Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Sisi lain dari Sofie


__ADS_3

Sofie mulai berspekulasi bahwa ternyata Alan itu orang suruhan Miss Rika, dan kucing itu adalah sebagian rencana nya, kini dia tahu bagaimana harus mendekati Alan, dia sudah punya kartu sakti, dia yakin bahwa Alan pasti akan segera tertarik dengan nya.


****


" Vita, ada telepon dari Ayahmu," Bi Wati memberikan sebuah handphone kepada Zovita, lagi-lagi Zovita menolak untuk berbicara dengan Ayahnya, rasanya sama saja, dia juga terbiasa tanpa Ayahnya.


Zovita hanya ingin ibunya kembali, seandainya dia bisa memilih.


" Aku mau istirahat bi, bilang saja begitu," ungkap Zovita sambil merebahkan badannya di kasur.


" Hallo Pak Irwan, Zovita mau istirahat katanya, karena seharian ini dia asyik bermain diluar bersama kucing nya,"


Bi Wati memberitahu Irwan di balik telepon.


Irwan kesal mendengarnya, sudah bulan ke berapa dia masih tidak mau berbicara dengannya.


Irwan nyeletuk.


" Alasan dia saja!!! yasudah." dengan nada marah Irwan menutup teleponnya.


Bi Wati sudah terbiasa dengan itu, dia hanya mengelus dada karena selalu mendengar bentakan Irwan.


" Vita, kamu jangan gini terus, misal kamu tidak mau berbicara dengan orang lain setidaknya ini Ayahmu, kamu tidak boleh begini kepadanya." Bi Wati memberi nasihat kepada Zovita karena dia tahu bahwa Ayahnya sangat mengkhawatirkan dia.


" Bi, aku sudah biasa tidak berbicara dengannya, semenjak bercerai dengan Ibu apa dia peduli padaku? apa dia menanyakan keadaanku? Tidak!" jawab Zovita yang sangat emosi.


" Tapi Vita, kali ini dia ingin memperbaiki kesalahannya, dia hanya mengkhawatirkan kamu, karena Ibu mu telah tiada dia hanya ingin kamu tidak kehilangan sosoknya," sambung bi Wati lagi.


" Bukannya sosoknya memang sudah menghilang sejak aku berusia 5 tahun, kini tiba-tiba dia ingin kembali? kemana saja dia." Zovita yang terus menimpali Bi Wati dengan emosi yang semakin tersulut.


" Vita,, bi Wati hanya ingin kamu tidak seperti Ayahmu, kamu harus tunjukkan padanya kalau kamu tidak angkuh seperti dia, kamu itu sangat lembut seperti almarhum Ibumu, ingat itu Vita." ucap Bi Wati membuat Zovita jadi ingat kenangan bersama Ibunya dulu.


" Bi,, seandainya mereka tidak bercerai aku pasti tidak akan begini kan bi?" ucap Zovita lirih diiringi dengan tangisan nya.


Air mata langsung menetes di pipinya.


Bi Wati merasa bersalah, lalu menghampiri Zovita dan memeluknya.

__ADS_1


" Kalau mau menangis, menangislah Vita ada bi Wati disini." sambung bi Wati sambil terus mengelus punggung Zovita.


Tangis Zovita semakin kencang.


Bi Wati juga ikut menangis, sebagai orang yang sudah melihat tumbuh kembang Zovita dari kecil, bi Wati menganggap Zovita seperti anaknya sendiri.


Tentu saja membuat Sofie iri.


Sofie merasa bahwa Zovita terlalu berlebihan, bahkan kasih sayang ibunya dia ambil, awalnya Sofie hanya ingin lebih dekat dengan Zovita, ingin menjadi teman nya, karena tempo hari dia tak mendapat respon positif dari Zovita membuat Sofie kecewa, apalagi sejak kehadiran Alan, Sofie yang tertarik kepada Alan merasa bahwa kehadiran Zovita sangat mengancam.


Sofie melihat ke ponselnya, sepertinya tadi dia berhasil mengabadikan momen pertemuan Alan dan Rika, ibu tiri Zovita.


Sofie menatap gambar itu dengan senyuman liciknya, kini dia merasa bahwa dia telah menggenggam nasib Alan.


Bi Wati yang keluar dari kamar Zovita kaget melihat Sofie sudah berada di samping pintu Zovita, masih menatap ponselnya.


" Sofie!!! apa yang kamu lakukan disini?" kemunculan bi Wati membuat Sofie kaget dan menjatuhkan ponselnya.


" Ah, mamah bikin kaget saja." ungkap Sofie yang memungut ponselnya dari lantai.


Bi Wati menatap ponsel Sofie, penasaran gambar dengan apa yang ada di dalamnya.


Sofie yang takut ketahuan langsung menarik ponselnya dan dia genggam dengan erat.


" Ih mamah jangan kepo deh, apa sih." Sofie langsung melarikan diri dari hadapan Ibunya.


Bu Wati curiga, namun pikiran itu segera dia tepis karena dia yakin anaknya tidak akan macam-macam.


Sofie semakin berbunga-bunga setiap kali memandang foto Alan di hp nya, dia ingin terus melihat Alan, Sofie pun mengirim pesan kepada Alan.


Alan yang tengah asik menghisap rokok di tangannya, langsung menatap ponsel nya yang muncul notifikasi ada pesan baru.


Alan membacanya seksama.


Pesan dari Sofie.


Sore Alan, bisa bertemu sore ini? di tempat biasa kamu makan, di persimpangan jalan itu'

__ADS_1


" Kenapa dia bisa tahu nomorku? perasaan aku belum pernah menghubungi dia," Alan bertanya pada dirinya sendiri.


Bagus dari dalam kamarnya mendengar ucapan Alan.


" Siapa lan? oh iya lan itu anaknya bi Wati tempo hari minta nomormu, saat aku lagi ngopi di warkop dekat rumahnya, terus aku kasih katanya penting." timpal Bagus dari dalam.


" Oh pantas, sialan main kasih aja!!!! penting apanya?" Alan berdecak kesal.


" Heh, di chat cewek bukannya seneng malah kesel aneh banget sumpah!" Bagus menimpali lagi dengan celetukan yang meledek Alan.


" Berisik kamu!!! aku gak tertarik sama cewek-cewek apaan, buang waktu aja," kata Alan yang terus kesal kepada Bagus.


" Lan kalo gak mau buat aku aja, dia sepertinya penasaran sama kamu, terus menanyakan kamu setiap bertemu," kata Bagus jelas.


" Sono gih... apa peduliku, buat apa dia penasaran padaku?" sambung Alan.


" Ya dia suka sama kamu lan, dasar cowok aneh cowok beg* kamu, di usia segini harusnya mikir mulai cari pasangan nanti keburu mati." Bagus malah menimpali Alan dengan suara yang lantang.


" Bodo amat!!! kamu aja sono yang cari pasangan, aku gak mau pusing, nikmati saja hidup saat ini." kata Alan dengan gaya santai nya, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


" Yaudah ya terserah deh terserah!!! dah sono tidur." Bagus akhirnya dibuat geram oleh tingkah sahabatnya itu.


Menurut Bagus, Alan tipe orang yang susah jatuh cinta, di sakiti cewek sekali, jomblo nya bisa bertahun-tahun.


" Aku kalau punya wajah tampan kaya si Alan juga udah kugaet banyak cewek, dasar tampang aku aja yang apa adanya, hu hu" Bagus ngedumel sendiri.


Sementara Alan yang mendengarnya dari balik selimut acuh saja. Sudah biasa mereka berdebat layaknya kakak beradik.


Menjadi partner kerja Alan lumayan lama, membuat Bagus menganggap Alan seperti adiknya sendiri, selisih umur mereka hanya 2 tahun, tapi perbedaan tampang mereka yang sangat jauh, Bagus kadang minder saat jalan bareng Alan sering di sangka asisten Alan.


" Serba salah emang punya tampang pas-pasan, mau deketin cewek, yang deketin siapa yang dia suka siapa, emang dasar muka gak good looking." Bagus masih ngedumel di depan cermin yang membuat Alan tertawa terpingkal-pingkal.


" Jangan ngeledek lan, molor aja sono!!!" ujar Bagus sembari melempar sisir ke arah Alan.


" Awww... sialan!!!" Alan yang terkena lemparan sisir Bagus langsung bergegas membuka selimutnya, saat dia buka selimut Bagus sudah lari terbirit birit.


Bagus pun tertawa.

__ADS_1


Begitulah kelakuan Alan dan Bagus setiap harinya.


______


__ADS_2