini ia duduk di samping Arkana.
" Aku pijat ya." Arkana mulai memposisikan kedua tangannya di bahu Ayu.
" Jangan!"
Karena kaget, Arkana langsung mengangkat kedua tangannya dari bahu Ayu.
" Kenapa?"
" Geli." Jawab Ayu
Mendengar jawaban istrinya, Arkana justru malah kembali meletakkan tangannya di bahu Ayu dan mulai memijatnya.
Ayu menggerakkan tubuhnya. Tangannya berusaha melepaskan tangan Arkana dari bahunya.
" Mas, hentikan!," ucap Ayu sambil menahan tawanya.
Namun, Arkana malah terus melanjutkan aksinya.
" Mas, Alif sedang tidur." kesal Ayu dengan suara yang tertahan.
Mendengarkan nama Alif, Arkana baru tersadar keduanya ada dimana.
" Maaf," ucap Arkana menarik Ayu ke dalam dekapannya.
Ayu yang kesal hanya memukul lengan suaminya. Pukulan yang tidak terasa sama sekali.
" Mas lupa kita sedang menjaga Alif. Mas selalu lupa pada apapun jika berhubungan denganmu." Ungkapnya.
Ayu hanya mendengus. Sementara Arkana malah meletakkan kepalanya di pundak Ayu.
__ADS_1
" Mas, ini kapan aku mandinya? ," rengek Ayu. "Waktu Subuh semakin dekat. Ayolah, aku merindukan sholat berjamaah denganmu." Ayu membujuk suaminya agar melepaskan pelukannya. Di tambah kecupan-kecupan di pipi suaminya.
" Ah, benar," ucap Arkana sambil mengangkat tubuh Ayu.
Ayu hampir saja berteriak karena saking kagetnya. Akhirnya, ia hanya memukul dada suaminnya.
Arkana hanya terkekeh.
" Aku juga rindu mandi bersama mu, sayang."
" Rindu atau mencari kesempatan. Kemarin dengan alasan rindu, minta pemanasan sampai dua kali. Belum lagi aku masih punya hutang saat pulang nanti ke rumah. Menghadapi k3m3suman mas lebih melelahkan daripada menghadapi rewelnya Alif saat sakit." Keluh Ayu cemberut.
Arkana hanya tertawa. " Tapi, mas seperti ini hanya padamu, sayang. Lagipula melayani suami itu besar pahalanya."
Arkana merasa bahagia bisa menjahili istrinya. Menghabiskan waktu bersama istri juga anaknya adalah mood booster bagi Arkana. Caranya melepas rasa penat . Karena, ia harus menguras otak jika sudah berhadapan dengan permasalahan perusahaannya.
" Hmm. Kalau mas berani berani seperti ini pada orang lain. Awas saja!" Ayu mengepalkan tangannya saat Arkana menurunkannya di kamar mandi.
Arkana mengambil kepalan tangan istrinya dan menciumnya.
" Mas tidak akan berani" ucapnya.
Mereka pun mandi. Benar-benar hanya mandi. Karena, Ayu yang cerewet terus mengingatkan suaminya tentang Alif.
"Aamiin." Mereka menangkupkan kedua tangannya ke wajah.
Ayu segera mencium tangan Arkana dan Arkana mencium kening Ayu. Pemandangan yang menyejukkan hati.
" Mas masih harus menyelesaikan pekerjaan mas. Bara sudah mengirimkan beberapa email yang harus mas baca. Kamu tidak apa-apa ?" Arkana bertanya terlebih dahulu takut istrinya merasa terabaikan.
" Tidak apa-apa. Malah bagus. Aku bisa istirahat sejenak dari semua sikap mas yang semakin menjadi."
Mendengar jawaban sang istri, Arkana hanya terkekeh. Ia mengusap kepala Ayu dengan gemas.
" Mas, kerudungku jadi berantakan lagi kan!" keluh Ayu.
" Padahal tidak perlu memakainya. Disini hanya ada kita bertiga."
" Sebentar lagi pagi. Akan ada suster dan dokter yang akan memeriksa Alif lagi. Atau mungkin Mommy dan Daddy. Lebih baik sudah berkerudung daripada terburu-buru memakainya." Jelas Ayu panjang lebar sambil merapikan kembali kerudungnya.
" Baiklah. Jangan merindukan mas, ya." Ucap Arkana sambil berlalu setelah berhasil mencuri kecupan singkat di bibir sang istri.
Ayu memutar bola matanya. Suaminya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Image yang ia lihat saat pertama bertemu hancur sudah. Tidak ada sosok Arkana yang dingin dan berwibawa. Sosok di depannya sungguh jauh berbeda.
__ADS_1
Dari sofa Arkana masih memperhatikan sang istri yang kini sedang duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
Menikahimu di luar rencanaku. Dulu, aku sudah menyusun rencana untuk menikahi Sheila. Namun, dengan alasan karir Sheila selalu menolak lamaranku. Memintaku menunda dan terus menunda. Sampai akhirnya, semua rencanaku gagal karena perselingkuhannya.
Aku beruntung, Allah menghadirkanmu dan Alif. Walaupun semua di luar rencanaku. Nyatanya, rencana Allah jauh lebih baik bagiku. Tidak butuh waktu lama aku jatuh hati padamu.
Mengingat kamu yang jauh lebih muda dariku, aku pikir kamu akan kekanak-kanakan. Namun, nyatanya semua tidak seperti bayanganku. Kamu jauh lebih dewasa dari apa yang aku kira.
Caramu menghadapi setiap masalah tidaklah gegabah. Bahkan kamu yang harus bersabar menghadapi sikapku.
Benar kata orang, dewasa bukan dilihat dari usia. Bertambahnya usia seseorang hanya menandakan semakin tuanya ia. Sementara kedewasaan seseorang lahir dari pengalaman hidup yang dia alami.
Sampai kapanpun aku akan berusaha membahagiakan kalian. Takkan pernah membuat kalian terluka. Batin Arkana.
Ayu yang menyadari suaminnya terus melihat ke arahnya tanpa menghiraukan laptop di hadapannya mengerutkan keningnya.
" Mas kenapa?," tanya Ayu.
" Hah?" Arkana tersadar dari lamunannya.
" Kenapa kamu melamun, Mas? Katanya, ada pekerjaan yang harus kamu selesaikan."
" Wajahmu mengalihkan duniaku." jawab Arkana puitis.
" Aish, malah menggombal. Kerjakan kerjaan Mas. Sebelum Alif bangun dan merengek ingin mas temani. Jika itu terjadi, akan sulit mas menyelesaikan pekerjaan Mas. Sementara aku tidak bisa membantu menyelesaikan pekerjaanmu, Mas." Ayu mengingatkan.
" Siap tuan putri, laksanakan!"
Arkana langsung serius melihat ke arah laptopnya. Istrinya benar, selagi Alif tidur, ia ada waktu. Namun, tidak jika Alif sudah bangun.
Ayu hanya menggelengkan kepalanya. Tapi, ia bahagia melihat suaminya lagi setelah beberapa hari hanya bisa melihatnya melalui video call.
TBC
...----------------...
...Akhirnya, bisa double up. 🥰...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
__ADS_1
...🥰🥰🥰...