
Cinta Untuk Ayunda (71)
"Maksud, Mas?" Ayu mengerutkan keningnya. "Mas sudah mengenal Miss Nela sebelumnya ?"
" Miss Nela itu bukan nama asli dia. Wajahnya pun bukan wajah miliknya."
" Hah? Maksudnya gimana?"
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Arkana pun menceritakan semuanya pada Ayu. Tentang siapa itu Miss Nela alias Sheila yang tidak lain adalah mantan kekasihnya. Juga penyebab ia merubah identitas dan melakukan operasi plastik pada wajahnya.
Semua tidak lain karena namanya sudah di blacklist dari dunia hiburan. Serta alasannya balas dendam.
Ayu hanya menghela nafas. Masa lalu suaminya ternyata cukup rumit juga.
"Sudah. Jangan pikirkan masalah itu lagi. Semua sudah di tangani oleh Daddy."
Tiba-tiba ponsel Arkana berbunyi, Malika menelponnya karena Alif sudah mulai mencari orang tuanya. Keduanya pun segera kembali ke rumah sakit.
Bulan demi bulan pun sudah berganti. Alif sudah kembali ceria seperti biasanya. Awal-awal masuk sekolah, ia selalu mempertanyakan keberadaan Miss Nela.
Namun, pihak sekolah mengatakan bahwa Miss Nela tidak lagi mengajar dan di gantikan guru baru. Anak-anak pun tidak lagi mempertanyakan keberadaan Miss Nela.
Sementara kepada para orang tua dan wali, mereka di beri informasi yang sebenarnya mengenai apa yang terjadi. Pihak sekolah tidak ingin para orang tua dan wali tahu dari pihak luar.
Kini, setiap guru baru yang masuk di periksa dengan teliti. Sekolah tidak mau kecolongan lagi.
"Alif belum di jemput?," Miss Selvi pengganti Miss Nela menghampiri Alif yang masih duduk di ayunan.
"Belum di jemput, Miss."
"Mau Miss Selvi temani?," Karena merasa kasihan pada anak didiknya yang bermain seorang diri, Miss Selvi pun menawarkan diri.
"Boleh, Miss."
Keduanya pun bermain di taman bermain yang di sediakan pihak sekolah. Hingga seseorang menghampiri mereka.
"Alif."
"Om Bara!" Teriak Alif berlari memeluk Bara.
Miss Selvi membalikkan badannya.
" Kak Bara, kan?" tanya Miss Selvi memicingkan matanya. Ia tak asing pada sosok di depannya.
"Iya. Kamu..."
"Saya Selvi, Kak. Adik kelas saat di sekolah menengah pertama dulu. Pasti kakak tidak kenal karena saya tidak sepopuler kakak." Selvi tersenyum menampilkan lesung pipinya.
Deg... Deg... Deg...
Jantung Bara berdebar-debar. Ia terpesona pada lesung pipi Selvi.
"Ekhm." Bara mencoba menetralkan degup jantungnya. "Selvi anak PMR ya?"
"Hehe iya, kak."
"Aku ingat kok. Kamu juga populer karena pernah berhasil membawa ekskul itu juara saat ikut perlombaan, kan?" Bara mencoba mengingat.
__ADS_1
"Gak nyangka ketemu kakak. Jadi, berasa nostalgia." Lagi-lagi senyuman Selvi membuat Bara terpesona.
" Sejak kapan kamu mengajar disini?"
"Sudah hampir satu bulan."
"Om, kita kapan pulangnya? Daddy dan Bunda kenapa tidak menjemput Alif?," Alif yang merasa di abaikan langsung bertanya kepada Bara.
Bara berjongkok dan mensejajarkan tubuhmu dengan Alif.
"Daddy sama Bunda menunggu Alif di perusahaan. Katanya, mau ajak Alif beli box tidur untuk adik bayi."
" Benarkah? Yeay Alif mau pilih warna pink buat Dede bayi. Perempuan kan suka pink ya, Om Bara?," Alif meminta persetujuan.
"Kebanyakan perempuan memang menyukai warna pink." jawab Bara tersenyum.
Melihat Onti Malikanya yang suka warna pink, juga beberapa teman perempuannya yang ada di sekolah pun menyukai warna pink, Alif menyimpulkan bahwa perempuan akan menyukai warna pink. Termasuk adiknya kelak.
Kandungan Ayu memang sudah semakin besar bahkan HPL nya beberapa minggu lagi. Saat kandungannya sudah cukup untuk bisa mengetahui jenis kelaminnya, keduanya akhirnya tahu bahwa adik Alif nanti berjenis kelamin perempuan.
Bahkan karena khawatir salah memprediksi jenis kelamin, setiap pemeriksaan pasti selalu bertanya mengenai jenis kelamin. Bukan karena tidak menginginkan anak berjenis kelamin perempuan, namun karena ada beberapa kasus dimana janin yang di prediksi berjenis kelamin perempuan ternyata saat lahir menjadi laki-laki.
Arkana tidak ingin saja salah memberi pernak-pernik bayinya. Arkana? Ya, Arkana lah yang paling antusias membelikan barang kebutuhan anak mereka selain mertua dan tantenya.
Arkana hanya ingin menggantikan rasa bersalahnya karena saat Alif lahir dulu, ia tidak memberikan andil apapun.
"Karena sudah ada yang menjemput, Miss pergi dulu ya, Alif." Miss Selvi mengusap kepala Alif. "Mari Kak Bara,saya duluan." Selvi mengambil tas selempangnya dan berjalan ke arah gerbang.
"Selvi, kamu pulang naik apa?,"
"Jalan, kak. Kebetulan jarak kosan tidak jauh dari sini."
Selvi memang sengaja mencari kosan yang cukup dekat dengan sekolah.
"Tidak usah, kak. Nanti merepotkan."
"Tidak apa-apa, Ayo!"
"Tapi.." Selvi merasa tak enak hati.
"Ayo Miss di antar saja naik mobil. Daripada jalan. Biar Miss tidak kepanasan." Alif membantu Bara membujuk Miss Selvi.
"Ayo, semakin lama berpikir semakin lama kita disini. Kasihan Alif menunggu." Akhirnya, Bara menjadikan Alif sebagai senjata pamungkasnya.
"Hmm.. Baiklah." Selvi pun mengikuti Bara dan Alif menuju mobil Bara.
Bara tersenyum karena berhasil membujuk Selvi.
"Jadi, lewat mana?," tanya Bara saat mereka sudah melaju sesuai arahan dari Selvi.
"Di depan belok kiri. Nanti berhenti dekat pos kamling." Bara mengangguk.
"Sudah lama pindah ke kota ini?"
"Baru satu bulanan. Semenjak di terima jadi guru."
Sebelumnya Selvi memang tidak tinggal di sini tapi di kota yang sama dengan kota tempat tinggal Neneknya Bara.
"Oh." Bara diam. Ia tidak tahu harus bertanya apa lagi. Karena dulu mereka tidak terlalu dekat. Sebatas tahu saja.
__ADS_1
"Disini?"
"Iya, kak." Selvi pun turun dari mobil. Selvi duduk di kursi penumpang sementara Alif duduk di kursi samping kemudi.
Bara membuka kaca jendela mobilnya.
"Ini kosan kamu?" Bara memandangi sebuah bangunan dua lantai. Di sisi bagian tembok ada tulisan Kosan Bunda Dewi.
"Iya. Maaf tidak bisa menawarkan masuk. Ini kosan khusus perempuan."
"Tidak apa-apa. Tapi, kapan-kapan boleh kan aku ajak jalan?"
Baru rencana di ajak jalan, Selvi sudah senang. Kapan lagi bisa jalan dengan idola sekolahnya.
Walaupun dulu Bara hanya setahun sekolah disana, tapi ia cukup populer karena ketampanan dan juga keahliannya dalam bermain basket.
"Hmm boleh." jawab Selvi malu-malu.
"Ya sudah. Aku pergi ya."
"Terima, kak."
"Ok. Sama-sama. Sampai ketemu lagi!"
"Dah Bu Guru, Assalamu'alaikum." Alif melambaikan tangannya.
"Wa'alaikumsalam. Dadah Alif." Selvi ikut melambaikan tangannya.
Mobil pun melaju ke perusahaan.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" Arkana mengerutkan kening melihat tingkah aneh sahabatnya.
"Hmm, gelar jomblo ku akan segera ku lepaskan." Bara tersenyum bahagia.
"Hmm. Baru akan kan?" Arkana mengejek.
" Sebagai sahabat, seharusnya kamu mendukungku."
"Hah baiklah-baiklah. Jadi, siapa perempuan itu ?"
"Guru baru Alif."
"Namanya Miss Selvi, Dad." Ucap Alif yang keluar dari kamar pribadi Arkana yang ada di ruangan itu karena tadi dia ingin ke toilet.
Alif langsung duduk di pangkuan ayahnya sementara Ayu duduk di samping Arkana. Mereka duduk di sofa yang berhadapan dengan Bara.
"Dia adik kelasku saat SMP dulu. Sebelum aku pindah ke kota ini." jelasnya.
"CLBK ceritanya?,"tebak Arkana
TBC
Â
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
__ADS_1
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...