
Cinta Untuk Ayunda (66)
"Sepertinya mereka orang yang kita tunggu."
Pria berkepala plontos itu langsung membuka pintunya dengan tenang.
Setelah pintu terbuka, orang-orang berpakaian hitam masuk ke dalam rumah itu.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
" Kapan kita akan melakukan transaksinya?" Nela yang sedang merias diri di depan cermin melirik Bobi yang sedang memakai pakaiannya.
"Malam ini. Jadi, siang ini kita akan membawa anak itu ke tempat pembelinya." Jelas Bobi.
"Ya, semakin cepat semakin baik. Aku tidak ingin rencana kita gagal."
"Hmm.. Padahal kalau minta tebusan kan pasti lebih menguntungkan." Lagi-lagi Bobi berusaha mengompori Nela.
" Dan membuat mereka tahu bahwa kita pelakunya? Itu bukan ide yang bagus. Karena kita pasti akan berakhir di jeruji besi sebelum bisa menikmati uang yang kita ambil." Timpal Nela datar.
"Kamu tetap pergi mengajar hari ini? Bukankah rencana kita sudah berhasil? Jadi, kamu tidak perlu berakting jadi guru lagi." Bobi menghampiri Nela dan memandangi wajah kekasihnya di cermin.
"Jika aku tiba-tiba menghilang, justru mereka akan curiga."
"Kau benar juga."
"Aku selalu benar." Ucapnya sombong.
"Ya."
Di Sekolah, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan walaupun masalah penculikan Alif belum menemui titik terang. Informasi terakhir yang pihak sekolah tahu, Alif belum di temukan.
"Miss,kenapa Alif tidak masuk?" tanya salah seorang teman sekelas Alif.
"Alif sedang ada keperluan keluarga." Terpaksa Miss Nela berbohong. sesuai kesepakatan para guru jika ada yang menanyakan Alif.
Anak-anak pun diam setelah tahu alasan Alif tidak sekolah. Miss Nela pun mengajar seperti biasa.
Seperti rencana pagi tadi, siang ini Nela dan Bobi akan menjemput Alif di tempat penyekapan dan membawanya ke luar kota.
Nela berjalan ke arah gerbang saat Bobi mengatakan ia sudah ada di depan gerbang.
Nela mengerutkan keningnya karena tidak menemukan mobil milik Bobi. Hanya ada sebuah taksi yang terparkir disana.
"Masuklah!" Bobi setengah berteriak melambaikan tangannya ke arah Nela saat kaca mobil terbuka.
Walaupun merasa aneh, Nela tetap melangkahkan kakinya dan masuknke dalam taxi.
"Kemana mobilmu?"
" Tadi, tiba-tiba mogok. Terpaksa naik taxi. Kita tidak ada waktu kalau harus menunggu mobil di perbaiki."
Nela hanya manggut-manggut.
Mobil pun melaju ke alamat yang dituju. Sebuah rumah yang cukup besar dimana banyak penjaga yang menjaga rumah tersebut. Rumah yang mereka gunakan untuk menyekap Alif.
" Kita istirahat sebentar, baru melanjutkan perjalanan." Usul Bobi.
__ADS_1
" Ya, aku juga lapar. Kita makan dulu." Nela menerima usulan Bobi. Ia pun sudah merasa kelaparan setelah beberapa jam berkendara.
Pelayan pun menyediakan makan untuk keduanya. Setelah semua terhidang di atas meja makan, mereka mulai makan.
Brukkk
Tiba-tiba Nela tak sadarkan diri.
"Sayang kamu..." belum sempat Bobi bertanya, ia pun sudah tak sadarkan diri juga.
Para pengawal yang ada di sana segera membawa keduanya ke dalam sebuah kamar. Lalu mendudukkan mereka di kursi kayu dan mengikatnya.
"Kalian keluarlah!" Perintah seorang pria yang kemudian duduk di sofa yang ada di hadapan keduanya.
"Eughhhh." Nela mulai tersadar dari pingsannya. Ia menggelengkan kepalanya yang sedikit pusing.
Namun, detik kemudian ia terkejut saat menyadari tanan dan kakinya terikat.
"Kau sudah sadar, Miss Nela alias Sheila." Ucap seseorang yang duduk dan menunggu keduanya sadar.
Deg
Nela terkejut. Perlahan ia melihat ke arah orang yang memanggilnya.
"Ka_ kamu?" Ucap Nela terbata.
Orang itu menyeringai. "Hai! Sudah lama tidak bertemu." sapanya.
Tidak! Ini artinya rencana ku gagal. Jeritnya dalam hati.
"Lepaskan aku, Bara!!" Teriak Nela.
Bara hanya tersenyum. "Lepaskan? Setelah apa yang kai lakukan kepada Alif?" Tanyanya. "Mimpi!!" Bentaknya.
Bobi yang terganggu karena suara berisik segera tersadar. Seperti halnya Nela, ia pun terkejut saat terbangun dalam keadaan terikat.
"Hai, Bobi. Ternyata masih mau saja di bodohi perempuan ini?" Sapa Bara sinis.
Bara mengenal Bobi sebagai mantan Sheila yang di tinggalkan Sheila karena lebih memilih Arkana yang kaya raya. Namun, Bara tak menyangka Bobi akan menerima kembali Sheila setelah apa yang ia lakukan. Cinta memang buta.
"Kamu?" Bobi terkejut melihat Bara duduk menopang salah satu kakinya dengan tangan bersedekap.
"Pasangan yang cocok. Bersiaplah menerima balasan atas apa yang kalian lakukan!" Geram Bara.
"Bagaimana bisa kamu menemukan kami?" Bobi tidak percaya. Ia merasa rencananya berjalan lancar.
"Itu masalah yang mudah." Jawabnya tanpa ingin mengatakan secara rinci.
Flashback on
"Halo, apa kabar baik?" tanya Arkana saat ia baru selesai makan bersama Ayu.
"Ya, kami sudah menemukan dimana Alif di sekap." jawab Bara, orang yang menelpon.
"Bagus. Jemput aku, kita datangi tempat itu."
"Oke. Sebentar lagi aku sampai." jelas Bara yang pada saat itu memang sedang melakukan mobilnya ke kediaman Arkana.
__ADS_1
"Mas, aku ikut!" pinta Ayu tiba-tiba. Ia yang ada di samping Arkana mendengar dengan jelas pembicaraan suaminya dan Bara.
"Kamu, tunggu di rumah saja ya, sayang. Ini sudah malam." Bujuk Arkana.
"Tidak. Aku tetap mau ikut." Ucapnya. "Aku mohon , Mas. Aku ingin segera bertemu Alif." Mata Ayu mulai berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Arkana.
Arkana menghela nafas. "Baiklah. Jangan menangis, Ok." Arkana tak kuasa untuk menolak. Ia menarik sang istri dalam dekapannya.
"Tapi, kamu tetap harus berada di sampingku."
"Iya, aku akan mengikuti perintahmu, Mas."
Arkana segera berdiri dan mengambil jaket miliknya dan juga Ayu. Lalu memakai jaket sebelum berangkat.
" Apa Alif sudah di temukan?"tanya Mommy Mona yang baru keluar dari dapur saat melihat anak dan menantunya.
"Iya, Mom. Alhamdulillah Alif sudah ditemukan. Dan Sekarang kita akan kesana. Daddy juga dalam perjalanan ke tempat Alif di sekap." jelas Arkana.
" Kamu juga ikut, sauanh? Apa tidak lebih baik kamu menunggu di sini bersama Mommy?," Mommy Leona mengkhawatirkan menantunya yang sedang hamil muda."
"Aku sudah tidak sabar melihat Alif, Mom. Aku sangat mengkhawatirkannya."
" Ya, sudah hati-hati " Mommy Mona memeluk Ayu dan mengusap lembut punggung menantunya yang mulai berkaca-kaca.
"Iya, Mom." Jawab Ayu.
"Arkana, jaga istri dan calon anakmu. Jangan lupa segera hubungi Mommy kalau Alif sudah berhasil kalian selamatkan." Pesan Mommy Mona pada putra sulungnya.
" Baik, Mom. Kita langsung berangkat. Sepertinya Bara sudah ada di depan." Jawab Arkana Karena mendengar suara mobil dari arah luar.
"Hmm. Pergilah."
"Assalamu'alaikum."
"wa'alaikumussalam."
Keduanya pun berlalu ke luar.
"Ayu, kamu ikut ?" Bara terkejut.
"Dia memaksa." Jawab Arkana.
Bara mengangguk. Ia tahu pasti Ayu sangat khawatir ingin segera melihat kondisi Alif.
"Ya sudah, ayo kita berangkat. Perjalanan kita cukup jauh ke tempat itu." Ucap Bara
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...
__ADS_1