Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 70 Prasangka Ayu


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (70)


"Mas." Ayu menghentakkan tangannya hingga genggaman Arkana terlepas tepat sebelum membuka pintu.


"Jawab dulu."


"Aku memberikan mereka hukuman."


Deg


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Ayu tertegun.


" Hukuman?" Lirih Ayu mematung.


Mendengar kata hukuman, pikiran Ayu tiba-tiba teringat pada perkataan ibu mertuanya.


" Kalian tidak jadi pergi?," tanya Malika heran karena keduanya malam diam di depan pintu.


" Tidak"


" Jadi"


Jawab Ayu dan Arkana bersamaan namun tidak kompak.


" Kita, jadi pergi. Kalu kamu mau nitip sesuatu, kirim pesan saja." Arkana menarik Ayu yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri sehingga tidak menyadari bahwa kini sudah ada di luar kamar rawat Alif.


"Mas. Apa mas memukulnya sampai mas puas?," tanya Ayu hati-hati. Tiba-tiba perasaan takut menghampirinya.


Selama ini, suaminya begitu hangat, manis dan lembut. Benarkah ia memiliki kepribadian lain jika sudah emosi? Ingin tidak percaya, tapi Ibu mertuanya tidak mungkin berbohong.


Arkana menatap manik mata sang istri. Tersirat ketakutan.


Arkana menghela nafas. "Ayo kita bicara dulu, tapi tidak disini. Nanti, di mobil aku akan menceritakan semuanya padamu."


Ayu akhirnya pasrah saat Arkana mengajaknya pergi dari sana.


Keduanya masuk ke dalam mobil. Arkana membuka pintu samping kemudi untuk Ayu sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil melalui pintu yang lain.


Sesaat setelah masuk, Arkana langsung mencondongkan tubuhnya memeluk Ayu.


"Aku mencintaimu. Jangan pernah takut padaku. Aku sakit saat melihat rasa takut di matamu terhadapku." Bisik Arkana.


"Kalau begitu, katakan apa maksud mas dengan sudah memberi mereka hukuman?" Jawab Ayu tanpa membalas pelukan suaminya. "Apakah yang Mommy katakan benar? Karena jujur, aku takut membayangkannya." Ayu memilih berkata jujur pada suaminya.


Arakan memegang pundak Ayu dan mulai menjawab pertanyaan Ayu.


"Aku tidak melakukan apapun yang bisa mengotori tanganku. Aku tadi memang melihat mereka namun, aku langsung pergi lagi karena khawatir tidak bisa menahan emosiku.


Aku pun menyerahkan masalah mereka pada Daddy agar Daddy memastikan mereka mendapatkan hukuman setimpa dan memastikan agar tidak ada seorang pun yang menolongnya keduanya dari jeratan hukum."


" Tentang apa yang di katakan Mommy, itu memang benar. Dulu, aku seperti itu."


Deg

__ADS_1


Ayu jadi merasa takut. Menyadari raut wajah sang istri berubah, Arkana menangkup wajah Ayu.


"Itu dulu. Sebelum aku menikah denganmu. Aku memang baik pada orang yang aku sayangi namun berubah menjadi jahat bagi orang yang berani mengusikku.


Namun, aku tak pernah lagi seperti itu setelah menikah denganmu. Aku belajar menjadi ayah dan suami yang baik untukmu dan Alif. Aku juga belajar menahan amarah darimu saat kamu marah padaku dulu."


Arkana diam sejenak.


"Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan membuatku kehilangan banyak waktu bersamamu. Aku ingin menua bersamamu. Jadi, aku akan berpikir ribuan kali untuk melakukan sesuatu yang bisa membuatku berakhir di dalam jeruji besi."


Arkana mengakhiri jawabannya dengan kecupan singkat di bibir sang istri.


"Kalau mas hanya sebentar untuk melihat pelakunya, lalu mas kemana setelah itu? Mas bilang tidak akan pergi ke perusahaan." Ayu mempertanyakan keheranannya. Karena suaminya pergi cukup lama dari pagi sampai menjelang sore.


Flashback on


Arkana masuk kembali ke dalam ruang interogasi dimana Sheila dan Bobi berada.


"Kamu kenapa kembali lagi? Berubah pikiran ?" Daddy Alex bertanya setengah mengejek.


" Ckk. Aku hanya mencari kunci mobil."


"Marah membuatmu jadi pelupa. Kamu kesini dengan Daddy, son. Bukan membawa mobil sendiri. Kita juga di antar supir."


Mendengar jawaban sang ayah, Arkana langsung kembali balik badan. Malu sudah pasti. Tapi, gengsi.


Daddy Alex pun menahan tawa. Ia tidak ingin membuat Arkana tersinggung jika melepaskan tawanya. Sementara pengawal yang berdiri di samping Daddy Alex tetap memasang wajah sangarnya walau dalam hati menertawakan kelakuan absurd sang bos.


Akhirnya, Arkana pergi dengan meminta sang sopir mengantarkannya kembali ke mension. Disana, ia meluapkan semua amarahnya pada samsak yang selalu menjadi sasaran saat emosi.


Hingga karena saking lelahnya ia tertidur dan saat terbangun, ia langsung membersihkan dirinya dan kembali ke rumah sakit.


Flashback end


"Jadi, aku salah sangka?"tanya Ayu.


"Hmm." Jawab Arkana sambil menganggukkan kepalanya.


"Maaf sudah berpikiran buruk. Aku hanya takut mas..."


" Cup. Aku tidak akan gegabah melakukan itu. Percayalah."


Ayu pun mengangguk dan memeluk suaminya. Perasaannya mulai tenang. Semuanya hanya prasangka. Bukankah seharusnya ia memang menjauhkan dirinya dari segala prasangka buruk.


" Jadi, kita harus kemana? Aku tidak tahu tempatnya." Arkana melepaskan pelukannya dan memasangkan sabuk pengaman istrinya.


"Nanti, mas ikuti saja arahan ku ya?"


"Baiklah." Arkana pun melajukan mobilnya setelah memasang sabuk pengamannya.


Setelah dua puluh menit berkendara, mereka pun sampai di tempat yang cukup ramai. Kedai bakso biasa namun pengunjungnya membludak.


"Yakin, mau makan disini?"


Ayu nampak berfikir.

__ADS_1


"Di bungkus saja. Kasihan Alif kalau kita keluar terlalu lama." Ayu mengambil keputusan.


"Kalau mau makan disini juga tidak apa-apa. Kan ada Malika. Mommy juga katanya mau ke rumah sakit setelah selesai urusannya." Arkana menenangkan. Bukan tidak peduli pada Alif tapi, kondisi Alif sendiri sudah stabil. Lagi pula banyak yang menemaninya.


Sementara Arkana ingin agar Ayu menikmati makannya. Nafsu makan bumil tidak selalu konsisten.


"Beneran tidak apa-apa?"


"Iya"


"Ya sudah. Tapi, Kalau Alif sudah mencari keberadaan kita, nanti kita langsung pulang saja "


"Iya. "


Keduanya pun akhirnya mendapatkan giliran setelah cukup lama mengantri. Ayu tidak ingin Arkana menggunakan kekuasaannya hanya demi bisa di dahulukan.


" Makanlah dengan pelan." Ucap Arkana saat melihat Ayu makan terburu-buru.


"Aku ingat Alif terus , Mas. Takut dia mencari keberadaan kita."


"Kalau Alif rewel mencari kita, Malika pasti sudah menelpon." Arkana menunjukkan ponselnya yang tidak ada panggilan sama sekali.


Ayu pun akhirnya menurut. Ia pun makan dengan perlahan. Tidak terburu-buru seperti tadi.


" Oh iya Mas, Mas belum cerita siapa yang menculik Alif." Ayu tiba-tiba penasaran.


" Miss Nela, guru Alif." Jawab Arkana sambil terus memperhatikan Ayu yang tetap makan. Ia sendiri tidak memesan karena tidak terlalu suka Bakso.


"Miss Nela?!" Ayu terkejut. "Benarkah ?"


"Ya "


"Tapi,saat Alif hilang, dia terlihat sangat khawatir dan merasa bersalah."


"Tentu. Akting kan memang pekerjaan dia sebelumnya." Jawab Arkana datar.


"Maksud, Mas?" Ayu mengerutkan keningnya. "Mas sudah mengenal Miss Nela sebelumnya ?"


" Miss Nela itu bukan nama asli dia. Wajahnya pun bukan wajah miliknya."


" Hah? Maksud ya gimana?"


TBC


 


...----------------...


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...


...Terima kasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2