
Cinta Untuk Ayunda (77)
"Tapi, apa Mas mau mendengarkan ku dulu?," pinta Ayu hati-hati dan di jawab anggukan oleh Arkana.
...******...
"Kita beli ini saja!." Arkana menunjuk ke arah Kereta bayi berwarna hitam.
Ayu menggelengkan kepalanya. "Malika sudah membelinya. Lebih baik kita membelikan barang yang belum di beli. Agar lebih bermanfaat." Ayu menjelaskan alasan penolakannya.
"Kalau itu , Bun?," tanya Alif pada Bundanya.
"Apalagi Box bayi. Onti Malika sudah membelinya"
Keluarga kecil itu sedang berada di salah satu Mall. Mereka sedang sibuk mencari hadiah untuk baby boy Malika yang baru lahir.
" Lalu apa yang harus kita beli?," tanya Arkana.
Mereka sudah lama disana namun belum mendapatkan barang apapun. Selain karena bingung memilih, mereka juga dilema harus membeli apa. Karena Malika dan suaminya sudah membeli semua kebutuhan baby boy mereka.
Semua tanpa terkecuali. Saking antusiasnya pasangan suami istri itu.
"Sudah aku bilang. Kasih mentahnya saja. Biar Malika yang beli sendiri. Daripada kita membeli barang yang sudah di beli kan malah tidak terlalu bermanfaat." jelas Ayu.
Ayu sudah memberi saran agar memberi uang saja. Ia yang tahu apa saja yang sudah di beli Malika, merasa semua kebutuhan bayi mereka sudah terpenuhi. Namun, Arkana bersikeras untuk membeli barang.
"Bun, lihat bajunya lucu-lucu!." Seru Diva ya kini sedang berada di depan baju anak usia satu tahun.
"Lihatlah !"Diva memperlihatkan baju yang dia maksud.
Melihat itu akhirnya Ayu tersenyum. Kenapa tidak terpikirkan dari tadi.
"Ya sudah, kita belikan baju saja." Usul Ayu yang di setujui semuanya. Apalagi bayi itu cepat pertumbuhannya. Akhirnya mereka membeli baju untuk usia di atas baby Malika.
...******...
"Kalian sudah memberinya nama?," tanya Ayu sambil menggendong bayi mungil yang baru berusia tiga hari itu.
Setelah mendapatkan kado yang di cari, keluarga kecil itu pergi ke kediaman Malika. Ibu dan bayinya memang sudah di perbolehkan pulang ke rumah.
"Namanya Damar Ahmad Prayoga." Jawab Malika yang saat ini sedang duduk di samping suaminya.
"Nama yang bagus." Puji Ayu
"Bunda, aku juga mau adik bayi yang lucu seperti adik Damar." seru Diva sambil melompat-lompat karena ingin melihat wajah Damar.
Melihat itu, Arkana langsung mengangkat tubuh Diva dan menggendongnya. Diva tersenyum. Jari telunjuknya mencoba menyentuh pipi Damar.
" Program lagi saja, kak. Pasti seru kalau ngumpul nanti." Malika mengkompori.
"Tidak. Alif dan Diva saja sudah cukup." Jawab Ayu tersenyum.
Arkana melihat ekspresi wajah istrinya yang nampak biasa saja. Ayu sendiri sudah tidak berpikir untuk menambah anak lagi. Terlebih saat ia tahu alasan yang sebenarnya.
"Kenapa?"
" Biar kita bisa punya banyak waktu berdua. Saa kita nikah kan sudah ada Alif. Jadi, sekarang kita bisa sepuasnya." Jelas Ayu disertai kekehan.
__ADS_1
Ayu tidak sepenuhnya berbohong. Lagi pula ia juga tidak ingin memberitahukan alasan sebenarnya sekalipun itu pada Malika, adik dari suaminya.
"Iya juga sih." Malika manggut-manggut. Sementara Arkana sendiri merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
"Ayo makan malam dulu." Ajak Mommy Mona yang dari tadi sibuk di dapur. Ia ingin memasak sendiri makanan untuk anak-anak dan cucu-cucunya.
Semuanya pun segera pergi ke ruang makan. Sementara Baby Damar di tidurkan di box bayi dan di temani seorang baby sitter.
"Bun, kita jadi menginap kan?," tanya Diva. Mereka sekeluarga memang berencana menginap di rumah Malika.
"I.."
"Bunda dan Daddy tidak bisa. Kamu sama Abang Alif saja, ya." Arkana langsung memotong perkataan Ayu yang ingin menjawab pertanyaan Diva.
"Kenapa ?" Alif bertanya dengan heran.
"Daddy lupa ada yang harus Daddy lakukan."
Arkana beralasan.
"Kalau begitu, Daddy saja yang pulang, Bunda disini saja menginap dengan kami." seru Diva.
"Eh, tidak bisa. Bunda harus ikut Daddy pulang. Kalau Bunda disini, siapa yang nanti nyiapin baju Daddy sama masak sarapan untuk Daddy." Arkana kembali beralasan.
Sementara Ayu bingung sendiri. Ia tidak tahu rencana suaminya itu. Sebelumnya, mereka tidak ada pembicaraan kalau tidak jadi menginap karena tiba-tiba Arkana ada urusan.
"Daddy kan sudah besar. Sudah bisa ngambil baju sendiri. Di mension juga ada bibi yang suka masakin. Jadi, Bunda bisa tetap menginap dengan kami."
Arkana melongo sementara yang lain hanya tersenyum saja melihat perdebatan antara ayah dan anak itu.
Ayu hanya menghela nafas. Akhirnya, ia sendiri yang harus turun tangan. Sementara ia sendiri tidak tahu apa-apa.
"Kenapa Diva mau Bunda tetap menginap?," Ayu mengorek alasan putri kecilnya.
Diva diam.
"Diva mau tidur sama Bunda?"
"No. Diva mau tidur sendiri. Diva sudah besar."
"Terus?"
" Bunda kan punya Diva, bukan punya Daddy." Diva cemberut.
Semua yang ada disana malah tersenyum.
"Memang turunan Arkana." celetuk Daddy Alex.
Ayu tersenyum. Anaknya cemburu pada ayahnya sendiri.
Malika akhirnya tersenyum. Tiba-tiba muncul ide jahilnya.
"Diva mau punya adik?." tanya Malika penuh maksud.
Ayu menggelengkan kepalanya. Ia tahu maksud dari adik iparnya. Pasti cara yang sama yang ia lakukan dulu saat membujuk Alif.
Sementara Daddy Alex dan Mommy Mona hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Diva melihat ke arah Malika dengan mengerutkan keningnya.
" Emangnya kalau Bunda ikut pulang dengan Daddy, Diva akan punya adik?," tanyanya polos.
"Bisa." jawab Malika tersenyum usil.
"Sayang..."panggil Rafi.
"Tidak apa-apa, Mas." Rafi hanya geleng-geleng kepala.
"Ya sudah, boleh deh. Asal Diva bisa punya adik bayi kayak Adam dan Damar." Diva mengizinkan. Ia sudah tidak sabar di panggil kakak.
Ayu melongo melihat Malika yang hanya cekikikan.
Ayu hanya pasrah. Ia harus memberi pengertian jika apa yang Diva harapkan tidak terjadi.
"Berarti saat Diva pulang nanti, adik bayi sudah ada di rumah?," tanyanya.
" Tidak secepat itu, sayang. Baby Damar saja ada di perut Onti selama sembilan bulan." Rafi memberi pengertian.
"Oh, gitu ya , uncle."
...******...
" Memangnya ada urusan apa sih Mas? sampai membatalkan acara menginap di rumah Malika." Ayu penasaran.
" Nanti juga kamu tahu." jawabnya sambil melihat ke arah Ayu sekilas lalu kembali melihat ke arah jalan.
"Tumben main rahasia-rahasia an."
Arkana hanya tersenyum tanpa ingin memberi tahu alasannya. Arkana membiarkan istrinya itu penasaran.
"Loh, kok belok ke hotel? Apa ada acara disini," Ayu bingung karena pakaian mereka bukan pakaian yang tepat untuk datang ke sebuah acara.
Lagi-lagi Arkana diam membiarkan Ayu semakin penasaran.
Karena tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya, Ayu pun hanya mengikuti langkah suaminya ta la bertanya lagi.
"Kamar hotel atas nama Arkana Adhitama." Ucap Arkana pada resepsionis.
Deg
"Kenapa pesan kamar hotel, Mas?," tanya Ayu penasaran.
"Karena kita akan menginap."
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...
__ADS_1