Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 48 Marahnya Orang Pendiam


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (48)


Tubuh yang lelah, lalu mendapat tempat tempat ternyaman untuk beristirahat, pasti akan mudah membuat suaminya itu terlelap.


" Punya anak satu saja harus kucing-kucingan biar tidak ketahuan. Apalagi nambah. Apa kamu yakin, mas." Ucap Ayu sambil mengusap pipi suaminya.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Lain di rumah sakit, lain pula di kediaman orang tua Rian. Suasana begitu mencekam. Pak Felix menatap tajam istrinya.


Tante Melisa hanya menunduk. Ia tak pernah melihat suaminya marah. Suaminya pendiam, semarah apapun, biasanya tidak sampai seperti ini.


" Ada yang ingin kamu katakan?." Pak Felix bertanya dengan ekspresi yang tidak terbaca.


"Maaf." Hanya satu kata saja yang keluar dari bibir Tante Melisa.


" Hanya itu?."


Tante Melisa menghela nafas. "Aku tidak tahu dia orang yang sepenting itu. Aku kira dia hanya anak kemarin sore." tambahnya.


Pak Felix berdecih. Ia sudah muak dengan sikap istrinya yang selalu merendahkan orang lain. Memandang orang dari usia, latar belakang, pekerjaan dan banyak lagi.


" Apa yang kamu lakukan sehingga membuatnya sangat marah ?." Pak Felix mengorek informasi.


" A..aku. Menampar istrinya." Jawabnya tergagap sambil menundukkan kepalanya.


Tante Melisa tak berani sedikitpun mengangkat kepala. Kedua tangannya saling bertautan saking takutnya.


" Apa?!" Pak Felix berteriak tidak percaya. "Bagaimana bisa?." Pak Felix mengusap wajahnya kasar. Ia menanyai istrinya dengan harapan bisa mencari celah untuk meminta maaf pada Arkana dan meminta untuk bisa melanjutkan kerjasama mereka.


" Apa karena istrinya itu adalah Ayu? Perempuan yang pernah anak kita pacari?" Pak Felix mulai bisa menebak alasannya.


"Ya. Aku membencinya. Dia mencoba menggoda anak kita lagi", Tante Melisa mulai berani mengangkat kepalanya.


" Menggoda? Yang benar saja." Pak Felix tidak percaya sama sekali.


" Dia mendatangi anak kita di kafe tadi siang saat aku dan Rian menjenguk Shila. Aku berniat menjodohkan Rian dengan Shila. Tapi, Rian malah pergi dari ruang rawat Shila dan ternyata sedang berada di kafe bersama perempuan itu." Tante Melisa menjelaskan alasannya agar suaminya bisa mengerti kenapa ia bisa melakukan itu pada Ayu.


Pak Felix menghela nafas. Istrinya belum jera untuk menjodohkan Rian dengan orang yang menurutnya sepadan dengan mereka.


" Dengarkan aku baik-baik. Pertama, berhentilah menjodoh-jodohkan Rian. Biarkan dia mencari pasangan sendiri. Dia sudah dewasa. Tau apa yang baik untuknya.."


" Yang baik apa? Kau lihat pilihannya hanya seorang pelayan di restorannya sendiri. Tidak selevel dengan kita!." Tante Melisa menyela ucapan suaminya dengan meninggikan suaranya.


Brakkkk


Tante Melisa kaget melihat suaminya menggebrak meja.


" Kamu tidak bisa diam dan dengarkan aku dulu berbicara ?" Teriak Pak Felix membuat istrinya mematung dan langsung bungkam seketika.


" Berhentilah merendahkan orang lain." Kesal Pak Felix.


Pak Felix diam sejenak lalu mencoba mengatur nafasnya terlebih dahulu.

__ADS_1


" Aku sebenarnya tidak pernah ingin mengungkit ini. Tapi, semakin lama kamu semakin keterlaluan." diam sejenak.


" Harusnya kamu lihat dirimu dulu sebelum memandang rendah orang lain. Kamu juga dulu hanyalah seorang karyawan kantor biasa di perusahaanku. Tinggal di tempat kost yang biasa saja. Lahir dari keluarga biasa juga "


Deg


Tante Melisa merasa di tampar oleh kenyataan. Ia memang lupa asal-usulnya. Atau, lebih tepatnya memang melupakan darimana dia berasal.


" Kamu bisa seperti sekarang pun karena aku menikahimu. Harusnya kamu sadar itu."


Tante Melisa hanya diam. Suaminya benar.


"Bahkan kamu lebih buruk. Kamu mengatakan orang tuamu telah meninggal, padahal nyatanya mereka masih ada. Kamu malu mengakui mereka karena mereka hanya seorang pedagang kecil."


Lagi-lagi Tante Melisa terkejut. Ia melihat ke arah suaminnya.


" Kamu bertanya aku tahu darimana?," Pak Felix menebak arti tatapan istrinya.


"Ayahku mencari tahu latar belakangmu dulu. Dia menunjukkan bukti siapa kedua orang tuamu. Hingga akhirnya aku menemui mereka yang ternyata memang benar orang tua kandungmu."


Apa? Mas Felix bahkan bertemu dengan kedua orang tuaku?. Batin Tante Melisa.


" Orang tuamu yang sangat menyayangimu memintaku untuk tidak meninggalkanmu. Padahal mereka sudah kau campakkan dan kau anggap tinggal nama."


Setetws air mata mengalir Ari sudut mata Tante Melisa.


" Kau tahu alasan kedua orang tuaku menentang hubungan kita?." Tante Melisa menggeleng. " Itu karena kebohonganmu. Bukan karena latar belakangmu," tambahnya.


" Maafkan aku." Tante Melisa benar-benar merasa bersalah. Melihat dan mendengar apa yang di katakan suaminnya, ia merasa bodoh dengan prasangka buruk tentang mertuanya yang menilainya karena harta.


" Kali ini, korbanmu orang yang salah. Dia sosok yang cukup di kagumi dan memiliki andil besar bagi maju dan hancurnya sebuah perusahaan"


" Bagaimana bisa? Dia masih muda. Terlihat biasa saja." Tante Melisa tidak percaya.


" Dia memang masih muda.Tapi, perusahaan yang dia pimpin ada perusahaan turun temurun yang tidak di ragukan lagi kehebatannya. Arkana yang melanjutkannya pun memiliki kapabilitas yang membuat perusahaan yang ia pimpin semakin berkembang."


Tante Melisa menggelengkan kepalanya. Ia mulai berpikir dampak buruk dari sikapnya itu.


" Aku bersusah payah untuk bisa berkerja sama dengan perusahaannya. Tapi, kamu menghancurkannya dalam sekejap. Aku bukan hanya kehilangan kerja sama yang menimbulkan banyak kerugian.


Tapi, kabar pemutusan kerjasama yang di lakukan oleh perusahaan Adhitama pada kita sudah menyebar. Banyak perusahaan yang mulai meragukan kemampuan perusahaan yang aku pimpin."


" Apa?." Tante Melisa tidak tahu efeknya sedahsyat itu.


" Sekarang, selain menghadapi kerugian secara materi, aku juga harus menghadapi para investor yang mulai ingin menarik diri dari perusahaan"


...*******...


Di Rumah Sakit


Arkana memgerjap-ngerjapkan matanya melihat langit-langit kamar. Ia kemudian menyadarinya bahwa posisinya masih sama seperti tadi. Berada di pangkuan Ayu.


Ayu sendiri masih terlelap dalam tidurnya. Tidak merasa terganggu sedikitpun dengan pergerakan Arkana yang langsung bangun.

__ADS_1


Arkana memandangi wajah istrinya yang sangat damai. Badannya pasti pegal-pegal karena tidur dalam posisi duduk seperti itu.


Perlahan-lahan ia mengusap pipi Ayu.


"Sayang, bangun. Sini. Tidurlah disini." Ucap Arkana menunjuk ke arah pahanya saat melihat mata Ayu sedikit terbuka.


Ayu masih diam dan memgerjap-ngerjapkan matanya.


Cup


Arkana mencium bibir Ayu singkat yang membuat pemiliknya terbelalak kaget.


" Mas"


Arkana hanya terkekeh melihat wajah terkejut sang istri.


"Sini. Tidurlah disini." Ucap Arkana menunjuk ke arah pahanya.


Ayu pun merubah posisi sesuai permintaan Arkana. Lalu melanjutkan tidurnya.


Namun, baru sebentar Ayu sudah bangun kembali.


" Kenapa?"


" Ini jam berapa?"


Arkana melihat jam tangannya.


" Jam empat." jawab Arkana yang juga cukup kaget mengingat berapa lama mereka tertidur dengan posisi tadi.


" Sebentar lagi subuh. Aku mau mandi saja." Ayu bersiap bangun namun, Arkana menahannya.


" Adzan masih tiga puluh menit lagi. Istirahatlah sebentar lagi. Tidur dalam posisi duduk seperti itu pasti tidak nyaman." Arkana mengusap kepala Ayu.


"Aku tidak tega membangunkanmu"


" Tapi, mas merasa bersalah melihatmu tidur seperti itu."


" Hanya sedikit berkorban agar mas bisa tidur nyaman apa salahnya?", Ayu tersenyum mengusap lembut pipi Arkana. Walaupun tidak bisa di katakan nyaman juga karena hanya tidur di sofa.


Ayu tahu, bahwa suaminya begitu bekerja keras untuk segera menyelesaikan urusannya di luar kota agar bisa cepat pulang. Salah satunya dengan mengurangi jam tidurnya. Jangan tanya ia tahu dari siapa. Tentu saja dari Bara.


TBC


...----------------...


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...


...Terima kasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2