Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 59 Kebahagiaan Di Balik Sakitnya Arkana


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (59)


"Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan Arkana." Geramnya sambil terus melihat ke arah meja Arkana.


Arkana sempat saling bertatapan beberapa saat dengannya. Namun, Arkana acuh karena merasa tidak mengenali wajah yang memang sudah berganti itu.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Beberapa Minggu telah berganti. Kehidupan Arkana dan keluarga kecilnya tampak bahagia. Alif pun sudah mulai masuk sekolah.


"Mas, tidak ke kantor? kenapa malah pulang lagi?" Ayu bingung karena sang suami malah pulang lagi bersama Pak Diman. Malah kini ia sedang menyandarkan kepalanya di pundak sang istri.


"Aku tidak enak badan. Badan rasanya lemas semua." Keluh Arkana yang kini malah membaringkan tubuhnya dan menjadikan paha sang istri sebagai bantal.


Ayu langsung meletakkan punggung tangannya di dahi Arkana. Namun, tidak panas.


"Mualnya kambuh lagi?." Tanya Ayu kemudian.


Pagi tadi Arkana memang mual-mual dan kepalanya pusing. Saat sarapan pun ia tidak menyentuh makanannya sama sekali karena tidak nafsu makan


Arkana hanya menganggukkan kepalanya dengan mata terpejam. Memiringkan tubuhnya lalu menarik nafas dalam-dalam. Menghirup aroma tubuh sang istri yang nyatanya menenangkan dan membuat mual dan pusing nya hilang seketika.


"Kita ke dokter." Usul Ayu di jawab gelengan oleh Arkana. "Kenapa?." Tanya Ayu penasaran.


"Mual sama pusingku udah gak kerasa lagi."


"Kok bisa?"


" Kamu obatnya."


"Hah?"


"Mual dan pusing ku hilang saat mencium aroma tubuhmu, sayang. Jadi, biarkan aku begini ya" Pintanya yang mulai merasa nyaman dan lambat lain malah terdengar dengkuran halus dan teratur.


"Tidur ternyata." Ayu tersenyum dan membiarkan saja Arkana beristirahat.


Sambil terus berselancar di dunia maya, Ayu memakan cemilan yang memang sudah ada disana.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk"


Seseorang yang tadi mengetuk pintu pun masuk.


"Arkana tidak bekerja?," tanya orang itu yang ternyata Mommy Mona.


"Pulang lagi sebelum sempat ke kantor, Mom. Tidak enak badan."


" Sudah berapa lama tidur seperti itu?" Mommy Mona kembali bertanya dengan suara pelan.


" Sepertinya sudah ada satu jam." Ayu mengira-ngira. "Oh ya, Mommy bawa apa?"


Ayu bertanya karena Mommy Mona membawa sebuah nampan.


"Ini buah mangga yang baru di petik di pohon di belakang. Makanlah."


Piring berisi potongan. yah mangga itu pun di letakkan di atas meja.


"Terimakasih, Mom"

__ADS_1


"Sama-sama. Kalau pegal, ganti saja sama bantal."


" Biarkan saja, Mom. Katanya mual dan pusing nya hilang saat mencium aroma tubuhku. Sangat aneh." Gumam Ayu sambil memasukkan potongan buah mangga ke mulutnya.


Mommy Mona mengerutkan keningnya.


"Apa di pohon itu juga ada mangga mudanya, Mom?"


" Ada. Kenapa?"


" Nanti siang aku maurujak buah. Tapi, buah mangga nya yang masih muda dan baru di petik dari pohon. Pasti segar!!" Membayangkannya saja sudah membuat Ayu menelan ludah.


Mommy Mona semakin mengerutkan keningnya. Namun, kemudian ia tersenyum bahagia. Sepertinya ia akan mendapatkan anggota keluarga baru.


"Setelah Arkana bangun, ajaklah ia ke rumah sakit. Ingat periksa ke dokter kandungan." Pesan Mommy Mona sambil berdiri dan berjalan ke luar kamar.


" Maksudnya gimana, Mom?" Kini giliran Ayu yang mengerutkan keningnya karena pesan sang Mommy.


"Hmm, sepertinya Arkana baik-baik saja. Dia hanya merasakan apa yang harusnya kamu rasakan."


" Maksudnya ?" Ayu belum mengerti.


Mommy Mona pernah mendengar yang namanya kehamilan simpatik. Jika tebakannya benar, Ayu sedang hamil. Namun, Arkana lah yang merasakan mualmdan muntahnya.


" Sepertinya Arkana sedang di usili oleh Arkana junior." Mommy Mona terkekeh sambil menutup pintu.


Hening


"Apa mungkin?" Tanyanya pada diri sendiri melihat ke arah perutnya.


Di sekolah, Alif sedang bermain bersama teman-temannya. Di sudut sekolah seorang perempuan sedang memperhatikan dengan seksama.


" Memang bak pinang di belah dua." Gumamnya sambil terus memperhatikan pergerakan Alif.


" Hah?" Perempuan itu terlonjak kaget karena merasa ketahuan sedang mengamati Alif.


" Anak yang Miss Nela lihat itu namanya Alif."


"Ough, iya. Saya tahu. Dia anak murid saya." ucapnya.


" Ah,, iya ya. Aku lupa kalau Miss anela menggantikan Miss Suci yang cuti melahirkan."


Orang yang di panggil Miss Nela pun hanya tersenyum.


"Dia putra Pak Arkana." Miss Linda seolah sedang membacakan biodata Alif.


"Pengusaha itu?" Miss Nela pura-pura terkejut.


"Iya. Pengusaha tampan yang di idolakan banyak perempuan. Namun sayangnya dia sudah ada pawangnya " Miss Linda terkekeh sendiri dengan kata yang ia ucapkan.


"Pawang? "


"Maksudnya istri, Miss. Hehe"


Miss Nela hanya ikut tersenyum saja.


" Di bilang pawang, soalnya Pak Arkana selalu menampakkan wajah datar tanpa senyum. Bahkan terkesan sombong karena jarang mau menyapa kita, para guru perempuan. Tapi, saat hanya bersama istrinya, ia banyak tersenyum dan terlihat berbeda." Miss Linda menceritakan pendapatnya karena pernah menyaksikan sendiri seperti apa sikap Pak Arkana.


"Apa mungkin dia takut ya kalau mengobrol dengan perempuan lain akan membuat istrinya cemburu?" tebak Miss Linda lagi.

__ADS_1


"Benarkah ?"


" Iya. "


Sebegitu cintakah kamu dengan perempuan yang kini menjadi istrimu itu? Batin Miss Nela.


" Bergosip tentang Pak Arkana lagi?" Seorang pria datang menghampiri keduanya.


"Tidak Mister Gilang," jawab Miss Linda gelagapan. "Kalau begitu saya permisi dulu, masih ada kelas." Miss Linda kabur karena tidak mau mendengar Mr. Gilang yang akan menceramahinya panjang lebar.


Miss Linda sebenarnya adalah guru SD di sekolah itu. Namun, bangunan sekolah TK dan SD memang menyatu karena masih satu yayasan.


Miss Nela hanya tersenyum melihat kelakuan rekan gurunya itu.


"Jangan seperti dia, Miss. Selalu bergosip. Padahal selaku guru harusnya dia bisa berjaga sikap."


Miss Nela hanya tersenyum. "Saya juga permisi." Miss Nela pergi meninggalkan Mr.Gilang seorang diri.


" Cantik." Gumam Mr. Gilang tersenyum.


Di Rumah sakit


Mengikuti saran Mommy Mona, Arkana menemani Ayu memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Setelah melakukan pemeriksaan, senyum seolah tak pernah lepas dari wajah Arkana yang merasa sangat bahagia karena sang istri benar-benar sedang mengandung anak kedua mereka


Bahkan Arkana tidak melepaskan genggaman tangannya sedikitpun sejak masih di dalam ruang pemeriksaan.


"Kamu tidak bahagia, sayang?" Arkana melihat ke samping sang istri yang berjalan di sampingnya.


" Tentu saja senang."


"Tapi kamu sepertinya tidak senang." Arkana menyimpulkan sendiri arti dari raut wajah sang istri.


" Mana mungkin aku tidak senang saat disini ada calon adiknya Alif." Ayu merangkul lengan suaminya dan mengajaknya kembali berjalan menuju ke parkiran.


" Terus kenapa kamu malah murung?"


" Aku hanya tidak tega melihatmu seperti tadi pagi apalagi kalau benar harus sampai beberapa bulan ke depan."


Jawaban Ayu membuat Arkana lega. Awalnya ia pikir Ayu kembali berubah pikiran dan belum mau memiliki anak lagi. Ternyata pikirannya salah.


Kehamilan Ayu sekarang memang aneh. Semua gejala kehamilan malah di rasakan oleh Arkana dan bukannya Ayu. Bahkan Arkana pula yang malah tambah sensitif perasaannya.


" Jadi, kamu benar-benar menerima kehamilan ini?"


" Tentu saja." Ayu mengeratkan rangkulan tangannya.


"Mau kemana dulu?"


"Aku mau beli buah kedondong. Biar rujaknya semakin segar." Jawab Ayu tanpa pikir panjang.


TBC


...----------------...


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...

__ADS_1


...Terima kasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...


__ADS_2