
Setelah beberapa detik saling berpandangan, Rika mengeluarkan isyarat jari nya kepada asisten nya, asisten Rika segera pergi dari ruangan itu.
"Helo Nyonya Lisa atau jeng Lisa apa kabar mu?" sapa Rika yang langsung bangun dari kursi nya, kedua tangan nya seperti sedang menyambut sebuah tamu.
Ibu Defa, Lisa masih berdiri mematung melihat tingkah Rika. Sebenar nya ada sedikit perasaan takut di dalam hati nya.
"Kenapa hanya berdiri? silahkan duduk jeng Lisa yang terhormat, kamu pasti capek menempuh perjalanan yang sangat jauh kesini, silahkan di minum." Rika mempersilahkan Ibu Defa untuk duduk di sofa yang di tunjuk oleh Rika.
Asisten Rika yang membawa minuman segera meletakkan nya di meja.
Masih dengan senyuman nya yang terus terpasang di wajah Rika.
Ibu Defa pun duduk, Nikita menyusul di sebelah nya.
"Siapa wanita yang kau ajak ini Lisa? dan kenapa kamu membawa nya kemari? pasti dia sangat istimewa sehingga dia kau bawa kemana pun?"
Rika dengan ucapan nya yang rileks namun tanpa di sadari selalu membuat lawan bicara nya menusuk.
"Kamu pasti tau wanita cantik di sebelahku ini adalah Nikita, dia calon istri Defa." Ibu Defa mempekenalkan Nikita kepada Rika dengan senyuman sombong nya.
"Lantas???? tujuan mu membawa nya kesini???" Rika masih tetap santai, masih di posisi nya yang tetap berdiri dengan sebuah ponsel di tangan nya.
Rika menyibakan rambut panjang nya itu ke samping, tatapan nya berubah sangat dingin dan sinis, namun masih tetap berusaha anggun.
"Hanya mau memperkenalkan calon istri anakku dan mau melihat kondisi Zovita, saya hanya sedikit peduli ingin mengucapkan duka cita, baik bukan niat saya?" ucap Ibu Defa sementara di sebelah nya Nikita sangat tidak nyaman dengan suasana ini, dia takut ada pertengkaran.
" Haha.. Apa??? tidak salah dengar, mau berduka cita setelah berbulan bulan? kemarin-kemarin sibuk ya menggelar pesta?" Rika membalas ucapan Ibu Defa tertawa sedikit geli mendengarnya.
Merasa lucu, di tengah hari rumahnya kedatangan pelawak, benak Rika.
"Tante, saya sudah mencoba mengubungi Vita kemarin-kemarin, namun tidak ada respon dari nya, saya sebagai teman nya juga turut prihatin dengan kondisi Zovita." Nikita ikut menyambar pembicaraan Ibu Defa dan Rika.
Tatapan Rika langsung ke arah Nikita, raut wajah nya langsung menunjukan kecaman terhadap Nikita, Rika merasa Nikita ini sangat munafik dan pendusta.
"Teman? kamu bercanda ya? Zovita tak berteman dengan sembarangan orang, kamu menyebut dirimu teman? apa kamu tau apa itu arti kata teman? T - E - M - A - N." Rika mengeja lalu tertawa.
Mata nya menoleh lagi ke arah Nikita, Ibu Defa tak bersuara lagi tapi merasa bahwa tertawa Rika seperti sedang mengejek nya.
__ADS_1
"Saya mau bertemu Zovita, dimana dia? saya mau memberikan dia sebuah undangan pernikahan," sambung Ibu Defa, membuat Rika semakin naik pitam.
Alis Rika naik, tanda bahwa emosi Rika sudah di ubun - ubun namun Rika harus tetap kelihatan santai dan elegan.
"Jeng Lisa, Zovita baik - baik saja. Kamu lihat kan kondisi kami? bahkan tanpa undangan dari mu Zovita Chalista Suryadarma masih tetap anak dari seorang pejabat kaya, Irwan Suryadarma, kehadiran Defa tidak mempengaruhi kehidupan Zovita sama sekali," sahut Rika dengan nada tinggi.
Ibu Defa langsung tercengang.
Hah!
"Apa katamu??? menurut mu apa dengan kondisi Zovita itu ada lelaki yang mau dengan nya??? kamu tidak bisa sombong lagi Rika, aku yakin Zovita tidak akan pernah bisa bahagia, meskipun ayah nya seorang pejabat tidak bisa mengubah status nya."
Ibu Defa semakin keterlaluan membuat Rika kehilangan kesabaran nya.
Dia ingin membuat Ibu Defa menyesal dengan apa yang telah dia ucapkan.
Nikita seperti seorang pecundang yang mematung kebingungan, wajah nya sangat tegang menyaksikan dua wanita yang sudah tidak muda lagi sedang bersikeras dengan keangkuhan nya.
"Jeng Lisa! tanpa Zovita anakmu si Defa itu tidak akan bisa di terima di perusahaan elit itu, kamu tahu bahwa semua itu berkat Zovita, dia di terima kerja karena Defa seorang kekasih dari anak Irwan suryadarma, ingat itu!!" Kali ini Rika tak mau kalah.
"Defa mencapai semuanya karena hasil kerja keras nya sendiri bukan karena si Zovita ya." Ibu Defa masih terus membuat darah Rika naik.
Nikita berusaha mendinginkan suasana, karena semakin panas.
Memegangi tangan kanan Ibu Defa, dan berbisik.
"Sudah, Tante kita pulang saja, tidak enak ribut di rumah orang," ajak Nikita membujuk Ibu Defa agar segera pulang.
"Bawa dia pergi, gadis sialan ! kalian hanya mengotori rumahku saja dan membuang waktu berharga ku," timpal Rika kepada Nikita.
Rika segera pergi dari hadapan Ibu Defa dan Nikita, melangkah menaiki satu persatu anak tangga.
"Hei, Ingat !!!! Anakmu itu harus tau posisi nya, dia itu siapa? jangan pernah macam-macam sama keluarga Irwan Suryadarma kalau hidup nya mau tenang," celetuk terakhir Rika sekaligus penutup sebelum pergi meninggalkan Ibu defa.
Hah!
"Dasar wanita angkuh, dia pikir dia siapa?" Ibu Defa masih memaki.
__ADS_1
"Ayo tante kita pergi saja," ajak Nikita menggandeng tangan Ibu Defa.
"Silahkan lewat sini Nyonya, miss Rika menyuruh anda segera meninggalkan rumah ini." Asisten Rika menuntun Ibu Defa atas perintah Rika.
"Saya tahu! kamu pikir saya betah lama-lama disini hah? lepaskan tangan saya, saya bisa sendiri." Ibu Defa melepaskan tangan asisten Rika yang mencoba mengajak nya keluar.
Suasana itu pun pecah dan Rika merasa dia harus memberikan Defa pelajaran, karena menurutnya kedatangan Ibu nya seperti mengajak nya memulai perang.
Nikita membawa Ibu Defa memasuki mobil nya, lalu sebelum meninggalkan rumah Rika Nikita seperti tersenyum puas dan senang dengan apa yang terjadi, seperti nya Nikita sengaja memancing agar Ibu Defa dan Rika bertengkar.
Memang itulah tujuan nya.
Nikita membuat misteri baru, karena dia muncul secara tiba-tiba di tengah peristiwa yang menimpa Zovita.
***
Zovita kini asyik dengan kucing baru kesayangan nya yang baru dia namai Katy.
Kehadiran Katy membuat Zovita merasa punya teman baru, dia lebih suka berbicara dan bercerita kepada kucing nya dari pada sama manusia lainnya disitu.
"Bi, tadi bi Wati berbicara sama siapa di seberang jalan sana?" tanya Zovita yang ternyata melihat bi Wati saat memergoki Alan.
Bi Wati bingung mau jawab apa, takut salah dan khawatir Zovita takut.
"Oh, itu dia lelaki yang tempo hari mau nabrak kamu itu, dia mau meminta maaf tadi dan menanyakan kondisi kamu," ujar bi Wati sedikit berbohong.
"Kenapa tidak langsung menemui aku? kenapa hanya di seberang jalan?" Zovita semakin bertanya - tanya.
"Mau nyapa kamu tapi kamu sedang asyik sekali sama si Katy, takut ganggu katanya."
"Oh gitu, aduh katy kamu mau kemana jangan lari dong."
Zovita mengejar Katy yang terus berlari ke arah kamar nya.
Bi Wati ikut tertawa bahagia melihat Zovita yang sekarang semakin banyak tersenyum
_________
__ADS_1