
Cinta Untuk Ayunda (39)
" Jika kamu sudah lebih baik, kita jalan-jalan bertiga ya", Arkana belum pernah mengajak Alif pergi. Jadi, ia ingin pergi berlibur bertiga.
" Tapi, aku ingin mengunjungi suatu tempat terlebih dulu".
Ayu teringat suatu tempat yang lebih dari lima tahun tidak pernah ia kunjungi.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Arkana dan keluarga kecilnya pergi ke tempat yang ingin Ayu kunjungi. Tempat yang harusnya mereka kunjungi sebelum menikah. Ya,makam ibu kandungnya.
Ayu sudah lama tidak mengunjungi makam sang ibu karena ibunya di makamkan di makam keluarga sang ayah. Hubungan yang kurang baik dengan sang ayah membuatnya
tidak bisa mengunjungi makam sang ibu.
Namun, saat Ayu mengunjungi sang ayah di rumah sakit, dia meminta izin untuk mengunjungi makam ibunya.
" Assalamu'alaikum, Bu. Maaf Ayu baru bisa kesini lagi setelah sekian lama", Ucap Ayu.
Arkana dan Alif ikut berjongkok di samping Ayu.
" Hari ini, Ayu datang dengan suami dan anak Ayu. Kenalkan ini Mas Arkana dan Alif", ucap Ayu kemudian.
" Bu, maaf baru bisa berkunjung. Seharusnya kami datang sebelum kami menikah. Namun, situasinya tidak memungkinkan", ucap Arkana.
Ketiganya menaburkan bunga yang mereka bawa juga menyiramkan air yang ada di dalam botol.
Mereka pun berdoa dipimpin oleh Arkana. Mereka khusyuk berdoa. Alif pun mengikuti kedua orang tuanya mengangkat kedua tangannya.
" Mas dan Alif kesana dulu, ya!", Arkana pamit menemani Alif dan membiarkan Ayu sendiri disana. Memberikan ruang bagi Ayu.
Melihat suami dan anaknya menjauh, Ayu mulai melakukan kebiasaannya. Bercerita pada sang ibu. Ia yang selalu terbuka dengan sang ibu semasa hidup, tak pernah mudah terbuka pada orang lain.
Karena itu, selepas kepergian sang ibu, Ayu selalu bercerita di depan pusara mengeluarkan segala resah yang ada di dadanya. Hal tersebut membuatnya merasa lega.
" Bu, maaf lima tahun terakhir aku tak pernah sekalipun mengunjungimu. Bukan karena lupa, tapi hubungan Ayu dan ayah semakin memburuk karena fitnah mereka. Selama lima tahun itu pula Ayu tinggal di sebuah kampung yang jauh dari sini. Tinggal bersama orang asing yang justru jadi keluarga Ayu.
Mereka menerima Ayu dengan tangan terbuka disaat Ayah justru membuang Ayu.", jika mengingat masa-masa itu, air matanya selalu kembali menetes.
" Bu, Ayu takut seperti ibu", Ayu tertunduk mengingat saat sang ayah memiliki istri kedua.
"Kalau bukan karena Alif, Ayu takut mengalami apa yang ibu alami. Rumah tangga hancur karena orang ketiga"
Ingatan bagaimana sang ayah lebih condong pada anak tirinya dan istri mudanya membuat Ayu memiliki kekhawatiran sendiri jika suatu saat Arkana akan sama seperti sang ayah. Walaupun ia tak seharusnya memukul rata bahwa setiap laki-laki akan seperti sang ayah.
" Jika Mas Arka memiliki wanita idaman lain, Ayu akan mundur. Ayu tidak akan bertahan seperti ibu. Sekalipun ada Alif, Ayu tidak akan memaksakan diri untuk bertahan"
Tanpa Ayu sadari, Arkana yang saat itu berniat mengajak Ayu pergi karena langit yang awalnya cerah tiba-tiba mendung, mendengar apa yang di ucapkan Ayu. Ia pun menghentikan langkahnya.
Ayu terus mengeluarkan isi hatinya sampai akhirnya Ayu hanya diam. Di saat itulah Arkana menghampiri Ayu sementara Alif sudah tertidur dalam gendongan Arkana.
__ADS_1
" Kita pulang sekarang ", ajak Arkana. "Sepertinya akan hujan"
Ayu melihat ke langit dimana awan hitam mulai menyelimuti. Angin pun mulai berhembus sedikit kencang.
" Kita istirahat di villa saja dulu. Nanti bAku tunjukkan jalannya ", ucap Ayu.
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Hingga akhirnya hujan turun dengan derasnya.
Ayu menunjukkan arah menuju vila yang memang tidak jauh dari sana.
Hujan masih turun dengan deras saat mereka sampai di sebuah villa yang cukup megah. Hanya ada satu villa disana. Sementara di sekitarnya adalah perkebunan dan tanah kosong yang di tanami pohon-pohon yang beraneka ragam.
" Selamat datang, Non", seorang perempuan paruh baya menyambut kedatangan keluarga kecil itu sambil membawa payung.
"Terimakasih, bi", ucap Ayu sambil mengambil payung yang di berikan Bi Nunik. Pelayan yang memang dipekerjakan untuk menjaga villa.
Ayu keluar dari mobil dan menunggu Arkana keluar dengan menggendong Alif yang semakin nyenyak tertidur. Mereka bertiga pun berjalan perlahan menuju villa dengan menggunakan satu payung.
Ketiganya langsung masuk villa dan menuju ke kamar yang biasa di tempati Ayu.
Saat melewati ruang makan, ia melihat seorang perempuan yang masih muda terlihat sedang menata makanan di tas meja.
Wajahnya mirip bi Nunik.
Perempuan itu terus melihat ke arah mereka. Lebih tepatnya melihat ke arah suaminya denga tatapan memuja.
Ayu hanya menghela nafas. Ternyata mati satu tumbuh seribu. Pikir Ayu sambil tersenyum kecil.
" Fans Mas ada dimana-mana", jawab Ayu
Arkana melihat ke arah Ayu melihat. Dimana Seorang perempuan masih melihat ke arah mereka.
Ayu bisa melihat perempuan itu tersipu malu karena suaminya melihat ke arahnya. Padahal, Arkana tidak tersenyum sedikit pun.
" Kamu cemburu?",tanya Arkana sambil menaiki anak tangga mengikuti Ayu.
" Tidak', jawab Ayu datar.
" Kenapa?"
" Tidak apa-apa ", jawab Ayu sambil membuka pintu kamar yang letaknya tepat di samping kanan tangga.
Arkana menidurkan Alif di tas tempat tidur. Sementara Ayu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sepuluh menit berlalu, Ayu sudah selesai membersihkan diri dan giliran Arkana yang membersihkan diri.
Makan malam tiba, Ayu dan Arkana turun ke bawah bersama Alif yang juga sudah di mandikan oleh Arkana. Karena Ayu memang berniat menginap di Villa, semua pakaian mereka sudah di persiapkan.
" Silahkan dinikmati makan malamnya. Saya mau ke belakang lagi", Bi Nunik pamit kepada keluarga kecil itu.
" Terimakasih, Bi"
__ADS_1
" Sama-sama, Non"
Tidak lama kemudian seorang perempuan masuk membawa buah-buahan dan meletakkannya di atas meja makan.
" Kamu anaknya Bi Nunik?", tanya Ayu.
" Iya, Non", jawabnya sambil mencuri pandang ke arah Arkana.
" Nama kamu siapa?"
" Saya Citra"
Ayu menganggukan kepalanya. " Oh iya, Mang Diman kemana?", tanya Ayu lagi.
" Bapak sudah meninggal beberapa bulan yang lalu", jawabnya lirih.
" Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un. Maaf saya tidak tahu", Ayu merasa tak enak hati.
" Ya sudah. Terimakasih"
" Sama-sama, Non".
Citra kembali ke belakang. Ia merasa kesal karena harapannya untuk bisa mendengar suara Arkana tidak terkabul.
" Aish, kenapa malah diam aja", Citra menggerutu pelan.
Padahal alasan dia mengantarkan buah saat keluarga kecil itu sudah ada dinmeja makan adalah agar bisa melihat dan mendengar suara Arkana.
" Cantik ya, Mas?", pancing Ayu
" Siapa ?", tanya Arkana pura-pura tidak paham.
" Citra "
" Oh", Arkana merespon singkat tanpa mau menjawab pertanyaan sang istri.
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...
...Mampir juga di karya Author ya...
...😉...
__ADS_1