
Cinta Untuk Ayunda (38)
Arkana pun mulai memakan makanan yang di pesannya. Sementara Ayu hanya melihat suaminya yang sedang makan. Makannya sangat lahap seperti tidak makan berhari-hari.
Setelah selesai makan, Arkana menghampiri Ayu dan memberikan sesuatu pada istrinya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Ayu membuka kotak pemberian Arkana. Kotak yang sama yang ia berikan pada suaminya sebelum memutuskan menghilang sejenak.
Ayu mengeluarkan satu persatu barang yang ada di dalamnya. Ponsel, perhiasan bahkan brosnya pun masih ada. Hanya satu benda yang tidak ada di sana, yaitu cincin pernikahannya.
Ayu melihat ke arah Arkana. Arkana yang seolah paham arti tatapan Ayu, segera mengambil sesuatu di dalam saku celananya. Kotak kecil berwarna merah.
Perlahan ia membukanya dan mengambil sesuatu yang ada di dalamnya. Ya, cincin pernikahan itu ia simpan terpisah di dalam kotak khusus. Alasannya, agar bisa ia bawa kemanapun dan bila sewaktu-waktu ia menemukan Ayu, ia akan segera memberikannya kepada istrinya itu.
Arkana mengambil tangan Ayu dan memasukkan cincin itu di jari manis sang istri.
" Jangan pernah lepaskan ini lagi. Semarah apapun kamu, jangan pernah pergi lagi. Mas tarik kata-kata mas yang memperbolehkanmu pergi jika mas menyakiti mu.", Ucapnya sambil menatap lekat mata istrinya.
Sekalipun ia tak berniat menyakiti Istrinya lagi, namun ia takut secara tidak sadar menyakiti Istrinya. Apalagi ia sudah merasakan bagaimana rasanya berjauhan dengan sang istri tanpa kabar.
Arkana merasakan yang namanya penyesalan setelah kehilangan Ayu walaupun hanya sebentar. Ia sadar bahwa istrinya adalah orang yang berharga. Karena itu, ia tak ingin merasakan lagi kehilangan yang akan berujung penyesalan kembali.
" Apapun ujian yang menghampiri kita, yang mengganggu hubungan kita, mari kita bicarakan dan hadapi bersama. Mas akan membuktikan bahwa Mas tidak akan melakukan kesalahan yang sama", Arkana menangkup wajah sang istri dan mencium keningnya.
" Ayu, I love you so much ", Ucapnya sambil menarik Ayu ke dalam pelukannya.
Ayu tak mampu berkata-kata. Air matanya luruh begitu saja. Ia bahagia.
" I love you to ", lirih Ayu namun masih bisa terdengar oleh Arkana.
Keesokan harinya, Ayu sudah di perbolehkan untuk pulang. Luka di kepalanya memang tidak terlalu parah.
" Mau langsung pulang ?", tanya Arkana.
" Iya, langsung pulang saja"
" Ya sudah, ayo!", Arkana menarik lengan Ayu agar merangkul lengannya.
" Memangnya administrasinya sudah beres ?", tanya Ayu karena Arkana selalu di sampingnya dan tak pernah meninggalkannya walaupun hanya sebentar.
" Sudah ada Bara", jawabnya enteng.
" Apa aku boleh minta nomor kak Bara?", Ayu meminta izin karena suaminya melarangnya menyimpan nomor laki-laki lain kecuali orang yang sudah ia izinkan.
" Untuk Apa ?", Arkana penasaran.
" Agar aku bisa menghubunginya jika aku ingin bertanya tentang Mas", jawabnya sambil ikut memasuki lift yang akan membawanya ke lantai satu.
" Kenapa?. Kan bisa langsung menghubungi ku?", Arkana mengerutkan keningnya.
" Menumbuhkan kembali kepercayaan yang sudah terkikis itu butuh proses ", jawab Ayu tanpa melihat ke arah Arkana. "Apa tidak boleh ?", Ayu memastikan.
__ADS_1
" Boleh", jawab Arkana terpaksa.
Arkana tidak tahu pasti apa yang akan di lakukan sang istri. Namun, jika itu bisa mengembalikan kepercayaan Istrinya, ia tidak masalah.
" Terimakasih."
" Sama-sama."
Keduanya terus berjalan menuju mobil Bara yang sudah siap di depan rumah sakit.
" Kakak senang kamu sudah boleh pulang", ucap Bara merasa senang sekaligus prihatin atas apa yang Ayu alami.
Namun, Bara tidak mau mengingatkan tentang keguguran yang di alami Ayu. Oleh karena itu, ia tidak mengungkitnya sedikit pun.
" Alhamdulillah, kak", Ayu mencoba tersenyum.
Arkana membuka pintu mobil bagian belakang. Ia menghalangi kepala Ayu dengan tangannya agar tidak terbentur saat masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman, ia menutup pintunya. Lalu segera memutari mobil dan duduk di samping Ayu.
Bara sendiri duduk di belakang kemudi. Ia tak mempermasalahkan walaupun ia jadi terlihat seperti supir bagi keduanya.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bersuara. Bara fokus pada jalan di hadapannya. Sementara Ayu nyaman dengan mode diamnya. Lalu Arkana sendiri terus menggenggam tangan Ayu. Ia tak membiarkan genggaman itu lepas.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di mension. Mendengar ada mobil masuk, Alif langsung berlari menghambur ke luar.
Melihat Alif berlari ke arah mereka, Arkana langsung menyambut sang anak dan memangkunya.
" Aku mau di gendong, Bunda", Alif kesal .
" Bunda baru sehat, sayang. Alif sama Daddy saja", Ucapnya. " Maaf tadi tidak telpon Alif dulu"
" Bunda, apa masih sakit?", tanya Alif melihat ke arah Ayu yang berjalan beriringan.
" Sedikit ", jawab Ayu.
" Apa bunda dan Daddy akan pergi lagi?"
"Pergi?", Ayu mengerutkan keningnya dengan pertanyaan Alif.
" Iya, pergi. Waktu itu, Bunda dan Daddy pergi berdua biar Alif cepat punya adik bayi. Sekarang adik bayi sudah tidak ada di perut Bunda. Apa Bunda dan Daddy akan pergi berdua lagi?," tanyanya.
Ayu dan Arkana saling melihat satu sama lain.
" Kalau Daddy sama Bunda pergi lagi, bagaimana?", Arkana ingin tahu tanggapan sang anak.
" Alif enggak apa-apa, Dad. Yang penting Alif bisa dapat adik," ucapnya.
" Benarkah?", tanya Arkana tak percaya.
" Iya"
Ayu tidak ikut menimpali. Ia hanya mendengarkan apa yang ayah dan anak itu obrolkan. Tangannya refleks mengusap perutnya yang sudah tidak ada lagi calon anaknya.
Mereka sampai di ruang tamu dimana semua keluarganya sudah menunggu.
__ADS_1
" Mommy senang kamu sudah pulang," Mommy Mona memeluk menantunya.
" Ayu juga, Mom", Ayu tersenyum.
" Jangan pikirkan yang lain. Fokus saja kedepan", Daddy Alex mengusap kepala Ayu.
Ia tahu sang menantu masih merasakan kehilangan calon anak keduanya.
Ayu hanya mengangguk.
" Kakak ipar semangat ya!," ucap Malika sambil memeluk kakak iparnya.
"Terimakasih "
"Kalau sudah sembuh, bulan madu lagi aja", Tika ikut memeluk Ayu setelah Malika melepaskan pelukannya.
Ayu hanya tersenyum. Ia tak berpikir kesana lagi. Sekalipun Alif tidak keberatan.
" Ayo duduk dulu," Arkana mengajak Ayu duduk di sofa.
Ayu menurut dan mendudukkan tubuhnya di atas sofa.
Mereka pun berbincang di ruang tamu, baru setelah itu pindah ke meja makan untuk makan siang. Ayu yang masih belum terlalu nafsu makan, memaksakan makan walaupun sedikit.
Setelah selesai makan, Ayu pamit istirahat ke kamarnya. Arkana pun ikut menemani.
Di kamar, Ayu langsung menuju ke balkon. Duduk di kursi memandangi ke arah taman. Balkon kamar mereka memang memiliki view yang bagus karena langsung mengarah ke arah taman.
" Kenapa disini?", Arkana duduk di samping Ayu.
" Hanya ingin menghirup udara segar ,"
" Jangan terlalu di pikirkan. Ambil saja hikmahnya. Allah mungkin ingin kita fokus dulu pada Alif", Arkana tahu Ayu teringat akan janinnya yang keguguran.
" Iya,aku tahu. Aku sudah berusaha ikhlas. Tapi, tetap masih merasa kehilangan,"
" Jika kamu sudah lebih baik, kita jalan-jalan bertiga ya", Arkan belum pernah mengajak Alif pergi. Jadi, ia ingin pergi berlibur bertiga.
" Tapi, aku ingin mengunjungi suatu tempat terlebih dulu".
Ayu teringat suatu tempat yang lebih dari lima tahun tidak pernah ia kunjungi.
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...
__ADS_1
...Mampir juga di karya Author ya...
...😉...