Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 43 Alif Sakit


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (43)


"Kenapa malah nanya itu,?" Arkana enggan menjawab. Takut sang istri cemburu. Walaupun ia tidak menanggapi Siska tadi.


" Aku cuma ingin tahu. Apa aku salah?,"


" Tidak. Cuma aneh saja tiba-tiba nanya itu,"


" Jadi?"


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


" Ada. Sekertaris rekan bisnis Mas perempuan," jujur Arkana.


" Ough. Cantik ?."


" Enggak lah."


"Masa?"


" Dilihat dari sudut manapun, cantikan kamu"


Ayu terkekeh. "Benarkah?. Tapi, aku sanksi."


Ting


Sebuah foto terkirim ke ponsel Arkana. Arkana membulatkan matanya. Namun, Ayu hanya tersenyum.


" Bara mengadu?,” Arkana menaikkan alisnya.


" Mana ada?. Aku yang minta Kak Bara mengirimkan foto orang yang melakukan pertemuan dengan Mas." Elak Ayu. "Cuma mau ngetes mas jujur atau enggak.


"Sekarang sudah percaya?."


Ayu mengangguk.


" Iya. Mas memang bukan laki-laki mata keranjang."


Karena kalau Arkana mau, ia bisa saja cuci mata. Wanita di depannya memang cantik namun dengan polesan. Pakaiannya pun memang akan membangkitkan sesuatu yang ada di dalam seorang pria.


Arkana tersenyum.


" Sudah Mas bilang, percayalah kepada mas."


"Hmm." Ayu hanya berdehem.


" Maaf sudah membuatmu seperti ini." Arkana merasa Ayu selalu berpikir akan ia tinggalkan. Mengingat itu, ia selalu merasa bersalah pada Istrinya.


" Aku hanya parno."


" Lupakan saja. Oh iya, mana Alif? Katanya tadi Alif kangen."


"Alif tidur. Mbak pengasuh bilang, dia kelelahan karena bermain seharian."


Ayu mengarahkan kameranya pada Alif yang tertidur pulas di atas kasurnya. Ayu saat itu memang sedang berada di kamar Alif.


Arkana memperhatikan Alif yang sangat pulas.


Mereka pun berbincang sampai Arkana akhirnya terpaksa memutuskan panggilan karena harus kembali bekerja.


Berjam-jam lamanya Alif tertidur. Namun, anehnya ia tidak segera bangun. Padahal, Alif tidak biasanya seperti itu.


Karena penasaran, Ayu segera pergi ke kamar Alif dan betapa kagetnya ia saat menyentuh Alif yang panas tinggi sambil mengigau.


" Bunda... Bun .." racau Alif.


" Astaghfirullah. Kamu panas sekali, sayang."


Ayu menuju kotak P3K yang ada di kamar Alif. Ia mencari termometer.

__ADS_1


" 38,5 derajat Celcius," gumam Ayu.


Ayu segera mengambil air hangat dan handuk kecil. Lalu mengompres Alif.


Merasakan sesuatu, Alif pun terbangun dari tidurnya.


" Bunda, haus," ucap Alif lirih.


Ayu pun memberikan air hangat yang tadi juga di bawanya.


Melihat baju sang anak yang basah karena keringat, Ayu segera mengambil baju ganti dan air hangat serta handuk untuk menyeka tubuh Alif.


Dengan telaten Ayu melakukan itu semua. Sampai akhirnya,Ayu pun mengambil selimut yang lebih tipis dan menyelimuti tubuh Alif.


" Bunda mau masak bubur dulu buat Alif ya," pamit Ayu.


" Alif mau ikut. Alif gak mau di kamar sendiri," rengek Alif yang selalu menempel pada ibunya jika sedang sakit.


" Alif tunggu sebentar ya, sayang."


Alif menggeleng sambil memeluk tubuh sang bunda yang saat itu sedang ikut berbaring di samping Alif.


" Ya, sudah. Ayo!"


Ayu mengambil gendongan dan menggendong Alif. Setelah selesai, ia segera menuju dapur.


Saat sakit, Alif sulit untuk memakan makanan buatan orang lain. Ia hanya mau buatan sang bunda. Pernah suatu ketika, Bu Maryam yang memasakkan bubur namun mengatakan bahwa itu adalah buatan Ayu. Anehnya, Alif tidak mau makan seolah tahu bubur itu bukan buatan Ayu.


Dengan perlahan Ayu menuruni tangga dan menuju dapur.


" Ada yang bisa di bantu, Non?," tanya Bi Mina saat melihat majikannya masuknke dapur.


" Saya hanya mau masak bubur untuk Alif, Bi." jawab Ayu.


" Den Alif sakit ?," Bu Mina melihat ke arah Alif yang terlihat nyaman dalam gendongan Ayu.


" Iya, Bi. Alif demam."


" Biar saya saja, Bi. Alif susah makan masakan orang lain kalau sedang sakit begini. Harus saya yang masak sendiri." jelas Ayu.


Bi Mina pun tidak bisa memaksa. Sekalipun ia merasa kasihan melihat Ayu yang kesusahan jika memasak sambil menggendong Alif yang sudah cukup berat.


"Saya bantu siapkan bahannya saja, Non"


"Boleh, Bi. Terimakasih."


"Sama-sama "


Dengan di bantu Bi Mina, Ayu memasak. Walaupun harus sambil menggendong Alif, baginya tidak masalah.


" Ayu, kamu sedang apa, sayang?," tanya Mommy Mona yang baru memasuki dapur dan di suguhkan dengan keberadaan sang menantu yang sedang memasak.


"Alif sakit?," tanyanya lagi.


" Alif demam, Mom. Ayu sedang masak bubur. Alif hanya mau makan kalau Ayu yang masak", jelas Ayu.


"Sini, sama grandma dulu, sayang. Kasihan Bunda berat," Mommy Mona mengulurkan kedua tangannya namun Alif hanya menggeleng.


"Mau nelpon, Daddy?," bujuk Mommy Mona.


" Mau," jawab Alif antusias walaupun lemas.


" Apa tidak akan menganggu Mas Arka? Takutnya malah kepikiran dan tidak fokus kerja,"


"Tapi, tadi Bunda janji mau nelpon Daddy," Alif merenggut.


Ayu diam. Ia baru ingat sudah janji akan menelpon Arkana pada Alif. Namun, tadi Alif sedang tidur.


"Ayo sama grandma dulu, kita telpon Daddy."Mommy Mona kembali membujuk Alif. " Tidak apa-apa. Alif anaknya. Sudah seharusnya Arkana tahu."

__ADS_1


Ayu hanya mengangguk.


Akhirnya, dengan bujukan akan menelpon Arkana, Alif mau beralih ke pangkuan Mommy Mona.


Ayu pun menggerakkan pundaknya yang pegal. Semenjak Alif sudah bisa berjalan, ia memang jarang menggendong Alif lagi kecuali ketika sedang sakit seperti ini.


Alif duduk di pangkuan Mommy Mona yang sedang mencoba menghubungi Arkana.


Setelah panggilan ke tiga, barulah Arkana mengangkat telponnya.


" Assalamu'alaikum, Daddy," ucap Alif lesu.


" Wa'alaikumsalam, sayang. Alif kenapa? Sakit?," tanya Arkana melihat wajah pucat sang anak.


Alif hanya mengangguk.


" Alif demam." Jawab Mommy Mona.


" Apa Daddy masih lama disana?,"


" Iya. Maaf ya." Arkana merasa bersalah tidak bisa di samping sang anak saat ia sakit. Namun ia juga masih harus menyelesaikan urusan yang belum selesai.


" Sudah makan?"


" Belum. Bunda masih masak bubur untuk Alif."


Mereka pun mengobrol. Kebetulan Arkana sudah selesai bekerja, jadi ia leluasa untuk terus berbicara dengan sang anak.


" Ayo makan dulu," Ayu meletakkan semangkuk bubur ayam di hadapan Alif.


" Alif mau duduk sama Bunda."


Ayu pun mendudukkan Alif di atas pangkuannya.


" Berdoa dulu ya," ajak Ayu sambil membacakan do'a mau makan.


" Aaa," Ayu meminta Alif membuka mulutnya.


Alif makan sesuai demi sesuap. Di sebrang telpon, Arkana memperhatikan interaksi anak dan istrinya.


Arkana terus memperhatikan Ayu yang tampak bercucuran keringat karena baru selesai memasak.


" Makan yang banyak ya, biar cepat sembuh," ucap Arkana di sebrang telpon.


" Tapi, Alif sudah kenyang."


" Ya sudah, minum dulu ya," Ayu membantu Alif minum.


Ayu tidak memaksa Alif menghabiskan makannya. Ada makanan yang bisa masuk ke dalam mulut Alif saja, Ayu sudah bersyukur.


Selesai makan, Alif langsung di ajak kembali ke kamar untuk beristirahat.


Ini adalah hari ketiga Alif sakit. Suhu tubuhnya naik turun. Bahkan jika malam tiba, suhu tubuh Alif sangat tinggi. Nafsu makannya semakin berkurang. Bahkan Alif mulai mengeluh sakit kepala.


" Kita, bawa ke rumah sakit saja ,ya. Takutnya gejala typus." Mommy Mona khawatir.


TBC


...----------------...


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...


...Terima kasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...


...Mampir juga di karya Author yang lain ya...

__ADS_1


...😉...


__ADS_2