
Cinta Untuk Ayunda (45)
" Jangan pernah berani menyentuhnya lagi!."
Suara bariton seorang pria membuat Tante Melisa terhenyak. Apalagi melihat tatapan matanya yang penuh kebencian.
"Siapa kamu?"
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
" Jangan pernah berani menampar istriku." Tekannya sambil menghempaskan tangan Tante Melisa.
" Mas," Ayu terkejut dengan keberadaan suaminya.
Tanpa menjawab dengan jelas siapa dirinya, kata "istriku" sudah menjelaskan siapa orang yang menahan tangan Tante Melisa agar tidak menampar Ayu lagi.
Ya, orang yang menahan tangan Tante Melisa agar tidak kembali menampar Ayu adalah Arkana. Ia memutuskan pulang dan menyerahkan sisa pekerjannya kepada Bara.
Flashback on
Semalam setelah mendapatkan telpon dari Ayu. Arkana terus memikirkan Alif. Ia khawatir pada anak semata wayangnya. Ia juga khawatir pada Istrinya yang tampak lelah menjaga Alif yang tidak mau di tinggalkan oleh Ayu sebentar saja.
Ini pertama kalinya Arkana melihat Alif sakit bahkan sampai harus di rawat di rumah sakit. Tidak aneh jika akhirnya Arkana sangat khawatir.
"Bar, kamu bisa handle sisa pekerjan disini?," tanya Arkana to the point lewat sambungan telepon.
" Ada masalah?"
"Alif masuk rumah sakit. Mau memaksakan untuk menyelesaikan pekerjaan disini pun rasanya sulit. Pikiranku tidak disini." Jawab Arkana.
" Sakit apa?," Bara ikut khawatir.
" Belum pasti. Menunggu pemeriksaan lebih lanjut."
" Kamu pulang saja. Sisanya aku bisa handle sendiri."
"Ok. Terimakasih."
" Hmm. Salam untuk Alif. Kalau urusan disini selesai, nanti aku akan menengoknya."
" Nanti aku sampaikan. Sekarang aku mau mencari tiket pesawat tercepat."
Tanpa membuang waktu, Arkana langsung mencari tiket pesawat. Namun, ia mendapatkan tiket untuk penerbangan pagi besok karena semua tiket sudah terjual.
Dari bandara, Arkana langsung menuju rumah sakit. Ia sengaja tidak memberitahukan kepulangannya karena ingin memberikan kejutan.
Namun, saat sampai di ruang rawat Alif, hanya ada Alif dan Mommy Mona. Sementara Ayu tidak ada.
" Arka, kamu pulang ?!" Mommy Mona terkejut.
" Iya. Aku khawatir pada kondisi Alif. Lagipula sisa pekerjan disana bisa di handle Bara " Jelas Arkana.
Ia langsung mencium tangan Mommy Mona. Setelah itu melihat Alif tanpa mau mengganggunya.
"Ayu kemana, Mom?"
"Dia ke kafe depan. Kasian dari semalam terus menemani Alif di kamar ini."
Arkana mengangguk.
"Aku susul dia dulu ya, Mom"
__ADS_1
"Ya, susul lah sana," Mommy Mona tersenyum melihat tingkah sang anak yang sepertinya sudah tidak sabar bertemu Istrinya.
Namun, saat tiba di kafe, Arkana justru melihat pemandangan yang membuatnya mengeraskan rahangnya. Ia melihat mantan sang istri mencoba mendekati istrinya.
Hingga ia semakin murka saat melihat seorang perempuan paruh baya menampar pipi Ayu.
Flashback off
Arkana merangkul pundak Ayu. Ia merasa marah melihat orang yang ia cintai di permalukan di depan umum.
Arkana bisa melihat bekas tamparan yang artinya tamparan itu cukup keras.
" Kamu tidak apa-apa, sayang?" Arkana mengusap pipi Ayu. Ayu hanya menggeleng.
Sementara Rian terpaku melihat sikap Arkana yang sebenarnya lumrah saja bagi sepasang suami istri.
Berbeda dengan Tante Melisa yang bertanya-tanya mengenai laki-laki yang ada di depannya. Padahal Arkaan sudah menunjukkan identitasnya walaupun secara tidak langsung.
Setelah memastikan kondisi Ayu, Arkana menghadap ke arah Tante Melisa dengan tetap merangkul pundak Ayu.
" Kalau saja anda laki-laki, saya sudah membalasnya berkali-kali lipat." Ucapan Arkana menatap tajam ke arah Tante Melisa.
Tante Melisa tersenyum sinis. Ia tidak merasa takut dengan tatapan Arkana.
" Benarkah ?" ejeknya.
" Mas ayo pergi dari sini!" Ajak Ayu karena ia merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian pengunjung kafe.
Bahkan ada yang sudah setia merekam kejadian yang menimpanya. Entah dengan maksud apa.
" Pergilah bawa wanita tidak tahu diri ini pergi. Sampai kapanpun aku tidak akan merestuinya dengan anakku."
Arkana tertawa.
" Kalau tidak ingin terjadi apa-apa dengan perusahaan suami anda,jangan pernah mencari masalah dengan ku. Termasuk mengganggu istriku." Ancam Arkana.
"Mas, sudah. Ayo!" Ayu menarik lengan Arkana.
" Lakukan saja. Aku tidak takut."
Tante Melisa memandang rendah pada Arkana. Apa yang bisa kamu lakukan?. Batin Tante Melisa.
" Mah. Sudahlah!" Rian yang dari tadi diam ikut melerai. Pasalnya, ia tahu siapa Arkana dan apa yang bisa ia lakukan pada Ayahnya.
" Baiklah. Aku tak pernah main-main dengan ucapanku."
Arkana menelpon seseorang.
" Ini baru permulaan." ucapa Arkana sambil pergi meninggalkan Rian dan ibunya.
Tiba-tiba ponsel Tante Melisa berbunyi.
" Pasti dari ayah. Angkatlah dan Mamah akan tahu sudah berusrusan dengan siapa"
Rian pergi tanpa ingin tahu apa yang akan di sampaikan ayahnya. Sudah pasti amarah yang akan ibunya dengar.
Tante Melisa mengangkat telpon sambil melihat ke arah Rian yang sudah pergi ke luar.
" Halo"
" Apa yang sudah kamu lakukan hah?" geram seseorang di sebrang sana.
__ADS_1
" Apa maksudmu ?," Tante Melisa bingung.
" Kesalahan apa yang kau lakukan pada tuan Arkana? yang membuatnya membatalkan kerjasama sekalipun harus rugi besar"
Deg
"Apa maksudmu?" Lagi-lagi Tante Melisa belum menyadarinya kesalahannya.
" Dia membatalkan kerjasama mendadak. Saat aku tanya alasannya, perwakilan perusahaannya mengatakan kamu sudah membuatnya marah besar "
Deg
" Apa orang yang kamu maksud masih muda?," Tante Melisa memberanikan diri bertanya.
" Ya, dia baru menikah beberapa bulan yang lalu "
Tante Melisa sudah yakin orang yang mereka maksud adalah orang yang sama.
"Maaf," gumamnya gemetar. Ia harus siap menerima amukan suaminya nanti saat di rumah
Sementara itu, Arkana tidak langsung mengajak Ayu ke ruang rawat Alif. Ia mengajak Ayu masuk ke dalam mobilnya yang di parkir di halaman rumah sakit.
" Masih sakit ?"
Ayu hanya menggeleng.
" Maaf karena telat menolongmu." Arkana merasa bersalah tidak bisa menolong Istrinya dari tamparan ibunya Rian yang pertama.
"Tidak apa-apa. Mas sudah datang saja aku sudah sangat senang. Aku tidak tahu apa yang akan temte Melisa lakukan lagi padaku jika Mas tidak menolongku" lirihnya.
Arkana memeluk Ayu.
" Jangan khawatir, dia akan mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan dari yang kamu rasakan"
"Jangan lakukan hal yang buruk, Mas." Walaupun kesal dengan sikap Tante Melisa, Ayu tidak ingin membalasnya dengan keburukan juga.
"Jangan pikirkan apapun." timpal Arkana.
Setelah beberapa saat menenangkan diri sebelum menemui Alif lagi, Ayu dan Arkana berjalan kembali ke ruang rawat Alif.
Arkana tersenyum karena merasa senang. Sementara Ayu hanya bersemu merah mengingat apa yang di lakukan oleh sang suami.
" Hah, akan sangat memalukan jika ada yang melihat apa yang kami lakukan " lirih Ayu.
" Tidak akan ada yang bisa melihatnya, sayang." Arkana tertawa kecil melihat ke arah istrinya.
TBC
Â
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...
...Mampir juga di karya Author yang lain ya...
__ADS_1
...😉...