
Cinta Untuk Ayunda (51)
Ayu terkejut melihat siapa yang memanggilnya. Sementara Arkana menarik pinggang Ayu agar lebih mendekat ke arahnya. Matanya menatap tajam.
Orang yang tadi memanggil Ayu pun hanya menghela nafas melihat sikap Arkana yang memperlihatkan sikap melindungi Ayu dari bahaya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
" Ada perlu apa lagi?," tanya Arkana datar.
" Apa bisa kita bicara sebentar di kafe sebrang?," tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Arkana.
" Saya merasa sudah tidak memiliki kepentingan dengan anda."
" Saya hanya ingin menyampaikan permintaan maaf dengan benar," jelas perempuan yang tidak lain adalah Tante Melisa.
Arkana tersenyum sinis. " Minta Maaf? Apa saya tidak salah dengar?,"
Tante Melisa diam. Sekuat tenaga ia mengumpulkan kekuatan agar bisa menghadapi Ayu dan Arkana. Kini, ia rasanya tidak ingin melanjutkan lagi. Tapi, sudah kepalang tanggung.
Tante Melisa menghela nafas. " Anda tidak salah dengar."
Setelah Arkana dan Ayu berdiskusi. Disinilah mereka bertiga berada. Di kafe yang ada di sebrang rumah sakit. Kafe yang sama dimana Ayu mendapatkan cap lima jari di pipinya oleh Tante Melisa.
Ayu, Arkana dan Tante Melisa duduk di meja yang sama. Sementara Bara menemani Alif bermain mobil remote control di taman rumah sakit.
Menyadari pembicaraan yang akan di lakukan pasti serius, Bara berinisiatif mengajak Alif bermain selama ketiga orang dewasa itu menyelesaikan urusannya.
Mereka memesan minuman sebelum memulai pembicaraan. Namun, sudah beberapa saat dari sejak minuman itu ada di antara mereka, belum ada satupun dari mereka yang berbicara.
" Kalau Anda tidak akan berbicara, saya dan istri saya lebih baik segera undur diri. Anak kami baru sembuh dan harus segera beristirahat." Arkana tanpa basa-basi memberikan ultimatum.
Di bawah meja, tangan Ayu terus menggenggam tangan Arkana.lBahkan sampai meremasnya. Bertemu lagi dengan Tante Melisa bukanlah hal yang di inginkannya. Namun, jika alasannya untuk meminta maaf, ia juga tidak ingin menjadi manusia angkuh yang menolak mendengarkan terlebih dahulu.
Sementara Tante Melisa yang mendapatkan ultimatum tersebut hanya menghela nafas. Ia kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya.
" Baiklah." diam sejenak. "Saya minta maaf atas perlakuan saya tempo hari. Saya benar-benar menyesal." Akhirnya pernyataan minta maaf itu terlontar juga.
Arkana dan Ayu masih diam.
" Saya tahu saya tidak berhak menghakimi Ayu tanpa tahu kejadian sebenarnya. Karena itu, saya minta maaf dan tolong jangan libatkan suami saya dalam masalah ini."
Arkana tersenyum sinis. Jelaslah di matanya, alasan utama perempuan paruh baya di depannya ini meminta maaf.
__ADS_1
"Permintaan maaf Anda ternyata bersyarat." Arkana menaikkan alisnya.
Tante Melisa diam membisu.
" Apa suami Anda tidak mengatakan apapun sebelum anda menemui kami untuk meminta maaf? Bahwa permintaan maaf Anda belum tentu bisa membuat saya menarik kembali keputusan yang saya buat."
Deg
Tante Melisa diam. Suaminya memang sudah menyinggung hal itu sebelumnya.
Ayu hanya mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti apa yang sedang di bahas suami dan ibunya Rian ini selain permintaan maaf.
Apa sangkut pautnya Ayah Rian dengan masalah ini?. Batin Ayu
" Saya mohon, suami saya tidak pantas menerima akibat dari perbuatan yang saya buat," Tante Melisa memohon.
" Anda memang akan menanggung dosa dari perbuatan Anda sendiri. Saya tidak bermaksud membuat suami Anda menanggungnya. Namun, Anda sepertinya tidak akan jera jika tidak di beri pelajaran.
Saya bisa melihat, bahwa keangkuhan memang sudah menjadi karakter Anda. Itu artinya suami Anda sudah tahu seperti apa Anda sebenarnya. Apa suami Anda sudah mengingatkan atau belum, bukan urusan saya. Saya tidak akan mencampuri bagaimana suami Anda mendidik istrinya.
Namun, yang harus selalu Anda ingat adalah apa yang anda lakukan tidak hanya akan berdampak pada Anda sendiri. Melainkan pada keluarga Anda juga."
Arkana menjelaskan panjang lebar pada Tante Melisa.
"Aku tidak mengerti apa yang mas dan Tante Melisa bicarakan barusan. Apa ada hal yang Mas sembunyikan dariku?," tebak Ayu saat keduanya sudah berjalan keluar dari kafe dimana mereka mereka meninggalkan Tante Melisa seorang diri.
Ayu memang berkata sudah memaafkan kesalahan Tante Melisa kepadanya. Namun, Arkana pun tidak goyah dengan keputusannya terhadap perusahaan Pak Felix.
Arkana berhenti sejenak dan melihat ke arah Istrinya.
" Aku hanya memberikan sedikit pelajaran melalui suaminya. Perempuan seperti itu harus di berikan pelajaran agar jera. Jika tidak, ia akan memandang rendah orang lain terus menerus."
" Apa yang sudah mas lakukan?."
Arkana hanya diam sekalipun melihat istrinya sangat penasaran.
"Sudah lupakan masalah ini. Anggap tidak terjadi apa-apa. Ok."
" Mana bisa seperti itu. Aku yakin mas melakukan sesuatu yang buruk dan itu semua hanya karena aku."
Ada perasaan bersalah jika hal buruk menimpa keluarga Tante Melisa yang di akibatkan olehnya.
Arkana menatap lekat wajah istrinya.
__ADS_1
" Jangan pernah menyematkan kata hanya jika itu berkaitan dengan mu. Bagiku, Kamu segalanya. Siapapun yang berani menyakiti mu, mereka harus merasakan sakit yang berkali-kali lipat.
Aku saja yang suamimu tidak pernah menamparmu, lalu siapa dia sehingga bisa menyakitimu seperti itu."
Ayu diam. Ia bisa melihat kemarahan di mata suaminya. Itu artinya ia sudah tidak bisa membicarakan ini lagi jika tidak ingin berakhir dengan perdebatan.
" Maaf. Jangan melihatku seperti itu." Ayu menundukkan kepalanya. Ia benar-benar tidak bisa jika harus melihat kemarahan suaminnya.
Arkana menghela nafas.
" Maaf." Arkana mengusap pipi Ayu dengan sayang. " Mas minta, jangan pernah bicarakan ini lagi. Ini terakhir kalinya kita membahas masalah ini, Ok." Ayu hanya mengangguk.
Arkana menarik tangan Ayu agar kembali merangkul lengannya dan melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti.
" Aku hanya tidak ingin mas menjadi pendendam. Jadilah pemaaf dan penyabar. Bijaklah seperti Daddy Alex saat menyelesaikan masalah." Ayu teringat ayah mertuanya yang menyelesaikan masalah Tasya tempo hari.
" Hmm."
******
" Tan, apa Arkana masih di kantornya?. Biar aku menyusulnya kesana dan membuat kejutan," ucap seorang perempuan yang sebaya dengan Arkana pada Mommy Mona.
" Jangan menggangguku pekerjaan Arkana, Ratu." Ibu dari Ratu mengingatkan putri semata wayangnya.
"Tidak. Arkana sedang di rumah sakit bersama istrinya. Mereka menemani anak mereka yang sedang sakit. Tapi, rencananya hari ini akan pulang." jelas Mommy Mona.
Ratu dan ibunya saling pandang. Mereka melupakan fakta bahwa Arkana sudah menikah dan mempunyai anak.
" Tan, kok bisa sih Tante membiarkan Arkana menikahi perempuan itu? Padahal tinggal kasih uang aja sebagai kompensasi sudah mengandung, melahirkan dan membesarkan anak Arkana. Kenapa malah menikahkannya." Ratu tidak percaya Keluarga terpandang seperti mereka memilih untuk menunjukkan aib putra mereka.
Ya, di sebut menunjukkan aib karena menikahkan Arkana dengan perempuan yang sudah punya anak dan di saat pernikahan itu pula, anak itu di akui sebagai anak kandung dari Arkana dan istrinya.
Mommy Mona diam sejenak. Ia tahu karakter anak dan istri dari sahabat suaminya itu. Mereka masih tidak terima keinginan mereka menjodohkan Ratu dan Arkana tidak di sambut baik oleh Arkana dan keluarganya.
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
__ADS_1
...🥰🥰🥰...