
Pak Jodi tidak bisa menemui Alan karena alasan identitas nya takut di ketahui oleh Sofie, sebab pandangan Sofie benar-benar tidak luput dari Alan.
Sofie juga sangat ingin tahu urusan orang, kemunculan nya tanpa di duga, selalu ada di mana saja, bi Wati sering memperingati anaknya itu namun Sofie sangat keras kepala sekali.
" Sofie, kamu pasti menguping obrolan Miss Rika sama pak Jodi kan?" bi Wati pun segera menanyai Sofie karena tidak sengaja memergoki Sofie yang sedang menguping di samping tembok rumah itu.
" Aku tidak menguping, Mah. Bahkan aku tidak mendengar mereka bicara apa, karena sangat jauh, aku hany melihat gerak gerik nya saja, karena mereka sangat mencurigakan." ujar Sofie mengelak.
" Sudah, pokok nya kamu jangan ikut campur, itu kan urusan mereka, kita ini cuma orang kecil jadi jangan terlalu dalam mencampuri urusan orang-orang besar," tambah bi Wati terus memberi tahu Sofie, karena bi Wati sendiri sangat khawatir.
" Siapa yang ikut campur mah? aku ini cuma kebetulan lewat kok, di pikir aku ini tidak ada kerjaan apa mah," jawab Sofie merungut, dia kesal kepada Ibu nya yang selalu berprasangka buruk terhadap nya.
" Bagus lah kalau begitu." timpal bi Wati sambil pergi ke arah dapur.
Padahal di benak Sofie, dia sudah mengantongi banyak informasi yang ibu nya tidak tahu, Sofie harus lebih hati-hati lagi, tidak boleh sampai Ibu nya tahu bahwa dia memang mengawasi gerak gerik Rika, Alan dan pak Jodi.
" Aku curiga, jadi sebenarnya ada hubungan apa antara Alan, miss Rika dan pak Jodi si sopir pribadi miss Rika?" ujar Sofie bertanya-tanya, dia menoleh ke kanan dan kiri berharap tak ada yang mendengar nya, kemudian segera memasuki kamar nya.
Sementara saat sore hari di teras rumah, Rika menghampiri Zovita yang tengah duduk menatap dedaunan yang rindang.
" Vita, nanti malam kita dinner ya keluar, kamu sudah lama kan tidak makan diluar?" ajak Rika kepada Zovita.
Zovita belum mengiyakan ajakan Ibu tiri nya, dia masih fokus dengan lamunan nya.
" Mengapa tidak makan malam di rumah saja, Ibu? disini juga lebih indah kalau malam, bagaimana di samping halaman rumah ini? jika malam tiba akan banyak bintang disini." ujar Zovita menolak untuk makan diluar, dia malah menyarankan untuk makan malam di halama rumah nya.
" Disini? kamu serius, Vita?" jawab Rika terlihat seperti jijik.
" Iya. Kita lihat nanti malam deh, setiap malam aku bahkan menghitung banyak nya bintang di atas sana," tambah Zovita menatap ke langit, dia langsung tersenyum.
" Aduh, lebih baik di dalam rumah saja deh, masa makan malam di halaman rumah begini, kamu aneh deh, Vita." timpal Rika akhirnya menyerah untuk mengajak Zovita pergi.
" Jadi tidak perlu makan di luar kan?" tambah Zovita.
" Tidak jadi, Vita. Aku mau pergi ke cafe sebentar ya, ada sesuatu yang mau di kerjakan, dah Vita." Rika pamit kepada Vita untuk pergi ke sebuah cafe.
Zovita memaklumi Ibu tiri nya itu, karena memang dia sendiri tahu betul, Rika senang sekali nongkrong di cafe, meski hanya sekedar minum kopi, sering kali makan diluar bersama teman sosialita nya, Zovita sering melihat Rika mengunggah kegiatan nya di sosial media.
__ADS_1
Zovita membalas lambaian tangan Rika.
Bi Wati yang selalu setia ada di samping Zovita ikut tersenyum melihat Rika pergi.
" Aku heran, Bi. Bahkan dia baru tahu desa ini, tapi sudah tahu tempat nongkrong, apa dia sering kesini ya?" Zovita yang heran dengan sikap Rika bertanya-tanya.
" Jaman sekarang kan ada hp neng, bisa saja dia lihat tempat-tempat nongkrong lewat hp kan," balas bi Wati cukup masuk akal juga.
Zovita hanya mengangkat kedua bahu nya, di dalam hati nya mengucap 'Mungkin'.
Zovita masuk ke dalam rumah menaiki anak tangga menuju kamar nya,
****
Sofie yang kebetulan lewat jalan dekat Alan tinggal, dia melihat Alan sedang membersihkan mobil di teras rumah.
Sofie segera menghampiri Alan.
" Tumben kamu sore-sore nyuci mobil?" Alan di kagetkan kemunculan Sofie.
Alan langsung menoleh ke belakang, Sofie berdiri menatap diri nya dengan raut wajah yang sangat berbunga-bunga.
" Memangnya nyuci mobil sore tidak boleh ya?" sahut Alan.
" Baru lihat saja kamu nyuci mobil, biasanya si Bagus." timpal Sofie, Alan terdiam sejenak, bahkan Sofie tahu bahwa Bagus setiap sore mencuci mobil.
" Kok kamu tahu? apa sering lihat si Bagus nyuci mobil?" Alan bertanya balik.
" Iya kebetulan saja aku sering lewat sini." jawab Sofie yang tak henti-henti nya melebarkan senyum nya untuk Alan.
" Kebetulan? kok bisa kebetulan hampir setiap hari? jangan-jangan kamu ini mengawasi si Bagus ya? kamu suka sama dia?" Alan meledek Sofie, senyum Sofie mendadak berubah jadi manyun.
Bisa-bisa nya Alan menganggap dia menyukai Bagus, dia tidak menyadari bahwa Sofie itu menyukainya.
" Apa yang membuat aku suka sama Bagus? kamu aneh-aneh saja," sahut Sofie masih manyun.
Alan menyeringai tipis.
__ADS_1
" Oh ya, kalau kamu mau main masuk saja ada si Bagus di dalam," Alan menawarkan Sofie untuk mampir ke dalam.
" Aduh malas sekali bertemu Bagus, aku hanya lewat tadi habis lihat nenek, rumah nenekku di sebelah sana." ujar Sofie yang menunjukan sebuah rumah kepada Alan.
Alan hanya mengangguk.
" Lalu kenapa sekarang kamu tinggal di rumah Zovita?" tanya Alan penasaran.
" Ibu ku yang meminta, aku diminta untuk menemani nya disana," tambah Sofie.
" Ohhh." Alan hanya merespon kalimat yang singkat sekali.
" Alan!!! aku mau bertanya sesuatu padamu," Sofie tegas sekali menyebut nama Alan membuat Alan ingin menyimak.
Alan menghentikan aktifitas nya, dia duduk di sebuah kursi kecil dan meregangkan kedua tangan nya.
" Tanya apa?" jawabnya.
Sofie mau menanyakan perihal hubungan Alan dengan miss Rika yang dia lihat tempo hari di sebuah cafe, namun dia khawatir dia akan salah paham.
" Ah tidak, aku lupa, lupakan saja!" ucap Sofie yang mengurungkan niat nya untuk bertanya kepada Alan.
Alan sudah dibuat penasaran, langsung menelan kecewa, padahal dia juga ingin mengorek informasi apa saja yang sudah Sofie ketahui.
" Hei, apa yang kalian berdua lakukan? kenapa berbincang disana? ayo dong kemari," suara Bagus membuyarkan pikiran Alan.
Sofie menoleh ke arah Bagus, hanya mengangguk. Alan kembali membersihkan mobil nya.
" Kamu masuk saja Sofie, aku masih harus melanjutkan pekerjaan ku." ujar Alan mempersilahkan Sofie masuk.
Sofie mau menolak, namun dia penasaran juga dengan apa yang ada di dalam rumah yang di tinggali oleh Alan dan Bagus.
Sofie memasuki rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
Alan segera mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku nya, dia merasa rencana nya berhasil membuat Sofie masuk ke dalam rumah. Bagus membawakan sebuah minuman untuk Sofie dan menoleh kepada Alan, jari nya memberi Alan isyarat, tanda Oke.
Alan menyeringai.
__ADS_1
Tersenyum manis menatap layar ponsel nya.
___