Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Ajak Katy main


__ADS_3

Sesampainya di kamar, di pikiran Alan melintas wajah Zovita, dia segera menepis pikiran nya, lalu tiba-tiba muncul lagi.


Ah aneh, pikirnya.


Apa mungkin karena ini pertama kalinya dia berhadapan dengan Zovita secara dekat, sebelum-sebelumnya Alan hanya melihat wajahnya di foto.


" Hei lan, kamu ini kenapa? rebahan di kasur sambil melamun, kamu tidak takut apa kesambet, ku dengar desa ini sepi dan..."


Bagus tiba-tiba nongol di hadapan Alan yang tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


" Dan apa hah?! sok tau kamu!! jangan ngada-ngada deh, jangan percaya gituan. Kita kan orang masa kini masa kemakan tahayul," ucap Alan panjang lebar yang tidak pernah ada rasa takut sedikitpun berada di desa itu.


" Tapi jangan ngeremehin juga loh lan, eh emang nya kamu lagi ngelamunin apa sih? hayo jangan-jangan kamu kepincut cewek sini ya," Bagus meledek Alan.


Alan pun membantahnya.


" Huss jangan sembarangan kamu, kita ini lagi tugas, lagi kerja, gak boleh nyari-nyari cewek. Awas loh ketahuan nanti." jawab Alan memberi tahu Bagus bahwa mereka tidak boleh melenceng dari tugas utama.


" Lagipula Miss Rika itu gak tau apa yang kita lakukan disini kan? dia hanya tahu laporan kita, jadi slow aja lan, iya kan?" timpal Bagus santai.


" Siapa bilang?? dia itu wanita bermata dimana-mana tau gak? dia selalu hati-hati dan banyak anak buah, bukan cuma kita." kata Alan menyeringai memandangi wajah Bagus, Bagus pun melihat Alan dengan penuh keyakinan, Alan kali ini serius menurutnya.


" Satu lagi, dia itu wanita yang sedikit ambisius kan?" bisik Bagus di telinga Alan.


" Ngapain kamu berbisik, emang ada yang dengar obrolan kita apa?" ucap Alan menghentak.


" Siapa tau di ruangan ini di pasang cctv oleh Miss Rika lan, kan katamu dia itu melakukan berbagai cara, bahkan anak buahnya saja dia tidak 100% mempercayainya."


Bagus yang kali ini pintar, Alan berpikir ada benarnya juga yang di ucapkan si Bagus.


Dia tetap harus waspada.


" Tapi kamu tau kan? aku ini orang kepercayaan miss Rika, jadi dia akan percaya apapun yang ku katakan." kata Alan pede.


" Kamu yakin???" Bagus meragukan.


" Jelas!!! kita lihat saja," jawab Alan lebih yakin lagi pada dirinya sendiri.


Alan dan bagus pun menikmati segelas kopi panas yang di bawakan Bagus.


Sore itu udara sangat dingin, karena suasana desa di pegunungan, meski tidak turun hujan akan tetap dingin.

__ADS_1


" Tapi lan, satu hal yang harus kamu ingat. kamu jangan berani-berani jatuh cinta sama Zovita, bisa bahaya urusannya sama pak Irwan." sambung Bagus yang mencoba memperingati Alan agar tidak lewat batas.


" Kok kamu jadi ngomong ke situ sih, gak nyambung banget, aku mana mungkin jatuh cinta sama cewek seperti dia," kata Alan membantah pernyataan Bagus.


" Baguslah kalau kamu sudah mikir gitu." Bagus mengakhiri obrolan mereka.


Alan sampai kapanpun harus ingat apa yang sudah Bagus katakan, dia tidak boleh lengah dengan pekerjaan nya hanya karena wanita, jangan biarkan wanita menggoyahkan pikiran nya.


Alan sudah tidak mengenal jatuh cinta lagi sejak 3 tahun yang lalu, saat dirinya di tinggal menikah oleh kekasihnya karena Alan yang saat itu belum mapan dan belum punya pekerjaan tetap. Kekasihnya menikah diam-diam dengan sahabatnya, sungguh kisahnya sangat mirip dengan drama TV menurutnya.


***


" Katy, kamu kenapa tidak mau makan? kamu sakit? coba aku lihat dulu ya." Zovita mencoba berbicara dengan kucingnya itu seolah kucing nya mengerti dengan apa yang dia ucapkan.


Zovita memeriksa kucingnya, mengangkat tubuh Katy ke pangkuannya lalu satu persatu dia lihat, takut tubuh Katy terluka.


Namun nihil, Katy sama sekali tak memiliki luka di tubuhnya, tapi kenapa katy masih tidak mau makan seperti biasanya? Zovita khawatir karena Katy adalah satu-satunya sahabat bagi dia.


Zovita terus melihat Katy dengan wajah cemas.


" Boleh aku lihat kucingmu?"


Zovita pun menoleh ke arah lelaki yang tengah berdiri di belakang nya itu.


" Siapa kamu?" tanya Zovita penasaran, karena masih belum begitu jelas melihat wajahnya, yang siang itu sangat panas.


" Kamu bukannya lelaki yang tempo hari ke rumah?" tanya Zovita menatap lelaki itu penasaran.


Ternyata Alan, yang tak sengaja lewat dan melihat Zovita sedang asyik bermain bersama Katy.


" Kamu cuma main sama kucing ya, kulihat kamu juga ajak kucing itu bicara, memang nya dia mengerti apa yang kamu ucapkan?" Alan sengaja menanyakan hal yang sebenarnya dia sudah tau jawabannya.


" Bukan urusanmu!! lagi pula mau dia mengerti atau tidak apa pedulimu?" Zovita malah menjawab Alan dengan nada yang galak.


Sontak Alan kaget, senyum menyeringai menatap Zovita.


" Wah galak juga kamu, padahal kan aku cuma mau menyapa kucing mu itu, siapa namanya? lupa aku," timpal Alan penasaran.


" Katy!!!!" Zovita masih ketus menjawab Alan.


" Oh Katy ya,, hai Katy sini ikut aku yuk, kamu kayanya sakit ya, kamu di marahin terus ya sama dia? he," Katy langsung berlari ke arah Alan, seolah sudah mengenalnya.

__ADS_1


Alan menggendong Katy.


Dengan halus Alan mengelus Katy, lalu dia timang seperti bayi.


Zovita yang melihat itu, ternyata bukan cuma dia yang memperlakukan kucing seperti bayi, ada oranh yang jauh lebih aneh menurutnya.


" Jangan asal bicara kamu!! aku tidak pernah memarahi Katy, dia satu-satunya teman yang aku punya mana mungkin aku jahat," Zovita membalas candaan Alan dengan serius, padahal Alan hanya basa basi.


Duh, nih cewek galak ternyata, dia bergumam.


" Aku kan bercanda, kamu jangan anggap serius dong, kenapa kamu berteman sama kucing? memang kamu tidak punya teman?" lagi-lagi Alan terus memberi Zovita pertanyaan yang membuat Zovita sedikit tidak senang.


" Kenapa aku berteman sama kucing? jawabannya adalah, karena hanya kucing yang selalu ada di sisiku apapun kondisi ku, beda sama manusia." jawab Zovita jelas sekali.


" Jadi menurutmu semua manusia seperti itu? apa kamu sudah survei ke semua manusia di bumi?"


Alan mengajukan pertanyaan lagi, Zovita benar-benar dibuat ekstra sabar karena kali ini dia harus mengeluarkan banyak kata.


Padahal dia sangat malas banyak bicara.


" Aku tidak perlu survei, cukup yang aku alami saja memberi sebuah bukti, makanya aku bisa menilai manusia itu seperti apa." Zovita terus menimpali ucapan Alan.


Alan terdiam sejenak, di sudut bibirnya terlihat senyum yang sangat mempesona.


Mungkin jika wanita lain yang melihatnya akan terpesona, tapi ini Zovita, dia tak mudah begitu saja tertarik kepada lelaki.


Apalagi setelah keadaan dia saat ini.


Dia bahkan membenci bertemu dengan lelaki, Ayah nya sendiri pun tak mau dia temui.


Makanya ini yang membuat Alan terus memperhatikan dan mendekati Zovita, selain tugas yang diberikan Rika, Alan pun penasaran dengan sisi lain dari Zovita.


Alan merasa baru dia disini yang berbicara dengan Zovita.


Zovita tak sedingin pertemuan pertama saat di rumahnya. Kali ini sudah banyak kata yang keluar dari mulutnya.


" Aku permisi." Zovita pun mengakhiri obrolan dengan Alan.


Alan tak membalas, hanya tersenyum menatap Zovita yang semakin jauh dari pandangan nya.


_____

__ADS_1


__ADS_2