Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 72 Persalinan


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (72)


"Dia adik kelasku saat SMP dulu. Sebelum aku pindah ke kota ini." jelasnya.


"CLBK ceritanya?,"tebak Arkana


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


"Ya, begitulah."


" Gerak cepat sebelum keduluan orang lain."


"Hm.. Aku sudah bilang mau ngajak dia jalan." Arkana manggut-manggut. Sahabatnya ternyata sudah gerak cepat agar bisa segera melepaskan masa kesendiriannya.


...******...


"Dad, ini bagus!" Alif menunjuk salah satu box bayi berbentuk kereta kencana berwarna putih dan pink dengan hiasan boneka besar berbentuk kuda berwana senada.


"Bagus !" Puji Arkana tersenyum dan menghampiri Alif. Ia memperhatikan box pilihan Alif.


"Pilih ini ya, Dad!" Pinta Alif setengah memohon.


"Ok. Sesuai keinginanmu, sayang!" Arkana mengabulkan keinginan Alif. Ia sudah berjanji pada Alif akan membiarkannya memilih benda apapun untuk adiknya nanti.


"Yeay.!" Alif berteriak dengan gembira.


Ayu tersenyum melihat kebahagiaan putranya. Sambil terus mengusap perutnya yang mulai membuncit, ia hanya duduk di atas sofa yang tersedia disana sambil mengamati pasangan ayah dan anak yang dari tadi memilih box bayi.


"Dad, nanti Daddy bilang sama adik ya, kalau box nya pilihan Abang Alif." Ucap Alif yang mulai memanggil dirinya dengan Abang.


"Hm. Siap bos!" Arkana tergelak melihat sikap sang anak yang menggemaskan.


"Kita mau cari apa lagi, Dad?," tanya Alif antusias.


Ia menikmati aktivitasnya kali ini. Tidak ada rasa iri sekalipun dia hanya memilih untuk sang adik. Ia tak ingin memilih apapun sekalipun Arkana menawarinya. "


Aku menyukai semua pilihan Daddy, semua masih bagus dan tidak perlu diganti dengan yang baru." Jawaban Alif saat Arkana menawarinya membeli perabotan yang Alif suka untuk mengganti perabotan di kamar Alif.


Jawaban yang membuat ia senang karena anaknya sangat menghargai pemberiannya.


"Cari lemari bajunya," jawab Arkana. "Tapi, Alif ditemani Om Bara dulu, ya. Daddy mau menemani Bunda, kasihan kalau Bunda menunggu sendiri."


"Siap, Daddy." Alif berlari ke arah Bara dan mengajaknya ke tempat lemari di panjangkan.


Bara menuntun Alif berjalan menjauh ke tempat aneka lemari di panjangkan.


Bara memang ikut menamani keluarga kecil itu berbelanja. Apalagi mereka pergi setelah jam kantor berakhir. Bukan karena ia asisten Arkana, tapi sekarang ia sedang berperan sebagai sahabat sekaligus Om yang baik untuk Alif.


"Kamu mau sesuatu, sayang?," Arkana menghampiri Ayu dan langsung duduk di sampingnya.


Ayu menggeleng sambil berusaha tersenyum. Tangannya mengelus perutnya yang dari tadi merasa keram.


"Sakit?" tanya Arkana melihat Ayu meringis.

__ADS_1


"Sedikit." Jawab Ayu tidak ingin membuat suaminya khawatir.


Arkana dengan sigap mengusap perut Ayu. Tangan yang lain mengusap pinggang sang istri.


Ayu merilekskan tubuhnya. Ia merasa nyaman.


"Masih sakit?," tanya Arkana perhatian.


"Tidak. Terima kasih, Mas."


Arkana hanya tersenyum sambil tetap mengusap pinggang sang istri.


"Aku tidak sabar melihat putri kita lahir. Pasti suasana akan semakin ramai." Arkana tersenyum membayangkan ia bersama Alif dan putri kecilnya. Membayangkan keseruannya.


"Aku juga tidak sabar."


"Ah, aku jadi pengen punya banyak anak. Biar tidak kesepian. Tidak seperti Daddy dan Mommy yang hanya punya dua anak, aku ingin empat atau lima bahkan lebih." Arkana tergelak sendiri membayangkan ia akan repot dengan banyak anak.


"Yakin ingin anak sebanyak itu?," Ayu menggelengkan kepalanya. Suaminya itu hanya memikirkan hal menyenangkannya saja. Padahal mengurus anak kecil apalagi lebih dari satu tidak segampang dan seindah itu.


" Hmm. Aku hanya dua bersaudara, dan itu sangat membuatku kesepian dulu. Apalagi Malika perempuan. Tidak bisa aku ajak bersenang-senang dengan permainan anak laki-laki " jawabnya.


Ayu manggut-manggut setelah tahu alasan suaminya.


Namun, tiba-tiba perut Ayu kembali keram. Rasanya semakin sakit. Bahkan kini ia merasakan ada sesuatu yang mengalir di bawah.


"Mas, sepertinya aku akan melahirkan," Ayu yang pernah melahirkan merasakan bahwa persalinannya sudah dekat.


" Itu kan hanya HPL, Mas. Hari Perkiraan Lahir. Waktu tepatnya bisa maju juga mundur."


"Ya, sudah Ayo." Arkana langsung memangku Ayu dan membawanya keluar dari sana.


Namun, sebelum itu, ia meminta salah satu bodyguard yang selalu mengikuti kegiatannya itu untuk menghubungi Bara agar mengikutinya ke rumah sakit dengan Alif.


Sepanjang perjalanan, Ayu hanya beristighfar saat rasa sakit itu datang. Arkana pun terus berusaha meringankan rasa sakit sang istri dengan terus mengusap pinggang sang istri.


"Pak lebih cepat, Pak!." Arkana berteriak pada Pak Danang karena merasa mobil berjalan dengan lambat.


Pak Danang mencoba tetap tenang sekalipun di teriaki beberapa kali. Ia merasa kecepatannya sudah cukup dan tidak ingin menambah lagi karena nyawa mereka taruhannya.


"Sabar ya, sayang. Sebentar lagi sampai."


Ia tak peduli Ayu meremas tangannya dengan kuat bahkan tangannya terluka karena tertancap kuku.


"Apa sangat sakit?," tanya Arkana saat melihat istrinya mengeluarkan airmata.


Ayu hanya mengangguk.nIa tidak bisa berkata apa-apa.


Arkana ikut berkaca-kaca. Melihat Ayu yang kesakitan. Rasanya ingin dia ambil alih rasa sakit itu. Namun, itu mustahil.


Setelah sampai di rumah sakit, Ayu langsung di baringkan di atas brangkar lalu di bawa ke sebuah ruangan dimana sudah ada dokter dan perawat yang siap melakukan tugasnya.


Arkana terus menggenggam tangan sang istri saat dokter memeriksa Ayu.

__ADS_1


"Masih pembukaan enam." Ucap Dokter yang melakukan pemeriksaan dalam pada Ayu.


Arkana mengangguk. Sebagai suami siaga ia sudah mencari tahu perihal pembukaan yang dialami saat akan melahirkan. Dimana di pembukaan ke sepuluh lah proses melahirkan baru bisa dilaksanakan.


"Kamu pasti kuat, sayang." Arkana membisikkan kata penyemangat sambil melakukan pijatan lembut.


Dokter pun kembali memeriksa Ayu saat Arkana tak kuasa melihat sang istri yang semakin kesakitan.


" Bagaimana dokter?," tanya Arkana harap-harap cemas.


"Pembukaannya sudah lengkap. Bayinya sudah siap untuk dilahirkan." jawab Dokter.


Arkana tidak lantas bernafas lega mendengar penuturan sang dokter. Masih ada proses sebelum akhirnya ia bisa tenang.


Proses mengeluarkan bayi yang juga sangat butuh perjuangan.


Arkana tidak beranjak sedikitpun dari samping sang istri. Ia mengelap keringat Ayu sambil terus memberi semangat pada Ayu saat Ayu mengejan untuk mengeluarkan bayi mereka.


Hingga akhirnya bayinya keluar dengan tangis yang sangat keras.


"Oek.. Oek .. Oek..."


Arkana berkaca-kaca melihat bayi mungil yang masih berlumuran darah itu.


"Terimakasih, sayang karena sudah berjuang demi putri kita." Arkana mengecup kepala Ayu.


Ayu tersenyum hingga kemudian kesadarannya hilang.


"Dokter, istri saya.. " Arkana panik melihat istrinya tidak sadarkan diri.


Di luar ruangan, semuanya sudah berkumpul menunggu kabar dengan perasaan cemas.


Daddy Alex dan semua yang ada di sana terkejut melihat Arkana yang keluar dengan ekspresi wajah yang agak suram. Tidak seperti seorang ayah yang senang karena menyambut kelahiran putrinya.


Deg


Perasaan Mommy Mona jadi tidak enak.


"Arkana, apa yang terjadi, Nak?" tanya Mommy Mona.


TBC


 


...----------------...


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...


...Terima kasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2