
Cinta Untuk Ayunda (40)
" Cantik ya, Mas?", pancing Ayu
" Siapa ?", tanya Arkana pura-pura tidak paham.
" Citra "
" Oh", Arkana merespon singkat tanpa mau menjawab pertanyaan sang istri.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Malam semakin larut, Alif sudah tidur dengan lelap di temani Ayu yang masih mengusap kepala Alif. Sementara itu, Arkana sedang berada di balkon karena sedang menelpon Bara.
Ayu yang melamun, tidak menyadari sang suami yang sudah masuk ke dalam kamar.
Tanpa berbicara, Arkana langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menjadikan paha Ara sebagai bantal.
"Mas," Ayu terkejut karena tahu-tahu suaminya sudah ada di atas pangkuannya.
" Kenapa melamun ?"
" Aku tidak melamun," kilah Ayu yang kini beralih mengusap kepala suaminya.
" Jangan terlalu banyak berpikir."
Ayu hanya mengangguk.
" Mau pulang kapan ?," tanya Arkana.
" Besok pagi saja", jawab Ara.
" Tidak ingin menikmati liburan disiani?,"
" Tidak. Aku tidak yakin bisa menikmati liburan disini," jawab Ayu tanpa melihat ke arah suaminya.
Keberadaan Citra, anak Bi Nunik nyatanya membuatnya sedikit tidak nyaman.
" Apa karena ada Citra ?," selidik Arkana yang masih setia memandangi wajah Ayu.
" Hmm", Ayu hanya menjawab dengan deheman.
" Kamu cemburu,?"
" Tidak"
Lagi-lagi jawaban yang sama yang Arkana dapat.
" Lalu?"
" Entahlah ", Ayu tak ingin menjelaskan.
Arkana menarik tangan Ayu yang mengusap kepalanya. Lalu menciumnya.
" Kita tidak bisa melarang seseorang mengagumi atau menyukai kita. Itu di luar kemampuan kita. Namun, yang pasti di hati Mas hanya ada namamu ", ucap Arkana menggenggam tangan Ayu.
" Gombal"
" Terserah apa yang kamu pikirkan, sayang. Tapi, itu kenyataannya. Biar waktu yang akan membuktikannya."
Ayu hanya tersenyum.
" Kapan nifasnya selesai ?", Arkana memiringkan tubuhnya ke arah Ayu dan memeluknya.
__ADS_1
" Aku tidak tahu pasti. Paling lama dua Minggu".
" Jadi Mas masih harus berpuasa?," tanya Arkana ambigu.
Ayu hanya tersenyum. "Iya. Kenapa ?"
" Mas ingin cepat-cepat ada adik Alif disini", Arkana mengelus perut Ayu yang rata.
Ayu diam. Ia merasa tidak terlalu bersemangat lagi jika berbicara mengenai adik untuk Alif.
" Apa kamu trauma karena kehilangannya kemarin?", tanya Arkana saat melihat Ayu yang hanya termenung.
" Tidak. Hanya saja aku belum terlalu yakin untuk kembali hamil", jawab Ayu melihat ke arah suaminya.
Ada perasaan takut jika ia harus hamil seorang diri lagi. Padahal itu hanya pikiran buruk Ayu.
" Maaf", Arkana merasa itu semua karenanya.
Ia ingat pembicaraannya dengan Bara tadi di telpon di sela-sela obrolannya mengenai pekerjaan.
"Kamu harus terima apapun perubahan istrimu. Dia sedang mengalami krisis kepercayaan terhadapmu. Membuat seseorang percaya kepada kita membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun, kita hanya butuh waktu sekejap untuk menghancurkan kepercayaannya itu. Dan kamu tahu, membangun kembali kepercayaan seseorang kepada kita saat dia pernah merasakan dikhianati oleh kita, akan jauh lebih sulit". Bara
" Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya butuh waktu", Ayu tak ingin membuat suaminya kembali merasa bersalah. Namun, ia juga tak ingin terlalu memberikan harapan tentang memiliki anak kembali. Karena ia benar-benar belum siap.
Keesokan paginya, Arkana dan keluarga kecilnya pun langsung bersia untuk kembali pulang.
"Terimakasih untuk semuanya ya, bi", Ucap Ayu saat berpamitan dengan Bi Nunik di depan Villa.
"Sudah tugas saya, Non", jawab wanita paruh baya itu. " Semoga Non Ayu dan keluarga bahagia selalu ", do'a tulus Bi Nunik untuk anak sang majikan.
Bi Nunik yang penasaran dengan sosok Arkana dan Alif akhirnya memberanikan diri bertanya. Ayu pun menjelaskan tentang siapa keduanya walaupun Bi Nunik sudah bisa menebak.
Namun, Ayu tidak menceritakan kejadian pada malam lima tahun yang lalu.
" Aamiin "
" Sudah semua, Mas," jawab Ayu tersenyum. " Kami pamit ya, Bi. Maaf saya tidak tahu kalau Mang Diman sudah tiada"
"Tidak apa-apa, Non", Bi Nunik memaklumi.
" Ini ada sedikit untuk bibi", Ayu mengepalkan sesuatu pada lengan Bi Nunik.
" Tidak usah repot-repot, Non", Bi Nunik merasa tak enak hati karena setiap kali anak majikannya itu mampir selalu saja memberikannya uang.
Padahal, apa yang ia lakukan di Villa memang sudah menjadi tugasnya.
" Tidak apa-apa. Terima saja, Bi," ucap Ayu.
" Terimakasih, Non"
" Sama-sama, bi"
"Bunda, Ayo!," Alif berteriak dari dalam mobil.
Ayu hanya tersenyum pada Alif sambil menganggukkan kepalanya.
" Kami pamit. Assalamu'alaikum "
"Wa'alaikumsalam "
Mereka bersalaman dan langsung berjalan menuju ke dalam mobil.
Dari arah dalam, Citra berjalan tergesa-gesa ke luar.
__ADS_1
" Sudah pada pulang, Bu?"
" Iya "
" Cuma sebentar ternyata," ada perasaan kecewa karena belum bisa berkenalan dengan tuan mudanya.
" Mereka hanya mampir untuk berteduh," jelas Bi Nunik sambil melihat ke arah sang anak dengan tatapan heran. "Kamu mau kemana sudah dandan cantik begini ?", Bi Nunik mengerutkan keningnya.
" Emm, tidak kok ,Bu. Hanya sedang ingin saja," elak Citra.
Bi Nunik hanya menggelengkan kepalanya. "Ya sudah, ibu masuk dulu mau beres-beres ", Bi Nunik berlalu meninggalkan Citra sendiri.
" Hah, gagal deh", keluh Citra kecewa.
Padahal ia berdandan untuk menarik perhatian Arkana.
...******...
Di tempat lain, Rian masih mengharapkan Ayu. Hingga ia akhirnya mencari tahu semua informasi tentang Ayu dan suaminya yang baru Rian tahu bahwa orang yang menjadi suami Ayu adalah seorang pengusaha.
Dari orang yang ia bayar pula, akhirnya Rian tahu apa yang menimpa Ayu.
" Ayu, kalau saja kamu jujur tentang keadaanmu saat itu, aku pasti akan menerimamu apa adanya," lirih Rian.
Rian merasa iba dengan jalan hidup Ayu yang hamil di luar nikah dan menikah dengan ayah dari anaknya saat anaknya berumur empat tahun.
" Kalau kamu tidak bahagia dengannya, aku akan membawamu dan menjadikanmu milikku".
Rian bertekad akan menjadikan Ayu miliknya. Ia tak peduli pada keluarganya yang menentang hubungannya.
" Kak, kenapa malah melamun sih?", kesal Reva adik Rian yang saat itu sedang bercerita padanya. Tentang pacarnya yang sudah berniat melamarnya namun, ayah dan ibu belum memberikan lampu hijau karena Rian yang belum menikah.
" Eh, maaf", Rian menyadari kesalahannya.
" Kakak ini. Jadi, gimana masalah aku?", Reva kesal luar biasa karena sang kakak malah melamun.
" Menikah ya, menikah saja. Lagi pula kakak tidak masalah kalau harus di langkahi", jawabnya enteng.
" Masalahnya, ayah dan ibu yang tidak mengizinkan", Reva benar-benar tidak punya ide untuk membuat kedua orangtuanya menyetujui rencananya dan sang pacar kecuali kakaknya sudah menemukan calon istri.
Ya, orang tuanya sedikit memberikan kelonggaran. Mereka setuju Reva menikah lebih dahulu asalkan Rian, sang kakak bisa memperkenalkan calon istrinya.
" Kak, ini masalah serius. Jangan anggap enteng ", Reva kesal karena kakaknya tidak merespon.
" Hmm, akan kakak usahakan "
" Kak, move on dong. Ini sudah lima tahun," Reva tahu kakaknya masih berharap pada seorang perempuan yang ada di masa lalunya.
" Hmm"
Reva pergi sambil menghentakkan kakinya. Ia benar-benar kesal oleh sikap sang kakak.
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...
__ADS_1
...Mampir juga di karya Author ya...
...😉...