Cinta Untuk Vita

Cinta Untuk Vita
Pergi bersama


__ADS_3

Siang itu, ternyata Defa menerima pesan dari teman kuliahnya dulu, bahwa dia telah melihat Zovita sedang berada di universitas kota X di fakultas hukum, Defa segera menuju tempat yang di sebutkan teman nya.


Meski jarak yang di tempuh lumayan jauh, tidak menghalangi niat Defa untuk pergi ke tempat itu, tak peduli seberapa lelah nya dia, demi bertemu dengan wanita yang dia cintai.


Sebelumnya Defa mengira adalah hal yang mudah untuk melupakan Zovita. Itu sebelum ia tahu bahwa ada hal-hal yang tak mampu di nalar. Keterikatan yang tak bisa di jelaskan, setiap momentum dalam hidupnya selalu muncul sosok Zovita.


"Kalau kau mencari yang sama seperti Vita, jelas takkan menemukannya." Bimo, atasan Defa pernah memberitahu nya.


"Lalu apa aku harus mencarinya? untuk bersama nya lagi?"


"Maksudku. Lupakan dia! cari yang lebih baik darinya, kau sudah meninggalkannya, Defa."


"Bagaimana jika hanya dia yang aku inginkan? bagaimana jika hanya dia yang terbaik? itu artinya tidak ada yang lebih baik?"


Di dalam sebuah mobil yang terus melaju, Defa terus mengingat percakapan nya dengan Bimo, yang juga atasan Zovita di kantor.


Seandainya, Defa kembali untuk bersama Zovita, artinya dia dengan sengaja ingin kembali melukai dan melubangi hatinya, dia jelas-jelas sudah meninggalkan nya, sepertinya dia lebih pantas di anggap seorang pecundang.


***


Alan menghentikan mobil nya di depan rumah Zovita.


Sudah hampir setengah jam lebih, Zovita duduk di sampingnya, sepulang dari kampus Alan.


Zovita membuka pintu mobil dan bergegas keluar, dengan wajah berseri-seri, Alan keluar dari mobil dan mengikuti langkah Zovita memasuki halaman rumahnya.


Zovita mempersilakan Alan masuk, Alan pun duduk di sofa panjang di ruang tamu yang sangat luas.


Sementara tanpa diminta, bi Wati muncul menyuguhkan secangkir kopi panas untuk Alan, sambil tersenyum, Alan mengucapkan terima kasih kepada bi Wati.

__ADS_1


"Jadi kamu tetap di fakultas hukum? memangnya apa yang membuatmu berubah pikiran?" tanya Alan kepada Zovita yang duduk bersebelahan dengan nya di sofa.


"Aku ingin bekerja di firma hukum, banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah peristiwa yang ku alami ini," jawab Zovita dengan nada yang lembut.


Alunan suaranya sangat sopan masuk ke dalam lubuk hati Alan, Alan terus menatap Zovita dengan perasaan kagum.


Selain cerdas, Zovita sangat konsisten, itu yang membuat Alan sangat mengutuk lelaki yang telah merenggut kehormatan nya dengan brutal, seandainya lelaki itu berada di hadapannya, mungkin Alan tak segan untuk menghajarnya.


"Kamu memang orang yang berprinsip, Vita, pasti lelaki yang berusaha mendekatimu akan merasa minder," puji Alan membuat wajah Zovita tersipu, Zovita tersenyum hangat.


"Lebih baik kamu simpan ucapan gombalmu itu, karena tidak akan mempan untuk merayuku." Zovita membalas ucapan Alan sambil meledeknya.


Alan tersenyum, wajahnya berseri-seri bagai orang yang sudah memenangkan lotre.


"Kapan kamu akan mentraktirku makan?" tanya Alan menghentikan Zovita yang tengah menyeruput minuman nya.


Zovita menjawab Alan dengan nada bingung. "Traktir makan?"


Zovita ikut tertawa menanggapi Alan. "Disini. Dimana ada menu makanan yang enak?"


"Aku hanya becanda, tidak perlu di anggap serius." Alan mengelak, padahal Zovita sungguh ingin mengajaknya makan.


Zovita mengernyitkan dahi. "Aku serius."


"Tapi pasti akan membuatmu tidak nyaman, karena sangat jauh, lagi pula disana terlalu banyak orang berkerumun," ujar Alan mencoba menolak secara perlahan, ada rasa bahagia di relung hatinya karena ini merupakan kesempatan emas untuknya, namun disisi lain, gerak-geriknya pasti akan diketahui oleh Rika.


"Justru itu, aku belum terbiasa disini, mungkin kamu bisa mengenalkan banyak tempat baru untukku," ucap Zovita terus membujuk Alan.


Alan mengangguk pelan. "Baiklah."

__ADS_1


Zovita sangat senang mendengarnya, ini adalah langkah awal yang baik baginya, karena tanpa susah payah, saat ia membutuhkan informasi untuk masuk ke universitas, ada sosok Alan yang kehadirannya sangat kebetulan membantu sekali.


"Oh ya, Vita, aku pamit ya karena hari sudah mulai sore pasti Bagus menungguku," pamit Alan lalu tubuhnya yang tinggi dan kekar itu berdiri.


Zovita menyusul Alan yang melangkah keluar rumah.


"Nanti, biar aku atur waktu yang pas untuk kita pergi makan," ujar Alan tiba-tiba menoleh kepada Zovita yang tepat berada di belakang nya. Tubuh Zovita yang mungil itu tak sengaja bertabrakan dengan dada Alan.


Zovita meringis. "Aww."


"Oh sorry, sorry Vita, aku tak tahu kamu di belakangku," ujar Alan tanpa sengaja menyentuh rambut Zovita lalu mengelusnya.


Zovita terdiam sejenak, menatap wajah Alan yang cemas, mata Alan dan Zovita berpandangan cukup lama, lalu Alan tersadar dan menghela napas panjang.


Alan melanjutkan langkah nya menuju mobil yang terparkir di halaman rumah itu, Zovita berhenti di depan pintu. Sebelum membuka pintu mobil, Alan melihat ke arah Zovita lalu tersenyum, senyumannya di balas oleh Zovita.


Saat ini, detak jantung Alan benar-benar tak beraturan, bahkan tangannya gemetar saat memasukkan kunci untuk menyalakan mesin mobilnya. Alan diam sejenak, menenangkan perasaan nya dulu, terus menarik napas. Baru mesin mobilnya berhasil dia nyalakan.


Mobil Alan melaju keluar halaman rumah Zovita.


Zovita tak sadar bahwa ia terus tersenyum melepas kepergian Alan dari pandangannya, kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu kenapa senyum-senyum, Vita?" Bi Wati tiba-tiba saja muncul dari arah dapur dan membenahi gelas minum di atas meja.


"Tidak, Bi." Zovita langsung berlari menaiki tangga, membuat bi Wati terus menggeleng.


Bi Wati sudah menebak nya, sikap Zovita sangat jelas menunjukan bahwa ia sedang kasmaran, bi Wati bergegas menuju dapur.


Bi Wati meraih ponselnya dan segera melaporkan nya kepada Rika, setiap kegiatan Zovita, bi Wati tak boleh melewatkannya, karena Rika akan marah jika ada informasi yang terlewat, bi Wati tahu betul tempramen Rika seperti apa.

__ADS_1


_____


__ADS_2