Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Kedatangan Defa


__ADS_3

Sofie memang benar-benar tak sabar dengan orang yang sedang dicari oleh lelaki itu, mencurigakan.


" Siapa orangnya? mungkin saya tahu." ujar Sofie.


Lelaki itu segera membuka pintu mobilnya lalu segera turun.


Dari handphone nya dia menunjukan sebuah foto ke Sofie.


" Saya sedang mencari wanita ini," ujarnya dengan menunjukan foto kepada Sofie.


Sofie kaget, ternyata yang ada di dalam foto itu adalah Zovita. Sofie terdiam, menggigit ujung bibirnya, penasaran siapa lelaki itu dan untuk apa dia mencari Zovita?


" Maaf sebenarnya siapa kamu? untuk apa kamu mencarinya?" Sofie bertanya penuh heran padanya.


Ternyata lelaki itu adalah Defa.


Melihat dari penampilannya, Sofie yakin lelaki ini pasti dari kota.


" Apa anda mengenalnya? saya Defa, berbulan-bulan saya mencarinya, hanya mendengar kabar bahwa dia ada di desa ini, namun sulit sekali untuk menemukannya." ujar Defa berharap bahwa Sofie segera memberi tahu keberadaan Zovita.


Sofie bingung, dia harus memberi tahunya atau tidak? dia ingat sekali dengan nama Defa, bukankah itu mantan pacarnya Zovita yang meninggalkan dia itu, pikirnya.


Sofie takut jika memberitahunya, pasti ibunya akan marah padanya.


Tapi di sisi lain dia juga ingin mengambil kesempatan membuat Defa bertemu Zovita, siapa tahu ini akan membuat dia semakin banyak ruang untuk mendekati Alan.


" Hei!!! saya bertanya, kenapa bengong? jadi anda tahu tidak wanita ini?" tanya Defa lagi mengagetkan lamunan Sofie.


" Sebenarnya saya tahu, tapi...." ujar Sofie tidak melanjutkan ucapannya.


" Tapi apa?" Defa penasaran.


" Jika saya memberitahu padamu pasti saya kena marah, saya dalam bahaya," ucap Sofie namun raut wajah Defa senang karena ada titik terang.


" Maksudmu? oke gini, kamu beritahu saja dimana dia tinggal? saya janji tidak akan bilang bahwa kamu yang memberitahunya." ungkap Defa meyakinkan Sofie.


Sofie tertegun, dia akhirnya memberitahu Defa karena memang dirinya yang dibuat kesal sejak kehadiran Zovita.


" Kamu tahu rumah di tikungan sana yang sangat besar dan terdapat taman di sampingnya? pagar nya warna coklat, dia tinggal disitu." Sofie dengan detail memberitahu Defa.


Defa dengan ekspresi senang karena pencariannya tidak sia-sia, segera mengikuti arahan Sofie.


" Oke makasih ya," ujar Defa yang memasuki mobilnya terburu-buru.


" Hei tapi ingat!!! jangan bilang tahu dari saya." teriak Sofie, Defa hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju.


Defa yang tak sabaran itu langsung menginjak gas mobilnya menuju rumah yang di sebutkan oleh Sofie itu.

__ADS_1


Tiba di depan pagar warna coklat yang Sofie katakan, mobil Defa berhenti.


Defa tidak segera menuruni mobilnya, tampaknya Defa juga masih sedikit ada rasa sesal dan takut pada Zovita, dia pasti akan membuat Zovita semakin sedih karena baru hari ini menemuinya.


Sebuah mobil berwarna hitam melintas melewati dimana mobil Defa berhenti, Defa memandang ke arah mobil tersebut, ternyata di desa pelosok ini ada mobil mewah, siapa pemiliknya? ujar Defa heran, ah mungkin dia orang terkaya disini, pikir Defa di dalam hati.


Defa segera turun dan menuju pagar besi itu, kemudian segera mengetuknya.


Tok tok tok


Tak lama seorang wanita paruh baya, bi Wati membukakan pintu untuknya.


Bi Wati kaget dan syok, karena dia tahu betul siapa lelaki yang barusan mengetuk pintu itu, dia selalu di pesan oleh pak Irwan untuk tidak membiarkan lelaki itu menemui Zovita.


" Maaf siapa kamu? ada perlu apa?" tanya bi Wati yang terlihat gugup, karena dia takut Zovita mendengar.


" Sore bu, saya mau tanya apa benar ini kediaman Zovita?" tanya Defa langsung dan matanya melirik ke kanan dan kiri mencari sesuatu.


" Siapa kamu? maaf Zovita sudah tidak disini lagi, dia sudah kembali ke kota," ucap Bi Wati yang terburu-buru mau menutup pintu kembali.


Defa langsung menahan pintunya.


" Anda jangan bohong ya, saya tahu Zovita disini, Zovita... Vita!!!" Defa yang masih menahan pintu dengan kakinya itu berteriak memanggil nama Zovita.


" Hei jangan berteriak dirumah orang lain, pergi kamu!!!" bi Wati sekuat tenaga mendorong pintunya sehingga membuat tubuh Defa terpental ke luar.


Bi Wati yang panik bergegas menuju kamar Zovita, dia berharap Zovita tak mendengarnya.


Bi Wati melongok ke kamar Zovita, dan terlihat Zovita sedang tertidur lelap, syukur dia tidak mendengar, karena memang jarak pagar rumah dan kamar Zovita sangat jauh jadi Zovita tak akan mendengar yang ada diluar.


Bi Wati langsung meraih handphone dan menelepon Rika.


" Halooo..." terdengar suara Rika dari balik telepon itu.


" Halo Miss, gawat miss gawat." bi Wati berucap membuat Rika bertanya dengan suara lantang.


" Gawat apa Wati!!!! ngomong yang jelas, ada apa?" tanya Rika.


" Itu Miss, tadi ada si Defa kesini. Kenapa dia bisa sampai ke alamat ini?" jawab bi Wati dengan sangat pelan, matanya melirik ke kamar Zovita.


" What???? lelaki brengs*k itu??? siapa yang memberitahu dia? lalu kamu ijinkan dia masuk Wati?" ujar Rika dengan nada khasnya jika sedang kesal.


" Tidak Miss!! saya mengusirnya, saya bilang kalau Zovita sudah kembali ke kota."


" Baguss, jangan bukakan pintu untuknya dan jangan sampai Zovita menemuinya, kamu mengerti?" ucap Rika.


" Dan satu lagi, jika dia memaksa ingin menemui Zovita kamu ancam bahwa kamu akan meneriakinya," imbuh Rika.

__ADS_1


" Siap siap Miss." sahut bi Wati yang ternyata panggilannya langsung di tutup oleh Rika.


Bi Wati langsung melihat ke depan, ternyata mobil Defa masih di depan pagar.


Bi Wati langsung mengirim pesan kepada Rika.


Sementara Rika yang emosi, langsung menelepon Alan cs.


" Iya sore Miss," Alan segera menjawab panggilan dari Rika.


" Alan kamu ini bod*h sekali!!! kenapa kamu sampai kecolongan? kamu ini sebenarnya becus tidak sih saya beri tugas?" tanpa basa-basi dan tersulut emosi, Rika memaki Alan.


Alan dengan wajah polosnya bingung dengan makian Rika.


" Ada apa miss? saya tidak mengerti? apa ada yang tidak beres?" tanya Alan bingung.


" Kamu pergi ke depan pintu pagar Zovita sekarang!!!! kamu lihat ada siapa disana?" perintah Rika, Alan mengerti sepertinya ada yang tidak beres.


" Iya miss siap." ujar Alan sambil berlari meraih kunci mobil dan mengajak Bagus segera ke tempat Zovita.


" Kamu usir bajing*n itu Alan!!! buruan!!!" Rika masih di teleponnya yang belum di tutup olehnya.


Alan dengan terburu-buru tanpa menghiraukan Rika segera tancap gas mobilnya.


" Ada apa sih lan? kita mau kemana buru-buru? sepertinya ada yang gawat? apa lan?" tanya Bagus yang tidak mengerti.


" Udah ikut aja."


Beberapa menit kemudian Alan tiba di dekat rumah Zovita, dan dia melihat sebuah mobil di depan pagar rumah itu.


" Mobil siapa itu?" Alan malah bertanya-tanya.


" Oh tadi juga aku lewat sini lan, ada mobil itu sepertinya mau bertamu" jawab Bagus polos sekali.


" Hei sialan, kenapa kamu tidak bilang ada mobil disini? bikin aku kena semprot aja." ujar Alan kesal kepada Bagus.


Alan masih mengawasi mobil itu, dia tak ingin diketahui Zovita kalau dia seperti mata-mata, namun kenapa miss Rika ingin menyuruh mobil itu pergi? ujar Alan.


Semakin dilihat lebih jelas, barulah Alan sadar bahwa lelaki di dalam mobil itu adalah Defa.


" Pantas saja Miss Rika emosi, karena tiba-tiba ada si Defa brengs* k itu disini." ujar Alan memaki dirinya.


" Hah serius lan?" Bagus ikut melongo.


Alan bingung harus dengan cara apa dia menyuruh pergi Defa, karena jika langsung bilang pasti ada bi Wati yang akan curiga padanya.


Alan segera turun dari mobil nya dan menghampiri mobil Defa.

__ADS_1


____


__ADS_2