Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Keluar dari zona


__ADS_3

Sofie benar-benar berada di ambang kecemburuan, karena naik turunnya perasaannya, sangat sulit dikendalikan bila menyangkut kisah hidupnya yang terasa sangat berat. Sofie juga menyadari rasa lelah yang menjamahnya sangat membuang energi nya, padahal ia tak menyukai energi negatif seperti itu.


Sofie baru tahu betapa mengerikannya sebuah perasaan cemburu yang merajam hatinya. Tadinya dia tak pernah mengira kalau dirinya memiliki sifat itu, mengapa kini ia justru selalu membandingkan dirinya dan Zovita.


Lelah dengan aneka terpaan emosi yang mengobrak-abrik ketenangan jiwanya, Sofie memutuskan untuk memusatkan fokusnya pada pekerjaannya, ia baru saja diterima bekerja menjadi seorang kasir di sebuah cafe di perbatasan kota itu, sambil menunggu dirinya mendaftar di universitas.


"Hei, sudah berapa lama kamu tidak mampir ke tokoku?" sapa seorang wanita seumuran Sofie yang muncul di sebuah toko kue, namanya Alisa.


"Aku baru aja diterima di Cafe Asia, mulai besok aku sudah bisa bekerja," sahut Sofie memasang wajah ceria, namun Alisa adalah sahabat Sofie, ia tahu jika Sofie tiba-tiba muncul di hadapannya biasanya sedang galau.


"Wah syukurlah, kamu masih tinggal bersama Ibumu?" tanya Alisa mempersilakan Sofie duduk di sofa.


Sofie menggeleng lemas, "Tidak."


"Loh kok bisa? ada masalah?" Alisa yang penasaran duduk di samping Sofie.


"Masalah nya bermula saat wanita itu tinggal di rumah itu," ujar Sofie yang menuding Zovita sebagai biang masalahnya.


"Maksudmu, Vita?"


"Iya, aku bingung mengapa Ibuku bisa begitu peduli padanya," imbuh Sofie.


Alisa mengenal Zovita sewaktu kecil karena sering di ajak Sofie bermain, entah sekarang mungkin mereka saling melupakan. Wajah teduh dan lembut Alisa lalu tersenyum simpul, menarik lengan Sofie lalu berbisik, "Apa kamu cemburu?"


"Maksudmu?" Sofie terkejut mendengar bisikan Alisa.


"Karena Vita sedang dekat dengan lelaki itu, bukankah kamu pernah bercerita?" ucap Alisa menatap wajah Sofie yang tersipu malu.


Sofie tak merespon, hanya tersenyum kecil menepuk punggung Alisa, mereka pun berbincang sangat hangat, saling bertukar cerita, melepas rindu karena sekarang jarang berjumpa.

__ADS_1


Di sanalah, di toko kue milik Alisa, tempat Sofie melepaskan semua kepenatan dan kegundahan hatinya, tidak ada lagi seseorang yang bisa diajak bercerita selain Alisa, karena Sofie sangat mempercayai sahabatnya yang kesehariannya selalu berbalut hijab panjang. Menurut Sofie Alisa adalah satu-satunya wanita yang setiap ucapannya terdengar begitu damai, suara nya selalu lembut sampai ke hati.


Tidak mudah mencari pekerjaan, lulusan sarjana sudah semakin banyak sementara perkembangan industri tidak mengikutinya. Setelah lulus sekolah menengah Sofie pernah bekerja di sebuah minimarket di dekat pasar, namun hanya bertahan satu tahun. Kemudian Sofie memilih untuk melanjutkan usaha Ibunya, warung kopi di dekat rumah Alan, karena ibunya diminta mengurus dan menjaga Zovita.


"Jika kamu kerja, warung siapa yang jaga?" tanya Alisa mengeluarkan sebuah minuman dingin dari lemari es.


Sofie meneguknya tanpa jeda.


"Ada Risky, memang warung kopi itu lebih cocok dijaga oleh laki-laki," ujar Sofie menyebutkan sepupunya untuk menjaga warung Ibunya.


"Betul juga, tapi kenapa di cafe? kamu tidak ingin mecari pekerjaan di dekat kampus saja?" tanya Alisa.


"Entahlah, ini hanya sementara, aku juga belum tahu bisa masuk kampus itu atau tidak," ucap Sofie yang pesimis.


"Kamu harus optimis, jika tidak di kampus itu, di kampusku juga bisa kan?" ujar Alisa yang juga seorang mahasiswi fakultas ekonomi.


"Sebenarnya bosan, tapi mau bagaimana lagi," timpal Alisa lalu mereka berdua tertawa bersama.


Hanya bersama Alisa, Sofie bisa tertawa lepas, tidak ada satu rahasia pun di antara mereka, Alisa sudah seperti saudara kandung bagi Shofie. Masa-masa sulit pernah mereka lewati dikala berteman dari Sekolah Dasar hingga dewasa.


***


Pagi itu, Alan menatap tampilannya di cermin. Setelan kemeja biru yang ia kenakan jatuh dengan sempurna di tubuhnya, biru adalah warna kemenangan baginya, apalagi dalam sebuah bisnis, Alan akan pergi ke sebuah perusahaan untuk interview. Meski dirinya telah terikat bisnis dengan keluarga Irwan, Alan tetap ingin bekerja sesuai keahliannya, Alan ingin mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang pengacara hebat.


"Lan, semoga interview nya berhasil ya!" Bagus menyemangati Alan sambil memberikan secangkir kopi panas kepada Alan.


"Kamu juga. Sebentar lagi aku akan kembali ke kosan, kamu kemasi saja semua barang-barangmu!" seru Alan meraih kopi dari tangan Bagus.


"Loh, memang tugas kita sudah selesai?" tanya Bagus penasaran.

__ADS_1


Alan mengangguk pelan, lalu menyunggingkan bibir tipisnya kepada Bagus.


"Aku akan kembali bekerja dengan pak Irwan?" tanya Bagus lagi.


Alan menoleh, tersenyum.


"Tentu saja, apa kamu sudah bosan?" timpal Alan yang menatap wajah serius Bagus.


"Bukan itu maksudku, aku ingin terus menjadi partnermu, Lan." Bagus menggerutu kesal campur sedih, karena selama ini ia sangat nyaman berkerja dengan Alan.


"Kita masih tetap dibawah Surya Company Group, jadi kita masih partner, Gus," ucap Alan ikut sedih karena urusan pekerjaan nya dengan Bagus akan berakhir.


"Kita akan jarang bertemu, Lan, apalagi kamu nanti sudah bekerja sendiri, memang kenapa kamu memilih keluar dari Surya Group?" Bagus menyingsing lengan kemeja nya, meletakkan kopi nya diatas meja. Hari itu, Bagus mendapat tugas dari Irwan, seperti biasa melakukan pengawalan untuk Irwan yang menggelar acara di yayasan.


"Aku hanya ingin bekerja sesuai keahlianku, rasanya menjadi seorang pengawal atau melakukan misi seperti ini sangat melelahkan," imbuh Alan.


Alan menatap layar ponselnya, mengabaikan banyak pesan dan memilih untuk tidak meresponnya, ia hanya ingin fokus pada interview nya, ini merupakan kesempatan bagi Alan untuk mengembangkan diri, ini saatnya ia menunjukan kepada orang-orang yang memandangnya rendah, bahwa meskipun anak seorang sopir ia bisa sukses.


"Ya sudah, kita pergi! kamu pasti terlambat sampai kota." Alan menaruh kopi nya dan mengambil kunci mobil, mengajak Bagus untuk segera memasuki mobil.


Bagus mengantarkan Alan lebih dulu, baru setelah itu ia pergi ke kota untuk menjalankan tugas dari Irwan, lain hal nya dengan Alan, Alan adalah pengawal pribadi Rika yang mendapatkan perintah langsung dari Rika.


Setelah 45 menit perjalanan, Bagus menurunkan Alan di depan kantor yang megah di perbatasan kota, Alan perlahan membuka pintu mobil dan melambaikan tangan kepada Bagus, Bagus mengacungkan jempolnya lalu melajukan mobilnya.


'Wah, ini benar-benar tempat impianku, semoga saja ini adalah awal dari kesuksesanku'


Alan melangkahkan kaki nya dengan hati-hati, memasuki lobby utama gedung itu, merapikan rambut nya dengan jemarinya, wajahnya terus memancarkan keceriaan, membuat siapa saja yang melihatnya akan terpana.


_____

__ADS_1


__ADS_2