
"Sudah kubilang, jangan gegabah! aku ini berkali-kali memperingatkanmu, Lan." Bagus memarahi Alan dengan nada marah.
Baru masuk ke dalam rumah, Alan di sambut oleh omelan Bagus, Bagus sangat khawatir karena Alan tidak mau mendengarkannya.
Alan yang lelah, tak merespon Bagus. Alan memasuki kamarnya dan berbaring di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya.
"Kamu sebenarnya mendengar tidak yang aku katakan?" tanya Bagus menghampiri Alan.
Alan mengernyitkan dahi. "Kamu kenapa?"
"Kamu bertanya kenapa? kamu tidak mendengarkan peringatan ayahmu yah?" tambah Bagus semakin dibuat aneh dengan sikap Alan yang sangat berbeda.
"Peringatan apa?" Alan balik bertanya, wajahnya begitu kebingungan.
"Ayahmu sudah memberitahumu untuk menjaga jarak dengan Vita, kamu malah sengaja mendekatinya," ujar Bagus sambil menepuk paha Alan.
Alan memekik kesakitan. "Aduh."
"Aku tidak sengaja mendekatinya, memangnya salah aku mengantarnya untuk melihat kampus?" timpal Alan.
Bagus duduk di samping kasur Alan.
"Kenapa repot-repot? kan dia bisa sendiri." Bagus semakin tidak sabar dengan Alan.
"Kasian, Gus. Dia kan wanita, dia belum mengenal jalan disini, aku yakin pasti jika ayahnya tahu, ia akan senang melihat putrinya ada yang menjaga," ucap Alan beralasan.
Bagus memicingkan bibirnya. "Halah alasan!"
Alan tidak berhenti menatap langit-langit kamarnya, pikirannya terus berjalan kemana-mana, ada sesuatu yang belum pernah ia rasakan, sangat melekat, begitu hangat, sulit sekali dijabarkan.
Alan tersenyum puas, terus mengingat sosok itu, sosok yang membuat dadanya bergejolak.
__ADS_1
"Makin aneh kau, aku capek terus menasehatimu." Bagus melengos keluar kamar Alan sambil menatap kelakuan Alan yang terlihat aneh.
Alan lupa membersihkan diri, jiwanya terhanyut dalam kehangatan yang belum bisa hilang di pikirannya, ia pun terlelap di atas kasur dengan sepatu yang masih menempel di kakinya.
***
Sudah beberapa kali untuk hari ini, Defa mengirimi chat kepada Zovita. Entah itu ucapan selamat pagi, mengingatkan makan, sampai chat mengucapkan selamat tidur. Tak satupun chat itu dibalas oleh Zovita, meski Defa sangat mempesona, ia takkan mudah begitu saja tertarik dengan pesona nya, setidaknya sekarang ia tidak sebodoh dulu. Dulu Zovita sangat mati-matian jatuh cinta pada Defa, sekarang mau Defa menyembah-nyembah di kakinya, dia sudah tidak peduli lagi.
Defa yang bodoh harus belajar move on dan melupakan masa lalu, kisah cinta mereka hanya ada di masa lalu, meski berusaha mencarinya di masa depan pasti akan sia-sia. Lagi pula Zovita berhak mendapatkan pengganti yang lebih baik, yang tulus mencintainya dan takkan pernah meninggalkannya di situasi apapun.
"Vita, mobil yang dikirim ayahmu sudah ada di halaman." Bi Wati menghampiri Zovita yang sedang menggulirkan jari manisnya di ponselnya.
"Mobil? aku tidak memesan mobil, lagi pula untuk apa?" sahut Zovita dengan mimik wajah yang heran.
"Katanya untuk ke kampus, kamu akan membutuhkannya nanti," ujar bi Wati.
Zovita segera menuju halaman, melihat sebuah mobil berwarna merah terparkir di depan halaman rumah, Zovita melirik bi Wati yang mengikuti langkahnya dari belakang.
"Ayahmu yang menyuruh pak Jodi mengirimnya."
Zovita masih tertegun memandang mobil itu, ini hal yang paling ia benci, karena ayahnya selalu bertindak semaunya, tanpa menunggu persetujuannya, dia selalu merasa bahwa dia bisa melakukan apa yang dia mau.
"Aku tidak butuh mobil itu, mengapa dia selalu ingin terlihat mencolok dimata orang?" Zovita kembali masuk ke dalam rumah lalu duduk di kursi yang menghadap pintu halaman samping rumah.
"Vita, bukankah ayahmu melakukan itu karena dia peduli?"
Tiba-tiba Zovita menoleh ke arah pintu dan melihat sosok Sofie tengah bersandar di daun pintu dapur.
"Peduli itu bukan begini caranya, apa harus dengan menunjukan bahwa dia punya itu semua?" timpal Zovita dengan lirih.
Pagi itu, Zovita harus sarapan dengan kekesalan, matanya yang teduh terus menatap rumput yang bergoyang di taman halaman, menghirup segarnya udara pagi, dengan kicauan burung yang setiap hari menemaninya.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, Sofie datang dengan dua bungkus lontong sayur, mengajak Zovita sarapan bersama dan mengenalkan lontong sayur terenak di kampungnya. Zovita tidak terbiasa dengan makanan itu, namun ketika bi Wati menuangkannya ke mangkuk, aromanya sangat menggugah selera, kebetulan perut Zovita juga tak sengaja berbunyi.
Zovita mengelus perutnya. "Aku mau, Bi."
"Ayo sarapan bersama, Vita." Bi Wati menarik tangan Zovita untuk segera duduk di kursi makan.
Sofie menyunggingkan senyumnya. "Kamu belum pernah makan ini kan?"
"Aku sering makan lontong sayur kok, tapi sudah lama sekali aku tidak memakannya, mencium aromanya menggugah rasa laparku," ucap Zovita lalu menyendokkan lontong sayur itu ke mulutnya, ia melahapnya dengan serius.
Sofie hanya menyuap beberapa sendok, melihat Zovita di depannya, dia merasa perbandingan hidup antara dirinya dan Zovita sangat jauh. Bahkan sesuatu yang Sofie inginkan, Zovita tidak membutuhkannya, padahal sangat sulit untuk mendapatkannya. Hidup dengan kemewahan, bagi Sofie hidup Zovita nyaris sempurna, dibandingkan dirinya yang harus membantu Ibunya banting tulang, hanya karena dia ingin kuliah.
'Kamu sangat beruntung, Vita. Mengapa hidupmu sangat sempurna, kamu tidak perlu bekerja dengan keras untuk mendapatkan sesuatu, kamu hanya tinggal memilih apa yang kamu inginkan, beda dengan aku yang harus capek dulu agar keinginanku terwujud."
Sofie terus bergumam sambil melamun, rasa iri itu begitu saja datang di pikirannya.
Bi Wati menepuk bahu Sofie, "Hei, jangan melamun."
Sofie menoleh dengan terkejut ke arah Ibunya, sejak kecil ia tidak tahu siapa ayahnya, tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah, tidak pernah sekalipun di tunjukkan foto ayahnya.
Sofie menganggap dirinya orang yang menyedihkan, tidak seberuntung orang-orang di sekelilingnya, tanpa sadar ia meneteskan air mata, lalu segera mengusapnya agar tak di ketahui oleh Ibu nya. Menoleh kanan kiri, menyaksikan kedua orang yang sangat menikmati makanan dengan lahap.
Sofie beranjak ke dapur, bi Wati melihatnya lalu meneriakinya, "Kamu mau kemana?"
Sofie tidak membalas, terus melangkah meninggalkan semangkuk lontong sayur nya di atas meja.
"Sofie!!!"
Terdengar suara bi Wati yang terus memanggilnya, Sofie melangkah keluar halaman rumah dengan terburu-buru, bi Wati tak sempat mengejarnya, memandang putrinya terus melangkah semakin jauh meninggalkan rumah itu. Bi Wati bingung, apa yang membuat Sofie pergi, pikirnya.
____
__ADS_1