Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 74 Ayu marah?


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (74)


Brukk


Diva terjatuh saat menabrak seorang laki-laki dewasa karena terburu-buru.


" Kamu tidak apa-apa?"


Diva melihat ke arah orang yang ia tabrak.


"Om..."


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Di restoran


Arkana sekeluarga kini sedang ad di restoran. Tidak hanya mereka namun, ada keluarga kecil Bara yang tadi tidak sengaja bertemu di toko mainan.


Orang yang tidak sengaja di tabrak Diva adalah Bara. Karena itu, mereka akhirnya memutuskan makan malam bersama.


" Sini, Adam biar aku gendong dulu, mbak makan saja," Ayu yang merasa kasihan karena Selvi sulit makan sambil menggendong Adam yang masih berusia enam bulan.


"Tidak apa-apa, Yu. Nanti merepotkan." Selvi merasa tidak enak karena Ayu pun harus makan juga.


Ayu merasa kasihan karena tangan Adam terus mencoba menggapai makanan milik sang ibu. Sementara Bara tidak bisa mengambil alih Adam karena Hawa putri pertama mereka yang berusia dua tahun itu tidak mau lepas dari ayahnya.


"Tidak apa-apa. Aku sudah selesai,Mbak." Ayu berjalan ke arah Selvi dan mengambil alih Adam. "Sini sama Tante Ayu dulu, sayang."Ayu menggendong Adam dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Terimakasih."


" Tidak usah sungkan." Ayu tersenyum.


Selvi pun melanjutkan makannya. Dengan terburu-buru ia ingin segera menghabiskan makan malamnya.


"Tidak perlu terburu-buru, Mbak. Tenang saja. Adam juga anteng kok anaknya." Ayu menyadari sikap Selvi yang ingin segera selesai karena tidak enak hati.


"Bunda, adik Adam lucu ya. Aku kapan punya adik sendiri?." Diva yang duduk di dekat Ayu bertanya sambil mengajak Adam bermain ciluk ba.


" Emang Diva mau punya adik ?" tanya Ayu.


"Iya, kan biar Diva di panggil kakak. Hawa aja yang baru 3 tahun sudah dipanggil kakak." Diva cemberut.


Ayu mengusap kepala Diva. "Sekarang juga kan Diva sudah di panggil kakak oleh Adam. Adam juga kan adiknya Diva."


" Tapi, Diva mau adik Diva sendiri. Adam itu adiknya Hawa."


"Ya, insyaallah ya." Ayu tidak bisa menjanjikan apapun.


"Memang tidak punya rencana untuk punya anak lagi?" Selvi yang mendengar pembicaraan keduanya akhirnya bertanya karena penasaran.


"Mas Arka merasa sudah cukup memiliki Alif dan Diva."


" Banarkah?"


Ayu menggangguk.


"Kamu sendiri?"

__ADS_1


"Sebesar apapun keinginanku, kalau Mas Arka tidak mau aku bisa apa, Mbak." Ada kesedihan di hati Ayu. Ia pun ingin memiliki anak lagi. Namun, Arka tak pernah menyambut baik keinginannya bahkan terkesan menolak.


" Sudah berusaha untuk berbicara dengan suamimu?"


"Jika kami membahas memiliki anak lagi, pasti akan berujung perdebatan. Karena itu, aku tak pernah ingin membicarakannya lagi. Biarlah. Lagi pula aku sudah punya sepasang anak." Ayu membesarkan hatinya sendiri.


Selvi pun hanya mengangguk membenarkan.


Arkana dan Bara memang sedang terlibat pembicaraan serius juga. Karena itu mereka tidak terlalu memperhatikan pembicaraan para istri mereka. Apalagi baik Ayu maupun Selvi berbicara dengan setengah berbisik.


Makan malam sudah selesai kini semuanya sudah ada di parkiran.


"Hawa, Dede Adamnya boleh Tante bawa pulang ya?"Goda Ayu pada Hawa yang bergelayut manja di leher Bara.


"No. Tante. Tidak boleh !" ucapannya sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


Ayu terkekeh. Ia sangat suka menggoda gadis kecil itu.


" Aku duluan ya, Mbak, Kak Bara" Ayu berpamitan kepada keduanya.


Alif dan Diva pun mencium tangan keduanya sebelum berjalan ke arah mobilnya masing-masing.


"Hati-hati" Ucap Bara saat Arkana ikut berpamitan.


Arkana hanya mengangguk.


Di mobil, saat perjalanan pulang, Ayu hanya diam. Ia masih mengingat obrolannya dengan Selvi. Dia sendiri bertanya-tanya ada apa dengan suaminya itu. Kenapa selalu marah jika Ayu meminta untuk punya anak lagi.


Padahal, dulu saat hamil Diva, Arkana pernah mengutarakan keinginannya yang ingin memiliki banyak anak. Tapi, setelah Diva berusia dua tahun dan sudah di sapih, saat ayu bilang ingin hamil lagi. Arkana marah dan mengatakan Alif dan Diva saja sudah cukup baginya.


Tak ingin berdebat, Ayu tidak pernah mengutarakan keinginannya lagi. Namun, pertemuannya dengan keluarga Bara, membuatnya teringat kembali keinginannya.


"Kamu kenapa, sayang?," Arkana menyadari Ayu sedang memikirkan sesuatu.


"Hmm. Tidak ada, mas. Hanya sedang melihat-lihat ke luar saja " kilahnya. Ia tak ingin menjawab jujur dan berakhir dengan perdebatan di hadapan anak-anaknya.


"Daddy, apa Daddy lupa kalau Daddy sudah berjanji untuk memperbolehkan ku makan Es krim yang banyak?."


"Tapi, kan kamu sudah makan yang banyak barusan."


"Hmm. Kalau begitu, beliin es krim yang banyak saja sebagai gantinya."


"Tapi,.."


"Ingat Daddy !.Janji adalah hutang. Hutang harus di bayar. Apa Daddy lupa jika mengingkari janji adalah salah satu tanda..."


"Ya, sudah iya. Tapi, nanti di minimarket di depan, ya." jawab Arkana memotong perkataan Diva.


Punya anak pintar gini amat. Batinnya.


Alif hanya tersenyum sendiri melihat Arkana yang selalu kalah berdebat dengan Diva.


Arkana melirik ke arah istrinya. Ia takut Ayu marah. Namun,Ayu yang sibuk dengan pikirannya, hanya diam saja.


Arkana benar-benar memberhentikan mobilnya di depan minimarket.


Diva dan Ayu turun lebih dulu meninggalkan Arkana dan Ayu.

__ADS_1


"Kamu tidak ingin turun, sayang?,"


"Tidak." jawab Ayu. "Aku tunggu di mobil saja."


"Ingin menitip sesuatu?"


"Tidak."


Arkana pun keluar dari mobil menyusul kedua anaknya dan tidak bertanya lagi.


...******...


Arkana mengamati Ayu yang sedang memakai krim malamnya. Malam ini, Ayu memakai mini dress model Sabrina berwarna merah. Sungguh cantik di mata Arkana.


"Mas." Ayu terkejut saat Arkana sudah ada di belakangnya dan memeluknya.


Arkana hanya terkekeh sambil mengecupi leher Ayu.


"Malam ini, aku tidur di kamar Diva." Ucap Ayu mengingatkan suaminya.


"Tapi, aku menginginkanmu malam ini." Bisik Arkana di telinga Ayu.


Arkana tahu, Ayu tidak akan bisa menolak jika ia memintanya.


Ayu mengusap pipi suaminya dengan tangan kanannya.


"Maaf. Aku sedang halangan." Walaupun tak tega, Ayu tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tapi, tadi kan masih belum?" terdengar nada tidak percaya.


" Baru keluar barusan."


Arkana merasa kesal karena malam ini tidak bisa bermain dengan sang istri. Ia pun segera berbalik ke arah tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya dengan tidak bersemangat.


" Maaf ya, sayang." Ayu memutar tubuhnya menghadap suaminya yang sedang menenggelamkan wajahnya di bantal.


Tidak ada jawaban.


"Aku pergi ke kamar Diva, ya. Selamat malam." Ayu berjalan ke arah pintu penghubung yang menghubungkan kamar mereka dan Diva.


Ruang kerja yang awalnya ad di samping kamar Arkana berubah menjadi kamar Diva. Arkana sengaja menempatkan kamar kedua anaknya di samping kanan dan kiri kamarnya agar lebih dekat karena adanya pintu penghubung.


Arkana mengangkat kepalanya melihat kepergian Ayu ke kamar Diva.


"Apa dia sedang marah ?" tanya Arkana pada dirinya sendiri.


TBC


...----------------...


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...


...Terima kasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2