
Cinta Untuk Ayunda (57)
" Kita buat cerita romantis sendiri." Jawabnya ambigu.
Akhirnya, sore itu kedua pasang suami istri itu melakukan apa yang mereka inginkan lakukan.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Beberapa hari kemudian, Keluarga kecil Arkana pergi berlibur. Sesuai janjinya, Arkana mengajak Alif naik pesawat.
Alif benar-benar bahagia. Apalagi saat ia bisa melihat pemandangan dari atas pesawat. Berkali-kali Alif di buat takjub.
Arkana sendiri menikmati perjalanan itu. Perjalanan pertamanya bersama keluarga kecilnya.
" Daddy, kenapa pesawat bisa terbang?" tanyanya. Rasa penasaran membuatnya tidak menunda untuk bertanya kepada sang ayah.
" Padahal pesawat itu sangat besar. Sangat berat. Apalagi di tambah banyak orang yang naik sama barang-barang juga. Jadi, tambah berat. Tapi, pesawat bisa tetap terbang." Tanyanya yang memang mulai kritis akan sesuatu.
"Oh. Itu karena pesawat ada mesinnya." Jawab Arkana sekenanya. Lagipula ia tidak tahu pasti penjelasannya.
Alif berfikir sejenak. "Mobil Daddy ada mesinnya. Berarti bisa terbang juga kah?" tanyanya penasaran.
Jika mobil ayahnya bisa terbang juga, bukankah itu artinya akan sangat menyenangkan. Imajinasi Alif mulai bekerja.
" Mm,, tetap tidak bisa. Karena mobil tidak ada sayapnya seperti pesawat." Jawab Arkana lagi menjawab semampu dia saja.
Tanpa Arkana sadari, setiap jawaban yang terlontar akan menjadi bahan pertanyaan yang baru bagi putra kecilnya.
"Berarti, kalau mau mobil Daddy terbang, kita tinggal bikin sayapnya saja ya, Daddy?"
Arkana melongo. Ternyata tidak semudah itu menjawab pertanyaan anak kecil.
"Mm Daddy kira tidak semudah itu, sayang."
"Kenapa?"
" Karena harus oleh ahlinya."
Ayu hanya menertawakan dalam hati. Anaknya yang memang sudah semakin ingin tahu, selalu membuat siapapun yang ditanyainya tidak berkutik.
Arkana yang jarang di rumah jarang sekali mendapatkan cecaran pertanyaan Alif yang biasanya akan memusingkan.
Hingga seorang pramugari mendorong troli berisi makanan ke hadapan mereka. Di saat itulah pertanyaan itu terhenti. Fokus Alif mulai teralihkan.
Tidak lama setelah makan, Alif yang mengantuk pun tertidur.
Setelah melakukan perjalanan menggunakan pesawat. Mereka melanjutkan dengan menggunakan mobil. Hingga sampai di sebuah villa yang sudah mereka sewa.
__ADS_1
Alif yang takjub dengan Villa itu terus mengamati sekitarnya. Ia masuk dan sampailah ia di halaman belakang yang langsung menunjukkan indahnya ombak lautan.
"Daddy, ini sangat indah. Apa kita bisa berenang disini." Tanyanya menunjuk ke arah kolam renang yang langsung mengarah ke laut.
"Tentu saja. Tapi, kita istirahat sebentar. Ayo makan dulu." Ajak Arkana pada putranya karena sudah waktunya makan siang.
Alif pun patuh pada ayahnya, ia langsung mengikuti sang Ayah ke meja makan dimana disana sudah ada banyak makanan tersedia.
Mereka memang memiliki koki khusus yang akan memasakkan makanan bagi mereka. Arkana memang meminta agar makan siang mereka sudah tersedia saat mereka sampai di Villa.
Tidak seperti bulan madu dulu dimana Arkana meminta agar memiliki waktu berdua sehingga meminta para pelayan tidak ikut campur, saat ini Arkana justru meminta pelayan agar selalu siap sedia.
" Berenang sekarang, Daddy?" Alif bertanya dengan antusias.
" Sholat dulu baru berenang." Bukan Arkana yang menjawab, namun Ayu.
Alif hanya mengerucutkan bibirnya. Walaupun begitu ia tetap menuruti apa yang diperintahkan.
Mereka pun sholat Dzuhur berjamaah. Ayu yang menyadari betapa anaknya sudah sangat tidak sabar untuk segera berenang, langsung mengambil pakaian renang sang anak dan membantunya memakaikan pakaian itu pada Alif.
"Kamu tidak ikut berenang, sayang?" tanya Arkana melihat istrinya tidak ikut berganti pakaian.
Ayu menggeleng. " Sekalipun ini villa pribadi, aku tidak akan mau karena kolam renangnya outdoor." jawab Ayu.
Arkana mengangguk.
Sesampainya di kolam renang, Alif di buat ternganga.
Arkana paham arti kata mereka langsung mengangguk.
Alif yang tadi penasaran kenapa makanan sudah tersedia tapi tidak melihat ada orang lain pun membuat Arkana menjelaskan bahwa sebenarnya di sana ada pelayan dan koki yang siap sedia untuk memenuhi kebutuhan mereka.
"Daddy ingin membuatmu senang. Apa kamu senang, sayang?"
Alif berlari ke arah Arkana dan memeluknya.
"Terimakasih Daddy."
Alif tentu saja senang. Kolam renangnya kini berisi banyak bola . Ia bahkan sudah bersiap masuk ke dalamnya.
"Tunggu sebentar sayang, ayo pemanasan dulu." Alif dan Arkana melakukan pemanasan sebelum akhirnya menceburkan diri ke dalam kolam renang.
Sementara itu, Ayu menunggu keduanya di Gazebo yang ada tepat di samping kolam sambil mengabadikan moment mereka di ponselnya.
Banyak potret Alif dan Arkana yang ia ambil. Tidak hanya foto, Ayu mengabadikan lewat video juga.
Bosan hanya melihat indahnya pemandangan laut di Gazebo, Ayu menghampiri suami dan anaknya yang kini sedang berada di dalam kolam yang dangkal.
__ADS_1
Sebelumnya, Arkana memang masuk ke dalam kolam yang agak dalam untuk mengajarkan Sang anak berenang. Luar biasanya, Alif bisa berenang dalam waktu singkat.
Mereka pun beralih ke kolam yang dangkal. Alif bermain-main dengan banyaknya bola berukuran kecil yang ada disana. Sementara Arkana duduk bersandar di dalam kolam renang yang dangkal itu
" Masuklah sini!" Pinta Arkana saat Ayu menghampirinya.
"Aku disini saja." Jawab Ayu.
Ayu tidak ikut masuk. Ia hanya duduk di tepi kolam dan memasukkan kakinya ke dalam air.
Tidak ingin ada penolakan, Arkana berdiri dan langsung memangku Ayu dan mendudukkannya di dalam kolam.
"Mas" Kesal Ayu karena kini pakaiannya basah namun Arkana hanya tersenyum melihat kekesalan istrinya.
"Temani aku." Ucapnya sambil duduk kembali tepat di samping Ayu sambil melihat ke arah Alif yang asyik bermain.
Arkana langsung mengecup bibir Ayu yang masih terlihat kesal.
Ayu akhirnya pasrah saja, apalagi pakaiannya sudah terlanjur basah.
" Ayo buat banyak adik untuk Alif. Agar jika suatu saat kita liburan keluarga lagi, suasananya akan sangat ramai." Jelas Arkana membayangkan bertapa ramainya jika ia memiliki banyak anak.
" Jangan hanya memikirkan senangnya, pikirkan juga kesulitannya jika punya banyak anak." Timpal Ayu terkekeh.
" Bayar baby sitter saja untuk mengasuh mereka." Jawab Arakana.
" Kalau aku, tidak suka melibatkan baby sitter dalam pengasuhan anakku, Mas. Aku tidak ingin mereka lebih dekat pada pengasuhnya daripada orang tuanya." Jawab Ayu.
"Aku hanya membayangkan akan sakit hati melihat anak yang kita lahiran lebih dekat secara emosional dengan pengasuhnya. Bukan denganku selaku ibunya." Tambah Ayu.
Arkana diam. Ia memikirkan apa yang Ayu katakan. Ia seakan teringat pada sang Mommy yang bisa dekat dengan kedua anaknya karena Mommy Mona tidak terlalu melibatkan Baby sitter dalam mengasuh kedua anaknya.
" Kamu benar. Aku tidak memikirkan itu."
" Sebanyak apapun anak yang kita miliki, aku ingin mereka dekat dengan kita sebagai orang tuanya. Kita harus siap memberi waktu dan kasih sayang kita, jangan hanya memberikan limpahan materi saja."
" Ya, aku tahu. Bukankah liburan ini juga salah satu cara membuat ikatan emosional kita bertiga semakin kuat." Arkana tersenyum sambil menggenggam tangan Ayu.
Ayu menggangguk. Mereka pun kini fokus melihat ke arah Alif.
TBC
...-------------------------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
__ADS_1
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...