
Cinta Untuk Ayunda (65)
" Apa mungkin Alif memang sudah di targetkan?" Arkana menyimpulkan sendiri.
" Sepertinya begitu. Kamu mencurigai seseorang?" tanya Bara
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Arakana diam. Ia berpikir keras. Apa ada yang sudah ia buat sakit hati. Namun, ia tidak punya masalah dengan para pengusaha lainnya.
"Entahlah. Aku merasa tidak punya masalah dengan para pengusaha lainnya. Orang yang sakit hati padaku paling orang dari masa laluku." Jawab Arkana hati-hati sambil melihat ke arah Ayu yang tidak berekspresi apapun.
" Kalau Tasya, ia dan ibunya sudah kembali ke kota kelahirannya. Aku pernah tidak sengaja bertemu dan dia biasa-biasa saja. Malah meminta maaf atas kebodohannya karena terlalu serakah mau memilikimu padahal tahu kamu sudah menikah."
Arkana diam sambil terus melihat ke arah Ayu. Masalah mantan biasanya sangat sensitif. Namun, yang di lirik hanya diam padahal Ayu pun pasti mendengar pembicaraan mereka.
"Entah kalau Sheila."
"Sheila ?"
"Hmm.. Dia kan sakit hati karena video panasnya tersebar membuat ia kehilangan banyak kontrak bahkan ia juga di blacklist dari dunia hiburan yang sudah membesarkannya. Belum lagi, sanksi sosial yang ia dapatkan." jelas Baa panjang lebar.
Arkana diam mencoba mengingat.
"Coba kamu cari tahu dimana dia sekarang juga apa da keterlibatan dirinya atas hilangnya Alif."
"Ok."
" Aku tunggu kabarnya secepatnya."
"Baik. Aku pergi duluan." Bara lalu melihat ke arah Ayu. " Aku pergi duluan ya, Yu. Kamu yang sabar."
" Iya, kak. Terimakasih."
Bara pergi menuju mobilnya yang di parkirkan tidak jauh dari sana.
"Ayo masuk." Arkana membuka pintu mobil untuk Ayu. Setelah itu ia memutari mobil dan masuk dari pintu yang lainnya.
...******...
Langit sudah mulai gelap.
"Sayang, ayo makan dulu." Arkana masuk ke dalam kamar dengan nampan di tangannya.
Ayu yang sedang duduk di depan jendela hanya meliriknya sekilas. Lalu ia kembali melihat keluar jendela.
Melihat Ayu yang hanya melihat ke arahnya sekilas, Arkana segera meletakkan nampan yang berisi makanan itu di atas meja. Ia lalu duduk di samping Ayu dan menghadapkan tubuhnya ke arah istrinya.
"Sayang, ayo makanlah walau hanya sedikit. Dari siang kamu belum makan apapun"
"Aku tidak lapar," jawab Ayu.
Arkana menghala nafas. Ia tahu istrinya sedang memikirkan Alif yang entah seperti apa kondisinya sekarang.
" Seperti halnya kamu, aku pun sangat mengkhawatirkan Alif. Tapi, kamu tidak boleh sampai menyiksa dirimu sendiri. Ingat, di sini ada adiknya Alif. Adik yang sangat Alif harapkan. Kamu pun harus menjaganya dengan baik." Arkana mencoba membujuk Ayu sambil menyentuh perut Ayu.
Diingatkan seperti itu, air mata Ayu menetes. Ia kemudian menyentuh perutnya, di mana janin itu sedang tumbuh dan sangat membutuhkan nutrisi yang ia dapatkan dari asupan makanan ibunya.
" Makan ya, aku suapi." Arkana kembali membujuk sambil menghapus air mata yang menetes membasahi pipi istrinya.
Ayu pun akhirnya menggangguk.
__ADS_1
Arkana mulai menyuapi Ayu dan juga dirinya sendiri. Karena seperti halnya Ayu, Ia pun sebenarnya tidak nafsu makan namun ia harus tetap menjaga kesehatannya
"Apa sudah ada kabar dari Kak Bara?" tanya Ayu setelah menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Bara bilang, dari barang Alif yang mereka buang itu mengarah ke luar kota."
"Apa Alif sudah makan?"
Arkana diam Ia tidak menjawab.
"Aku dan ayah sedang berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Alif. Jadi, kamu pun harus berusaha untuk tetap sehat demi Alif dan demi calon anak kita" Arkana memeluk istrinya.
"Baiklah"
Mereka pun makan sepiring berdua sampai makanan yang ada di dalam piring habis.
Sementara itu di tempat lain seorang anak masih tertidur pulas karena obat bius dosis tinggi yang diberikan kepadanya.
Salah seorang diantara orang yang menculik anak itu mendekatinya dan mengecek kondisi anak tersebut.
"Masih bernafas." ucapnya.
" Tapi, kenapa dia belum juga sadar?" tanya yang lain penasaran.
"Aku juga tidak tahu."
Kedua orang yang menculik Alif pun keluar kamar. Mereka duduk kembali di kursi kayu dan melanjutkan menonton TV.
"Halo"
" Bagaimana keadaan anak itu?"
"Dia aman. Dia masih tidur."
" Apa yang harus kamu lakukan selanjutnya?"
"Tunggu saja, seseorang akan menemui kalian dan menjemput anak itu."
" Ok."
" Sisa bayaran kalian akan kalian dapatkan setelah orang suruhan saya membawa anak itu."
" Haha. Baiklah."
Klik
Panggilan itupun di tutup.
"Bagaimana?" pria yang dari tadi mencuri dengar apa yang di bicarakan temannya bertanya.
"Kamu tenang saja, orang itu akan membayar sisanya setelah orang suruhannya datang untuk membawa anak ini."
Sementara di sudut kota lainnya, pria yang baru saja mendengar bahwa Alif aman di tangan orang suruhannya segera pergi menemui seseorang.
" Bagaimana, sayang?" Seorang perempuan berdiri menyadari kekasihnya masuk ke dalam kamar.
" Kamu tenang saja. Dia aman dengan orang suruhan kita." Pria bertubuh kekar itu memeluk wanita miliknya.
"Honey, kau berjanji akan melayaniku malam ini jika rencana kita menculik anak itu berhasil." Ucapnya dengan tatapan penuh damba.
"Aku tak pernah mengingkari janjiku." Jawabnya tersenyum sambil mulai melakukan apa yang ia janjikan.
__ADS_1
Setelah semalaman melakukan olahraga, keduanya terkapar di atas ranjang.
"Kamu yakin akan menjualnya?"
"Ya, aku yakin." jawab sang perempuan dengan mata terpejam karena lelah.
"Arkana dan keluarganya itu kaya raya, tidakkah kamu ingin menguras hartanya?" Sang pria mengkompori agar kekasihnya itu berubah pikiran.
"Aku tidak melakukannya karena harta, aku melakukannya karena ingin membalaskan dendamku. Aku ingin membuatnya menderita."
"Sheila..."
"Jangan panggil aku dengan nama itu lagi, Bobi." Mata yang awalnya terpejam langsung melotot seketika.
" Sheila sudah mati. Yang ada hanyalah Nela." Ucapnya dengan nada geram.
Melihat wanitanya marah, Bobi hanya terkekeh.
"Baiklah. Baiklah. Siapapun namamu sekarang, kau tetap wanitaku." Ucapnya sambil mulai kembali melakukan yang ia inginkan.
"Aku sudah lelah." keluhnya.
"Biar aku yang bekerja sekarang. Kau diam saja "
...******...
Tok... Tok... Tok ..
Terdengar ketukan di depan pintu. Kedua laki-laki yang dari tadi hanya mengisi waktunya dengan menonton TV saling melirik.
"Kita buka atau tidak ?" tanya salah seorang di antara mereka.
" Bukankah kita memang sedang menunggu seseorang menjemput anak ini?" Pria berkepala plontos itu menjawab.
" Tapi, bagaimana kalau dia bukan orang yang kita tunggu?"
Pria berkepala plontos yang awalnya akan membuka pintu pun mengurungkan niatnya.
" Siapa di luar?"
Hening. Tidak ada jawaban.
"Jangan-jangan bukan orang yang kita tunggu." si pria berambut gondrong berbisik pada temannya.
" Kami orang yang di suruh untuk membawa anak itu dari kalian." Tiba-tiba terdengar jawaban dari luar.
"Sepertinya mereka orang yang kita tunggu."
Pria berkepala plontos itu langsung membuka pintunya dengan tenang.
Setelah pintu terbuka, orang-orang berpakaian hitam masuk ke dalam rumah itu.
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
__ADS_1
...🥰🥰🥰...