Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Perseteruan


__ADS_3

Di Rumah Defa, ada Nikita yang sedang sibuk memainkan ponsel nya, sikap Nikita seperti sedang berada di rumah nya sendiri, keluar masuk tanpa permisi.


Tiba-tiba Defa muncul.


"Nikita!!! apa benar kemarin kamu sama mamah ke rumah pak Irwan?"


Nikita terkejut dan menjatuhkan ponsel nya.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Nikita, dia bingung kenapa Defa bisa tau atau mungkin ibu nya yang memberitahu.


"Jawab, Kenapa diam?" bentak Defa dengan nada kesal nya.


"I-iya, Def. kamu tahu darimana?" Nikita malah balik bertanya.


"Tahu dari mana itu sekarang tidak penting, Nikita, aku bingung apa sih yang ada di pikiran kalian? datang ke rumah Pak Irwan lalu memberi nya undangan? gila kali ya," pekik Defa semakin tersulut emosi.


"Aku hanya di ajak sama mamah kamu, Def, aku tidak mungkin menolak ajakan dia, bisa marah nanti." Nikita mencoba mengelak agar Defa tak menyalahkan nya.


"Ah sudah lah, kamu juga hanya jadi kompor saja, Nikita, kamu tidak bisa mendinginkan suasana malah tambah panas, seharusnya kamu membujuknagar mamah tidak kesana," tambah Defa.


"Sekarang pak Irwan jadi semakin marah sama aku, kalian sama saja membangun kan harimau yang sedang tidur tau tidak?"


Defa tak bisa menyembunyikan kekesalan nya di depan Nikita, meskipun kini Nikita akan menjadi istri nya.


"Aku minta maaf, Defa, terus bagaimana sekarang? apa Pak Irwan itu mengancam kamu ya?" tanya Nikita yang seolah khawatir pada Defa.


"Entahlah, pokoknya aku tau sekali seperti apa Pak Irwan itu sama istri nya, dia tak akan melepaskan siapapun yang membuat dia marah," ujar Defa menekankan Nikita tentang bagaimana mantan calon mertua nya itu.


Nikita mengernyitkan dahi, namun wajah nya kini berubah menjadi senyum yang sangat licik seperti rencana nya telah berhasil.


Mungkin tak ada yang tahu apa maksud kedatangan Nikita di keluarga Defa, saat Defa di timpa masalah tiba - tiba dia hadir.


"Kamu tenang saja Defa, jangan khawatir. Aku yakin pak Irwan tidak akan berani macam-macam sama kita." Nikita berusaha menenangkan Defa dan mengambil hati nya.


"Kamu tidak kenal lebih dalam siapa pak Irwan itu, aku sudah tahu seluk beluk nya dan konsekuensi nya apa karena aku pernah berhadapan dengan nya," ujar Defa yang masih khawatir.


"Lebih baik kalian tidak bertemu dulu dengan nya, apalagi ketemu sama istri nya, dia lebih licik, dia punya banyak mata-mata " imbuh Defa lagi.

__ADS_1


Nikita mencoba mencerna yang di katakan Defa, namun dia tak sedikitpun merasa khawatir karena menurutnya itu bukan masalah besar baginya.


Defa, begitu saja meninggalkan Nikita, sementara Nikita terus memandang nya penuh ambisi, dia merasa telah berhasil merebut seorang lelaki dari wanita yang pernah menjadi teman nya.


***


Di Rumah Rika telah menceritakan semua nya kepada suami nya, Irwan.


Dia berjanji akan membuat Defa dan keluarga nya menyesal, tidak akan membiarkan Defa mendapatkan kebahagiaan.


"Kalau kamu meladeni Defa sama saja dengan membuang waktu mu, lebih baik kamu urus Zovita dan bagaimana mental nya sekarang." Irwan memulai percakapan bersama Istrinya, Rika.


"Kamu pikir selama ini aku hanya diam? aku sudah tau dan lihat perkembangan anakmu itu, Zovita kini jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan dia sudah bisa tersenyum kembali," ucap Rika tak ingin di remehkan oleh suaminya.


"Bagaimana kamu bisa tahu? apa kamu mengirim orang untuk mengawasi Zovita?" tanya Irwan penasaran.


Rika hanya membalas dengan senyuman tipis khas nya.


"Kamu tidak perlu tahu, aku bahkan lebih tahu apapun yang kamu tidak tahu, Mas," ujarnya merasa sombong.


Irwan menikahi Rika karena dia merasa bahwa Rika sangat suka karir politik nya, dia butuh partner sekaligus orang yang mendukung nya di karir nya.


Ambisi Irwan yang membuat nya bercerai dengan Ibu Zovita dulu, karena Irwan di larang oleh Ibu nya Zovita untuk berkarir di dunia politik, sementara Irwan tidak mau siapapun mencegah ambisi nya.


"Jangan beri tahu alamat Zovita pada siapapun, termasuk Defa. Jangan sampai dia menemui Zovita, kalau dia tahu lokasi Zovita lebih baik segera pindahkan Zovita, jauhkan dari lelaki sialan itu!"


Irwan memberi tahu Rika dengan perasaan nya, yang sudah tidak bisa memaafkan Defa karena perlakuan nya kepada Zovita.


"Defa tidak akan berani menemui Zovita lagi, karena aku sudah suruh orang untuk awasi Defa, dan sedikit memberinya pelajaran agar Defa tidak macam - macam lagi kepada kita."


Rika meyakinkan suaminya, dan sudah mengatur rencana sedemikian rupa tanpa sepengetahuan Irwan.


Tiba - tiba ponsel Rika berbunyi.


Rika melangkah dan berlalu dari hadapan suaminya, untuk mengangkat telepon dari seseorang.


Irwan hanya asyik menghisap rokok nya.

__ADS_1


"Iya ada apa?" tanya Rika segera menjawab panggilan itu.


"Miss, apalagi yang harus saya lakukan? apa misi saya sudah selesai?" Seseorang di ujung telepon bertanya.


Ternyata panggilan telepon dari Alan.


"Tunggu, jangan pergi dulu, kamu masih tetap harus disitu karena saya khawatir kalau Defa akan menemui Zovita, karena yang saya tahu dia sedang mencari alamat Zovita sekarang," jawab Rika.


"Kamu hanya terus awasi Zovita, dan jangan biarkan orang luar yang bukan keluarga menemui Zovita, kamu paham?" sambung Rika.


"Siap, Miss, saya akan laksanakan sesuai perintah anda. Tapi sepertinya bi Wati itu curiga kepada saya, Miss, dia ingin sekali tahu tentang saya."


Alan memberitahu Rika sikap bi Wati yang sudah mulai curiga kepadanya.


"Kalau masalah Wati itu urusan saya, kamu fokus saja sama tugasmu jangan sampai ada yang terlewat."


Rika terus memberi tugas kepada Alan untuk tetap mengawasi Zovita, padahal dia takut bahwa identitas dia terungkap oleh warga desa.


"Siap, Miss," jawab tegas Alan.


Alan menutup telepon nya.


Kali ini Alan merasa menjalani pekerjaan yang sangat lama, karena biasanya hanya beberapa hari saja selesai, namun Alan di suruh untuk mengawasi gadis dewasa seperti mengawasi anak TK pikirnya.


Bi Wati, sejak kepergian ibu Zovita, Irwan dan Istri nya lah yang mengambil alih dirinya, serta tugasnya kini bekerja kepada Irwan dan Rika.


Sementara Alan, bisa masuk perguruan tinggi berkat bantuan Irwan dan Rika, Ayah Alan adalah sopir pribadi Rika sementara Ibu nya, Susi sudah lama menjadi asisten Rika.


Alan sebagai ucapan terima kasihnya kepada keluarga Irwan, akhirnya bersedia mengabdi untuk keluarga Irwan dan menuruti perintah Rika, juga untuk membantu membiayai kuliah nya.


Usia Alan yang kini memasuki kepala tiga, menjadi mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis, karena Alan ingin menjadi pebisnis sukses seperti impiannya.


Alan mempunyai satu adik perempuan yang masih duduk di Sekolah Menengah Atas, karena adik Alan ikut nenek nya di kampung maka Alan ikut membiayai kebutuhan adik dan nenek nya itu, meski orang tua nya juga bekerja.


Alan selalu di tuntut untuk bekerja keras oleh kedua orang tua nya karena seorang laki - laki itu harus bekerja keras, katanya.


___

__ADS_1


__ADS_2