Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Alan yang panik


__ADS_3

Di meja makan, bi Wati meletakkan makanan yang telah di berikan oleh Alan untuk Zovita.


"Apa ini, Bi?" tanya Zovita penasaran.


"Ini kue tradisional khas desa ini, Vita, dari Alan," sahut bi Wati sambil menaruh nya tepat di depan Zovita.


"Alan? apa dia kemari?" Zovita sangat bahagia begitu mendengar nama Alan.


"Iya, tadi." Bi Wati terus menyiapkan beberapa menu di atas meja makan.


Rika dan Rachel pun muncul bersamaan.


"Wati, apa yang kau suguhkan untuk Vita? jangan sembarangan ya," bentak Rika kepada bi Wati, sontak Zovita kaget.


"Ini hanya makanan tradisional, Miss," ujar bi Wati yang ketakutan.


Rika menarik makanan yang telah di suguhkan di depan Zovita.


"Aku mau mencoba nya, aku suka kok," ujar Vita kembali menarik makanan itu.


Rika melihat wajah Zovita yang nampak senang dengan makanan itu.


"Kamu jangan sembarangan menerima makanan, Vita, kamu tidak tahu makanan itu berbahaya atau tidak," timpal Rika yang sangat sempurna jika berurusan dengan makanan.


Rachel hanya menatap wajah Ibu nya dengan perasaan yang kurang nyaman, karena Rachel tahu apa maksud Ibu nya itu.


"Ini hanya makanan tradisional, mana mungkin berbahaya," jawab Zovita sambil melahap makanan itu, Zovita sangat menikmati nya.


"Aku mau, boleh aku coba, Kak?" pinta Rachel yang refleks karena melihat Zovita sangat nikmat melahap makanan itu.


"Tidak! Rachel," pekik Rika menepis tangan Rachel yang hendak mencoba makanan itu.


"Hanya sedikit, Mam, sepertinya enak," ujar Rachel yang memaksa langsung mengambil makanan itu kemudian melahap nya dengan cepat.


Zovita melirik wajah Rachel lalu tersenyum, begitu pun bi Wati, lain dengan Rika yang meyaksikan dua wanita di depan nya begitu menikmati makanan yang menurut nya sangat tidak higienis.


"Makanan dari siapa itu, Wati?" tanya Rika yang membuat bi Wati bingung mau menjawab apa, karena jika jujur pasti bi Wati kena omel.


"Itu, Miss, Sofie yang tadi pagi membawakan kemari," ujar bi Wati berbohong.

__ADS_1


Rika melirik sinis bi Wati yang langsung tertunduk, jelas, Rika sebenarnya tahu siapa yang membawakan makanan itu, karena memang Rachel melihat nya, Rika menebak bahwa Alan tidak mengetahui keberadaan dirinya disitu, karena memang Jodi tidak ikut bermalam, hanya mengantar Rika dan Rachel lalu kembali ke kota.


Rika terus mengamati perilaku Alan yang semakin membuat nya curiga, Rika menganggap Alan sengaja mendekati Zovita bukan karena tugas dari nya, melainkan karena Alan sepertinya memang menyukai Zovita, Rika menyantap sarapan nya dengan perasaan yang terburu-buru, karena ingin segera menghubungi Alan untuk memberi peringatan bahwa dia harus menjaga jarak dengan Zovita.


***


"Hei, Alan!" panggil Sofie menghampiri Alan yang baru saja turun dari mobil nya.


Alan hanya menoleh sedikit, karena dia tahu pasti Sofie ingin mengajak nya berbincang, sementara Alan sangat tidak bagus mood nya.


"Kamu dari mana?" tanya Sofie penasaran, lalu melemparkan senyum kepada Alan.


"Dari minimarket, membeli buah," sahut Alan sambil menunjukan tentengan di tangan nya.


"Kalau tahu kamu dari pasar, aku ikut, omong-omong apa kamu tahu di rumah Vita ada Ibu tiri dan adiknya?" ujar Sofie yang membuat Alan terkejut.


"Apa? Ibu tiri nya? sejak kapan?" tanya Alan yang di buat penasaran oleh Sofie, Sofie akhirnya berhasil membuat Alan penasaran.


"Kenapa kamu kaget? apa kamu mengenal Ibu tiri nya?" Sofie sengaja menjebak Alan dengan pertanyaan yang membuat Alan merasa di curigai.


"Aku tidak kaget, aku pernah wawancara dengan nya, bukan berarti aku mengenal nya," ucap Alan yang sangat jelas menunjukkan wajah panik nya.


"Berarti kamu sering bertemu kan?" ledek Sofie sambil tersenyum kecil.


Alan tahu, sepertinya Sofie hanya ingin menjebaknya, kini, Alan harus terlihat biasa saja dan tidak lagi menunjukkan gelagat panik.


"Hanya sekali, di cafe, itu juga karena urusan pekerjaan," timpal Alan yang terlihat lebih rileks.


"Oh, begitu?" ujar Sofie.


"Aku permisi, Sofie, Bagus sudah menungguku di dalam," pamit Alan meninggalkan Sofie yang masih berdiri di dekat mobil Alan.


Sofie hanya mengangguk menatap Alan dengan terus melebarkan senyum nya, saat Alan masuk senyum Sofie berubah dengan ketus dan sinis.


Alan yang terburu-buru masuk ke dalam rumah, terus memanggil nama Bagus.


"Gus!" teriak Alan.


"Apa sih lan?" jawab Bagus yang sedang berada di kamar mandi.

__ADS_1


"Cepetan!!" perintah Alan sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Bagus pun segera keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih membalut tubuh nya.


"Kenapa sih, Lan? kaya habis di kejar setan," timpal Bagus yang langsung duduk di meja makan, kemudian melahap buah yang ada di atas meja.


"Miss Rika sedang ada disini, tanpa memberitahu kita," ujar Alan menghentikan Bagus yang tengah mengunyah makanan.


"What? serius?" jawab Bagus terkejut, Bagus kembali meletakkan buah di atas meja.


Alan yang terlihat panik, langsung duduk tepat di depan Bagus.


Alan menarik nafas panjang.


"Terus? masalahnya dimana?" tanya Bagus bingung karena melihat Alan yang panik.


"Itu dia, Gus, aku tidak tahu dia ada di rumah itu, tadi pagi aku datang membawakan makanan untuk Vita," ucap Alan yang terus memikirkan jawaban jika nanti Rika menghubungi nya.


"Apa? gila kau! lagipula kenapa kau bawa makanan untuknya? memang dia kekurangan makanan apa?" timpal Bagus yang tidak habis fikir dengan tindakan Alan.


Alan sendiri sudah pernah di peringatkan oleh Jodi, ayah nya, agar menjaga jarak dengan Zovita, mengawasi Zovita hanya untuk urusan pekerjaan saja, tidak ada maksud lain.


"Itu dia, Gus." Alan terus mengacak-acak rambut nya.


"Memang siapa yang bilang?" tanya Bagus penasaran.


"Tadi Sofie menyapaku," timpal Alan.


"Memang wanita itu tahu saja, bingung aku, dia seperti intel, selalu selangkah lebih tahu dari pada kita," ucap Bagus yang terus melihat tingkah Alan yang panik itu.


Alan masih terdiam, terus memikirkan jawaban ketika nanti Rika menelepon nya, dia harus siap mendengar ocehan Rika, yang kadang sering membuat nya sakit hati, karena Rika sangat membatasi hubungan antara majikan dan pembantu.


"Bilang saja kau sengaja mengirim makanan itu, karena melihat Miss Rika ada disana gitu saja, jangan kau pikirkan yang jauh dulu," ujar Bagus memberi saran untuk Alan.


Alan tersenyum mendengar saran Bagus, kemudian Alan langsung memasuki kamar dan menutup pintu.


Bagus keheranan melihat tingkah Alan karena sangat aneh.


Bagus menggaruk kepala nya lalu menggigit buah yang berada di depan nya itu, Bagus pun menyadari jika dirinya ternyata masih mengenakan handuk, karena Alan yang memburu-buru dirinya untuk keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


____


__ADS_2