Cinta Untuk Ayunda

Cinta Untuk Ayunda
CUA 58 Hari Terakhir Berlibur


__ADS_3

Cinta Untuk Ayunda (58)


" Ya, aku tahu. Bukankah liburan ini juga salah satu cara membuat ikatan emosional kita bertiga semakin kuat." Arkana tersenyum sambil menggenggam tangan Ayu.


Ayu menggangguk. Mereka pun kini fokus melihat ke arah Alif.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Hari kedua berlibur, Arkana dan keluarga kecilnya menghabiskan waktu di pantai.


Bersama kedua orang tuanya, Alif membuat istana pasir.


" Ayo Daddy, buat yang lebih besar lagi. Alif mau membuat istana pasir terbesar!" serunya.


" Ok, ayo kita buat." Arkana memperbesar bangunan istana pasir mereka. Ayu pun ikut duduk bersama keduanya.


Mereka pun bahu membahu membuat istana pasir. Alif senang karena ia akhirnya bisa berlibur dengan kedua orangtuanya. Dulu, ia hanya berlibur dengan Bundanya saja atau ikut bergabung dengan keluarga Tika, yang selalu ia panggil dengan sebutan ibu.


"Masya Allah. Bagusnya !" Seru Ayu. "Ayo foto dulu untuk kenang-kenangan.


Mereka pun foto bertiga. Tidak lupa dengan istana pasir buatan mereka.


Bosan bermain pasir, Alif menarik Arkana untuk bermain ombak. Ayu hanya melihat dari kejauhan. Melihat keseruan anak dan suaminya tidak lupa mengambil foto juga video keduanya.


" Bunda! Ayo kesini. Ini menyenangkan!" Teriak Alif yang kemudian tertawa saat ombak menghantam tubuhnya.


Ayu hanya diam tidak ingin ikut serta. Melihat istrinya yang hanya diam, Arkana melangkahkan kakinya ke arah ayu dan duduk di sampingnya.


"Ayo ikut kesana. Bermain ombak." Ajak Arkana.


" Tidak. Nanti bajuku basah semua. Lagi pula aku harus mengamankan ponselku. Jangan sampai terendam air" Ucap Ayu yang sebenarnya hanya alasan saja.


" Sayang, pinjam ponselmu."


" Untuk apa ?"


" Berikan saja"


Tanpa curiga apapun, Ara memberikan ponselnya. Arkana langsung memasukkan ponsel itu ke dalam tas selempang ayu yang ada di sampingnya. Tersimpan di atas pasir dekat istana pasir yang mereka buat.


"Mas!!"


Ayu berteriak karena Arkana mengangkat tubuhnya.


" Kamu selalu bilang pada Alif agar jangan takut kotor ataupun basah. Kamu sendiri malah takut basah." Ucap Arkana sambil melangkahkan kakinya menuju Alif berada.

__ADS_1


Arkana menurunkan Ayu saat sampai di dekat Alif.


Alif lagi-lagi berteriak bahagia saat ombak menghantam tubuhnya. Sedangkan Ayu memeluk Arkana karena takut terseret ombak.


"Alif!" Teriak Ayu saat Alif menyiramnya dengan air laut yang Alif ambil dengan kedua tangannya.


"Ayo lagi!" Teriak Arkana malah ikut melakukan apa yang Alif lakukan.


Ayu berlari menghindari anak dan suaminya yang terus berusaha membuatnya basah. Namun, mereka tak henti-hentinya membuat Ayu semakin basah.


Ayu akhirnya membiarkan saja saat bajunya basah. Tapi, ia kemudian ikut membalas suami dan anaknya. Mereka saling membasahi dengan air laut dan tertawa bersama.


Setelah lelah, mereka kembali ke villa dan langsung membersihkan diri serta sholat berjamaah sebelum makan malam.


Malam ini, Alif ingin tidur bersama kedua orang tuanya, sehingga mereka tidur bertiga dengan posisi Alif yang ada di tengah.


Tidak lama kemudian, Alif sudah tertidur pulas. Ia terlalu lelah bermain di pantai seharian.


Menyadari sang anak sudah tidur, Arkana turun dengan perlahan dari ranjang. Ia berjalan mengendap menuju sisi lain ranjang dimana istrinya berada.


Tak ingin Ayu berteriak jika langsung menggendongnya, Arkana mengecupi wajah sang istri.


Ayu yang hampir terlelap, langsung terjaga karena ulah Arkana.


"Ayo buat adik untuk Alif." Bisik Arkana tak ingin suaranya mengganggu tidur Alif.


Arkana yang paham, langsung mengangkat tubuh istrinya dan berjalan ke kamar yang lain.


Ayu sebenarnya lelah dan ingin langsung tidur saja. Tapi, ia pun tidak ingin menjadi istri durhaka karena menolak keinginan suaminya.


" Aku di bawah saja." Ucap Ayu ambigu.


Arkana terkekeh melihat wajah sang istri yang tampak sudah mengantuk. Namun, ia juga tak bisa menahan keinginannya. Jika di tahan lebih lama, kepalanya akan semakin pusing.


Arkana yang tadi memaksa mandi bersama sebenarnya sudah tidak tahan. Namun, mengingat mereka tidak punya banyak waktu, akhirnya Arkana mencoba untuk bersabar.


" Maaf membangunkanmu. Tapi, aku sudah tidak tahan, sayang."


" Aku tahu. Sejak kapan mas bisa tahan lama-lama." Jawab Ayu dengan suara parau nya.


Arkana hanya terkekeh sambil mengecupi Ayu dari mulai wajah terus ke manapun yang Arkana mau. Hingga,mata Ayu benar-benar terbuka lebar dan kantuk itu pun hilang seketika.


Bagaimana ia bisa tidur nyenyak jika terus di ganggu. Padahal Arkana baru pemanasan.


Arkana tentu saja senang. Ia akhirnya ada teman begadang. Benar-benar begadang dan hanya menyisakan beberapa jam untuk mandi dan kembali tidur ke kamar dimana Alif berada.

__ADS_1


Mereka tidak ingin mengecewakan sang anak. Oleh karena itu, mereka harus ada di saat Alif membuka mata esok pagi.


Kini, keduanya kembalikan tertidur. Namun posisi Ayu kini ada di tengah. Alasannya tentu saja suaminnya yang ingin tidur dengan menjadikan dirinya guling hidup.


Keesokkan harinya, Alif bangun dengan perasaan senang. Karena kedua orangtuanya masih ada di sana. Ia tidak memusingkan posisinya yang kini ada di tepi ranjang. Bukan lagi di apit Daddy dan Bundanya.


" Hari ini kita beli oleh-oleh ya?" pinta Ayu setelah selesai sarapan.


" Ok, Bun."


" Ok, sayang."


Jawab keduanya serempak.


Liburan mereka memang tidak terlalu lama. Karena Arkana tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan dan melimpahkan semua tugasnya pada asisten sekaligus sahabatnya.


Alif dan Ayu pun tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting suaminya itu sudah menepati janjinya. Ia benar-benar memberikan waktu tiga hari ini untuk anak dan istrinya. Tidak untuk pekerjaannya.


Bukan apa-apa, terkadang Arkana selalu membawa pekerjaan ke rumah. Atau menelpon dengan alasan pekerjaan. Ayu yang tidak ingin kebersamaan mereka terganggu akhirnya membuat kesepakatan. Jika Arkana mencuri waktu untuk bekerja sekalipun hanya via telpon, Arkana tidak boleh meminta haknya selama seminggu.


Ayu sebenarnya hanya menggertak, namun tentu saja Arkana tidak ingin mengambil resiko jika mengabaikan gertakan istrinya itu.


Mereka pun berbelanja banyak oleh-oleh. Walaupun Ayu tahu, mertuanya sangat kaya dan tidak terlalu mempersoalkan jika mereka pulang tanpa buah tangan, namun membawa oleh-oleh setelah berlibur seolah menjadi keharusan.


Apalagi ia berbelanja juga untuk para pelayan yang selama ini baik padanya juga pada anaknya.


Selesai berbelanja, ketiganya mampir ke restoran untuk makan siang. Memilih makanan khas dari daerah sana yang katanya enak.


Di sudut restoran, seorang perempuan menatap kebahagiaan keluarga kecil itu dengan tatapan kebencian.


Ia benci laki-laki yang membuat hidupnya menderita justru sedang tertawa bahagia. Padahal setelah kejadian hari itu, hidupnya menjadi sulit. Bahkan ia sampai harus mengubah wajah dan identitasnya hanya demi bisa kembali hidup dengan baik.


"Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan Arkana." Geramnya sambil terus melihat ke arah meja Arkana.


Arkana sempat saling bertatapan beberapa saat dengannya. Namun, Arkana acuh karena merasa tidak mengenali wajah yang memang sudah berganti itu.


TBC


...----------------...


 


...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...

__ADS_1


...Terima kasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...


__ADS_2