
Cinta Untuk Ayunda (68)
"Maafkan aku, Sheila."
Deg
"Kenapa kamu minta maaf?"
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
" Sebenarnya aku sudah berbohong kepadamu tentang siapa diriku. Bobi mulai mengakui kebohongannya."
" Apa maksudmu?"
"Aku bukanlah seperti apa yang aku ceritakan kepadamu." Bobi menundukkan kepalanya tidak berani melihat Sheila. "Aku hanyalah pengusaha biasa. Pengawal yang ada di sekitarku hanyalah pengawal yang aku sewa sewaktu-waktu saja."
Deg
"A_apa?" Sheila terkejut.
"Aku terpaksa berbohong agar kamu mau menjadi milikku."
Sheila diam. Ia sudah di bodohi laki-laki yang selalu menghangatkan ranjangnya.
" Kamu selalu bilang ingin memiliki kekasih yang lebih dari Arkana. Sedangkan aku tidak bisa menyainginya. Tapi, aku mencintaimu dan ingin memilikimu. Karena itu, aku melakukan kebohongan ini." Jelasnya.
Sheila hanya diam. Ingin marah, harus marah pada siapa ? Apalagi selama ini Bobi lah yang menjamin hidupnya. Memenuhi semua kebutuhannya bahkan kebutuhan biologisnya.
Bobi memperlakukannya dengan baik. Ia bisa merasakan bahwa Bobi memang tulus.
"Maaf sudah mengecewakanmu." Ucap Bobi saat tak mendengar satu kata pun dari mulut Sheila.
"Walaupun semua yang aku katakan adalah kebohongan, aku tidak pernah berbohong bahwa aku mencintaimu." tambahnya.
Sedangkan di sebuah rumah sakit, Ayu dan Arkana masih menunggu Alif yang terbaring lemah di atas ranjang.
Ayu duduk di kursi, tepat di samping ranjang Alif. Ia terus memegangi tangan mungil itu dan menciuminya.
"Alif, sayang. Ayo bangun. Ini Bunda." Bisiknya dengan air mata yang berlinang.
Hatinya sakit. Anak yang biasanya selalu aktif dan serba ingin tahu itu kini terbaring tak berdaya. Wajahnya pucat.
Ayu mengulurkan tangannya mengusap pipi Alif dengan perlahan.
Arkana yang tadi tertidursambil terduduk segera terbangun saat menyadarinya istrinya tidak ada di sampingnya. Ia pun melihat'ke arah ranjang Alif dan melihat Ayu ada di sana.
Perlahan,Arkana berjalan ke arah istri dan anaknya.
"Sayang" Panggil Arkana lembut.
Menyadari sang suami sudah berdiri di dekatnya, Ayu mendongakkan kepalanya.
"Ayo istirahat, kamu tidak boleh terlalu lelah." Arkana tersenyum sambil menghapus sisa air mata di sudut mata Ayu dengan ibu jarinya.
Ayu yang memang khawatir tidak bisa menahan laju air matanya.
__ADS_1
Ayu langsung memeluk suaminya dan menenggelamkan wajahnya di perut Arkana.
Arkana mengusap kepala Ayu dan membiarkan ia meluapkan kesedihannya.
" Ayo tidur. Ini sudah larut malam. Bumil harus banyak istirahat. Alif sudah mendapatkan penanganan dari dokter. Kalau besok belum sadar juga, baru dokter akan memeriksanya lagi.
Kamu juga harus tetap sehat. Demi Alif, demi aku dan juga calon anak kita. Aku tidak mau kejadian yang lalu terulang lagi." Jelas Arkana
Karena terlalu lelah dan stres, tadi Ayu sempat mengalami pendarahan. Namun, tidak sampai membahayakan.
"Hmm . Maaf."
"Ayo."
Arkana mengajak Ayu ke sofa dan meminta Ayu merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan paha Arkana.
Arkana menyelimuti tubuh Ayu dan mengusap perut istrinya.
Pagi menjelang, semuanya bersyukur karena Alif sudah kembali sadar. Dokter pun datang dan langsung memeriksanya.
"Semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kalau masih ada pusing atau mual itu sisa efek samping obat tidur yang sudah di konsumsi. Jadi, sampai kondisi Alif benar-benar sehat, Alif harus menjalani perawatan." Dokter menjelaskan panjang lebar pada Ayu dan Arkana.
"Baik, Dok. Terimakasih." ucap Arkana.
" Sama-sama. Saya permisi." Dokter pun ke luar bersama para perawat.
Ayu dan Arkana melihat ke arah Alif yang sudah tampak bisa tersenyum saat Zaki datang menjenguk bersama ayah dan ibunya.
"Sayang,aku akan pergi dulu keluar bersama Daddy." Ucap Arkana saat Daddy Alex memberi kode untuk keluar.
" Tidak, hanya ada sedikit keperluan. Setelah selesai, aku langsung kesini lagi ya."
" Hmm.. Baiklah."
" Mau titip sesuatu ?"
" Tidak."
" Ya, sudah. Aku pergi. Assalamu'alaikum." Ayu mencium tangan Arkana dan Arkana mencium kening Ayu.
"Wa'alaikumussalam."
Arkana pergi setelah mengusap kepala Ayu. Sementara Daddy Alex sudah ada di luar kamar rawat Alif.
" Bagaimana, Dad?"
"Mereka sudah di bawa ke markas kita."
" Apa benar pelakunya Sheila?"
"Ya, dia ingin balas dendam padamu."
Arkana menghela nafas.
"Berjanjilah jangan mengotori tanganmu. Ingat,Ayu sedang mengandung." Daddy Alex tahu bagaimana watak sang anak yang bisa melakukan sesuatu sampai ia puas.
__ADS_1
" Iya, Dad. Aku tahu. Kenapa Daddy jadi sangat cerewet." Kesal Arkana karena Daddy Alex terus mengingatkan hal yang sama.
" ok.. Kamu lebih tahu." Daddy Alex mengikuti Arkana yang masuk ke dalam mobil.
...******...
" Terimakasih sudah mau memaafkan aku."
Bobi berterima kasih pada Sheila. Kini, keduanya berada di salah satu ruangan yang ada di markas rahasia milik Daddy Alex.
Sebuah markas yang jika di lihat dari luar, nampak seperti rumah pada umumnya namun, jika sudah masuk ke ruangan bawah tanah, akan nampak mencekam.
Ruang tempat Sheila dan Bobi berada, ada di salah satu ruangan di bawah tanah.
" Aku justru yang berterima kasih karena kamu selalu ada untukku." Sheila memeluk Bobi sambil menangis.
"Sudahlah. Kita hadapi ini berdua, ok." Bobi mengisap punggung Sheila, dan Sheila hanya mengangguk.
Sheila dan Bobi memang tidak di ikat seperti kemarin. Mereka hanya di sekap di ruangan itu. Disana juga ada kasur lantai untuk beristirahat walaupun tidak empuk pastinya. Juga ada toilet di dalam. Tentu agar jika keduanya ingin ke toilet tidak perlu mengganggu pengawal yang berjaga. Yang bisa saja dimanfaatkan untuk mengelabui pengawal dan kabur.
Ruangan itu tanpa jendela. Penerangannya hanya mengandalkan lampu saja.
"Kira-kira apa yang akan mereka lakukan pada kita?," tanya Sheila. Ia mendadak merinding melihat para pengawal Daddy Alex yang bertampang sangar.
Mereka bahkan tidak segan untuk menampar atau menyeret paksa Sheila saat memberontak.
"Aku tidak tahu. Aku tidak pernah mendengar sisi lain dari Ayah Arkana yang seperti ini." jawab Bobi jujur.
Sementara di luar, mobil yang membawa Arkana dan Daddy Alex sudah masuk ke dalam gerbang.
"Aku tidak pernah menyangka akan menginjakkan kaki di tempat ini lagi." Arkana menghela nafas.
Ia memang jarang menggunakan markas itu karena markas itu hanya di gunakan sewaktu-waktu saja. Seperti sekarang. Jika tidak, markas ini akan sepi.
Sementara para pengawal memiliki rumah yang lain yang memang di peruntukan bagi tempat tinggal mereka. Walaupun jumlahnya tidak banyak, tapi, mereka adalah orang-orang terlatih.
"Kamu benar. Tapi, mau bagaimana lagi. Mereka memaksa kita melakukan ini." jawab Daddy Alex keluar mobil dan berjalan ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka
Di dalam, Bara sudah menunggu kedatangan bosnya. Ia akan langsung pergi ke perusahaan setelah Arkana dan Daddy Alex datang.
Dia harus menghandle pekerjaan yang ada karena Arkana tidak akan ke perusahaan.
"Nasib jadi asisten." Bara sudah membayangkan pekerjaan yang makin menggunung.
"Kenapa wajahmu kusut?"
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
__ADS_1
...🥰🥰🥰...