Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CIA 69 Hukuman


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (69)


"Nasib jadi asisten." Bara sudah membayangkan pekerjaan yang makin menggunung.


"Kenapa wajahmu kusut?"


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Bara melihat ke arah pintu masuk. Ternyata Arkana sudah ada disana.


"Belum di setrika."Jawab Bara asal.


Arkana terkekeh. Ia sebenarnya tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Bagaimana kondisi Alif?" Bara teringat akan kondisi keponakan kecilnya yang belum sempat ia tengok.


Bagaimana mau menengok, kalau ia tidak ada waktu. Setelah mengantarkan ke rumah sakit, ia ditugaskan menjaga dua tahanan itu di sini. Nasib jadi orang kepercayaan.


"Alhamdulillah sudah membaik. Dia sudah sadar." Jawab Arkana yang kini sudah duduk di sofa di susul Daddy Alex.


"Bagaimana dengan mereka?," tanya Daddy Alex


"Aman, Om. Mereka tidak bertingkah."


"Kau mau langsung melihatnya?," tanya Daddy Alex


"Ya, aku tidak punya banyak waktu, Dad. Aku tidak bisa meninggalkan anak dan istriku terlalu lama."


"Kau, bawa kedua orang itu ke ruangan interogasi." Daddy Alex memerintahkan seorang pengawal yang ada disana .


"Baik, tuan." Pengawal itu pun pergi ke ruangan bawah tanah.


Sementara Arkana dan Daddy Alex langsung masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Ada sofa panjang juga sudah ada dua kursi kayu yang diletakkan tepat di depannya.


Adapun Bara, sesuai rencanany, ia langsung menujunke perusahaan.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk!." Teriak Daddy Alex.


Sheila dan Bobi masuk dengan kedua tangannya yang di borgol. Di belakangnya ada pengawal yang tadi di perintahkan untuk memanggil keduanya.


Setelah menyuruh Sheila dan Bobi duduk, ia kemudian berdiri di samping Daddy Alex.


Arkana dan Daddy Alex menatap tajam keduanya. Sementara yang di tatap hanya menundukkan kepalanya. Tidak ada lagi keangkuhan karena nasibnya jelas sudah tidak akan baik-baik saja.


Muka Arkana memerah menahan emosi.


Brakkkk


Meja di depannya terbalik karena tendangan Arkana.


Semua yang ada di sana terkejut dengan tindakan Arkana.


"Ayah saja yang bereskan. Aku akan kembali ke rumah sakit. Terlalu lama disini hanya akan membuatku lupa diri." Ucapnya dengan penuh emosi.


Arkana tidak sebaik ini dulu. Semua orang yang mengusiknya akan merasakan amukannya. Tanpa ampun. Tapi, setelah ia menikah dengan Ayu lambat laun ia berubah.


Ia ingat, ketika sang istri marah padanya dan mendiamkannya. Ia meminta pada Ayu agar memukul atau memaki saja dirinya daripada mendiamkannya.

__ADS_1


Namun, Ayu malah berkata, "Kalau saja mulut dan tanganku takkan dimintai pertanggungjawaban, aku sudah melakukannya dari awal"


Dari sana Arkana belajar untuk bersabar. Bukan berarti dia lemah.


Daddy Alex menatap kepergian putra sulungnya dengan heran.


Kalau tidak akan melakukan apa-apa, untuk apa datang kemari ?. Daddy Alex berkata dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


"Dad, pastikan mereka mendapatkan hukuman setimpal. Berikan semua bukti yang bisa memberatkan mereka. Dan pastikan tidak ada yang membantu mereka untuk terhindar dari jeratan hukum." Pinta Arkana sampai akhirnya benar-benar keluar dari ruangan itu.


Namun, belum lama keluar, Arkana sudah masuk lagi dengan langkah kesal.


******


Ayu sedang melihat ke luar jendela. Langit mulai berwarna jingga. Alif sendiri sekarang sedang bersama Malika. Malika membawa buku cerita dan membacakannya untuk Alif.


Ayu melihat ke bawah di mana lalu lintas kendaraan sedang padat merayap.


Ayu tersentak saat sepasang tangan membelit pinggangnya. Lalu mengusap perutnya.


Namun, ia kemudian tersenyum menyadari siapa pemilik tangan itu. Wangi yang khas milik suaminya.


" Kenapa melamun?,"tanya Arkana sambil meletakkan kepalanya di bahu Ayu. "Merindukanku ?"


"Mana ada? Kita hanya berpisah beberapa jam saja."


"Berarti hanya aku yang merindukanmu?" lirih Arkana dengan mode manjanya.


Ayu hanya terkekeh. "Mungkin."


Arkana mengerutkan pelukan dan menciumi pipi Ayu. "Mas, malu ih. Ada Alif dan Malika."


Akhirnya Ayu tidak melarang lagi. Mana bisa suaminya menerima penolakan.


" Indah ya."Ucap Ayu melihat lukisan senja di langit.


"Iya indah. Sangat indah."Jawab Arkana tersenyum memandangi Ayu dari samping.


" Langitnya. Bukan aku." Ayu menyadari ucapan suaminya itu bukan pada langit yan g sedang di lihatnya.


"Tapi, bagiku kamu yang terindah. Tiada bandingnya."


"Gombal."


"Aku jujur. Bukan gombal." Arkana tersenyum.


Wajah ayu merona.


"Urusan mas sudah selesai?," tanya Ayu sambil mengusap kepala Arkana.


"Hmm."


" Mas tidak melakukan sesuatu yang merugikan kan?." Ayu sadar suaminya tadi keluar saat Daddy Alex memberi kode padanya.


Perasaan Ayu mengatakan ini berhubungan dengan masalah penculikan Alif. Apalagi Ayu sempat mendengar rencana penjebakan bagi pelaku penculikan itu. Dugaannya diperkuat saat ia tidak sengaja mendengar pesan Daddy Alex agar jangan mengotori tangannya.


Ada perasaan khawatir. Apalagi Mommy Mona dulu sempat bercerita tentang sisi lain Arkana yang belum pernah ia lihat. Mommy bilang, jika seseorang telah menyinggung Arkana, ia akan melampiaskan amarahnya pada orang itu sampai puas.


Mommy Mona mengetahuinya secara tidak sengaja saat ia penasaran Arkana pergi dengan terburu-buru dengan wajah merah padam. Sebelumnya ia sedang menelpon orang yang katanya melakukan kecurangan di perusahaan.

__ADS_1


Karena khawatir, Mommy Mona mengikutinya dan melihat Arkana memukul orang dengan membabi buta. Di halaman sebuah rumah.


Disana juga ada suaminya serta orang-orang berbeda besar dan berbaju hitam. Mommy Mona yang ketakutan langsung pergi dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka.


Arkana membalikkan tubuh istrinya. Kini keduanya saling berhadapan.


"Maksud kamu apa, sayang ?" Arkana penasaran.


"Mas tadi mengurus masalah penculikan Alif kan? Apa pelakunya sudah tertangkap?" tanya Ayu yang hanya menundukkan kepalanya tidak berani melihat manik mata suaminya.


"Apa mas memukulnya? dan membersihkan tubuh dulu sebelum kembali ke rumah sakit?"


Entahlah mengingat perkataan ibu mertuanya, tiba-tiba Ayu jadi berpikir negatif. Padahal, hari sudah sore. Hal biasa bagi seseorang sudah mandi dan berganti pakaian.


" Kenapa berfikir seperti itu?" Arkana heran.


Ayu pun menceritakan cerita mommy Mona tanpa di kurangi atau di tambahi juga apa yang tidak sengaja ia dengar tadi pagi.


"Kamu menguping, sayang?"


"Tidak sengaja. Tadinya aku mau menitip sesuatu." Jawab Ayu


"Menitip apa?" tanya Arkana.


"Aku mau bakso jumbo. Tapi, makan di tempatnya."jawab Ayu sambil menahan air liurnya. Tiba-tiba ia jadi membayangkan makanan itu ada di hadapannya dengan kondisi masih panas di tambah sambal.


"Ayo kita beli sekarang!" Arkana menarik tangan Ayu dan mengambil kunci mobil yang ada di atas nakas.


"Mas."


" Ayo. Nanti kalau tidak kesampaian, anak kita ileran."


"Mas, kamu belum menjelaskan soal tadi."


"Penjelasan itu bisa di tunda. Sekarang yang terpenting memenuhi keinginanmu dulu, sayang"


"Alif, Daddy dan Bunda pergi keluar sebentar ya. "Ucap Arkana sambil mengecup kening Alif. "Malika, kakak titip Alis sebentar. Assalamu'alaikum."


Arkana mengnarik sang istri. Arkana sangat antusias memenuhi keinginan istrinya itu.


"Mas." Ayu menghentakkan tangannya hingga genggaman Arkana terlepas tepat sebelum membuka pintu.


"Jawab dulu."


"Aku memberikan mereka hukuman."


Deg


TBC


 


...----------------...


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...


...Terima kasih atas dukungannya...

__ADS_1


......🥰🥰🥰......


__ADS_2