Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Gagal bertemu


__ADS_3

Langkah Alan yang semakin dekat menuju ke arah Defa yang masih asik bersandar di pintu mobilnya.


" Hei, siapa anda? ada keperluan apa anda disini ya?" Alan mengagetkan Defa.


Defa menoleh.


" Saya ada perlu, namun tidak diijinkan masuk oleh pemilik rumah ini," ujar Defa sembari menunjuk rumah Zovita.


" Mau bertemu siapa? perlu kubantu?" tanya Alan menawarkan diri kepada Defa.


" Oh tidak perlu, sepertinya dia memang tidak mau menemuiku, saya hanya mau melihatnya dari jauh saja." timpal Defa sok bijak, padahal dia bersikeras ingin berbicara dengan Zovita.


" Maaf, namun mobil anda mengganggu mobil lain yang akan lewat, mungkin sebaiknya anda segera pergi karena jalanan ini tidak cukup luas." ucap Alan yang mengusir Defa secara halus.


" Apakah begitu? oke saya segera pergi." ungkap Defa membuka pintu mobilnya dan segera membawa mobilnya pergi dari hadapan Alan.


Alan hanya mengacungkan jari jempolnya sebagai tanda setuju.


" Wah keren kau lan, bisa mengusir cepat lelaki brengs*k itu tanpa emosi," ujar Bagus yang nongol di belakang Alan.


Alan masih terdiam menatap halaman rumah Zovita, dia berharap bahwa Zovita tidak melihat kehadiran Defa, karena khawatir dia akan mengingat rasa sakitnya.


Tak lama Sofie datang, menghampiri Alan.


Kemunculan Sofie yang tiba-tiba selalu membuat Alan dan Bagus semakin waspada, karena dimanapun mereka berada Sofie selalu ada.


" Alan, apa yang kau lakukan? dan dimana lelaki tadi? apa kamu mengusirnya?" tanya Sofie penasaran seolah mencurigai Alan.


" Lelaki tadi? apa kamu mengenalnya? aku tidak mengusirnya, hanya bertanya lalu dia segera pergi," jawab Alan tegas.


" Hei Sofie, kamu tau ada lelaki tadi disini? kamu dari tadi disini?" sambung Bagus heran.


" Haaa, oh tidak!! tadi aku di dalam rumah dan lelaki itu ingin menemui Zovita, namun diusir oleh ibuku," ujar Sofie.


" Diusir? kenapa?" Alan bertanya balik.


" Kamu tahu Alan siapa lelaki barusan?" Sofie kembali bertanya pada Alan.


" Siapa?" Alan penasaran berpura-pura tidak tahu.


" Dia lelaki yang menggagalkan pernikahannya dengan Zovita, lelaki yang dulu menjadi kekasihnya." jawab Sofie.

__ADS_1


" Maksud kamu mantan?" sambung Bagus lagi.


Sofie hanya mengangguk sambil melebarkan senyuman di bibirnya.


" Lalu apa yang dia lakukan disini? kenapa dia datang kembali kesini? apa tujuannya?" timpal Alan yang seolah mikir.


" Kenapa kamu mau tahu Alan? apa pedulimu? lalu kenapa tiba-tiba kamu bersama si Bagus datang kesini? apa ada yang memberitahumu?" ujar Sofie sok polos, padahal sepertinya Sofie sudah mengetahui siapa Alan.


" Apa maksudmu? aku hanya lewat dan melihat mobil yang terparkir di depan sini, lalu aku penasaran,"


Alan masih menjawab kecurigaan Sofie dengan tenang, dia sadar sepertinya Sofie sudah terlalu jauh tahu tentang dirinya, namun hanya pura-pura polos saja.


" Oh ya? sangat kebetulan." ucap Sofie lirih, matanya melirik Alan.


Bagus melirik Alan, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya, pertanda bahwa Bagus cemas identitas nya di ketahui oleh Sofie.


" Lalu kamu Sofie? secara kebetulan juga kamu tiba saat ada lelaki itu datang? apa kamu yang memberitahu dia?" Bagus kembali memberikan Sofie sebuah pertanyaan, Sofie mencoba tenang dan hanya terus tersenyum kecil.


" Memang lelaki itu mencari tahu? bukankah dia datang sendiri kemari? kenapa kamu seolah tahu bahwa dia tidak tahu alamat Zovita tinggal?" jawab Sofie yang membuat Alan menaikkan alis nya.


Bagus terdiam.


" Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan, oh Bagus bukankah kita tadi mau ke supermarket? ayo jangan buang waktu," timpal Alan segera mengajak Bagus untuk masuk ke dalam mobil.


" Sofie kita harus pergi." ujar Alan pamit kepada Sofie yang masih menatap Alan dengan senyuman tipisnya itu.


" Alan, kita akan sering bertemu." timpal Sofie dengan melambaikan tangannya ke arah Alan.


Alan segera melaju dengan mobil nya.


Dari kaca spion, Alan melihat Sofie yang selalu menatap dirinya dengan wajah penuh kecurigaan.


Alan sedikit khawatir Sofie tahu identitasnya dan memberitahu Zovita.


" Lan, benar kan apa kataku, si Sofie itu mencurigakan." Bagus memulai percakapan di dalam mobil nya yang sedang melaju.


" Benar kata Miss Rika, kita harus hati-hati kepadanya, dia sepertinya menguntit kita, dia berbahaya menurutku, kita tidak boleh lengah, Gus." ucap Alan kembali mengingatkan sahabatnya itu.


Bagus pun mengangguk.


****

__ADS_1


Di dalam rumah Zovita, Zovita mencoba mengagetkan lamunan bi Wati.


" Dorrr."


Bi Wati yang sedang bengong, di kagetkan Zovita hingga ponsel yang dia pegang terjatuh.


" Ya ampun, Vita!!!!"


Bi Wati segera memungut ponsel nya.


" Lagian bengong, ada apa sih bi? sedang memikirkan apa?" tanya Zovita kepada bi Wati.


" Tidak apa-apa, bi Wati hanya sedang memikirkan Sofie," jawab bi Wati singkat.


" Ada apa dengan Sofie? apa dia membuat bi Wati kesal lagi?" sambung Zovita.


" Tidak Vita, bi Wati kasian Sofie sangat ingin tinggal bersama bibi tapi bagaimana?" lanjut bi Wati, padahal bi Wati bukan sedang memikirkan anaknya.


" Oh, ya sudah bi, biarkan Sofie tinggal disini bersama kita, pasti rumah ini juga lebih ramai kan?" Zovita menyarankan bi Wati untuk mengajak Sofie tinggal di rumah itu.


" Ah tidak Vita, dia itu suka bikin ulah nanti kamu malah terganggu, dan pasti kamu juga tidak nyaman lagi," bi Wati menolak mengajak Sofie tinggal bersamanya, karena dia tahu betul sikap anaknya itu yang selalu buat ulah.


" Tidak bi, percaya deh aku bakal seneng kalau rumah ini ramai, aku sudah tidak ingin kesepian lagi bi," sambung Zovita.


Bi Wati hanya menghela napas, menatap wajah Zovita yang sudah mulai berubah, kinu wajahnya kembali ceria tidak seperti pertama kali datang ke rumah itu.


" Baiklah Vita, bi Wati ikut senang kalau kamu senang." akhirnya bi Wati pun setuju agar Sofie ikut tinggal bersamanya.


Zovita tertawa bahagia, dia sangat polos dan selalu menganggap Sofie saudara baginya.


" Oh ya bi, tadi ku dengar ada yang datang ya siapa?" pertanyaan Zovita membuat bi Wati kaget, bi Wati mengira Zovita tidak mendengarnya, ternyata dia tahu.


" Oh itu Vita, tadi petugas RT mau meminta iuran bulanan, biasa." bi Wati menjawab Zovita asal, akhirnya dia punya jawaban agar Zovita percaya.


" Ohh..." Zovita hanya melontarkan kata itu dan dia kembali ke kamarnya, sedikit mengingat suara yang menurutnya tidak asing lagi di telinga nya.


Meskipun dia tertidur, namun dia mendengar suara itu, dia menganggap suara itu tidak asing, dia sangat mengenalnya, tapi siapa?


Zovita yang menyimpan banyak pertanyaan di benaknya.


Dia menepisnya, mungkin itu karena pikirannya yang masih selalu mengharapkan Defa, lelaki yang sudah meninggalkan dia dan membuang nya seperti kotoran.

__ADS_1


_____


__ADS_2